Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 50


__ADS_3

"Saya akan bersaksi!"


Orang-orang pun lantas menoleh ke arah sumber suara itu.


"Mega?!" sahut Rayn, Tiara, dan juga Rere. Mereka membelalakan matanya serempak. Tercengang-lah pasti. Soalnya Mega ini kan udah kabur sekeluarga ke luar negeri. Ko bisa ya?


Dengan langkahnya yang elegant, lebih tepatnya penuh kepercayaan diri. Sejenak ia menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum bersaksi, lalu menoleh ke arah teman-temannya dengan senyuman yang lebar tanpa dibuat-buat.


"Ti, ko aku kasihan sama Mega" ucap Rayn bergetar sambil memegang tangan Tiara yang ada di sampingnya.


"Ini sangat mengejutkan. Ternyata Mega memilih mengungkap kebenaran dibanding menyembunyikan kejahatan orangtuanya. Kita harus peluk dia setelah sidang ini berakhir," ungkap Tiara berusaha tenang, padahal hatinya sama-sama sedih.


"Ya Allah, Mega. Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia ke depannya" harap Rere.


"Aamiin"


Jaksa penuntut, hakim, Pa Indra, Zae beserta orang-orang yang terlibat dalam persidangan itu tentu sama-sama terkejut akan kedatangan salah satu saksi yang merupakan anak dari tersangka kasus besar ini.


Microphone pun sejenak diberikan petugas di sana untuk diserahkan pada Mega. Mega pun duduk di kursi yang telah disediakan petuga, tepatnya menghadap ke arah Hakim yang jaraknya terbentang lurus dari arahnya saat ini.


"Bismillah, saya Mega Rahayu Siregar bersaksi bahwa Ayah dan Ibu saya terlibat dalam kasus tindak korupsi dan penggelapan dana yang sebelumnya telah dilayangkan kepada bapak Indra Pramana enam bulan yang lalu. Ya, di sini saya mewakili kedua orangtua saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan kedua orang tua saya. Mungkin terdengar tidak pantas karena bagaimanapun tindakan ini benar-benar fatal, apalagi menyangkut keuangan negara. Dengan ketulusan hati saya memohon maaf, terkhusus pada keluarga Pak Indra dan saya siap menggantikan kedua orangtua saya untuk dihukum di penjara,"


Seketika orang-orang pun kaget mendengar kalimat terakhir. Kenapa harus Mega yang bertanggungjawab?


"Tidak! Kenapa harus kamu yang bertanggungjawab? Ini tidak benar. Pa Hakim, jangan biarkan sahabat saya menanggung kesalahan orang tuanya. Saya menentangnya!" ucap Tiara yang langsung berdiri dengan suaranya yang begitu lantang menghadap Hakim.


"Sayang, tenang. Dengarkan dulu penjelasan Mega," Yusuf yang duduk di belakang kursi Tiara pun menenangkan istrinya.


"Gimana bisa tenang, ko bisa-bisanya Mega berpikiran kek gitu? Ini gak bener, Mas!" ujar Tiara yang masih tampak emosi dengan suasana yang terjadi.


"Ekhem, mohon maaf karena saya belum menuntaskan perkataan saya sampai akhir," sela Mega kembali. Tadi mereka semua fokus pada amukan Tiara dari pihak penonton sidang.


"Baiklah, lanjutkan saksi," persilahkan Hakim. Sementara Zae nampak memijit halisnya, karena ini di luar dugaanya.


"Qodarullah, kedua orangtua saya, meninggal tiga hari yang lalu," ucap Mega sedikit terisak. Matanya sudah mengembun. Mungkin sebentar lagi ia akan menumpahkan tangisannya.


"Jadi, saya sebagai anaknya siap bersaksi dan menanggung hukumannya. Saya ikhlas, demi mendiang kedua orangtua saya yang sudah disemayamkan di Amerika" ucapnya kembali.


"Maaf sebelumnya, apakah orang lain yang sama-sama terlibat dalam kasus ini, Anda mengetahui keberadaanya?" sela Pak Jaksa.

__ADS_1


"Sayangnya, menurut chat ponsel mendiang Ayah saya, semuanya telah merencanakan kabur ke luar negeri. Entah sudah terlaksana atau belum. Jika mau, carilah! tangkaplah! Saya pun ingin mencari orang-orang itu, karena kecelakaan orangtua saya di antaranya disebabkan oleh tangan mereka," ujar Mega menggebu-gebu.


"Baiklah, dengan adanya bukti yang kuat (valid) disertai saksi yang meyakinkan. Dengan ini saya nyatakan, Pa Indra Pramana, resmi dicabut tuntutanya dan akan segera dibebaskan dari dakwaan tindak korupsi dan penggelapan dana negara," ucap Hakim sambil mengetuk palunya tiga kali.


Tok.. Tok.. Tok..


Pa Hakim pun langsung membubarkan sidang pengadilan, begitupun para Jaksa yang langsung siaga dan extra kerja keras bergabung menangani kasus ini. Mereka benar-benar mengerahkan kekuatannya untuk memburu para penjahat koruptor yang terlibat dalam kasus terbesar di tahun ini.


"Mega..." mereka bertiga pun segera memeluk sahabat karibnya itu.


"Kamu yang sabar ya! Kami sangat berduka cita atas meninggalnya Om Siregar dan Tante Amora. Semoga keduanya ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya, Aamiin" ujar Tiara yang langsung merekatkan pelukannya pada Mega, begitupun Rere. Sementara Rayn dari kursi rodanya memegang tangan Mega sambil mengusapnya dengan penuh kasih.


"Hiks, aku sedih, aku sempet ingin mengakhiri hidup ini. Tapi aku ingat Rayn. Dia membutuhkan pertolonganku sebagai saksi, agar Ayahnya bisa terbebas. Maka, sebelum H-2 persidangan setelah orangtuaku di makamkan di sana. Aku segera bergegas ke Indonesia. Maaf Rayn, gara-gara orangtuaku, Ayah kamu jadi menderita," tangis Mega pun menjadi-jadi.


Pak Indra dan isterinya pun segera bergegas ke arah Mega yang sedang dikerubungi oleh anaknya dan juga Tiara serta Rere. Bagaimanapun, ia sangat berterimakasih, karena Mega telah memberanikan diri mengakui kesalahan orangtuanya dan juga menyelamatkan Indra sebagai tersangka.


"Nak Mega. Terimakasih banyak atas kehadiranya sebagai saksi. Innalillahi wainnailaihi roji'un. Saya sangat berduka cita atas meninggalnya Pak Siregar dan Bu Amora. Semoga semua amal ibadanya diterima di sisi Allah ya Nak. Bahagialah, semoga Nak Mega menjadi kebanggaan beliau berdua di dunia dan akhirat," ucap Pa Indra tulus.


"Aamiin. Terimakasih bapak" Mega pun bersimpuh di kaki Indra, namun segera Indra cegah.


"Nak, bapak ikhlas. Kamu jangan begini. Sekarang, anggaplah bapak ini sebagai orangtuamu. Anggaplah kami keluarga. Kamu jangan merasa sendiri ya, Nak" pinta Pak Indra pada Mega. Namun Mega malah mengencangkan tangisannya dan terus tersedu-sedu akan ucapan indra.


Akhirnya, suasana haru dan syahdu itu pun terus berlanjut. Perlahan-lahan Mega pun bisa dibujuk dan mau ikut bersama mereka ke hotel tempat Tiara dan Yusuf menginap.


**


**


"Ga" tegur Rayn dari arah sampingnya. Kini mereka sedang di restoran yang ada di hotel itu.


"Rayn...," ternyata Mega masih saja dalam suasana berduka. Ia masih menangis, apalagi kalau didekat Rayn.


"Maafin aku," ujar Mega lagi.


"Iya, aku udah maafin kamu kok. Kamu jangan sedih-sedih lagi. Oke?" ucap Rayn sambil membelai rambut Mega yang hitam legam itu.


"Rayn," gumam Mega lagi, "Aku mau hijrah juga," sambungnya.


"Kamu tau gak? Aku juga baru banget seperti ini. Sebelumnya, aku stress dan frustasi, akhirnya terjun menjadi kupu-kupu malam," kata Rayn santai.

__ADS_1


"Apa??? Kamu gak ngibul kan?" kini Mega membelalakan matanya. Ia tak percaya dengan ucapan Rayn barusan.


"Demi apapun. Aku udah hancur, Ga. Hancur!" ujar Rayn nampak berkaca-kaca.


"J-jadi.. Lo udah?..."


"Iya, benar. Aku udah gak perawan lagi," jawab Rayn.


"Ya Allah..."


"Tapi, menariknya. Ada pria yang tulus mau membersamaiku," ujar Rayn nampak tersenyum kecut.


"Wah, siapa??" kini Mega sudah ceria kembali, dan antusias berbincang dengan Rayn.


"Pria yang menjadi pengacara Ayahku," jawabnya.


"Zae?"


"Ya. Benar"


"Tapi... Bukannya dia..."


"Hem, aku pun bingung. Di samping itu, aku gak mau dia terpaksa masuk ke agama kita. Hanya karena ingin bersamaku,"


"Kalau jodoh, pasti Allah dekatkan kalian ya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu,"


"Ya. Kamu juga, Mega. Eh, adik kamu ke mana?" kata Rayn yang baru menyadari, adik Mega tidak ada bersamanya.


"Dia udah masuk pesantren. Aku sengaja gak buat dia tahu masalah ini. Tapi, aku akan ngomong baik-baik mengenai kecelakaan orangtuaku. Semoga dia tabah dan tegar saat aku menjenguknya minggu depan," harap Mega.


"Aku ikut ya? Jenguk ke pesantren adik kamu," imbuhnya.


"Dengan senang hati,"


Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba saja seorang pemuda menghampiri dua dara yang sedang tertawa itu.


"Jadi... Itu masalahnya, Rayn?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2