
"Apa-apaan ini. Kamu ngapain ngedekor kamar kayak ondel-ondel begini?" tanya Tiara heran, lalu berkacak pinggang ke arah Yusuf.
"Gimana, bagus kan?"
"Bagus dari mana? Tidak sama sekali!" Tiara yang sudah terlanjur sebal pun langsung merebahkan dirinya pada kasur berbentuk love itu.
"Yah! Kamu kok malah ngehancurin bingkaian bunga mawar yang sudah aku susun rapih-rapih sih." ucap Yusuf lesu.
Padahal ia ingin memberikan surprise pada istrinya. Ia kira, istrinya yang feminim itu akan terkesima dengan persiapan manisnya. Lagi-lagi Yusuf selalu salah strategi. Ia benar-benar tidak tahu apa yang disukai istrinya itu.
"Huft! kirain kamu suka dengan surprise yang aku persiapkan. Lalu, kamu ini suka apa sih, Ti? Aku bingung sendiri jadinya." gumam Yusuf yang sedikit terdengar frustasi.
"Haha, kamu niat banget ya pengen nyenengin aku? Ada gerangan apa kamu seperti itu padaku? Jangan bilang kamu ada maunya ya!" selidik Tiara dengan tatapan penuh curiga pada suaminya.
"Astaghfirullah. Sama suami sendiri suudzon ya! Yaudah deh, mending aku persiapan aja buat besok sidang." gumamnya sambil duduk di sofa kamar itu, lalu membuka leptopnya dan juga hard file skripsi yang telah ia cetak tiga hari yang lalu.
"Btw, emang skripsi sebanyak itu ya?" tanya Tiara yang tidak tahu menahu mengenai perkuliahan.
"Iya. Ini tuh pembahasan pokoknya ya ada di data penelitiannya. Dapat datanya pun susahnya subhanallah. Belum observasinya, rujukan data bukunya, menyesuaikan dengan teorinya. Udah beres pun datanya, kalau belum di acc pasti terus-terusan direvisi sama dosen pembimbing, belum dimarahinya, dikasih tugas baru. Paling pahit kalau sudah mengerjakan sampai tuntas pas diakhir dosbim minta revisi ulang dari awal. Ah, pokonya harus kuat-kuat mental deh," ucap Yusuf tanpa menoleh pada Tiara yang sedang memperhatikannya dari atas kasur.
"Owh. Kok kamu kesannya malah nakut-nakutin aku ya? Emang bener pusing banget? Ko kedengernya ngeri-ngeri sedep gitu."
"Ya pusing lah, Ti. Kamu bakal ngerasain kalau suatu hari nanti kuliah."
"Em, apakah seorang jaksa akan lebih rumit dari ini?" tiba-tiba Yusuf pun menoleh pada Tiara, "Emang serius ya, kamu pengen jadi jaksa?" tanya Yusuf ragu.
"Sangat ingin! Aku tuh dari dulu punya cita-cita untuk menangkap penjahat. Entah kenapa, kayak gereget gimana gitu kalau udah denger kasus-kasus tentang kejahatan. Apalagi kalau penjahat itu tidak sampai dihukum di jeruji besi. Argh! Rasanya panas dan hatiku sangat membara untuk menangkap para penjahat. Selain itu, aku juga korban drakor sih. Makannya menggebu-gebu banget." ungkap Tiara antusias sambil nyengir karena ia tidak menyangka, bisa curhat begini pada Yusuf.
"Wow! Cita-cita kamu sangat mulia. Tapi, aku menyayangkan kalau seandainya kamu jadi jaksa." ucap Yusuf yang terkesan tidak rela.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya kamu mau mendukung apapun harapanku? Apa kamu mau ingkar lagi?" berontak Tiara.
"Hem, bukan begitu, sayang. Sebelum kamu bertindak lebih jauh, mending reset dulu, sanggup gak dengan resiko dan konsekuensinya kalau suatu saat menjadi jaksa?Aku gak mau kamu salah langkah. Itu saja." ucapnya tenang.
"Hem. Pokoknya titik. Aku ingin jadi jaksa. Kamu harus mendukung aku. Aku sudah siap kok dengan segala konsekuensinya. Makanya aku mahir bela diri dan tekun dalam belajar, agar kelak bisa lolos seleksi dengan mudah dan akhirnya harapanku terwujud deh." ucapnya sambil senyum-senyum sendiri.
Ia sudah membayangkan, memakai jubah kebanggaan. Lalu mendakwa terdakwa yang bersalah dan berargumen cukup sengit dengan pengacara, layaknya tayangan drakor yang ia tonton tempo lalu. Sedangkan Yusuf yang melirik sekilas pada istrinya, ia geleng-geleng kepala lalu tersenyum.
"Ternyata kebahagiaan istriku itu di antaranya menghalu. Huft! Apa aku harus jadi oppa Korea saja? Biar dia mau menganggapku jadi suaminya." celetuknya dalam hati.
"Suf!"
"Hem"
"Denger aku gak?"
"Yaudah deh. Aku mau tidur. Kamu gak asik!" rajuk Tiara.
"Huh, dasar cewe." ujarnya Yusuf pelan.
"Besok aku mau ke kampus kamu. Penasaran, gimana sih kehidupan di perkuliahan tuh. Siapa tau, aku juga setelah lulus bisa kuliah di situ."
"Sangat boleh. Nanti tungguin aku selama sidang ya!"
"Oke." Nampaknya, kedua pasutri itu mulai nyaman satu sama lain.
Setelah dua jam lamannya, Yusuf pun akhirnya kelelahan. Lalu ia pun segera menyusul istrinya itu yang sudah tepar di atas kasur. Ia pun curi-curi kecupan singkat pada isterinya yang sedang terlelap itu. Tidak terasa ia pun menyesapnya semakin dalam, leguhan-leguhan pelan pun nampak bergumam dari bibir sang dara.
"Astaghfirullah, aku takut khilaf kalau begini! Maaf Ti! Gak sengaja." akhirnya Yusuf pun menahan hasratnya yang hampir saja membuncah. Ia pun segera membelakangi isterinya, lalu ia pun tak lupa mematikan lampu kamarnya.
__ADS_1
"Semoga Allah mudahkan sidangku besok. La haula walaa quwwata illa billah." gumamnya, lalu ia pun tidur terlelap.
Di kamar lain, nampaknya wanita itu sedang gelisah. Bagaimana tidak, satu bulan terakhir itu ia berperan sebagai kupu-kupu malam. Tentu dengan badan yang proporsional, tinggi, seksi, cantik, bohay, membuat kliennya tak bisa menebak, bahwa Rayn sebetulnya masih di bawah umur.
Kini, wanita itu terpuruk, lalu ia pun segera mandi dan membersihkan dirinya di bawah pancuran shower air panas. Nampaknya ia frustasi dan air mata pun terus bercucuran dari matanya yang semakin memerah itu.
"Apa aku batalkan saja gitu ya masuk pesantren? Mana boleh sih, pezinah kayak aku ini masuk ke sana. Apa gak bakal diadzab tuh pesantren. Argh! Aku wanita bodoh! Hina! Dina! Buat apa aku hidup juga."
Namun, tiba-tiba saja, ada yang membisikinya dari arah kanan, "Allah Maha Pengampun, Rayn. Walau dosamu seluas lautan, Allah masih mau menerima taubatmu. Jika Allah saja mengampuni hamba-Nya, lantas mengapa dirimu putus asa dari rahmat-Nya? Tidak malu-kah engkau seperti itu, Rayn?" mungkin yang membisikinya itu adalah malaikat rahmat yang sengaja Allah kirimkan untuk Rayn, agar ia tak berputus asa dari rahmat Allah.
" Jangan! Jangan dengarkan bisikan laknat itu. Bohong! Pelacur ya tetap pelacur. Mengapa dirimu yang hina itu menginginkan kebaikan dari Tuhan yang belum tentu mengampunimu? Emangnya selama kamu berbuat zinah, dirimu ingat pada Tuhanmu? Lantas, sekarang dengan mudahnya kamu menginginkan ampunan dari Tuhanmu? Munafik kamu, Rayn. Munafik!" bisik iblis dari arah kirinya yang mencoba mengkecoh iman seorang Rayn.
"Diammm!!!" teriak Rayn frustasi.
Seketika, ia pun memantapkan hatinya dan memilih untuk bertaubat lalu menyesali perbuatanya. Kini, dirinya sudah membersihkan diri dan segera melaksanakan shalat taubat, lalu mengadukan segala keresahan hatinya pada Rabb-Nya. Ia yakin, bahwa keputusannya itu benar. Ia yakin, bahwa Tuhannya itu pasti akan memaafkan-Nya.
...----------------...
...❤️❤️❤️...
..."Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."...
...{QS. Az-Zumar[39]:53}...
...❤️❤️❤️...
Jangan lupa tap tombol like dan votenya ya readers! Gratis kok! hehe
Supaya author semakin semangat updatenya, xixi
__ADS_1