
"Eh, kebetulan kamu di sini, Zae. Aku mau berbicara penting denganmu," ucap Yusuf yang kebetulan baru masuk ke kamar inap Rayn.
Zae pun mengrenyitkan halisnya, "Apa nih? Ko aku kayak tersangka gini ya?" guyonnya.
"Hahaha, kamu pasti seneng dengernya," ucap Yusuf sambil duduk di samping Zae. Di kamar itu memang ada sofanya, alias khusus untuk yang menjenguk pasien.
"Ada apa? bikin penasaran aja," Tiara pun menimpali.
"Tadi, Papa bilang tentang keluarga Rayn." ungkap Yusuf belum menuntaskan maksudnya.
"Terus?" tanya Tiara yang sudah tau inti permasalahannya. Begitupun Zae.
"Katanya, Papa mau nyewa pengacara sebagai penasihat hukum keluarga Rayn. Kira-kira, kamu bersedia gak?"
Zae pun melebarkan senyumannya, "Emang aku pantes ya? Aku belum punya pengalaman tau," ucap Zae merendah. "Tapi kalau semisalnya ada yang mendampingi, aku siap!" ucapnya bersemangat.
"Tepat! Papa bilang, Om Stephan bakal nemenin kamu. Jadi kamu yang nantinya terjun ke lapangan," jelas Yusuf.
"Hah? Om Stephan pengacara terkenal itu? Aku mau didampingi sama beliau? Kamu gak ngada-ngadakan Suf?" ungkap Zae tak percaya.
"100% valid. Gimana, mau gak?"
"Mau lah,"
"Deal ya?"
"Deal! Argh, mimpi apa aku ini, bisa belajar dari seorang Stephan. Kolega mertua kamu hebat banget Suf!" puji Zae.
"Iya dong. Papa siapa dulu," timpal Tiara dari kejauhan. Ia memang mendengarkan percakapan kedua pria itu.
"Nah, kalau hebat. Kamu jangan marah-marah lagi, ya sayang," peringatkan Yusuf pada istrinya itu.
"Tapi kalau nyebelin, kenapa nggak?" balas Tiara sambil cemberut.
"Istri lo keras kepala banget ya?" bisik Zae sambil tertawa.
"Aku masih denger loh!" ketus Tiara.
"Eh, maaf. Gak bermaksud loh," ucap Zae tak enak. Seketika Yusuf pun tertawa.
"Pria memang gak ada yang asik." rajuk Tiara.
"Gawat Suf. Lo bisa-bisa gak akan buka puasa nih," bisik Zae kembali.
"Emang! Ga akan!" ancam Tiara.
__ADS_1
"Eh, kok aku juga kena? Kan Zae yang bikin kamu terusik," kilah Yusuf.
"Berisik! Pria emang gak ada yang peka!" Tiara pun ngadat keluar dari ruangan. Akhirnya Yusuf juga menyusul istrinya yang sedang marah itu. Sementara Zae menemani Rayn yang masih terbaring lemas di brankarnya.
"Rayn. Aku akan mengembalikan nama baik keluargamu. Bertahanlah! Kamu wanita yang kuat! Kamu harus sembuh. Aku akan berjuang mewujudkan itu semua," gumam Zae yang kini duduk di samping brankar Rayn dan menatap wanita itu dalam-dalam.
Tiba-tiba, jari-jari Rayn pun bergerak pelan-pelan. Zae pun yang menyadari hal itu sontak membulatkan matanya. Ia senang bukan main, karena Rayn sadarkan diri juga.
"Rayn? Kamu udah sadar kan?" ucap Zae. Ia pun hendak memanggil dokter saat itu juga, namun tangan Zae tiba-tiba saja ada yang menahan.
"Rayn?" Zae pun menoleh, sedangkan Rayn langsung tersenyum ke arahnya.
"Aku di ma-na, Zae?" ungkapnya lemas.
"Kamu lagi di rumah sakit. Tiara sama Yusuf juga di sini kok, cuma lagi keluar dulu sebentar. Aku mau manggil dokter dulu ya sekarang," namun Rayn pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Nggak, usah. Aku cuma pengen tau, anak dalam kandungan aku, dia selamat kah?" seketika Zae pun kaget bukan main.
"A-nak?" gumam Zae terlihat tak percaya.
"Auwh," namun tiba-tiba, Rayn pun meringis kesakitan. Ia mengaduh dan memegang perutnya yang masih dalam tahap pemulihan itu.
"Aku panggil dokter dulu ya!" Zae pun berlari keluar dan membuka pintu lebar-lebar, namun kedua pasutri itu ternyata sudah ada diambang pintu.
Dokter pun yang berada tak jauh di sana, langsung memeriksa Rayn yang terlihat kesakitan itu.
"Ini efek dari operasi kemarin. Saya akan menyuntikkan obat penenang saja. Kalian tidak usah khawatir ya!" tenangkan Dokter pada Tiara, Zae, dan juga Yusuf.
"Tapi dia kesakitan gitu Dok, beneran kan gapapa?" tanyakan Tiara yang masih terlihat parno.
"Tidak, Mbak. Nah, pasien sudah tenang kembali kan. Biarkan ia istirahat total terlebih dahulu. Jangan ada yang mengajaknya bicara," peringatkan sang Dokter, lalu dokter yang terlihat masih muda itu segera pamit, lalu menyuruh suster mengganti selang infus yang mulai habis.
"Zae, apa tadi Rayn sudah sadar sebelumnya?" tanya Tiara.
"Iya. Bahkan dia bergumam, apakah anaknya itu selamat. Emang dia sedang mengandung ya?" jawab Zae terlihat serius.
"Hem, betul. Tapi, sayangnya. Rayn keguguran." seketika suasana pun hening.
Zae memang tidak terlalu memperdulikan tentang Rayn yang sedang mengandung. Tapi ia sedikit syok, bagaimana pun pekerjaan Rayn yang seorang PSK (Pekerja **** Komersial) itu memang sangat beresiko.
"Aku mau pamit dulu ya!" ucap Zae memecah keheningan.
"Ke mana?" sambar Yusuf yang sedikit tau kekecewaan Zae. Zae pun tidak menyahut dan langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.
...----------------...
__ADS_1
"Aku memang manusia yang penuh kekurangan, dan jauh dari kata sempurna. Tapi, aku juga berhak dong kecewa? Ah, apaan si. Aku gak pantas kayak gini." gumam Zae pelan. Saat ini dirinya sedang berdiri di sebuah jembatan yang cukup fenomenal di kota itu.
"Kamu berhak kecewa, tapi kamu juga jangan hanyut dalam kekecewaan itu. Redamlah amarahmu, basuhlah kekecewaanmu dengan hati yang ikhlas. Maka kau akan lebih jernih menentukan langkahmu ke depannya, haruskah kau mundur? Ataukah maju saja?" gumam seseorang yang nampak mengikuti Zae dari kejauhan.
"Hei, kenapa lo ngikutin?" ucap Zae yang langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Woles, bro! Aku tau keadaanmu saat ini. Masa sih, aku ngebiarin kamu dalam keterpurukanmu. Luapkanlah, bila perlu, berteriaklah di sini. Supaya hatimu sedikit lega," usul Yusuf. Ya, dia memang diperintahkan Tiara untuk mengikuti Zae yang tiba-tiba saja pergi dari kamar Rayn dalam keadaan hati yang gundah.
"Ah, kayak di drakor-drakor aja. Aku lagi galau gini disuruh teriak-teriak ga jelas. Mana yang merintahinnya elo bukan sama cewek," ucap Zae yang sudah bisa tersenyum lagi.
"Yeay! Masih untung aku peduli loh, kan si doi nya lagi terbaring di rumah sakit. Nanti deh kalau dia udah sembuh. Benar kan?"
"Hem, Suf. Aku masih bingung banget sama perasaan aku sendiri."
"Gapapa, jalani saja. Hadapi semua keresahan dan kegundahan hatimu. Sampai kamu benar-benar capek dan menelannya mentah-mentah. Pasti lama-kelamaan bakal hambar dan kamu akan mencari lagi rasa yang cocok setelahnya. Begitu juga dengan hidup. Saat kepahitan itu tiba, nikmati saja. Bukankah setelah itu, kebahagiaan pun segera menghampiri? Mau disadari tidak disadari. Manis pahitnya hidup itu memang seperti roda yang berputar,"
"Gak bisa ditolak sih ini kata-kata. Makasih bro! Lo udah nguatin aku dalam banyak hal. Oke deh. Aku mau baca-baca dulu tentang pasal-pasal hukum. Siapa tau, aku bisa meng-skakmat Jaksa yang mendakwa Ayah Rayn. Iya gak?"
"Nah, gitu dong. Itu baru Zae namanya. Semangat!"
"Sip! Eh, ngomong-ngomong. Aku bisa ketemu om Stephan kapan?"
"Besok. Gimana? Sekalian jenguk Ayah dan Ibu Rayn di Polrestabes Jakarta,"
"Hem, boleh. Tiara ikut juga?"
"Kayaknya, nggak deh. Cuma kalau teman-temanya pada jenguk besok. Tiara pengen ikut juga ke kantor polisi. Sekalian pengen nego katanya, biar kedua orangtua Rayn bisa jenguk ke rumah sakit,"
"Loh, kenapa gak sama kita aja? Kan bisa juga." sahut Zae tak habis pikir.
"Biasa. Katanya biar pak polisinya luluh sama perempuan. Kalau kita kan gak bisa negonya,"
"Hahaha, dasarrrr,"
Ponsel Yusuf pun tiba-tiba berdering.
"[Ya, Waalaikumussalam. Betul ini dengan Yusuf]"
"[Oh, ini om Stephan ya? Iya, hehe. Terimakasih Om atas do'a baiknya. Eh, malam ini juga, Om?]" ungkap Yusuf yang langsung menoleh ke arah Zae.
"[Boleh Om, kalau begitu. Yusuf segera ke sana ya!]" telepon pun terputus.
"Zae! Ada kabar baik dan juga buruk!"
...----------------...
__ADS_1