
"Rayn, kenapa mukamu bengkak gitu? Kamu habis nangis?" cemas Tiara pada sahabatnya yang kini tengah duduk santai di caffe hotel.
"Nggak kok, Ti. Aku habis merenung saja semalam. Alhamdulillah, aku sudah mantap hijrah," sahut Rayn sambil tersenyum.
"MaasyaAllah. Semoga istiqomah ya Rayn-ku" peluk Tiara sangat erat, karena sahabatnya itu mau mendengarkan nasihatnya agar masuk pesantren.
"Kamu mau ke mana? Udah cantik begitu," goda Rayn.
"Aku mau nemenin sidang skripsi. Sekalian liat-liat kampus, barangkali tiga tahun kemudian, aku pun masuk kampus ternama itu." ujarnya sumringah.
"Yakin mau kuliah?" tanya Rayn memastikan.
"Ko kamu nanya nya gitu sih? Emangnya kenapa?" ia sedikit kesal, karena pertanyaan Rayn sama seperti yang dilontarkan Yusuf semalam.
"Em, nggak deh. Gapapa. Tuh, suamimu sudah menunggu di depan," ujar Rayn mengalihkan pembicaraan.
"Kamu gak bakal ikut, Rayn?"
"Pengen sih. Nanti deh nyusul. Aku masih lapar nih, belum apa-apa pula,"
"Baiklah. Dadah Rayn! Kabari aku kalau mau ke kampus." Tiara pun melambaikan tanganya, lalu segera bergegas ke parkiran mobil.
"Gimana, udah siap? Eh, Rayn gak ikut?" tanya Yusuf yang sedang memanaskan mobil.
"Nyusul katanya. Dia belum persiapan sama sekali."
"Ya sudah. Kamu tolong pegangin berkas skripsiku ya!" pinta Yusuf. Ia sengaja bertingkah seperti itu, karena ia berusaha meluluhkan hati seorang Tiara yang memang sangat sulit ia taklukan.
"Aku mau baca ya, boleh kan?"
"Boleh dong!" Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Rupanya jarak hotel ke kampus Yusuf sekitar 30 menitan. Ia sengaja memilih hotel di situ, karena ia berniat untuk mengajak Tiara dan teman-temannya ke pulau seribu. Tentu, agar jarak hotel menuju kepulauan seribu itu lebih dekat, sehingga perjalanannya nanti tidak terlalu jauh saat ke sana.
Yap, wisata Kepulauan Seribu ini memang banyak diminati warga lokal maupun warga asing. Tentu, dengan banyaknya pulau-pulau yang disajikan di sana. Para wisata pun akan sesuka hati memilih, tempat mana saja yang akan mereka kunjungi bahkan satu-persatu pun adalah hal yang banyak dijajaki oleh para wisatawan.
__ADS_1
"Suf! Ko ada dalil-dalil al-quran-nya juga sih di skripsi kamu?" tanya Tiara penasaran.
"Baca dong yang teliti." ucap Yusuf dengan bangganya.
"Wah! Gila! Keren Suf!"
"Hem, gimana. Suamimu ini, cerdas bukan?"
"Tapi.. Kamu gak teliti deh!" seketika Yusuf pun yang sedang menyetir mengkerutkan keningnya.
"Apa? Kamu nemu kesalahan kah?"
"Iya! Nih, aku bacain..." Tiara pun membacakan teori dengan data yang menyangkut-pautkan dalil al-quran yang ada dalam penelitian Yusuf.
"Astaghfirullah.. Kenapa kamu gak bilang dari semalam, Ti!" ungkap Yusuf lesu. Itu artinya, saat ini ia harus merevisi kembali skripsinya. Mana satu jam lagi menuju pembukaan sidang.
"Hem.. Makanya, yang teliti dong! Di sini, yang hebat aku atau kamu sih?" ledek Tiara. Ia puas, karena Yusuf tadi telah berbangga hati.
"Bentar.. Perasaan bener deh penjelasan aku kayak gitu..." ucap Yusuf yang langsung disela oleh Tiara.
Gluk! Yusuf menelan salivanya kasar, ia mengusap wajahnya yang nampak memucat. Kini, ia mengerti, pembimbingnya memang berkali-kali menegurnya karena ia memang kurang teliti.
"Iya gitu, aku masukinya ke hukum pidana? Kamu gak salah baca kan?"
"Nih!" Yusuf pun akhirnya menepikan mobilnya. Ia membaca data penelitiannya dengan teliti. Benar saja, ia salah menempatkan dalil quranya. Mana lima halaman lebih.
"Agh! Gapapa lah. Nanti di revisi-nya pas selesai sidang saja." ungkap Yusuf frustasi.
"Emang boleh?" selidik Tiara yang nampak menahan tawa.
"Boleh lah. Sebelum di wisuda, pasti ada revisian juga kok. Jadi, gapapa kalau sekarang ada kesalahan, paling ngaruh ke nilai." ungkapnya lesu.
"Oh, begitu. Semangatlah!" akhirnya Tiara pun tertawa terbahak-bahak. Ia tidak kuat, karena Yusuf memang sangat lucu menurutnya. Kini mereka pun melajukan kembali mobilnya menuju kampus.
Tepat pukul 7 pagi. Yusuf pun sudah masuk ke ruangan aula fakultasnya. Di mana para mahasiswa yang akan melaksanakan sidang skripsi, melakukan pembukaanya terlebih dahulu di sana.
__ADS_1
"Suf! Aku gapapa ikut? Mau nunggu di taman aja lah."
"Hem, yaudah deh. Tapi kamu jangan kabur ke mana-mana ya? Awas aja kalau menghilang." ancam Yusuf.
"Ya nggak lah! Emangnya aku anak kecil? Aku bisa jaga diri. Inget! Aku kan mahir bela diri." tegas Tiara.
"Ah, waktu itu aja kamu kaok pas ngadepin Dhika. Sepandai-pandainya wanita bela diri, gak akan mampu ngalahin pria, Ti." nasihati Yusuf.
"Hem. Pokoknya aku mau keliling kampus ya? Kamu ujiannya di gedung ini kan? Nanti kamu telepon aja atau nggak chat aku kalau dah beres."
"Oke" kedua pasutri itu pun akhirnya berpisah. Sementara Tiara dengan riangnya menyusuri setiap gedung yang ada di kampus Yusuf. Sesekali ia terpana dengan salah satu gedung yang menurutnya menarik.
"Aha, aku mau masuk ke sini ah." ucapnya sambil berjalan menuju gedung yang bertuliskan perpustakaan.
Bentuk gedungnya itu seperti kristal yang tidak beraturan. Arsitektur bangunanya juga mempunyai konsep sustainable building yang ramah lingkungan. Selain itu, bangunan ini juga di desain terbebas dari asap rokok, hemat listrik, air dan juga kertas. Siapapun boleh masuk ke sini, termasuk selain Mahasiswa dari kampus tersebut.
"Wah, fix! Aku mau kuliah di sini." gumamnya yang sejak tadi tidak henti-hentinya mengagumi setiap gedung yang ia lewati. Termasuk gedung perpustakaan ini yang sangat ia kagumi arsitekturnya.
Ia pun kemudian menyusuri bangunan tiga menara itu dengan decak kagumnya yang tak henti-henti. Bagaimana tidak, salah satu bangunan itu ada yang berada di atas danau bahkan disebut dengan ruang apung, di mana gedung itu terhubung satu sama lain dengan gedung lainnya.
Setelah ia puas memasuki bangunan perpustakaan yang kece itu, ia pun berkeliling lagi ke setiap fasilitas yang ada di gedung perpustakaan. Seketika, ia terpana. Fasilitas di dalamnya itu ternyata tidak kaleng-kaleng. Namanya juga gedung serba guna, seláin ada toko bukunya, di sana pun ada coffee shop, restoran, kantor pos, bank dan lain sebagainya.
Tidak henti sampai situ, di dalam perpustakaan itu terdapat ruang teaternya juga. Di mana fasilitas mewah ini didukung oleh layar lebar dengan sound system yang sangat canggih, sebagaimana bioskop pada umumnya.
Fasilitas mewah lainnya pun ada yang dinamakan gold's gym (Gim Emas). Pusat kebugaran ini bukan sembarang fasilitas olahraga biasa. membeli gold's gym adalah pusat kebugaran yang terkenal dengan alat canggih dan biasanya hanya bisa diakses oleh masyarakat dengan segmen kelas menengah ke atas.
"Ah, daebak. Aku betah di sini. Aku rasa, aku ingin cepat-cepat keluar dari Pesantren dan segera kuliah di sini." gumamnya pelan. Seketika ia tak menyadari, ada seseorang yang menepuknya dari belakang dan ia pun akhirnya menoleh.
"Mega? Rere?" namun lagi-lagi Tiara dibuat terkejut, karena mereka datang tidak sendirian.
__ADS_1
...----------------...