Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 64


__ADS_3

"La Ilaha Illalloh... Asyhadu An-Laa Ilaaha Illalloh.. Waasyhadu Anna Muhammadan Rasulullah..."


Semua orang serempak berdzikir, seolah-olah mereka sedang diambang kematian. Maka mereka pun harus mempersiapkan dirinya, termasuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat seorang muslim mencapai predikat husnul khatimah.


"Ya Allah. Mas! Aku takut!" ungkap Tiara mencoba menahan paniknya. Tapi tetap saja dia gak bisa tenang. Ia pun terus menguatkan dzikirnya dengan nafas sesak. Jujur! Ia belum siap menjemput ajalnya.


Sementara Yusuf pun mencoba untuk menenangkan dirinya dan juga istrinya. Ia tahu, pesawat begini pasti ada sesuatu yang gak beres. Ia masih betah mengamati, kira-kira ada apa ya?


"Aku gak mau jatuh ke laut. Gimana nanti kalau di makan hiu. Kita akan tenggelam sampai ke dasar laut yang paling dalam. Sedangkan kalau di daratan, pasti akan terjadi ledakan. Kita akan benar-benar kehilangan nyawa. Mas, aku belum siap mati!" jerit Tiara histeris.


"Hush. Kamu jangan berbicara seperti itu. Ini masih dalam tahap pengamanan. Belum benar-benar parah. Berdo'a saja. Semoga kita aman sejahtera dan selamat sentosa sampai tujuan," timpal Yusuf setenang mungkin.


"Tapi...."


Nampak seluruh penumpang sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Ikhlas! Tawakkal! Itu mungkin kunci mereka saat ini karena mereka benar-benar gelisah gak karuan di dalam pesawat.


"Perhatian! Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Barusan terjadi turbelensi pesawat, di mana terjadi perubahan tekanan dan kecepatan aliran udara secara drastis. Perubahan tersebut pun menimbulkan guncangan pada badan pesawat. Tapi jangan khawatir, karena semuanya sudah kembali baik-baik saja. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua," ucap suara speaker yang menggema ke seluruh sudut pesawat.


Hal itu pun membuat seluruh penumpang mengucapkan hamdalah bersamaan.


"Huh! Asli.. Udah kaget banget, Mas! Mana aku masih muda, belum banyak pengalaman hidup, belum nyempetin keliling dunia. Ah! Kita di prank gusti Allah," gerutu Tiara pelan, namun Yusuf malah menyentil kening sang istri.


"Syarat mati itu gak mandang tua ataupun muda. Kamu harusnya bersyukur, itu artinya, gusti Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bertaubat dan beramal shaleh kepada-Nya." nasihati Yusuf. Tiara pun refleks tersenyum.

__ADS_1


"Aku cuma mencurahkan keluh-kesahku, Mas. Lebihpada di pendem, ya mending dikeluarin. Lebih perih mendem tau daripada ngungkapin langsung. Aku gak mau nyari penyakit!" ucap Tiara tak mau kalah.


"Terus kalau kamu benci sama seseorang, mending blak-blak-in aja gitu langsung ke orangnya. Terus seketika hatimu akan tenang? Gitu?" skak Yusuf.


"Ya, nggak gitu juga si. Maksudnya... Ah, kenapa si kamu buat aku gak bisa berkutik!" Tiara pun langsung melipatkan tangannya ke dada.


"Uluh-uluh, istriku kalau ngambek macam ikan buntal." sahut Yusuf, namun Tiara yang malah mencubit bibir suaminya.


"Kamu yang buntal! Aku hanya mencoba ngungkapin perasaan aku aja. Gak lebih. Apa salahnya? Lebihpada diam-diam munafik, mengel sendiri, racau sendirian. Ya mending aku terang-terangan aja kayak tadi, dilepaskan bebannya, diutarakan unek-uneknya. Itu lebih menyehatkan daripada ngebatin. Gimana sih!" Yusuf pun malah terbahak-bahak dan malah gantian menjembil pipi istrinya.


"Iya-iya. Wanita memang selalu benar. Mas ya cuma ngambil dari pandangan yang berbeda saja, sayang. Gak maksud ngelarang kamu blak-blakan kayak tadi. Cuma, adakalanya kita harus menahan diri juga. Gak semua apa yang kita unek-unekan baik untuk diungkapkan. Gimana pas kita ngungkapin, orang yang denger ucapan kita malah ngedoain yang gak baik ke kita? Bukankah itu akan menjadi boomerang bagi kita?"


"Hem. Iya sih. Yaudah deh. Aku juga terkadang suka mendem sendiri sih kalau memang bener-bener nyelekit. Soalnya, kejadian yang aku rasain sekarang tuh terkadang kejadian juga suatu saat. Entah aku di posisi korban, atau aku menjadi pelakunya,"


"Nah itu maksud Mas, sayang. Jadi, misal nih. Kamu ngerajuk ke Mas gak karuan. Ada kemungkinan Mas pun bisa ngerajuk ke kamu juga kan? Tapi sering kali, kami para pria lebih menahannya untuk tidak marah atau malah sengaja merajuk juga? Sebetulnya kami banyak menekan ego buat menjaga hati istrinya agar ia tak tersakiti. Jadi, jangan sama-kan emosi pria dan wanita. Terkadang pria lebih banyak memendamnya daripada mengutarakannya," ucap Yusuf memberitahu perasaannya selama ini.


"Istriku jangan bersedih dong. Mas gak bermaksud untuk mengungkit kejadian di masa lalu kita. Tapi Mas hanya ingin memberitahumu saja. Kalau semua lelaki tuh gak bisa semuanya disama-ratakan. Kamu harusnya beruntung sih dapetin Mas, secara Mas 'kan shaleh, ganteng, setia, tanggungjawab, yang pasti sabarnya tuh gak terukur lagi untuk bisa naklukin cewe setangguh kamu," Tiara malah mencebik.


"Iya.. Iya. Aku akui, diriku ini memang bebal, keras kepala, bar-bar, pengennya menang sendiri-lah. Tapi, hebat juga sih. Ko kamu mau ya sama aku, Mas?"


"Karena kita berjodoh," sahut Yusuf enteng.


"Masa cuma itu doang?" timpal Tiara tak percaya.

__ADS_1


"Sejak awal kita bertemu. Aku sudah jatuh hati sama kamu, Tiara. Cuma kamunya, MasyaAllah. Udah mah digoda Dhika, terus suka sama siapa? Kakak kelas kamu itu yang waktu ketemuan di rumah sakit. Eh, ujung-ujungnya kamu bilang, 'Aku gak mau dijodohin sama kamu! Aku gak pantes,' dan alasan lainnya. Mas gereget banget asli. Dari sana, Mas berambisi untuk mendapatkan kamu. Sepelik apapun jalannya. Pokoknya kamu harus jadi milik aku!" ucap Yusuf mengungkapkan fakta yang baru saja ia bongkar.


"Hah? Ko bisa? Maksudnya, Mas udah cinta aku dari awal? Dari aku gak berhijab? Hish! Ngeselin!"


"Lah, emang kenapa? Aku tuh gereget sama kamu dari awal. Mana Mama Sandra sama Papa Raihan mimik wajahnya udah pasrah banget. Kayak udah pusing banget sama tingkah kamu. Eh, ujung-ujungnya nyerahin anaknya juga ke pria ini," ucapnya sambil menghentak-hentakkan tangannya di dadanya.


"Idih, pede banget kamu, Mas. Aku juga kalau gak dipaksa, mana ijab qobulnya sama sekali gak aku ketahui. Asli, kesel banget di situ. Nikah macam apaan. Aku tuh udah benci banget sama kamu. Ah, gara-gara benci yang terlalu besar. Akhirnya aku cinta sama kamu juga, kan," Yusuf tersenyum jumawa.


"Ya iya lah. Kamu buta kalau gak cinta sama aku. Aku juga banyak yang mau gini-gini juga. Lagian, kita gak sama-sama rugi kok. Kamu dapat aku yang guanteng maksimal, aku dapat kamu yang cantiknya kayak bidadari," goda Yusuf.


"ih, udah ah, Mas kepedeannya over-over banget! Jangan terlalu sombong, Mas. Di atas langit, masih ada langit," balas Tiara sambil tersenyum mengejek ke arah sang suami.


"Iya lah. Gimana kamu aja, sayang. Yang pasti, aku bersyukur banget berjodoh sama kamu,"


"Ha ha ha. Aku tau, kamu tuh sempet nyerah kan sama aku? Ngaku??" goda Tiara.


"Iya sih. Abisnya, kamu tuh beda banget dari cewek yang lain. Orang mah pengen banget dapetin Mas. Eh ini, disentuh aja nolak. Dasar aneh!" Yusuf pun menjentikkan jarinya di hidung sang istri.


"Ya aku harus bisa bersikap so' jual mahal lah. Wanita berkelas itu ya, yang enggak murahan ke cowok. Kamu aja yang kegatelan kan pengen menggaet wanita yang masih muda ini?" Tiara menaikan halisnya.


"Dasar! Iya-in aja lah biar cepet," Tiara pun terkekeh.


Ya, semenjak peristiwa tadi. Kedua pasutri itu asyik bercengkrama. Kini keduanya pun terlelap dengan sangat nyenyaknya.

__ADS_1


Mereka tak sadar, bahwa selama di pesawat, keduanya diperhatikan terus oleh seseorang dari arah belakangnya.


...----------------...


__ADS_2