Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 31


__ADS_3

"Ti.. Tiara.." teriak Yusuf cukup keras, karena ia sedang mencari keberadaan istrinya itu.


"Loh, ko gak ada di kamar. Di mana ya?" gumamnya lagi.


Ia pun lantas mencari Tiara ke setiap sudut ruangan yang ada di rumahnya itu. Sontak, sang Ummi pun aneh melihat pengantin baru itu nampak kelimpungan seperti mencari barang yang hilang namun tak kunjung ketemu.


"Suf! Lagi nyari apa?" tegur sang Ummi mendekat ke arah anaknya.


"Tiara ke mana ya, Mi? Ko Yusuf gak liat dia di kamar" gumamnya tanpa melirik ke arah Umminya.


"Serius kamu gak liat dia di kamar? Ummi perhatiin dia belum keluar kamar kok. Suf! Kamu jangan nakut-nakutin Ummi deh,"


"Serius, Mi. Yusuf gak liat dia di kamar," akhirnya sepasang ibu dan anak itupun memutuskan untuk kembali ke kamar Yusuf. Lalu mencarinya di sana.


"Coba di kamar mandi. Ko Ummi curiga Tiara di dalam ya?"


Benar saja. Kamar mandinya itu terkunci dari dalam. Di dalamnya terdengar seperti percikan suara air yang deras diiringi suara tangisan wanita yang begitu menyayat hati. Sontak, Umminya pun langsung menyuruh anaknya untuk mendobrak pintu kamar mandinya.


"Suf! Ayo dobrak yang keras!" dorong Umminya yang tak sabaran, karena Yusuf masih saja kesusahan untuk mendobraknya.


Akhirnya, pintu pun terbuka. Sementara sang Ummi malah pergi ke dapur, membawa air hangat dan juga makanan berat dan ringan untuk mengisi perut menantu terkasihnya itu.


"Tiara." lirih Yusuf yang langsung membopong tubuh istrinya yang nampak basah memakai kimono. Ia menemukan Tiara dalam keadaan tergeletak tak berdaya di dalam bathtub yang hampir membuat Tiara kehabisan nafas.


"Astaghfirullah. Kenapa kamu harus senekad ini?" Yusuf pun menitikkan air matanya. Sungguh, ia benad-benar sedih. Ia merasa sangat bersalah, karena dirinya, hampir saja sang istri kehilangan nyawa.


Yusuf pun akhirnya mau tidak mau mengganti pakaian sang istri dengan perasaan tidak karuan. Awalnya ia ingin memintang tolong Umminya saja, namun sang ummi rupanya tak kunjung menghampirinya.


"Ti! Maaf! Aku udah unboxing duluan! Argh! Kenapa ujian-Mu ini sangat berat bagiku." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Pikiranya terus meronta-ronta, karena bagaimanapun ini yang pertama kalinya ia melihat organ tubuh wanita yang sudah halal baginya. Tentu, Yusuf yang selama ini selalu menjaga pandangannya, bahkan sang mantan yang dulu pernah menjalin hubungan denganya pun tak pernah sampai bersentuhan apalagi beduaan di tempat yang sepi. Maka, ia sangat minim pengalaman dalam hal seperti ini.


"Tidak! Ini halal bagiku. Ayo Yusuf! Cepetan!" ucapnya menyemangati dirinya.


Ia sedikit tremor memakaikan pakaian isterinya itu, sampai-sampai ia lupa tak memakaikan pakaian dalam dan langsung saja memakaikan daster rayon premium itu pada Tiara.


"Argh! Bakal gak bisa tidur ini!" akhirnya ia pun keluar dari kamarnya dan hendak menghampiri Umminya itu.


"Ummi!" panggilnya sambil meminum jus alpukat yang tergeletak di meja itu hingga tandas.


"Eh, itu buat Tiara. Ko kamu habisin sih." omel sang Ummi.


"Kenapa gak ke kamar dulu? Tiara kebasahan tadi. Harusnya ummi yang gantiin bajunya" keluhnya sambil cemberut menatap sang Ummi.


"Loh, kamu kan suaminya? Kenapa harus sama Ummi?" ungkap Susi sambil tersenyum, lalu menyodorkan cemilan kue susu ke arah puteranya itu.


"Suf!" sang Ummi pun kini duduk di sampingnya, lalu memperhatikan mimik wajah puteranya itu lekat-lekat.


"Kamu harus kuat melewati ini semua. Inget! Perjalanan hidup seseorang itu tak harus berjalan mulus. Adakalanya kamu harus melewati bebatuan yang terjal, supaya kamu bisa kuat menghadapi rintangan yang lebih besar lagi di depan sana. Menurutmu, mungkin saat ini pernikahan ini sangat berat bagimu. Tapi percayalah! Kesabaranmu ini akan berbuah manis. Kalian berdua pasti akan saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi satu sama lain suatu hari nanti."


"Semua perihal waktu! Kalau belum waktumu melihat Tiara mencintaimu. Kamu harus bersabar! Adakalanya kamu harus mengalah, bukan berarti kamu kalah. Tapi untuk membuktikan, bahwa kamu ini adalah pemenangnya. Tiara pasti akan luluh oleh sikap sabarmu, perhatianmu, dan kesungguhanmu mempertahankan rumah tangga kalian. Percaya deh sama Ummi. Jadi, kamu harus bisa bertahan ya sampai waktu itu tiba!" semangati sang Ummi. Sambil mengusap rambut putranya yang gagah itu dengan lembut.


"Baiklah, Ummi. Makasih ya wejangannya." Yusuf pun menangis dalam pelukan ibunya itu. Sementara sang Dara, yang nampak memperhatikan interaksi keduanya dari kejauhan, ia nampak terenyuh juga tersentuh.


Ia pun lantas berlalu, dan tak sadar bahwa dirinya kini sudah berganti pakaian.


"Loh, ko aku pakai daster ini?" seketika, ia pun melirik ke arah dalamnya.


"Aaaa!" pekiknya cukup keras.

__ADS_1


"Siapa yang berani bajuin akuu?!"


**


**


Sementara di pondok pesantren. Kabar pernikahan Tiara dan Yusuf tersebar ke penjuru asrama santri puteri dan putera. Tentu, mereka syok, kecewa, marah, bahkan tak sedikit yang menyayangkan. Mengapa seorang Yusuf harus menikah dengan gadis kota bernama Tiara itu?


"Kia.. Yang sabar ya?" kuatkan Anisa. Teman sekamarnya sekaligus teman satu kelasnya di SMA.


Saskia memang sudah cukup lama mengagumi Yusuf bahkan dari semenjak ia masuk pesantren. Perasaanya itu semakin menjadi-jadi, saat ia dipercaya ummi Susi dijadikan khodimah sekaligus orang kepercayaannya untuk memegang bisnis cake di pondoknya.


Benar! Saskia ini memang terlalu baper. Ia mengira, rasanya itu akan bersambut, karena dirinya merasa sudah mendapatkan restu dari malaikat yang melahirkan pria dambaanya. Ya, namanya perempuan. Seringkali ia salah mengartikan, ia mengira diperlakukan seistimewa itu membuatnya jumawa dan berspekulasi, bahwa dia adalah santri beruntung yang akan di pilih ummi Susi untuk menjadi pasangan puteranya suatu saat nanti.


Ya, harapan Saskia runtuh saat Tiara perlahan datang ke Pondok Pesantren. Tiara seolah menggantikan posisinya itu, padahal dari awal sebetulnya ummi Susi ini tak berniat apapun pada Saskia. Inilah bentuk patah hati paling dalam bagi Saskia, karena ia terlalu percaya diri dan yakin, bahwa dirinya kelak yang akan dipilih keluarga kiai untuk dijadikan menantunya.


"Aku selama ini bodoh, Nis. Bodoh! Aku terlalu percaya diri. Coba kalau aku gak terlalu berharap, pasti gak akan sesakit ini." ucapnya sambil menghentakkan tangannya ke dada. Anisa pun mencoba menghentikan aksi Saskia itu. Namun Saskia menolak dan terus menyakiti dirinya seperti itu.


"Saskia, Istighfar! Istighfar, Ki. Ikhlas!" tenangkan Anisa kembali.


Wanita itu pun terus tergugu pilu dalam deraian air matanya. Namun seketika tangisnya itu berhenti, tatkala seorang wanita mengetuk pintu kamarnya itu.


"Assalamualaikum," ucapnya dari luar.


"Wah, Bu Nyai tuh." celetuk Lili yang memang sedari tadi berada di sana. Lalu, bu Nyai pun perlahan membuka pintunya. Sementara Saskia masih sesegukan dan belum bisa menghentikan tangisnya.


"Loh, Saskia kenapa?" ujar bu Nyai Susi terheran.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2