
"Kita ke mana dulu, Mas? Ke Barla dulu?" tanya Tiara yang saat ini sudah tampil cantik dengan gamis yang senada dengan warna khimarnya yang cerah. Ya, hari ini, Tiara memilih pakai baju warna biru langit sebagai costumnya liburan di Turki.
"Iya. Dari sini, kita langsung gas ke sana. Kasihan, kayaknya gak sabaran banget, " jawab Yusuf yang nampak sudah serasi juga mengenakan pakaian yang senada dengan sang isteri.
"Yeay, iya dong. Boleh gak sih nginep di sana? Haha,"
Yusuf pun tergelak, "Iya, kalau dibolehin, apapun yang kamu mau, Mas akan turutkan," Tiara pun langsung berjingkrak histeris dan memeluk suaminya itu.
"Makasih suamiku. Love you full," ucapnya sambil mengecup singkat di pipi sang suami.
"Aku lebih mencintaimu, sayang," wajah Tiara pun bersemu merah.
"Mas. Kamu gak keberatan kan, aku gak dicadar?" kini mereka berdua sudah berada di mobil, di mana Yusuf sendiri yang mengemudikannya. Kebetulannya, di sana Raihan sudah menyediakan kendaraan untuk anak dan menantunya itu.
"Kenapa bertanya seperti itu, sayang?" kata Yusuf yang masih memfokuskan diri menyetir sambil sesekali melirik ke arah maps.
"Takut aja kamu punya keinginan isteri yang bercadar, sedangkan aku? Kan nggak. Biasanya anak-anak kiai sangat protektif pada isterinya dan menyuruh isterinya memakai cadar," sahut Tiara menerka.
"Mas tidak ingin membebankan sesuatu yang membuat isteri Mas keberatan, apalagi merasa tidak nyaman. Kalau kamu nyamannya begini, ya tidak masalah. Yang jadi masalah, kalau kamu mempamerkan kecantikanmu dan auratmu ke lawan jenis selain suamimu. Itu yang Mas tidak inginkan. Mas percaya, kamu selalu menjaga marwahmu sebagai seorang isteri," pernyataan Yusuf semakin membuat Tiara melting dibuatnya.
"Ko kamu bisa sehangat ini, sih? Aku dengar, kamu sangat dingin dan cuek pada lawan jenis sebelumnya. Sungguh, aku senang. Allah mendatangkan lelaki sepertimu, Mas. Mengingat, aku adalah pencemburu handal yang tidak sanggup jika memiliki seorang suami yang terlalu humoris pada orang lain, eh ternyata Allah Maha Baik, memberikan suami yang..., hehe" jujurnya.
Yusuf pun spontan mengelus punggung tangan sang isteri dengan tangan kirinya, "Mas juga bersyukur punya isteri sepertimu, sayang. Coba kamu penurut dan pendiam. Pasti rumah tangga ini akan terasa datar-datar saja. Padahal, hidup itu harus bergelombang biar tidak bosan saat menghadapinya. Sesekali kita harus menaiki track yang terjal, supaya kita lebih siap menghadapi track-track lainnya yang lebih terjal dari sebelumnya. Kamu ikhlas kan, punya suami seperti Mas 'mu ini?"
"Ah, Mas. Kenapa dirimu seperti seorang sastrawan saja. Terkadang, aku aneh sendiri. Ini suamiku yang terlalu romantis apa kesambet apa gitu. Ko semakin ke sini, dirimu sangat berbeda dari kesan pertamaku saat bertemu denganmu,"
Yusuf pun tergelak, "Aish, emangnya dulu kamu anggap suamimu ini kayak gimana? Justru Mas yang harus bertanya seperti itu. Kamu itu waktu dulu udah mah jutek, berani, keras kepala, sukanya marah-marah. Tapi sekarang kenapa jadi jinak gini kayak kucing, Mas kan jadi gemas sendiri,"
"Oooh, jadi ini curahan hatimu yang sebenarnya ya? Tadi aku apa, Mas? Jutek, keras kepala, suka marah-marah?" Tiara pura-pura merajuk.
"Ya, kan. Eh, kamu jangan salah paham sayangku. Maksudnya...,"
"Alaaah, udah deh. Watakku memang begitu kok, itu fakta. Kenapa juga kamu mau sama aku,"
"Tuh kan. Udah deh, jangan menabur garam kalau tidak siap menahan perihnya. Kamu sendiri yang repot kalau sudah terluka dengan pikiran negatifmu, sayang,"
"Hehehe, bercanda, Mas. Aku cuma nguji kamu aja kok,"
"Hadeuh, dasaaar," mereka pun berceloteh dan saling tertawa satu sama lain di dalam mobil.
Hingga akhirnya, tujuan mereka pun sudah terpampang nyata di depan mata mereka.
"Aaaa... Ini rumahnya? Rindang banget, mana ada pohonnya," takjub Tiara.
"Iya sayang, dulu kan Syeikh Said Nursi gak tinggal lama-lama di sini, paling sesekali saja. Karena sebagian besar umur beliau dihabiskan di penjara." timpal Yusuf.
"Ah, suka pengen tak hih sendiri kalau udah nginget tentang ketidakadilan beliau saat dulu memperjuangkan kebenaran dan kejayaan Islam. Tapi, kalau nggak gitu, pasti Turki gak akan punya sejarah emas seperti itu, ya? Bahkan, nilai-nilai Islam yang dulunya sempat dilecehkan bahkan ditiadakan oleh presiden pertama Turki, kini dunia bisa melihat sendiri kebenaran itu. Entah mereka malah berpihak pada rezim sekuler yang diusung Kemal, ataukah perjuangan para 'ulama dalam mempertahankan agama Islam di Turki,"
Kini keduanya duduk di rumah bertingkat dua itu, di mana rumah yang dulu ditempat tinggali seorang ulama besar Turki yang begitu terkenal, sampai karya-nya pun mendunia.
__ADS_1
"Betul sayang, Allah punya maksud tertentu, kenapa segala sesuatu itu bisa terjadi. Kalau bukan karena kehendak Allah, pasti kita pun gak akan bertemu dan bersatu seperti saat ini," ujar Yusuf sembali menjulurkan kakinya di pinggir balkon rumah syeikh Said. Begitupun Tiara.
"Aih, jangan buat sedih deh, Mas. Udah ini kita berpisah loh. Awas jangan lupa, kamu harus sesekali pulang. Jangan sampai enggak. Sesibuk apapun kamu di manapun itu," kata Tiara memperingatkan.
"Iya isteri kecilku. Kayak yang ketakutan gitu ditinggal suaminya. Gimana, masih mau di sini, apa mau ke tempat lainnya lagi?" tawarkan Yusuf.
"Ke Masjid Hagia Sophia yuk!" Yusuf pun menganggukkan kepala, lalu mereka pun berpamitan terlebih dahulu ke warga sekitar sana.
"Mas! Gak nyangka aku, padahal ke sini niatnya cuma mau berkunjung. Eh malah dikasih ini, ya!" kata Tiara berbinar.
"Alhamdulillah. Coba dipakai sayang," titah Yusuf.
Lalu Tiara pun segera memakai sorban, yang katanya adalah milik Syeikh Said Nursi yang tersisa di sana.
"Ini beneran 'kan buat aku? Ya Allah, kayak mimpi. Aku pakai sorban Syeikh Said," ujar Tiara memperlihatkan sorban itu pada suaminya, lalu ia kalungkan layaknya syal di luaran kerudungnya.
"Iya. Kamu seneng?"
"Banget!"
"Alhamdulillah," Yusuf pun mengusap lembut pucuk hijab isterinya, lalu mereka pun segera melajukan mobilnya menuju ke masjid Hagia Sophia.
***
"Ma sya Allah," takjub Tiara.
"Ada museum juga ternyata, wah..." Tiara semakin takjub melihat keindahan masjid Hagia Sophia itu.
"Mbak, dari kapan tinggal di Turki?" tanya Tiara dengan akrabnya pada wanita yang saat ini menemani mereka tour di Masjid Hagia Sophia.
"Dua tahun, Mbak. Kebetulan, saya juga salah satu mahasiswi di Universitas yang ada di sini. Ya, ceritanya sambil nyambil," ucapnya ramah.
"MasyaAllah. Kuliah toh. Jurusan apa? Sekarang semester berapa?" tanya Tiara lagi.
"Iya. Alhamdulillah dapat beasiswa juga. Tapi, saya rasa tidak cukup kalau hanya mengandalkan uang beasiswa. Jurusan Pariwisata, semester tiga," jelasnya.
"Oh, pantesan. Baru setahunan berarti ya. Masya Allah, keren," puji Tiara.
"Tidak, Mbak. Ini pun karena keberuntungan saja," ucap tour guide itu merendah sambil sesekali melirik ke arah Yusuf.
"Mas. Kayaknya aku pengen ke kamar mandi dulu deh. Bentar lagi dzuhur kan? Sekalian wudhu aja," kata Tiara, bermaksud mengajak wudhu ke WC.
"Di sini tidak ada kamar mandi. Kalau mau, bisa ke salah satu restoran, Mbak," jawab tour guide wanita itu.
"Oh, yaudah. Mungkin, kita cukupkan saja ya pemandunya sampai di sini ya, Mas? Nanti kita ke sini lagi, cuma mau shalat. Udah gitu foto-foto bentar," kata Tiara yang sudah ngeuh, bahwa sedari tadi pemandu wisata itu melirik terus ke arah suaminya.
"Iya sayang, boleh. Kamu kebelet banget? Kalau nggak, mending foto-fotonya sekarang. Mumpung masih ada si Mbaknya," sahut Yusuf.
__ADS_1
"Aih, kayaknya suaminya cinta banget sama perempuan ini. Tapi kok ya kayak yang muda banget isterinya. Gagal deh pengen deketin," batin tour guide itu sambil tersenyum getir.
"Nggak sih, Mas. Yaudah deh. Mbak, tolong fotoin kami yang estetik ya!" pinta Tiara sambil menyerahkan ponsel iphone-nya ke pemandu wisata itu.
"Satu.. Dua... Tiga.. Cekrek!"
"Lagi, Mbak. Jangan berhenti ya, Mbak. Sebelum kami stop-kan," teriaki Tiara.
"Hih! Aku kok kesel sama cewek itu!" batin tour guide itu lagi.
Pasalnya saat ini Tiara dan Yusuf berpotret sangat mesra. Malah Yusuf tak segan-segan merangkul pinggang ramping sang istri, lalu mencium pipi tembem isterinya itu.
"Ah, makasih ya, Mbak!" Tiara pun tertawa puas melihat raut wajah pemandu wisata itu. Lalu dia pun langsung meninggalkan kedua pasutri itu dengan wajah kusut kayak baju gak disetrika.
"Ahaha, Mas. Kok awalnya aku tersanjung sama perjuangannya bisa sekolah di sini pakai beasiswa. Eh, dia ternyata genit sama kamu. Aku ya gak bisa biarin cewek gatel kayak dia naksit sama kamu, Mas," dumel Tiara, sedangkan Yusuf malah tertawa lebar.
"Cie, ada yang cemburu nih," Tiara pun merengut, namun Yusuf malah curi-curi kecupan di pipi isterinya.
"Kamu tetap yang terbaik, sayang. Mau seribu wanita menggoda pun, aku akan tetap memilihmu," seketika wajah Tiara pun merona, sampai-sampai pipinya itu memerah dan Yusuf yang melihatnya pun gemas dibuatnya.
"Udah ah, kamu bikin melting aku terus," Tiara pun langsung menggandeng lengan suaminya itu, lalu mereka pun meninggalkan dulu kawasan masjid itu dan hendak ke restoran untuk makan sejenak, lalu wudhu di sana dan akan kembali lagi ke masjid Hagia Sophia.
***
"Mas. Kenyang ah, gak usah makan," tolak Tiara yang sedari tadi disodori Yusuf, bahwa dia harus mengisi perutnya itu.
"Kamu baru aja sembuh, sayang. Ayo makan, sedikit aja," pinta Yusuf. Lalu Tiara pun malu, karena dia serasa jadi pusat perhatian, karena Yusuf malah menyuapinya.
"Mas, malu!" cicit Tiara sambil melirik ke arah kanan dan kirinya.
"Lebihpada kamu gak makan," timpal Yusuf tenang.
"Mas juga makan, dong. Masa aku doang yang makan. Gak adil," rengut Tiara.
"Iya. Nih, Mas juga makan, kok," Yusuf pun menyuapi dirinya dengan sendok bekas Tiara.
"Aih, kamu gak jijik, Mas? Itu bekas aku loh," kata Tiara sambil menunjuk sendok yang sedang Yusuf suapkan ke mulutnya.
"Sunah, sayang. Rosul aja makan, minum, mandi, bareng sama Sayyidah 'Aisyah. Masa kamu gak mau, hem?" Yusuf pun mengusap lembut pipi Tiara.
"Ih, bisa-bisa jantung aku meledak. Kamu buat jantung ini gak aman terus, Mas!" rengek Tiara.
"Aduh, aduh. Mana yang jantungnya mau meledak, sini biar diobati dulu sama dokter tersakti yang pernah ada," ujar Yusuf yang malah meraba dada Tiara dibalik hijabnya.
"Mas!"
Kedua pasutri itu pun tertawa bersama, lalu setelah itu mereka pun berwudhu dan segera melaksanakan shalat ibadah dzuhurnya di Masjid Hagia Sophia.
***
__ADS_1