Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 62


__ADS_3

Rayn menepati janjinya untuk mengantar Mega ke pondok pesantren tempat adiknya berada. Sungguh, moment yang begitu berat, karena ini hari terakhir mereka bersama.


"Rayn, Om, Tante. Makasih ya udah ngantar Mega jauh-jauh ke sini. Pokoknya, Mega bakal berhutang budi besar pada kalian. Sekali lagi, Mega mewakili orangtua juga. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya!" ucap Mega berkaca-kaca.


"Nak, lupakanlah yang telah berlalu. Tidak apa-apa. Toh, kami lekas membaik lagi sekarang. Kamu jangan banyak pikiran yah, Nak. Di sini yang betah, sehat selalu, dan semoga apa yang Nak Mega inginkan segera tercapai di pesantren ini," harap ibu Rayn.


"Betul, Nak. Jangan merasa bersalah ya. Anggaplah kami orangtuamu. Jangan pernah sungkan." timpal Ayah Rayn.


"Megaaaaa" Rayn tak kuasa langsung menghamburkan pelukannya pada sahabatnya itu.


"Yakin bakal di sini aja? Gak mau gituh bareng sama aku? Uh, aku bakal rindu kamu," tutur Rayn yang masih betah memeluk Mega.


"Ey, yakinlah. Jaga Tiara di sana. Pokoknya, setiap lebaran kita wajib ngumpul. Gak boleh gak!" tegaskan Mega.


"Pasti dong. Masa sih lebaran gak pulang. Menangis! Kecuali dah jadi mantu pondok kayak Tiara, wk,"


"Hem, Zae gimana nasibnya, Rayn," ledek Mega.


"Tau gak? Bang Stephan suka sama kamu," sontak, Mega pun langsung terbatuk. Ini lelucon yang sama sekali tak lucu menurutnya.


"Iya, Nak. Dia bilang juga pada kami. Katanya mau ditunggu sampai lulus," timpal ibu Rayn sambil tersenyum.


"Jodoh gak akan ke mana. Santai," ucap Mega so' tenang. Padahal ia tak percaya dengan pernyataan tersebut.


"Masa sih? Ko bisa? Dari kapan?" batinya bertanya-tanya.


"Tenang aja, abang meskipun umur 25 tahun, tapi dia masih keren kok." ledek Rayn lagi.


"Hem, gimana jodohnya aja ya? Aku mau fokus belajar dulu ah,"


"Cie, ada yang malu," Rayn pun terus meledek sahabatnya itu.


"Radittt" jerit Mega pada adik kandungnya itu.


"Kakak," mereka pun berpelukan ala teletubis.


"Kamu sehat jagoanku?" seketika, Radit wajahnya berubah menjadi sendu.


"Kenapa kakak gak bilang, kalau... Orang tua kita sudah meninggal," tak dapat dipungkiri, Radit sangat terpukul akan kabar tersebut. Apalagi sang kakak tak ada basa-basi sama sekali padanya.


"Adikku. Kamu dengar dari mana?" tanya Mega penasaran. Ia merasa bersalah, karena adiknya malah tau dari orang lain.


"Ummi sama Abah bilang begitu pada Radit. Kata beliau, ada kabar pada mereka dari seseorang. Entahlah, tadinya Radit gak mau percaya. Tapi setelah melihat kakak malah mau mesantren juga ke sini. Seketika Radit semakin yakin, bahwa kabar itu benar," jelasnya.


"Ya Allah, Dit. Maafin kakak ya? Astaghfirullah," Mega pun lantas memeluk adiknya yang masih kelas 1 SMP itu. Ya, mereka berdua hanyut dalam tangisan rindu yang mendalam pada sosok kedua orangtuanya.


Sementara Rayn, dan kedua orangtuanya pun ikut larut dalam kesedihan. Mereka bisa merasakan, begitu sakitnya menjadi Radit dan Mega. Kini mereka benar-benar kehilangan dua orang paling berharga di hidup mereka.

__ADS_1


"Kak, Radit pengen menziarahi makam Papah sama Mamah." rintihnya lagi.


"Iya sayang. Nanti ya kalau di sini sedang liburan. Kakak kan baru sampai ke sini. Gak enak kalau langsung pulang lagi. Oke?"


"Baiklah. Om, Tante, Kak. Terimakasih telah mengantar Kak Mega. InsyaAllah, Radit sendiri yang akan menjaga kakak di sini,"


Mega terharu karena adik lelakinya ini memang sedari dulu memiliki pemikiran yang dewasa.


"Ya, dek Radit. Sama-sama. Nanti jangan sungkan-sungkan main ke rumah kami ya!"


Mereka pun pamit untuk pulang ke Jakarta. Sementara Mega menatapi kepergian keluarga cemara itu.


"Ayo kak. Radit antar kakak sampai gerbang asrama puteri," ujar Radit membantu bawa koper Mega yang berjumlah dua buah.


"Dit. Kamu betah di sini?" ucap Mega sambil berjalan dan menatap kagum adiknya yang terlihat makin dewasa ini.


"Betah, Kak. Kalau kakak saat keluar SMA nanti mau ke Jakarta lagi. Radit bakal tetap di sini ya tiga tahun lagi. Bukannya kakak mau menikah sama siapa tadi?"


"Ey, belum tentu adikku. Sudahlah. Jodoh pasti bertemu. Kalau kami ditakdirkan bersama. Pasti kami akan bersama pada waktunya,"


Keduanya pun nampak bercengkrama dengan hangatnya, lalu Mega pun bertemu dengan pengurus puteri di sana untuk diantar ke kantor pesantren untuk melakukan pendaftaran ulang.


Ya, kini Mega resmi menjadi santri sekaligus murid SMA di pesantren boarding school itu. Tak ada alasan lagi untuk Mega di sana, kecuali dia ingin menenangkan hatinya juga lebih mendekatkan dirinya pada Rabb-Nya dan berusaha mengikhlaskan semua yang telah terjadi pada-Nya.


***


"Iya sayang. Baik-baik ya selama di pesantren. Kan Rayn juga ikut bersama kamu di sana. Jadi gak bakal kesepian lagi," ucap Yusuf lalu mengelus pucuk hijab Tiara dengan lembut.


"Hem, baiklah. Eh, kan aku seminggu lagi pulang ke pesantren. Boleh gak aku ikut sama kamu aja hari ini ke Turki? Lumayan 6 harian mah terhitung lama. Boleh ya?" ungkapnya memelas.


"Hem, iya juga ya? Boleh-lah. Oke deh, Mas pesankan ticketnya sekarang untuk kamu ya!"


"Duduknya bareng sama Mas kan? Pas di pesawat nanti,"


"Iya dong. Masa berpisah sih,"


"Huhu, Turki... I'm Coming..." teriak Tiara.


"Mas, aku mengagumi sosok Said Nursi loh," gumamnya lagi.


"Wah, ulama karismatik dari Turki itu? Ko kamu bisa tau sih ulama sana," ucap Yusuf penasaran.


"Aku tuh pengagum Turki tauuu. Eh, maksudnya senang sama sejarahnya. Tapi, aku paling kepincut sama ulama bernama Said Nursi itu,"


"Gimana aku gak mengagumi? Beliau lahir di akhir kepemimpinan khalifah ustmani, lalu berganti menjadi republik Turki. Bisa dibayangin kan, bagaimana perjuangan beliau dalam menengakkan agama islam," ucap Tiara lalu ia pun menarik nafas sejenak.


"Beliau... Hiks.. Di penjara selama bertahun-tahun, difitnah-lah, disiksa-lah, bahkan beliau diracun berkali-kali, karena keteguhan dan keyakinan beliau dalam menegakkan dan menyebarkan agama Allah di saat masa kelam-kelamnya di Turki. Di sana pula (penjara), beliau membuat sebuah karya yang terdiri dari 130 risalah. Sampai sekarang karya-nya tetap dijadikan rujukan oleh masyarakat global termasuk Indonesia. Karya-nya tetap abadi walaupun pengarangnya telah tiada, seperti namanya Risalah Nur."

__ADS_1


"Tau gak? Yang paling aku kagumkan, saat beliau berceramah dengan para pasukan tentara Rusia. Saking menjaga sekali sholatnya, banyak dong yang terpana akan sikap beliau. Malah di sana beliau ceramah bersama orang-orang sana dan tidak sedikit mereka yang masuk islam karena Said Nursi. Sampai.. Ah, kalau mau nyeritain sosok heroik Said Nursi, sampai beratus-ratus lembar pun masih kurang sepertinya. Aku sampai terharu sendiri dan nangis sendiri baca kisahnya," sambungnya.


"Ah, pokoknya aku mau showan ya Mas ke tempat-tempat beliau di Turki. Pernah singgah di mana aja, termasuk desa Nurs tempat kelahiran beliau. Boleh kan?"


"Boleh dong, sayang. Ayok, kita menjelajah Turki sampai ke pelosok-pelosoknya. Mas juga sebenarnya penggemar berat beliau, ternyata kamu pun sama ya!"


"Kita adalah Thullabunnur , Mas. Boleh gak sih ngaku-ngaku? Aku kagum banget soalnya sama sosok beliau,"


"Nanti pas di Turki kita ke asrama Thullabunnur-nya, biar lebih jelas dan pastinya mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan tentunya akurat,"


"Wah, mau.. mau. Aku gak sabar pengen ke sana. Sekalian main ke Capadoccia." bisiknya kegirangan.


"Dengan senang hati. Selagi kamu senang. Mas akan menuruti keinginan kamu,"


"Uhhh, sosweet banget ya suamiku,"


Cup!


"Eh, kamu mulai nakal ya!" Yusuf pun menggelitiki Tiara sampai dia tertawa terpingkal-pingkal oleh ulah suaminya.


"Abisnya gemes. Nanti anak aku pengen mirip sama kamu!"


"Wah, gak mau mirip ibunya?" goda Yusuf.


"Pokoknya kalau cewek mirip kamu. Kalau cowok mirip aku,"


"Loh, kenapa?" ujar Yusuf heran.


"Ya, pengen aja," ucapnya santai.


"Yaudah, kita bikin yuk, sekarang!"


"Mas!" mereka berdua pun berlarian di lantai dua dan melemparkan tawanya satu sama lain. Uh, definisi indahnya pacaran setelah halal.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan bik Sri dan pak Supri.


"Pa, ibu seneng banget liat non Tiara mesra banget sama suaminya. Alhamdulillah ya..."


"Iya.. Selama bertahun-tahun tinggal di sini. Bapak paling seneng sama couple goal ini. Kita juga gak boleh kalah romantis dong?" ujar pak Supri genit.


"Eih, Pak. Inget umur.. Kita udah tua begini. Anak-anak pun udah pada harus dinikahin. Semoga anak-anak kita bertemu dengan jodoh terbaiknya dan bisa sebahagia pasangan ini ya!"


"Aamiin,"


...πŸ’“~Love Your Self and Be Your Self~πŸ’“...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2