Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 33


__ADS_3

"Ti, mau nemenin aku ke Jakarta gak?" tanya Yusuf yang saat ini sedang beres-beres pakaian di lemarinya.


"Mau ngapain?" Tiara pun sama sedang menata barangnya di kamar Yusuf. Kini hubungan keduanya pun nampak akur dan tak seperti hari kemarin yang masih kaku dan membisu.


"Besok aku sidang munaqosah. Rencananya siang ini sih berangkatnya. Kalau kamu mau, aku bisa nyewa hotel tiga hari tiga malam. Barang-barang aku pun masih ada yang tertinggal di asrama. Jadi mau bawa mobil ke Jakartanya. Sekalian aja gitu, kamu bisi mau main dulu di Jakarta." ucapnya sambil merenggangkan pergelangan otot dan punggungnya yang pegal.


"Oh, boleh dong. Di sini juga gabut, gak ada kerjaan. Mana lagi libur semester. Aku beneran boleh ikut?" Tiara pun nampak sudah menyelesaikan aktivitas beres-beresnya itu. Ia pun segera rebahan dan tiduran di atas kasur sambil mengobrol dengan Yusuf dari jarak yang jauh.


"Boleh lah. Kalau mau ikut, cepetan pilih baju mana aja yang mau di bawa. Nanti satuin aja sama yang aku di koper yang sama."


"Idih, gak mau ah. Pisah koper aja napa? Aku kan ribet bawaanya. Masa harus sekoper sih." tolak Tiara sebal.


"Hem, katanya mau nurut, tapi kok memberontak lagi. Nanti aku hukum loh," ancam Yusuf sambil tertawa simpul.


"Ya nggak harus gitu juga kali. Enak aja ngehukum. Aku juga bisa ngehukum kamu!" jawabnya sebal.


"O ya? Kamu beneran mau hukuman dariku?" kini Yusuf pun mendekat ke arah Tiara. Sontak Tiara berubah jadi ciut, kalau Yusuf sudah seperti itu.


"Kamu! Kenapa mainnya kek gitu sih? Mesum banget!" cibir Tiara yang masih so' berani, padahal aslinya sedang ketar-ketir.


"Katanya mau hukuman dariku. Ayo! Masih berani gak?"


"Siapa juga yang mau, emph!" tiba-tiba saja, Yusuf menerkamnya. Tentu saja Tiara langsung memberontak dan ingin segera terlepas dari jeratan mautnya.


"Yusuf!" karena tidak tega, Yusuf pun hanya mengkecupnya saja. Untungnya tidak sampai kelepasan.


"Batal! Ogah banget ikut ke Jakarta terus sekamar sama kamu. Nanti siapa yang mau nolongin aku kalau kamu kayak gitu lagi. Males!" Tiara pun merajuk. Kini ia menyelimuti dirinya, lalu memunggungi Yusuf yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Hahaha, baru segitu aja takut. Katanya mau ngehukum aku. Masa udah kalah sih?"


"Bodo amat!"


"Eh, ada ticket konser Blackpink nih. Wah, kayaknya seruuuu. Aku mau booking ah." gumamnya sambil memanas-manasi Tiara yang pura-pura tak mendengar.


"Hei! Kamu mau ke sana?" Tiara pun seolah-olah tertarik, namun saat menoleh ke arah Yusuf, ia pun sebal kembali.

__ADS_1


"Iya dong. Ada yang batal mau ikut ke Jakarta. Jadi, aku mau booking sendiri aja ah. Kebetulan, temen-temen pun pada mau ke sana."


"Aku ikut. Tapi kamu janji, gak bakal kayak tadi lagi kan?" Tiara pun memelas, karena dirinya memang menyukai k-pop asal Korea itu.


"Yakin? Tapi kalau aku mau gitu, gimana?" Yusuf pun menggoda lagi gadis kecilnya itu.


"Udah ah! Nyebelin! Kamu ingkar janji! Inget loh, kamu pernah janji apa sama aku! Jahat kamu!" Tiara pun menangis. Kini tangisannya sangat keras, saking kerasnya, Yusuf pun kewalahan. Ia takut, kalau tangisan Tiara ini akan terdengar sampai luar kamar.


"Ti! Udah dong. Yah, aku cuma bercanda. Iya, Iya. Aku inget janji aku. Plis, berhenti dong nangisnya." Tiara pun memukuli Yusuf sangat brutal. Kini Yusuf pun memeluk erat Tiara. Ia tak ingin gadis kecilnya itu semakin membenci dirinya.


"Kamu jahat! Kamu pengkhianat! Aku benci kamu!"


"Maaf Tiara, Maaf!" akhirnya Tiara pun mau menghentikan tangisnya. Setelah kata maaf, janji, tidak akan menggodanya lagi seperti ini.


"Kalau kamu gini lagi. Aku bersumpah, kamu harus menceraikan aku! Aku gak takut sama sekali. Sekalipun perceraian itu tidak disukai oleh Allah. Tapi aku gak mau punya suami pengkhianat kayak kamu!" maki Tiara sangat terang-terangan.


Akhirnya, Yusuf pun mengalah. Ia mengaku salah, ternyata Tiara bukan tipe yang akan berdamai jika digodai. Huft! Yusuf benar-benar salah strategi.


"Iya. Tiara. Aku janji!"


Memang sulit! Menikahi ABG seperti Tiara ini perlu kesabaran ekstra untuk menghadapinya. Yusuf pun harus mau menerimanya, karena bagaimanapun ia adalah imam dalam keluarganya. Ia harus bersikap tenang, netral, adil, dan bijaksana dalam menyikapi segala hal, termasuk nafsu dan egonya yang memaksanya untuk berbuat ingkar seperti barusan.


**


**


"Mi, Aby. Yusuf berangkat ya!" ucapnya sambil mencium tangan kedua orangtuanya dengan ta'dzim. Diiringi Tiara yang ikut menyalimi kedua mertuanya itu.


"Kamu jaga baik-baik Tiara yah. Kalau Yusuf berbuat nakal, jangan segan-segan marahi atau nggak laporkan pada kami." ucap kiai Rifki tersenyum.


Sontak Tiara pun menoleh kejam ke arah Yusuf, lalu ia pun menatap kembali mertuanya dengan lembut sambil menunduk dan tersenyum, tanda ia mengerti dengan peringatan tersebut.


"Iya, Ummi, Aby. Masa sih, Yusuf nakal sama istri sendiri. Ya sudah, Assalamualaikum." ucapnya sambil berjalan menuju ke mobil.


"Waalaikumussalam." sahut keduanya kompak.

__ADS_1


"Mi, semoga rumah tangga Yusuf semakin baik ya! Aby liat sih, mereka belum mau memberikan cucu." celetuk kiai Rifki.


"Hush! Liat dong By menantu kita. Dia lulus SMA aja belum. Kasian loh kalau harus hamil. Ummi gak tega."


"Eh, iya ya. Astaghfirullah." mereka berdua pun nampak terharu, karena putra kedua mereka akhirnya sold out, walaupun harus terpaksa karena pernikahan keduanya memang sangat mendadak.


Di dalam mobil, nampaknya keduanya saling terdiam. Ya, mereka memang belum seakrab dan seharmonis pasangan suami-istri pada umumnya. Nampaknya Tiara yang bawel pun masih mempertahankan egonya, dia masih sebal, karena kecupan pertamanya telah dicuri oleh seseorang yang bergelar suaminya. Ia nampak tak rela, jika ciuman pertamanya itu dicuri oleh Yusuf.


"Kamu masih marah ya?" ucap Yusuf memecah keheningan. Ia pun nampak jengah kalau di situasi canggung macam ini.


"Hem" balasnya singkat.


"Maaf dong! Kamu mau apa? Mau es krim? Bakso? Martabak?" bujuk Yusuf.


"Gak mau! Emangnya aku anak kecil yang akan maafin kalau keinginanku terkabul." ucapnya yang masih merajuk.


"Huft! Ya sudahlah."


Mereka pun ujungnya melakukan perjalanan dengan saling berdiam dan sesekali menyetel musik pop atau jadul. Ya, dari segi hobby pun nampaknya mereka tak selaras. Apalagi hal lainnya?


"Lagunya ko jadul-jadul sih! Yang modern kek, dasar ketuaan banget!" ketus Tiara yang nampak tak suka karena Yusuf menyetel lagu Wali, Arilasso, Noah.


"Hem, kamu mau lagu apa? Makanya bilang dong, biar aku gak bingung." sahut Yusuf yang nampak jengah juga, karena ia selalu saja disalahkan.


"Gak usah!"


Ya, kini mereka sudah sampai di Bandung. Ashar pun sudah berkumandang, mereka pun memilih berhenti dulu di rest area yang ada mushola dan juga restoran untuk beristirahat sejenak atau sekedar ngopi santai sambil nyemil makanan.


"Aku lagi haid. Mau nunggu di sini aja!" ucapnya sambil mengkatupkan matanya. Nampaknya sang dara mengantuk.


"Baiklah. Kalau kamu mau jajan atau nyemil. Ke luar aja. Masih ada kan uang?" tawar Yusuf sebelum keluar dari mobil.


"Ya, ada. Aman! Udah, sholat dulu aja." Yusuf pun memilih pergi untuk shalat ashar dan tidak mengunci mobilnya itu.


"Huh, gak bisa tidur. Haus. Aku beli cemilan dulu ah." Tiara pun keluar. Namun, saat ia hendak ke luar ia melihat seseorang yang dikenalnya.

__ADS_1


"Rayn?" gumam Tiara sambil melotot tak percaya. Karena sahabatnya itu sudah agak beda, alias tidak seperti yang ia kenal sebelumnya.


...----------------...


__ADS_2