
"Jadi itu masalahnya, Rayn?" ucap seorang Pria bertubuh atletis ke arah kedua wanita itu.
"Z-zae?" Rayn terkejut. "Apakah dia mendengarkan perbincanganku dengan Mega dan Rere?" lanjutnya dalam hati.
"Masalah apa ya? Ngga ada masalah apapun lagi kok," sangkal Rayn sedatar mungkin.
"Tunggu aku berubah seperti yang kau inginkan," ungkapnya, lalu ia pun berlalu meninggalkan kedua gadis itu.
"Hei, Rayn. Aku kaget, sumpah. Sampe nahan napas," ucap Rere yang langsung tersengal-sengal, karena ia menahan napas.
"Hih, apalagi aku. Udah ah, masa bodo," cueknya. Padahal dalam hatinya ia mempertanyakan, apakah ucapan Zae itu benar?
"Hem, dingin banget cuacanya. Mana di luar hujan. Andaikan udah punya ayang. Pasti tak peluk terus di kasur," gumam Rere mengkhayal.
"Em, ustadz yang sering datang ke rumah kamu, masih ngajar gak?" tanya Rayn.
"Dia? Masih. Rajin banget. Sampe aku kehabisan kata, karena pas lagi capek-capeknya ikut organisasi di kampus sampe sore. Dia maksa aku ngaji coba maghribnya. Gak kesel gimana," sahut Rere menggebu-gebu.
"Wey, awas loh jodoh," goda Rayn.
"Idih, ogah amat jodoh sama ustadz kayak dia. Gimana nanti pas rumah tangga, 24 jam diceramahin mulu. Bisa sumpek ni telinga," umpat Rere pelan.
"Haha, vibesnya kayak Tiara banget kamu. Tuh liat, mereka udah saling bucin. Jadi kamu jangan terlalu membenci ustadz itu. Siapa tau dia begitu karena menyayangkanmu,"
"Eh, kenapa pembahasannya ke situ sih? Kamu Rayn. Nanti kalau ada Zae, aku bilangin SAH. Di terima!"
"Aduh, udah deh. Kamu jangan ngibul. Aku gak ada perasaan sama sekali sama dia. Kasian kalau di php-in. Mending dia nyari cewek yang lebih baik aja dari aku,"
"Merendah banget si kamu, Rayn. Siapa coba yang gak mau sama kamu. Udah mah selalu bersikap dewasa, tenang, gak neko-neko. Baik, cantik, sekarang udah hijrah pula. Kebangetan kalau gak ada yang minat,"
__ADS_1
"Udah ah. Oh iya, Ga. Gimana kabarnya hubunganmu sama pacar kamu?" tanya Rere.
"Ga tau, Re. Sampai sekarang dia udah gak ngechat aku lagi. Mungkin dia udah tau, kalau aku ini anak koruptor. Mana ada sih yang mau sama aku," ucap Mega lesu. Ya, sedari tadi saat Zae datang pada mereka, dia mendadak diam terus.
"Eh, nggak deh kayaknya, jangan pesimis duluan. Coba kamu hubungi lagi, sekaliii aja. Kalau gak ada respon, kita labrak!" seru Rere. Rayn pun nampak tercengang dengan respon Rere.
"Nggak, ah. Jangan! Udah gapapa. Kalau memang jodoh, ya gak bakal ke mana kok. Lagian aku mau mesantren aja sama adikku di pesantren Jatim. Alhamdulillah, tabunganku masih banyak untuk biaya hidup kami berdua beberapa tahun ke depan," ujar Mega.
"Ya Allah, Mega. Kamu beneran mau masuk Pesantren? Oh iya, bisnis kamu gimana dong yang ada di Jakarta dan di Bandung?" tanya Rere. Ia memang tau bahwa sahabatnya itu memiliki dua restoran paling hits dan gak henti-hentinya didatangi para pengunjung.
"Nah itu dia. Jadi setiap bulannya, uangnya selalu ngalir ke rekening aku. Lumayan buat biaya pesantren aku dan adikku, malah ada lebihannya. Sesekali juga aku bakal ngontrol kok ke Jakarta. Jadi ya gak masalah sambil mondok juga. Siapa tau kan bisa buka cabang di sana," ungkap Mega tersenyum.
"MasyaAllah, kamu hebat Mega. Kami bangga sama kamu. Apapun keputusanmu, aku dukung. Jangan sampai kita saling putus kontak ya! Minimal berkabar-lah seminggu sekali kalau gak keburu. Pokoknya, jaga selalu persahabatan kita. Kamu jangan ragu pada sahabat-sahabatmu ini," ungkap Rayn sambil memeluk Mega.
"Iya. Bila perlu, kamu pulang saja ke rumahku. Ayah bunda pasti seneng kok. Anggaplah kami keluarga. Emang kita ini sudah saudaraan tau, saudara se-iman, sebangsa, setanah air dari Nabi Adam dan Siti Hawa. Kata Pak Ustadz," ungkap Rere sambil cekikikan.
"Hei, apaan sih. Nggak keles!" Rere pun mendelik sebal.
"Gapapa kawan-kawan. Tadi pas di kamar aku dapat telepon dari kejaksaan. Rumah aku aman gak bakal ada yang nyita. Lagian uangnya udah diamankan kok sama pihak hukum. Ga tau lah, pusing juga ya berurusan sama hukum. Soalnya kan gak semuanya lurus, pasti aja ada yang main busuk di dalamnya," ujar Mega serius.
"Euh, nanti kamu kesepian kalau di rumah kamu. Pokoknya, kalau mau ke rumah kita aja, ya!" peringatkan Rere kembali.
"Iya bestie terbawell. Aku bakal main ko sesekali ke rumah kalian, bergilir. Lagian, aku masih punya bibi dan paman. Alhamdulillah mereka baik dan akan menjaga rumah peninggalan orangtuaku sambil ngecek restoran selama aku dan adikku mesantren," tutur Mega sungguh-sungguh.
"Yakin mereka baik? Eh, maaf nih. Aku korban novel. Banyak tauuu dari pihak keluarga sendiri yang begitu lah. Jahatlah, munafiklah, penuh tipu muslihatlah, Hehe, semoga Bibi dan Paman kamu beneran baik ya!" ucap Rere sambil nyengir.
"Iya, insyaAllah mereka orang baik. Nenekku aja masih ada. Beliau malahan tinggal sendirian di kampung, katanya kalau rindu kakek bakal susah kalau ninggalin kampung. Uh, sosweet banget," kenang Mega.
"Ah, pengen menua bersama juga, sama si dia yang entah siapa. Ya Allah, pengen jodoh," rintih Rere sambil memejamkan matanya dan merenggangkan kedua tangganya ke atas, layaknya orang yang sedang berdo'a dengan khusyuk.
__ADS_1
"Sekolah aja dulu, gaisss. Semoga aja pas udah pada lulus SMA. Semuanya pada married, kan asikk. Nanti anak kita seumuran lagi," timpal Rayn.
"Hem, kayaknya Tiara bakal hamidun duluan deh. Secara kan dia udah nikah," celetuk Mega.
"Hei, jangan keras-keras. Dari gaya berjalanya sih, kayaknya dia belum ngelakuin itu deh," tebak Rayn.
"Oh iya, kamu tau kan ciri-cirinya ya, Rayn. Em, kalau menurutku, Yusuf itu cowok yang gak egois. Dia kayaknya ngejaga dulu Tiara sampai dia ikhlas melakukannya. Kan tau sendiri, Tiara itu orangnya gimana. Kata Ustadzku, hubungan pernikahan itu walau awalnya tidak didasarkan cinta, tapi perlahan-lahan juga cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya kok. Jadi, harus ada dasar keikhlasan dan penerimaan satu sama lain, termasuk dalam hal bersenggama, biar lebih berkah aja..katanya," jelas Rere.
"Wah, kayaknya beneran deh, pa Ustadz itu naksir kamu, Re," ungkap Rayn berbinar.
"Iyah. Mana itu penjelasannya intim banget. Yakin ga ada rasa sedikit pun gitu? Dag-dig-dug misalnya?" kini Mega yang menggoda.
"Mana ada. Nggak layaw. Dia tuh bedanya 6 taun sama aku. Mana mau aku sama om-om. Walaupun dia ganteng, tapi tetep aja ketuaan. Aku gak mau suami aku terlalu tua," tolak Rere.
"Hei, kata siapa ketuaan. Segitu tuh udah pas banget. Tuh liat Tiara, dia aja sama Yusuf bedanya ampe 7 taun. Tapi serasi aja kok. Kayaknya, pasangan fenomenal sekarang disematkan pada mereka deh. Liat instagram, postingan Tiara hari ini banyak yang nyerbu," seru Rayn.
"Hah, dia ngapload apaan? Ah jadi penasaran," Mega pun membuka aplikasi instagramnya. Gak perlu dicari, postingan Tiara langsung muncul di berandanya.
"Buset. Dia terang-terangan gini. Gak nyangka Yusuf bisa bucin juga ya di depan publik. Wah gila, eh, ini banyak yang coment negatif juga. Hei, bahaya inih,"
Tak sadar, ada sepasang mata-mata yang sedang mengawasi mereka bertiga selama bergossip di sana.
"Gak usah kecentilan! Cewek kayak kamu, gak pantas sama lakik macam Yusuf!" ucap suara itu menggema ke seluruh penjuru hotel.
"Nah kan, hatters nih. Duh, Tiara di mana gais?" ucap Rayn nampak gelisah.
"Loh, Yusuf? Ko sendirian?"
...----------------...
__ADS_1