Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 74


__ADS_3

"U-ustadz Uzi?" ujar Rere terkejut. Sementara Ray malah menatap nyalang ke arah ustadz yang disebut Rere barusan.


"Berani sekali kamu main tampar perempuan. Apa gak malu sama kejantananmu?" ucap ustadz Uzi meninggikan oktavnya, sedangkan Rere hanya bisa melongo mendengar penuturan ustadznya.


Ray menyeringai, "Oh, ini toh pacar kamu yang sebenarnya, Re? Ustadz? Katanya ustadz tapi kok zinah juga," cibir Ray sambil mendelik tajam ke arah Rere maupun ustadz Uzi.


"Jaga perkataanmu! Kami sudah saling mengenal satu sama lain. Saya camkan, jangan pernah lagi kamu menganggu calon isteriku! Dia wanita mulia dan saya nggak akan segan-segan memberi perhitungan pada siapapun yang mencoba mencelakai calon isteriku!"


Rere terperangah dengan penuturan sang ustadz. Ini benar-benar di luar nalarnya. Bagaimana bisa ustadznya itu berbicara sefrontal itu? Apakah ini kebohongan belaka?


"Hebat juga ya Lo, Re. Setelah ada main sama Adit. Eh sekarang mau nikah sama ustadz? Sekalian aja poliandri," kata Ray lagi mencoba memanas-manasi pria yang mengaku ustadz dihadapannya.


"Astaghfirullah. Ustadz Uz. Jangan dengarkan perkataan manusia terkutuk ini. Rere bisa jamin nggak pernah ada main sedikit pun sama lelaki. Ini fitnah. Percayalah sama saya!" kata Rere serius dan menatap kesal ke arah Ray.


"Ya, saya percaya kamu. Untuk kamu, jauhi Rere! Jangan pernah menganggunya lagi. Saya nggak akan segan-segan bertindak lebih tegas daripada ini!"


Ustadz Uzi pun akhirnya memberikan intruksi pada Rere menuju ke tempat tujuannya dan mengantarkannya menyebrang sampai ke gerbang sekolah.


"Sial*n! Gue gak percaya si Rere punya calon suami ustadz itu. Gue gak bakal biarin!" sungut Ray sambil berdecih ke arah samping kirinya.


"Ustadz, makasih sudah menyelamatkanku. Padahal ustadz tidak perlu mengaku-ngaku saya sebagai calon isteri ustadz. Bagaimana jika pasangan ustadz melabrak saya? Pokoknya, terimakasih sudah mau menyelamatkanku hari ini." ujar Rere sambil menunduk dan langsung pamit menuju ke halaman sekolahnya.


"Saya tidak pernah tidak serius dengan apa yang saya ucapkan. Saya juga tidak punya pasangan, jadi kamu tidak perlu khawatir. Jangan sungkan kalau suatu saat akan terjadi lagi seperti ini, kamu bisa chat saya, ok," katanya dengan nada tegas, tapi tetap terdengar lembut dan itu berhasil membuat jantung Rere berdetak tidak karuan.


"Ish, apaan si ustadz Uzi ini. Buat aku baper aja. Dasar.... Ah, udahlah. Pusing mikirin dia, mending cabut aja sekarang," rutuk Rere dalam hatinya.


Rere pun tersenyum dan hendak melenggangkan langkah kakinya menuju halaman sekolahnya sementara Ustadz Uzi memandangnya penuh arti dari gerbang luar sekolahnya.

__ADS_1


"Tenang saja. Saya akan menunggumu. Mungkin ini terlalu cepat, tapi saya nggak rela kamu jatuh ke tangan pria yang salah. Tante Ratna dan Om Setia pun sudah menitipkanmu pada saya. Saya pastikan memang kamulah jodoh saya," batin Uzi.


...----------------...


Sedangkan di sebuah gedung, terdapat dua pria yang tengah sibuk berkutik dengan berkas-berkasnya atas tuduhan kasus korupsi dan penggelapan dana yang dilayangkan jaksa pada korban (pelaku tidak bersalah) tempo lalu.


Salah satu dari keduanya nampak risau karena sampai saat ini pelaku masih belum ditemukan dan dampaknya, jika mereka tak kunjung juga ketemu, bisa jadi akan menjadi kasus nasional dan itu akan melibatkan presiden yang akan maju untuk melihat perkembangan kasus.


"Bang Step, gimana ini. Ko orang-orang itu susah banget ketangkepnya, ya? Kayak belut aja licin, mereka ngumpet di mana sih, heran," gerutu Zae, kawan Yusuf yang saat ini sedang sibuk akan jobnya sebagai pengacara junior bersama Stephan.


"Hum, bener. Saya juga curiga mereka dilindungi oleh pihak yang lebih tinggi dan ini bisa jadi ancaman bagi negara jika orang-orang seperti mereka tetap dibiarkan berkeliaran di negeri ini." timpal Stephan yang ikut gusar akan pencarian pelaku yang sampai saat ini belum diketahui keberadaanya.


"Curiganya sih masih di Indonesia. Lagian kan kita udah jadikan mereka buronan di televisi dan poster-poster kecil di setiap jalanan di setiap kota. Apa kita viralkan juga secara internasional? Tapi saya rasa media sosial pun sudah cukup untuk memberitakan tentang mereka yang terlibat kasus korupsi dan penggelapan dana ini," ujar Zae nampak berpikir keras untuk menjerat tikus-tikus politik yang menyusahkan rakyatnya.


"Iya. Apalagi ini loh trilliunan. Satu trilliun saja saya harus kerja keras sampai beberapa tahun. Eh ini mereka enak aja ngemoney laundry sama nyari keuntungan dengan mengandalkan uang rakyat. Apa ya gak malu sama negara? Astaghfirullah. Hidup bukan untuk di dunia saja, tapi ada akhirat yang sejatinya menjadi tumpuan sejati kita kelak istirahat," ucap Stephan setengah emosi karena merasa miris dengan zaman yang semakin menggila ini.


"Rencana apa?"


Stephan pun yang sedari tadi penasaran dengan ide Zae akhirnya tersenyum cerah tatkala Zae membeberkan beberapa plannya itu.


"Gimana? Dengan menjebak, pasti tikus pun akan masuk ke perangkap kita bukan?" Zae nampak yakin dengan usahanya kali ini gak akan sia-sia.


"Saya setuju! Udahlah, kamu harus jadi adik ipar saya," kata Stephan cekikikan.


"Hem, kalau begitu, bantulah calon adik iparmu ini untuk meyakinkan adikmu tercinta," balas Zae tak kalah salting kala Stephan menganggapnya menjadi adik ipar.


"Tenang. Itu masalah kecil-lah. Saya pastikan adik saya sebetulnya menyukaimu,"

__ADS_1


Akhirnya diskusi panas yang beberapa waktu lalu berselang begitu lama berubah menjadi obrolan ringan bahkan tak segan di antara mereka berdua membicarakan perihal masa depannya.


"Bang suka sama Mega ya?'" tebak Zae, berusaha menggoda Stephan balik.


"Em, gimana ya? Kalau dibilang nggak, nggak yakin. Kalau dibilang iya, belum pasti. Menurutmu?" ujar Stephan meminta pendapat.


"Alaaaah, yang tua juga mainnya masih kucing-kucingan, apalagi saya yang masih ABG ini?" balas Zae sambil tersenyum smirk.


"Ah kamu bisa aja, Zae. Tapi jujur, sepertinya saya ingin menyeriusi perempuan itu. Apalagi dia malah mesantren 'kan pasca sepeninggal kedua orangtuanya," ucap Stephan jujur.


"Betul itu, Bang. Ayo perjuangkan kisah cinta yang berliku ini. Semoga menghasilkan buah yang manis seperti halnya Yusuf. Huh, anak itu lagi ngapain ya sekarang di Amerika?"


"Wah, Yusuf beneran LDR-an? Keren sih keren, asli. Semoga hubungan mereka tetap langgeng sampai kita bisa bersama dengan pasangan kita masing-masing."


"Aamiin." celotehan gajelas pun berakhir dengan Stephan yang memilih tidur terlebih dahulu, sedangkan Zae masih sibuk memilin tugas bisnisnya dari sang Papa.


Ya, meskipun Zae berkata akan terjun ke dunia law (hukum). Tapi yang namanya bisnis harus tetap berlanjut dan berganti estafet kepemimpinannya, maka Zae harus mengupayakan seimbang antar keduanya.


"Secara finansial saya sudah siap. Tinggal ngeyakinin hati ini, apakah keinginan gue ini murni dari hati terdalam atau gara-gara wanita itu? Gue gak mau mempermainkan Tuhan manapun. Semoga, ada titik kejelasan sehingga hati gue bener-bener yakin pengen login," ujar Zae bermonolog.


Ya, Zae tentunya harus menerima segala resiko yang terjadi, termasuk restu kedua orangtuanya, jika seandainya dia benar-benar akan menjadi seorang mualaf. Tak menutup kemungkinan Zae akan dicoret dari kartu keluarganya, mengingat kakak kandungnya yang seorang perempuan telah menikah dan kini dialah tumpuan satu-satunya yang bisa meneruskan bisnis keluarganya.


Huft! Zae sendiri masih bingung, dan akan memilih berjuang secara bertahap demi meyakinkan kedua orangtuanya bahwa pilihannya itu murni dari lubuk hatinya dan semoga dia benar-benar menepati janjinya.


...----------------...


Jangan lupa tekan tombol like, vote, dan komen-nya ya di setiap babnya! karena setiap kali dapat dukungan dari kalian, membuat Author lebih semangat lagi untuk menulis, hehe :)

__ADS_1


Thanks yang udah mau mampir dan stay baca karyaku. Semoga terhibur💕


__ADS_2