
"Kamu yang baik-baik ya di Pesantren." ucap Yusuf menatap sendu ke arah isterinya.
"Mas!"
Tiara tak kuasa membendung air mata yang sedari tadi ia tahan. Ia pun menghamburkan pelukannya pada sang suami yang sudah stand by mengantarnya ke Bandara.
"Jangan nangis. Nanti Mas gak rela ninggalin kamunya," ucap Yusuf mengusap lembut pipi isterinya yang sudah dipenuhi linangan air mata.
"Janji ya, bulan depan pulang?" kata Tiara menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Yusuf.
"Insya Allah. Semoga Allah menghendaki," Yusuf pun membalas sodoran jari kelingkingnya juga pada sang isteri.
"Yaudah. Tuh, udah di tungguin mbak-mbak pramugari. Maaf ya, Mas nggak bisa antar kamu. Mah, nitip isteri Yusuf," kata Yusuf pada mertuanya.
Ya, hari ini adalah perpisahan mereka berempat. Berhubung Pa Raihan dan Yusuf akan ke Amerika tanpa bu Sandra. Maka mama Tiara pun ikut pulang ke Indonesia bersama anaknya.
"Tenang saja, anak ini udah kelewat nyaman sepertinya. Mana nih yang dulu ngeraung gak mau nikah sama Nak Yusuf. Eh, sekarang nempel terus gak mau pisah," goda Mama Sandra.
"Mama!" rengek Tiara sambil menggebuk lengan Mamanya.
"Sudah Mah. Anaknya jangan digodain terus, nanti makin menjadi rindunya," ujar Pa Raihan juga yang senang menggoda anak bungsunya.
"Udah ah, kalian bikin mood aja," rajuk Tiara.
Yusuf pun tersenyum, lalu sekali lagi membawa Tiara ke dalam pelukanya dan mencium keningnya begitu lama.
"Jaga diri kamu baik-baik ya. Inget, jangan banyak pikiran. Harus fokus belajar dan jangan lupa berkabar kalau ada apa-apa," bisik Yusuf pelan dan masih betah mengelus kepala Tiara yang tertutup hijabnya.
"Iya. Mas juga sehat-sehat di sana. Pokoknya jangan pernah putus koneksi. Tiara bawa ponsel sekarang, karena Ummi juga nyuruh. InsyaAllah, Tiara akan membanggakan Mas di sini. Cepet pulang ya. Jangan lama-lama di luar negeri,"
Setelah saling berpelukan dan saling melebur rindu untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya Tiara serta Mamanya pun take off pesawat dan meninggalkan pria kebanggaan mereka masing-masing dengan tatapan sendu dan haru bersamaan.
"Sudah, Nak. Jangan sedih lagi, nanti juga ketemu lagi. Mari kita siap-siap juga. Siang ini kita pun harus terbang ke Amerika." kata Pa Raihan menepuk bahu menantunya yang nampak masih betah melihat kepergian pesawat sang isteri hingga tak terlihat lagi.
***
__ADS_1
"Sayang," ujar Mama Sandra memecah lamunan puterinya.
"Hem," Tiara hanya menyahut singkat dan betah melihat awan dari samping jendela pesawat.
"Kamu mikirin apa sayang?" tanya Mama Sandra sambil mengenggam tangan puterinya dan menoleh ke arahnya lekat-lekat.
"Nggak kok, Mah"
"Sudahlah. Mamah sudah tau karaktermu. Ada yang kamu sembunyikan? Atau pendam?"
"Nggak ada, Mah. Tiara pengen gini aja. Maaf, Tiara sedang tidak mood berbicara," kata Tiara menghela nafasnya sejenak, lalu memejamkan matanya dengan perasaan yang masih campur aduk.
"Kamu nggak menyesal kan, nikah sama nak Yusuf?" tanya Mama Sandra lagi.
"Nggak, Mah. Udah deh. Kepo banget perasaan," ucap Tiara mendadak ketus.
"Loh, maksud Mama. Ekhem, tau deh. Kamu kenapa jadi begini," ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu berat kan berpisah dengan suamimu? MasyaAllah, Mama nggak nyangka. Yusuf bisa merubah anak Mama yang cantik ini menjadi lebih baik lagi." ujarnya bangga sambil mengelus pelan pucuk hijab puterinya.
"Ehm, maaf ya. Pernikahan kalian belum saja genap setahun tapi harus dipisahkan seperti ini. Mama sama papa minta maaf ya sama kamu. Tapi, mama juga nggak nyangka, kirain kalian bakal nunda dulu..," ucap Mama Sandra keceplosan.
"Ekhem. Apaan sih, Ma. Namanya juga kebobolan. Tiara juga mana mau kek begituan. Dia sih biang keroknya. Tapi, udahlah. Tiara juga main aman kok semalam. Jadi insyaAllah nggak bakal jadi lagi," jelas Tiara.
"Ya sudah, gapapa. Wajarlah, sayang. Namanya juga udah menikah. Kalau nggak begitu, dipertaruhkan perasaan kalian. Justru Mama seneng karena kalian sudah menyatu satu sama lain. Artinya, kalian benar-benar saling mencintai dan akan tetap mempertahankan status pernikahan kalian sampai menua nanti, InsyaAllah," nasihati Mama Sandra.
"Iya, Ma. Makasih,"
Percakapan ibu dan anak itu pun berakhir sampai sana. Keduanya memang sama-sama capek, dan sudah bosen juga mungkin mengobrol. Apalagi Tiara yang semenjak menikah ini sedikit tertutup pada orangtuanya.
Ia teringat nasihat suaminya, seberat apapun ujian rumah tangga yang mereka hadapi. Jangan pernah libatkan siapapun untuk masuk ke dalamnya, sekalipun itu adalah orangtuamu sendiri.
Bukanya gimana-gimana, namun kerap kali perselisihan dan pertengkaran di rumah tangga itu kalau bukan karena orang ketiga, ya pasti ada salah satu keluarga yang mencoba menyulut pertikaian itu.
Yusuf sendiri tidak mau hal-hal seperti itu menimpai bahterai rumah tangganya. Sebagai kepala keluarga, Yusuf terhitung tegas dan bisa mengarahkan isterinya, untuk menuruti segala aturan yang telah ia tetapkan sebagai imam Tiara.
__ADS_1
Tiara sendiri makin ke sini makin penurut, dan sedang berusaha menjadi isteri yang sholehah untuk suaminya. Maka, apapun yang Yusuf katakan, dia pun akan berusaha menaatinya selagi tidak keluar dari syariat islam dan juga tidak keluar dari tugasnya yang merupakan seorang isteri.
***
"Sayang. Kamu mau ke Pesantren, kapan?"
Kini Mama Sandra dan Tiara sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
"Emh, masih aja dua hari lagi. Mungkin H-1 aja ya? Lagian Rayn belum dikabarin lagi. Dia kan mau mesantren juga sama Tiara di pesantren Ar-Rizqon," curhat Tiara.
"Wah, Rayn seriusan mau mondok? Alhamdulillah," syukur Mama Sandra.
"Iya. Katanya mau memperdalam ilmu agama. Kalau Mega sih udah duluan mondok sama adiknya di Jawa Timur. Kalau Rere, dia sering ada ustadz ngajar mengaji ke rumahnya."
"Syukurlah, Nak. Teman-temanmu terbawa arus positif juga. Kalau begitu, kita mau pulang dulu ke rumah atau mau mampir dulu ke restoran?"
"Pulang aja, Ma. Kangen masakannya bik Mia,"
"Baiklah."
Sementara di negara Paman Sam yang merupakan julukan dari negara Amerika. Sepasang mertua dan menantu itu tengah sibuk melihat berkas-berkas perusahaanya yang sebentar lagi akan menjalin kerjasama dengan perusahaan Alphabet.
Ya, perusahaan Alphabet ini telah menjadi otak dibalik penciptaannya Google Maps, YouTube, Chrome, dan Android yang kegunaannya bisa kita rasakan di kehidupan sehari-hari.
Nah, di sini perusahaan Al-Aziz yakni yang di CEO-in langsung oleh Raihan dan sebentar lagi estapet kepemimpinannya akan beralih pada sang menantu. Ia sedang menawarkan kerja sama yang cukup menguntungkan kaum muslimin di Amerika dan juga wilayah-wilayah negara lainnya yang membutuhkan fasilitas untuk menunjang kegiatan islami.
Tawarannya itu ialah berupa rencana pembangunan beberapa pondok pesantren berbasis teknologi yang diusung oleh perusahaan Alphabet. Maksudnya, selain belajar tentang agama Islam. Mereka juga akan belajar dunia teknologi seperti cara menjadi Youtuber, IT, atau apapun yang berkaitan dengan teknologi.
Mengingat Alphabet ini adalah perusahaan berbasis teknologi, maka usungan Yusuf yang sedikit sakral mungkin lebih bertentangan ini akan membuat pergesekan sendiri dengan kaum-kaum lainnya yang notabenenya bukan seorang muslim.
Yusuf punya ide brilian ini tak lain karena di pesantrenya sendiri menerapkan skill keteknologian juga dan sisi kemodern-an. Sehingga para santri yang tengah belajar agama pun tak akan timpang tindih, ya ilmu dunianya dapat, ilmu akhiratnya juga dapat.
Entahlah. Apakah rencana ini akan berhasil atau tidak. Yusuf dan Raihan sedang menyiapkan argumennya yang semoga saja dapat diterima dengan baik oleh perusahaan Alphabet.
...----------------...
__ADS_1