
"Brain?"
"Siapa dia, Mas?" tanya Tiara heran, karena reaksi sang suami begitu kaget dan seperti ada gejolak emosi di dalamnya.
"Mas?" tegurnya lagi.
"Emh, dia pernah nguntit aku, Ti,"
"Cowok?" tanya Tiara terkejut.
"Brain itu nama panggilannya, nama lengkapnya Brainasari," jelasnya.
"Ko aneh namanya brainasari sih? Kirain aku nama kamus," jawab Tiara cekikikan.
"Dia orang Inggris," sahutnya.
"Wuoh, Inggris campur sunda ya!" Tiara masih menganggap hal itu lelucon.
"Hei, emangnya lucu? Dia itu psikopat, Ti. Bahkan dia jago di bidang IT, dunia perhackeran bisa dia jajal dengan mudah. Bahkan, mungkin dia tau keberadaanku karena keahliannya itu,"
"Hem, ko kamu baru cerita sih Mas? Aku kan bisa hati-hati. Mana so-so'an banget gak punya fans, sekalinya punya sampai segitunya," cibir Tiara.
"Ya aku udah lama gak berurusan sama dia. Mana terakhir kali kita perang dingin, dia tuh terobsesi gitu sama mas-mu ini. Maklum terpesona mungkin sama kegantengan diri ini, makanya dia begitu," narsisnya.
"Ih, pengen tak tampol dirimu, Mas. Kelewat batas pedenya. Jangan bilang dia mantanmu makanya dia begitu? Ko dia kesannya gatel gitu sama kamu? Apa jangan-jangan kamu juga ikut-ikutan main perasaan ya, makanya dia gitu?" selidik Tiara dengan tatapan tajamnya sambil mencubiti lengan suaminya itu.
"Aw, sakit sayang. Ya ampun, demi-nya istriku. Aku gak ada apa-apa sama dia. Kalau gak percaya tanya aja sama Zae. Justru aku berusaha ngehindari dia terus, tapi ya gitu. Dia ngehalalin segala cara. Maklum bule kesasar di Indonesia. Dia setahunan ko kuliah di sini. Udah gitu pergi, karena mungkin capek cintanya gak terbalas. Eh, ko sekarang dia kembali lagi ya ke sini. Mana ini ngumpat pakek bahasa Inggris. Dia kira aku gak bisa apa,"
"Hem, aku juga bisa kali bahasa Inggris. Yaudah lah, mau tak blokir aja orang kek gini. Makasih kamu dah mau jujur, tapi kalau ketauan boong. Aku... Kecewa sama kamu,"
Saat mereka berdua asyik berdebat, tiba-tiba saja ada ketukan dari pintu kamar hotel mereka.
"Masuk!" teriaki Tiara, namun Yusuf yang malah membuka pintunya.
"Rayn? Ayo masuk!" ajaki Yusuf.
"Ada apa, Rayn?" kini Tiara mengajak sahabatnya itu duduk di sofa kamar hotelnya itu.
"Kamu gapapa kan, Ti?" ucap Rayn sambil memastikan seluruh tubuh Tiara yang masih lengkap tak ada yang kurang.
"Aman, Rayn. Maaf ya kalau aku buat kalian khawatir. Di mana tuh dua bocah, tumben gaada yang ngebales di grup?"
"Rere lagi kesengsem, gatau lagi deh, aneh dia. Kalau Mega lagi teleponan sama adiknya. Minggu depan dia mau mulai mondok di pesantren," jelas Rayn.
"Hah, yakinnya Mega mau mesantren? Owalah, pasti ada hal yang aneh deh tuh si Rere. Bentar lagi pasti curhat di grup, biarin deh,"
__ADS_1
"Ti, kamu ko basah gini sih rambut?" Rayn pun melirik ke arah Yusuf yang sama-sama basah. Seketika mereka pun salah paham dan Rayn mesem-mesem sendiri.
"Ups, maaf. Aku keceplosan," gumam Rayn lagi sambil tersenyum simpul.
"Hei, aku tadi kecebur di kolam renang. Bukan begituan ya! Untung Yusuf cepet-cepet nolongin aku," jelas Tiara. Ia tak mau sahabatnya itu salah paham.
"Beneran? Ko bisa?" sahutnya terkejut.
Akhirnya Tiara pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Di sana, Rayn sudah paham, bahwa mungkin hal ini terjadi kemungkinan besarnya karena postingan yang diunggah Tiara beberapa jam yang lalu.
"Brain? Aku ko kayak gak asing ya sama namanya. Wait!" ungkap Rayn yang langsung merogoh ponselnya.
"Ti! Dia hacker termisterius yang pernah ada. Semua orang mencari-cari dia tau. Konon ada beberapa perusahaan yang mengalami pembajakan atau diambang kehancuran karena ada data yang menelusup, eh malah dia yang amanin. Tapi, dia juga jahat, karena pernah terlibat pencucian uang dan mencuri data organisasi dunia, sekelas PBB loh. Ah, entahlah. Aku kan suka dunia digital gitu, jadi gak aneh sama yang namanya Brain itu," kata Rayn sangat antusias.
"Dia memang hacker paling handal yang pernah aku temui juga," timpal Yusuf.
"Kamu kenal, Suf?" tanya Rayn heran.
"Dia perempuan. Orang Inggris. Orangtuanya sudah lama meninggal, karena kasus narkoba sehingga dia tinggal seorang diri saat ini," sahut Yusuf. Sontak, Tiara dan Rayn pun tercengang dengan penuturan Zae barusan.
"Mas, jadi kamu tau juga keluarganya?" kata Tiara yang rupanya syok, karena Yusuf baru memberitahunya sekarang.
"Iya. Tenang aja kok. Aku bakal bicarain baik-baik sama dia. Kamu gak usah khawatir," tenangkan Yusuf.
"Iya. Dia pernah kuliah di Indonesia. Sekampus, malahan sekelas," jelas Yusuf.
"Owalah, kenalin dong," ungkap Rayn sambil nyengir.
"Aku gak yakin dia bisa baikin kamu, Rayn. Mending jauh-jauhi saja rasa penasaranmu itu. Kan kata kamu juga dia pernah berbuat jahat. Jadi karakternya itu masih abu-abu. Apalagi sekarang dia nge-DM Tiara aneh-aneh," sahut Yusuf apa adanya.
"Mana Ti? Aku mau lihat dong," Tiara pun menyodorkan ponselnya itu.
"Ya ampun, ini ngumpat kamu Ti." ungkap Rayn heboh.
"Dibilangin," timpal Tiara gemas.
"Eh, Ti. Ada yang nelepon, kode nomornya +44?" kata Rayn aneh.
"Wah, jangan-jangan..."
"Jangan! Mending gak usah diangkat!" perintah Yusuf.
"Tapi...."
"Nanti kamu malah kena teror. Udah jangan ditanggepin," bentak Yusuf.
__ADS_1
"Iya ah, Ti. Kamu jaga baik-baik dirimu ya? Besok aku mau ke rumah Mega. Rere juga katanya mau pulang. Nanti kalau kamu mau main sama kita, bilang aja. Yaudah, aku balik ke kamar ya?" pamit Rayn. Seketika Tiara pun memeluk Rayn.
"Kamu beneran kan mau mesantren di tempatku? Aku kesepian. Jujur, selama di sana, gak ada satu pun yang bisa kupercayai. Temenin aku ya?!" ujar Tiara memelas.
"Iya Tiara sayang. Aku mau lanjutin SMA di sana sampai selesai. Inimah aku mau ngantar Mega aja, kasian dia sendirian ke pesantren. Nanti juga balik lagi sama kedua orangtuaku, katanya pengen ikut ngantar juga. Kamu kan udah punya bebeb di sini," goda Rayn.
"Ih kamu. Oke deh. Hati-hati ya Rayn," mereka pun berpelukan dulu sebelum akhirnya saling berpisah.
"Mas," gumam Tiara sambil memandang suaminya itu.
"Iya, kenapa sayang?"
"Terkadang aku sedih, karena aku gak sebebas seperti orang lajang lainnya. Aku.. Aku ngerasa belum pantas menyandang gelar sebagai seorang istri," ungkapnya sambil menunduk.
"Sayang.." Yusuf pun mendekatkan dirinya ke arah istrinya yang sedang di sofa kamar mereka.
"Emang selama ini aku terlalu membatasi kamu ya? Apa kamu gak nyaman kalau ke mana-mana harus sama aku?" ucap Yusuf menerka-nerka.
"Mas, aku gak bermaksud...," Kini Yusuf pun memeluk istrinya yang sedang over thingking itu.
"Aku tau perasaan kamu, Ti. Aku minta maaf, kalau semua ini terlalu cepat. Harusnya kamu masih bebas, kamu bisa ngerasain kebebasan seperti anak muda lainnya. Tapi malah jadi seorang istri sedini mungkin. Aku minta maaf ya? Aku janji, aku bakal ngebebasin kamu. Aku percaya, kamu pasti bisa menjaga batasan itu," ungkap Yusuf tulus.
"Mas...," Tiara pun berkaca-kaca. Seketika air mata pun bercucuran dari pipinya.
"Aku gak menyesal menikah sama kamu. Aku.. Aku cuma kesepian aja, Mas. Terkadang, aku ingin sebebas dulu, tapi aku juga bersyukur, karena aku sudah punya kamu. Aku sadar, setiap pilihan hidup itu punya kekurangan dan kelebihannya. Ada juga, orang yang sudah lama menjaga dirinya, tapi sampai selesai kuliah pun mereka masih susah menemukan jodohnya. Pun orang-orang yang bernasib sepertiku, mungkin.. Aku harus perbanyak bersyukur lagi aja. Itu artinya, Allah ingin mengajariku sebagai istri yang baik sejak sekarang kan? Yang pasti, setiap takdir Allah itu baik-kan?" ucap Tiara agak ragu menyampaikan unek-uneknya.
"Iya sayang, kamu benar. Terkadang, tugas kita sebagai hamba itu ya berbaik sangka pada Allah. Kita gak pernah tau dibalik takdir ini tuh, Allah menyimpan surprise apa suatu saat pada kita. Sepahit apapun musibah, sesulit apapun ujian, seresah apapun keadaan hati kita. Semuanya hanya Allah yang dapat menghilangkannya. Semua milik Allah. Semua atas kendalinya. Kita makhluknya bisa apa sih? Aku juga sebetulnya pernah loh nyerah sama kamu. Sudah hampir berbulan-bulan saat aku menikahimu, akhirnya hatimu baru terbuka untukku sekarang-sekarang kan? Coba, ini karena siapa kalau bukan Allah yang menghadirkan cinta itu pada kita? MasyaAllah. Terimakasih ya, sayang," Yusuf pun mengkecup dahi istrinya itu.
"Iya, Mas. Maafin aku ya. Kalau selama ini aku durhaka sama kamu. Padahal aku jangan gitu. Aku sudah tau kalau surga dan nerakaku ada padamu. Tapi kok ya saat aku ngeliat perilakuku ke belakang, gak pantas banget disebut istri solihah. Mas, kamu kalau belum ridho sama aku. Bilang ya Mas? Aku pengen jadi istri yang baik mulai sekarang," Tiara pun akhirnya tergugu dalam pelukan Yusuf. Punggungnya pun sampai bergetar karena merasa sedih, kenapa ia baru menyadari, bahwa Yusuf adalah suami terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya.
"Sayang.. Udah.. Cup.. Cup.. Aku udah maafin kamu kok. Aku juga udah ikhlas. Udah ya nangisnya, hem? Aku sayang kamu, Ti." ucap Yusuf terus membelai rambut Tiara yang mulai mengering itu.
"Mas.. Maafin aku ya!"
Kedua pasutri itu nampak meleburkan pelukannya satu sama lain. Ada kehangatan menjalar di hati keduanya. Saat serpihan-serpihan masalah mulai menerpa keduanya, rupanya benteng yang kokoh itu siap menopang bangunan yang baru saja mereka bina.
Ya, begitulah seni-nya dalam rumah tangga. Tak ada yang sempurna. Tak ada yang sepenuhnya bahagia. Tak ada yang sepenuhnya merasa sedih. Adakalanya semua itu hadir untuk menguatkan jiwa keduanya.
Akankah mereka runtuh begitu saja? Ataukah justru akan semakin menguat? Begitulah perlunya ujian dalam setiap kehidupan, karena jujur saja. Manusia itu kerap kali kufur nikmat. Manusia kerap kali bersikap serakah. Maka, fungsinya cobaan dan ujian itu adalah untuk menyadarkannya.
Menyadarkan bahwa kita ini makhluk fana. Makluk lemah. Makluk yang tak punya daya dan kekuatan, kecuali Allah yang memberi-Nya.
Semoga, kita termasuk orang-orang yang pandai bermuhasabah diri, dan terus mencari ridho ilahi.
...----------------...
__ADS_1