Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 52


__ADS_3

"Loh Yusuf, kok sendirian?" tanya Rere. Yusuf pun mendekat ke arah mereka bertiga dengan nafas yang masih memburu.


"Hei, justru aku yang nanya. Kenapa kalian bertiga, Tiara ke mana?" kata Yusuf yang sudah menstabilkan deru nafasnya.


Seketika, ketiganya pun saling pandang, "Hei, kamu gak denger macam suara bariton dari hotel ini? Kenceng bangettt. Wait! Jangan-jangan Tiara dalam bahaya!" seru Mega.


"Ya Allah, tadi aku tinggal dia di kamar. Katanya lapar pengen bakso. Aku nyari lah keluar, eh pas balik lagi dia udah gak ada. Aku kira dia gabung sama kalian di sini." ucap Yusuf gelisah.


"Haduh, yuk kita cari Tiara sekarang!" ajak Rere yang saat itu benar-benar panik, sampai ia tidak menyadari kalau Rayn yang ia betot di kursi rodanya sampai akan jatuh.


"Re!"


"Eh, maaf Rayn. Aku panik, hehe" Rayn dan Mega pun geleng-geleng kepala, sedangkan Yusuf sudah pergi dan mencari Tiara duluan.


"Loh, si Yusuf ke mana?" ucap Mega sambil celingak-celinguk ke sana kemari.


"Udah duluan mungkin, yaudah Rayn. Kamu di sini dulu aja. Biar aku sama Mega yang nyari" tutur Rere.


"Nggak, aku bantuin nyari Tiara lewat pengeras suara kayak tadi ya! Katanya masih di lantai satu kok ruangannya," ujar Rayn meyakinkan.


"Jangan! Gimana kalau kamu kenapa-napa saat ke sana? Yakinnya deh, itu hatters Tiara, siapa lagi coba," cegah Mega.


Saat mereka sedang berdebat, tiba-tiba saja ada petugas keamanan hotel yang sedang menyeret seorang wanita berkulit sawo matang, dicepang, nampak pakai kacamata, bergaya kasual tapi sedikit cupu melintas ke hadapan mereka.


"Itu siapa? Ko diseret gitu?" gumam Rayn.


"Pasti si biangkerok yang tadi bikin pengumuman," sahut Rere kesal.


"Ngeri yah? Oke lah gass, aku mau nyari di luar, kamu di dalam hotel," intruksi Mega.


"Oke,"


Mega yang saat ini mencari Tiara di luar hotel nampak terpaku dengan seseorang yang sedang duduk di depan air pancuran berbentuk gaya klasik eropa dibumbui taman hijau khas Indonesia itu.



"Ti!" panggil Mega sambil menghampiri seorang wanita bergamis warna pink muda senada dengan hijabnya.


Saat ia menepuk bahunya, seketika ia terkejut, "Eh, maaf Mbak. Saya kira teman saya" ujar Mega sambil nyengir dan menelungkupkan kedua tanganya di dada.


"Aduh, ko mirip banget perawakannya dari belakang. Malu banget ih, untung Mbaknya baik," gumam Mega merutuki dirinya dalam hati.


"Ti, kamu ke mana. Aku udah keliling di luar hotel dari tadi kok gak nemu-nemu kamu sih," gumam Mega pelan.


Sementara Rere yang mencari Tiara di dalam hotel, ia pun nampaknya frustasi. Ia sudah mencari Tiara sampai ke dapur hotel, tapi tetap saja ia masih tidak bisa menemukan sahabatnya itu.


Saat ia menyusuri ruangan yang dilabeli, "Jangan ada yang masuk, karena ruangan ini khusus petugas hotel saja". Di sana Rere pun celingak-celinguk sendiri, mungkin ia mencari kesempatan untuk masuk ke ruangan itu.


Benar saja, ruangan itu berhasil Rere masuki. Ia melihat ada segudang komputer berjejeran dan barang-barang bekas yang sudah usang seperti tak digunakan lagi.


"Loh, kok kayak ruang CCTV ya? Tapi barang-barang ini?" gumamnya pelan.

__ADS_1


"Aih, gak mungkin juga Tiara di sini. Dasar diriku, ada-ada saja," saat ia senyum-senyum sendiri, rupanya ia tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikannya.


Prok! Bahu Rere pun ada yang menepuk pelan. Namun seketika ia pun terlonjat kaget dan langsung terbirit-birit ke luar ruangan.


"Astaga! Aku nemu makhluk apa? Ko ada hantu sih di sini?!" ringisnya sambil terus berlari, hingga ia pun tak sadar ada seorang pria yang ia tabrak dari arah depan.


"Rere?" ujar pemuda itu.


"Eh, ustadz Uzi?" Rere pun memegang kepalanya yang tak sengaja bertabrakan dengan dada bidang sang ustadz.


"Kamu lagi ngapain?" tanya ustadz itu mengrenyitkan halisnya sambil menyidekapkan tangannya.


"Aku... Ya Allah ustadz.. Emang ada syetan ya di dunia nyata?" ucapnya sambil menenangkan deru nafasnya yang masih tersengal-sengal.


Uzi pun menaikkan halisnya sebelah, lalu ia pun mengusap dahi Rere tanpa menyentuhnya sambil memejamkan matanya.


"Hei, ustadz lagi ngapain?" kata Rere heran.


"Kamu habis dari ruangan rahasia ya?" ucapnya, namun ia masih memejamkan matanya.


"Gak tau lah, pokonya rupanya itu serem banget. Mana matanya bolong kulitnya melepuh, rambutnya? Ah gak tau. Ko bisa sih aku liat secara live gini," celetuknya.


"Dia ngikutin kamu," sontak Rere pun langsung berlindung ke belakang pemuda itu.


"Saya sudah mengusirnya. Lain kali, jangan sembarangan masuk ke sebuah ruangan," ungkapnya datar. Ia pun langsung menghadap ke arah belakangnya. Nampak Rere menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya sampai bergetar.


"Aku lagi nyari temenku. Huhu, ustadz bantuin aku," ucapnya yang langsung membukakan matanya. Seketika ia kaget dan langsung terpana, karena baru kali ini dia berhadapan sangat dekat dengan ustadz yang selalu mengajarnya mengaji ke rumah.


"Aduh, ko bisa ya dia ganteng banget? Selama ini aku buta kali ya? Ya Allah, aku ridho sama ikhlas kalau dia jadi jodohku," gumamnya dalam hati.


"Hei, ko masih diem di situ?" tegurnya lagi dari arah kejauhan.


"Eh, iya ustadz. Ini juga mau ke restoran kok," kilahnya, ia pun segera ngabret begitu saja. Sedangkan Uzi nampak tersenyum melihat tingkah gadis itu.


**


**


"Sayang, kamu gapapa kan?" ujar Yusuf sambil memeluk Tiara yang masih nampak mengigil itu.


"Aku takut. Gimana kalau saat itu adalah hari terakhirku hidup di dunia ini," racaunya.


"Hei, jangan bilang begitu. Aku gak telat kan nolongin kamu?" ucap Yusuf lagi.


Ya, saat ini mereka sudah di kamar hotelnya. Tiara yang tadi sempat tenggelam di kolam renang, segera Yusuf tolong. Untung insting Yusuf kuat. Ia merasa istrinya itu sedang dalam bahaya.


"Iya. Makasih ya, Mas. Aku sebenarnya bisa renang, tapi tiba-tiba saja kakiku keram. Mana yang nyeburinnya gak sampai aku tandai orangnya, cepet banget gitu loh, mana kasar lagi. Aku kaget, hiks," Tiara pun nangis dalam pelukan sang suami.


Nampak Yusuf pun geram dengan seseorang yang berusaha mencelakai istrinya.


"Ya sudah, nanti mah kalau ada yang buka pintu selain aku. Kamu jangan tanggepin ya!" ia pun terus mengelus rambut isterinya yang masih basah, sedangkan Tiara nampak mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Iya Mas. Aku pun kaget, tiba-tiba aja mulutku di bekap terus ditodong senjata tajam. Orangnya pakai topi dan masker, kayaknya lelaki deh. Mana keadaan hotel sepi, untung kolam renangnya masih di lantai ini. Huhu, aku takut," rintihnya lagi.


"Tapi, siapa ya yang sudah berbuat jahat sama kamu?" terka Yusuf.


"Gatau. Oh iya Mas. Apa ini karena postingan aku itu ya? Kamu sih, ngoment lagi di kolom komentarku,"


"Masa sih gara-gara itu? Kamu kan mostingnya belum sampai sehari? Lagian, aku gak punya fans kok,"


"Kamu gak nyadar ya? Pengikut kita puluhan ribu. Kemungkinan besar ada lah yang nyirik. Salah aku juga sih, argh!"


"Ya sudah, sekarang mah privatin aja akun kita. Nanti Mas cari orang yang sudah berusaha nyelakain kamu,"


"Jangan! Gapapa lah. Yang penting aku selamat kan?" ujar Tiara sambil mendongkakan wajahnya.


"Gak bisa gitu. Ini tuh namanya percobaan pembunuhan. Kamu hampir saja meregang nyawa. Aku gak bisa bayangin itu semua. Pokoknya kasus ini harus dibawa ke jalur hukum!" geram Yusuf.


"Eh, mentang-mentang kamu nih anak hukum ya. Gapapa, Mas. Beneran!" yakinkan Tiara lagi.


"Hem, gimana nanti aja,"


"Ayolah, kamu mau apa sok. Biar mau maafin," ucap Tiara sambil mengedipkan matanya bergantian.


"Gak mempan, aku tetap aja marah," ucap Yusuf masih tak tergoda dengan rayuan sang istri.


Tiara pun perlahan menggoda suaminya, kecup-kecup ringan dan itu berhasil membuat Yusuf tersenyum.


"Udah berani nakal ya?" Yusuf pun menggelitiki perut isterinya.


"Ampuuun. Makanya, jangan marah dong. Biasanya juga sabar, hehe,"


"Tapi ini udah fatal sayangku. Gak mungkin aku nutup mata kala melihat orang yang aku cintai terancam,"


"Yaudah deh. Gimana kamu aja, Mas. Tapi, kalau misalkan kita udah tau alasannya dia begitu ke aku. Kita pertimbangkan bersama ya!"


"Nah, gitu dong sayangku. Eh iya. Teman-teman kamu kabarin, mereka nyari kamu juga tadi" ucap Yusuf sambil menepuk dahinya.


"Alahhh, pasti mereka heboh deh,"


"Iya, aduh. Maaf sayang. Tadi aku panik banget, makannya gak tau mereka nyarinya ke mana,"


"Oke deh, aku lagi ngabarin nih di grup kita berempat,"


"Mas. DM-ku mendadak ramai banget," ucap Tiara kaget.


"Mana sini, ada yang aneh gak?"


"Aih, ko serem-serem amat. Banyaknya pada ngucapin selamat kok, tapi... Ini satu kok kayak ngancem gitu," tuturnya sambil menyerahkan ponselnya ke Yusuf.


"Brain?" seketika, mereka pun saling pandang dalam kebisuan.


......................

__ADS_1


__ADS_2