Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 8


__ADS_3

"Bagaimana dok, kondisi Yusuf sekarang?" tanya Tiara sedikit khawatir.


"Pasien hanya butuh istirahat lama. Tidak perlu khawatir. Ini wajar terjadi untuk pasien yang baru saja selesai di operasi." tutur dokter jelas.


"Baik, dok, terimakasih." ucap Tiara tersenyum, Dokter pun pamit meninggalkan ruang Yusuf.


"Ti, silahkan gantian shalatnya. Mama sama Papa udah selesai." ungkap Sandra yang langsung masuk ke ruangan inap Yusuf.


"Oke, Ma."


"Eh, Ti?" Mama Sandra menghentikan gerak langkah tiara.


"Kenapa, Ma?" tanya Tiara heran.


"Kamu pake jilbab intans ini, ya! Bentar lagi kiai Rifki sama bu nyai Susi datang ke sini." ungkap Mamanya sambil tersenyum simpul.


"Lah, kenapa harus pakai hijab segala?" ungkap Tiara aneh.


"Udah, nurut aja sama mama. Mama juga mau mengistiqomahkan diri untuk berhijab. Kamu juga harus, kan bentar lagi masuk pesantren." kilah Sandra.


"Hih, dasarr." kata Tiara yang langsung berlari, karena harus menyusul Rere dan Mega yang udah jalan duluan. Sedangkan Rayn masih stay di sana, karena dia sedang haid.


...----------------...


"Om, Tante. Tiara dijodohkan ya sama Yusuf?" ungkap Rayn tiba-tiba.


"Hihi, kamu tau dari mana, Rayn?" tanya mama Sandra yang malah salah tingkah.


"Oh, tebakanku berarti valid. Nggak tante, inimah firasat aku saja." jawab Rayn tersenyum.


"Iya, nak Rayn. Jangan bilang-bilang dulu ke Tiara yah! Tante gak mau dia tau, bisa-bisa dia gak mau masuk pesantren." pinta Mama Sandra.


"Aman tante. Rayn akan tutup mulut." ungkap Rayn sambil mengacungkan jempol.


Dari arah lobby rumah sakit, nampak sepasang suami-istri yang berjalan tergesa-gesa, diiringi nafas yang begitu memburu. Perasaan mereka sudah nampak gelisah, dan juga tidak karuan. Ya, mereka bu nyai Susi bersama kiai Rifki yang datang menjenguk putra keduanya Yusuf.


"Assalamualaikum." ucap kiai Rifki. Saat beliau masuk, ia nampak terkaget, karena tidak menyangka, sobatnya itu menjaga anaknya di ruang inapnya.


"Waalaikumussalam." jawab Raihan, ia langsung menyapa sobatnya itu sekaligus calon besannya. Mereka nampak cukup akrab, karena dulu kuliah di universitas ternama dengan jurusan yang sama pula, yakni di jurusan Ekonomi Bisnis Syariah.


"Wah, gak nyangka, kamu ternyata nunggu Yusuf juga di sini. Makasih loh." kata kiai Rifki hangat.


"Sama-sama, Ki. Saya juga merasa bersalah nih. Yusuf seperti ini, karena telah menolong anak gadis saya." ucap Raihan jujur.


"Jadi, gimana kejadiannya, Han?" kata kiai Rifki penasaran. Raihan pun mengungkapkan kejadiannya dari awal sampai akhir, tanpa ada yang dilebihkan maupun dikurangi.


"Jadi begitu. Maaf banget yaa, Ki. Yusuf harus begini karena nyelamatin Tiara." maaf Raihan sekali lagi.


"Ya, gapapa. Ini semua sudah takdir. Semoga nak Tiara ke depannya selalu baik-baik saja."


"Aamiin."


Sebelumnya, di kamar itu memang terdapat dua sofa. Jadi, antara perbincangan kiai Rifki dan Raihan, tidak terlalu terdengar oleh para wanita.


"Bu Nyai, sehat?" sapa Mama Sandra menyapa duluan, ia nampak tersenyum manis pada sosok Susi yang wajahnya sangat cantik seperti Yusuf anaknya.


"Alhamdulillah, sehat. Mbak sandra gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, saya juga baik." Mereka ternyata sudah saling kenal, namun perihal perjodohan, Susi memang belum tahu.

__ADS_1


"Jadi, ini toh, anaknya mbak?" tanya Susi pada Sandra.


"Hehe, bukan bu nyai. Ini temennya anak saya, namanya Rayn. Anak saya sama temen-temenya yang lain masih pada di mushola." kata Sandra kikuk.


"Oh, begitu ya. Halo nak, Rayn." sapa bu Nyai Susi. Ia memang sosok yang hangat dan juga ramah, sehingga siapapun yang bertemu denganya akan merasa nyaman bersamanya.


"Iya, Bu N-nyai." kata Rayn gugup. Ia nampak canggung, karena baru pertama kalinya bercengkrama dengan ustadzah seperti Susi.


"Oh iya, kata suami saya. Anaknya mbak mau di pesantrenin yaa?" tanya Susi yang nampak menambah topik pembicaraan, agar suasana lebih hidup.


"Iya, betul itu. Mohon bimbingannya ya, Bu! Mohon di maklum juga, kalau nanti anak saya di sana, bakal buat kiai sama bu nyai repot." ungkap Sandra apa adanya.


"Ya, nggak gitu, mbak. Itu wajar. Toh namanya juga ngedidik. Ga ada kata repot. Malah ya seneng, mbak sudah percaya, nitipin anak mbak pada kami." ungkap bu nyai Susi tulus.


"Alhamdulillah. Soalnya, anak saya itu lumayan juga. Takutnya dia bakal banyak buat ulah di sana." ungkap Sandra khawatir.


"Gapapa, mbak. InsyaAllah, kami didik semampunya. Syukur-syukur kalau lama mondoknya, pasti adaptasinya menjadi santri bisa mendarah daging. Kan banyak tuh, santri yang sudah masuk pesantren. Namun saat ia sudah menyelesaikan masa mondoknya, banyak yang meninggalkan kesantriannya. Semoga saja anak mbak tidak seperti itu kelak. Inimah, kemungkinan terburuk saja. Gak semua gitu kok." ungkap bu nyai Susi panjang lebar.


"Iya bu nyai. Siapa sih yang nggak mau kebaikan untuk anaknya. Kalaupun anak saya begitu, saya berdoa saja. Semoga jodohnya ya, yang bisa bimbing dia gitu ke jalan Allah. Gaada yang tau juga kan, kehidupan seseorang ke depannya." timpal Sandra.


"Betul, mbak. Jodoh, takdir, rezeki, maut, sudah ada yang ngatur. Tinggal kitanya perbanyak do'a sama ikhtiar saja. InsyaAllah, jalan Allah pasti yang terbaik untuk kita."


"Semoga ya, bu nyai."


Ceklek!


Pintu pun terbuka. Tiara, Mega, dan Rere nampak salah tingkah. Mereka tidak mengucapkan salam, pun menengok ke kanan dan kirinya. Hal itu membuatnya jadi pusat perhatian, apalagi sang mama langsung negur anaknya itu.


"Waalaikumussalam. Kebiasaan, ngucap salam dong, sayang." tegur Sandra pada Tiara.


"Eh mama, maaf. Tiara lupa." Kini mereka ikut bergabung, bersama bu nyai Susi, mama Sandra, dan juga Rayn.


"Hehe, iya, bu ustadzah." kata Tiara kikuk sambil mencium tangan bu nyai Susi. Ia bingung, harus nyebut apa pada sosok wanita bergamis lebar, berkerudung panjang, dan juga berwajah cantik khas orang Arab itu.


"Panggil saja bu nyai. Bila perlu ibu saja. Tidak usah sungkan, nak." ungkap bu nyai Susi. Hal itu sontak membuat Rayn yang sudah tahu perjodohan Tiara, langsung mesem-mesem sendiri.


"I-iya, bu." ucap Tiara gugup. Ia pun melirik ke arah teman-temannya, dan memelototinya satu-persatu, lalu tersenyum manis lagi ke arah bu nyai susi.


"Bu nyai, kok cantik banget? umurnya sekarang berapa tahun? Awet muda banget gitu loh." celetuk Rere tiba-tiba. Sedangkan Tiara, Mega, dan Rayn tak percaya dengan kepedean Rere yang berucap ngasal itu. Mereka kompak melotot dan memandangi Rere yang tak ada malunya sama sekali. Namun Rere tak menanggapinya.


"Alhamdulillah, kalau masih dianggap awet muda. Umur saya 45 tahun kok, udah tua ini. Tinggal nunggu nimang cucu lagi." ungkap bu nyai Susi tertawa pelan. Ia merasa terhibur dengan sosok Rere.


"Hehe, habisnya cantik banget bu nyai. Jujur, saya terpana loh. Terus wajahnya, kek ketimur-timuran gitu. Apa sih namanya, gais?" ungkap Rere kembali dengan tingkat kepedeannya yang tinggi.


"Arab." kata Mega menyembunyikan ketawanya.


"Nah iya. Arab. Wih, apa sih bahasa Arabnya tuh?! Bikhoir, Alhamdulillah."


Sontak, semua orang yang di situ, termasuk kiai rifki dan raihan yang ada di sebrang sofa tertawa dengan tingkah sahabatnya Tiara itu.


"Maksudnya, Kaifa Haluk (dlomirnya ditunjukkan untuk seorang wanita/lelaki)?" timpal bu nyai Susi sambil ketawa pelan.


"Artinya, apa itu bu?" tanya Rere lagi.


"Bagaimana kabarmu? Itu artinya," jawabnya.


"Oh, nah ituu dia. Ustadz saya sering sebut kata itu, tapi aku kok ya lupa terus." ungkap Rere sambil tertawa.


"Namamu siapa nak?" sapa bu nyai susi satu-persatu pada teman-temannya Tiara.

__ADS_1


"Oh begitu. Kalian juga mau ikut mesantren juga sama tiara?" tanya bu nyai Susi pada mereka bertiga. Sontak mereka pun saling pandang dan tersenyum kecut menanggapi pertanyaan itu.


"Hihi, do'anya saja bu nyai. Semoga ada hidayah." celetuk Rayn sambil tertawa simpul.


...----------------...


"Mi.. Ummi." Lirih Yusuf pelan dari arah brankar.


"Ya sayang. Ummi di sini." kata bu nyai sambil memegang tangan anaknya itu yang masih belum bergerak terlalu bebas.


Yusuf pun membuka matanya perlahan, ia memindai orang-orang di sekitarnya, berharap bahwa ini adalah mimpi. Ya, sebelumnya ia tengah bermimpi, dan mimpinya itu ia sudah berada di sebuah taman yang indah. Lalu ia pun bertemu sosok Kirani. Mantan yusuf yang sudah dua tahun lalu meninggal akibat kecelakaan. Yusuf mengira, bahwa ia sudah tidak ada lagi di dunia.


"Ummi.. Ini ummi?" lirih Yusuf kembali.


"Iya nak, ini ummi, ini aby." kata bu nyai Susi dengan tatapan sendu-nya.


"Yusuf di mana, Mi?"


"Kamu di rumah sakit, nak. Gimana, kamu masih sakit kah? Ada keluhan apa lagi sayang?" tanya bu nyai Susi khawatir.


"Alhamdulillah, gak terlalu sakit mi. Cuma agak linu aja di bagian perut sebelah kiri." ungkapnya menunjuk ke arah perutnya sebelah kiri, lalu ia pun berbaring kembali dengan terlentang.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu saja nak. Ummi sama Aby, di sini kok."


"Mi. Tadi Yusuf ketemu Kirani." ungkapnya tiba-tiba. Sontak, Raihan dan Sandra yang mendengar hal itu, nampak penasaran dengan sosok Kirani.


"Di mana, sayang?" sahut Susi menyimak perkataan putranya itu.


"Pokoknya dia sudah bahagia di alam sana. Yusuf kira, Yusuf pun akan segera menyusulnya."


"Kita do'akan saja yang terbaik untuk Kirani, ya sayang! Jangan terlalu banyak pikiran. Sok, kamu tidur lagi aja." titah ummi Yusuf tegas pada putranya. Ia gak mau lagi anaknya itu galau lagi seperti dulu, makannya ketika Yusuf berbicara tentang Kirani, Susi sering kali mengalihkan pembicaraannya itu.


"Om, Tante. Makasih ya, udah jenguk Yusuf ke sini." ungkapnya lemah dan melirik ke arah Raihan dan Sandra.


"Iya, nak. Maafkan kami ya, gara-gara Tiara, kamu jadi seperti ini." ungkap Raihan yang masih saja merasa bersalah.


"Nggak gitu ko, Om. Ti, kamu baik-baik saja kan?" kata Yusuf yang kini melirik ke arah Tiara. Ia tiba-tiba saja terpana, karena kini Tiara sudah tertutup sempurna. Meskipun hijab instans yang pendek, namun itu membuat penampilan Tiara nampak lebih indah di matanya.


Di tanya begitu, Tiara nampak salah tingkah, "Baik kok. Maafin aku ya! Udah buat kamu kayak gini," kata Tiara singkat.


"Faisal ke mana, By? Kok dia gak jenguk Yusuf," kata yusuf yang bertanya-tanya mencari keberadaan Faisal.


"Dia bilang, ada urusan keluarga. Bibimu sama pamanmu minta dijemput semalem. Katanya ada kondisi darurat, yang menyebabkannya harus ke luar kota. Jadi, Faisal baru tau kamu di sini." jelas kiai Rifki.


"Oh, gitu ya. Padahal malem, Faisal izinnya ke toilet. Eh, ninggalin Yusuf ternyata." ungkap Yusuf kecewa.


"Benarkah? Ko kamu tau, aku ada di sana kemarin?" timpal Tiara. Sontak orang-orang pun menoleh ke arah mereka berdua.


"Aku ya denger orang-orang yang teriak, kasian. Makannya di samperin, eh ternyata kamu." ungkap Yusuf datar.


"Hem, gitu ya! Pokonya, maafin banget. Aku ngerasa bersalah banget." ungkap Tiara tulus.


"Jadi, perjodohan Yusuf, ummi aby udah tau?" ungkap Yusuf tiba-tiba.


Orang-orang pun sontak memandang ke arah Yusuf tak percaya. Perjodohan siapa dengan siapa, mereka pun bertanya-tanya. Sementara Raihan, Sandra, dan Rayn yang sudah mengetahuinya hanya bertingkah kikuk saja. Karena Yusuf sendiri yang saat ini tengah menggali kuburannya.


"Perjodohan siapa?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2