Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 41


__ADS_3

Di sebuah bangunan mewah, tampak dua pasutri itu tengah menelisik berkas bisnisnya satu persatu. Ya, mereka tengah melihat perkembangan perusahaanya di berbagai negara. Akhir-akhir ini keduanya memang disibukkan oleh kerajaan bisnisnya yang semakin menggurita sehingga kabar tentang anaknya yang sudah menikah pun hampir saja terlupakan.


"Pah. Udah ngechat Yusuf belum, gimana kabarnya Tiara sekarang?" ucap Sandra.


"Loh, astaghfirullah. Papa hampir kelupaan tentang anak kita, Ma" ungkap Raihan yang masih bergelut dengan leptopnya.


"Haduh, kira-kira Yusuf bisa naklukin anak kita gak ya?" ungkap Sandra khawatir, pasalnya mereka sudah tau watak putrinya itu.


"Papa tebak sih, yess! Semoga saja lah, wong Yusuf pria sabar dan lemah lembut, pasti lambat laun anak kita luluh," ungkap Raihan optimis.


"Mama juga berharapnya gitu. Soalnya, Mama takut Yusuf kesulitan menghadapi watak tiara yang pemberontak dan keras kepala,"


Tiba-tiba saja, ada panggilan berdering ke ponsel Sandra.


"Hem, panjang umur juga. Baru aja diobrolin, udah nelepon nih." gumam Sandra yang langsung mengangkat telepon dari menantunya.


"Assalamualaikum," ungkap Yusuf di sebrang telepon.


"Waalaikumussalam mantuku yang ganteng,"


"Hehe, Mama sama Papa gimana kabarnya?" tanya Yusuf berbasa-basi.


"Alhamdulillah, kami di sini sehat wal 'afiyat. Kamu sendiri sama Tiara gimana kabarnya?"


"Kabar baik, Ma. Kebetulan Tiara lagi di samping Yusuf nih,"


"Wah, Mama pengen video call dong. Boleh kan?" ungkap Sandra antusias.


"Pa, udah dulu main leptopnya. Nih, putri kita mau berbincang sama kita," bisik Sandra begitu semangat.


"Hallo, Ma" sapa Tiara.


"Hallo putri mama yang cantik. Kamu sehat, Nak?" tanya Sandra tersenyum manis.


"Sehat kok, Ma. Papa mana?"


"Tadaaaa. Anak Papa ko makin cantik aja ya? Auranya kayak yang lagi bahagia gitu, udah siap ngasih cucu ya?" celetuk Raihan begitu saja.


Tiara pun mendengus kesal, "Nggak lucu Pa leluconnya. Tiara masih marah ya sama Papa dan Mama." ketus Tiara sambil memalingkan wajahnya ke arah Yusuf.


"Ti, udah dong marahannya. Gak baik loh marahan lama, apalagi ke orang tua," tegur Yusuf pelan.


"Huft! Maafkan kami sayang," sahut Sandra memelas. Ia sedang berakting sedih, agar sang anak mau memaafkanya.


"Yaudah deh. Udah terlanjur kayak gini mau gimana lagi? Tapi Tiara punya syarat sama Papa dan Mama," ancam Tiara.


"Boleh sayang. Apa tuh syaratnya?" balas Raihan yang nampak penasaran.

__ADS_1


"Pertama, kalian gak boleh ngirim Yusuf ke Turki. Apapun alasanya, Tiara gak ngizinin dia ke luar negeri. Kedua, setelah Tiara lulus dari pondok. Tiara mau kuliah di Jakarta. Nah, alangkah lebih baiknya, mending sekarang tuh Yusuf megang perusahaan Papa yang di Jakarta. Udah sih gitu doang," ungkapnya singkat, padat, dan jelas.


"Wah, ada yang posesif nih, Pa" goda sang Mama di sebrang telepon. Yusuf pun speechless mendengarkan permintaan istrinya itu. Pokoknya, sekarang hatinya sedang bertalun-talun. Ia merasa telah dicintai oleh istri kecilnya itu.


"Nak, kamu udah cinta ya sama suamimu?" goda Raihan juga.


"Apaan si, gajelas. Pokoknya Tiara mau minta dua syarat itu. Kalau gak dikabulin, udah deh. Tiara makin marah sama kalian. Titik ndak pake koma," ujarnya tegas.


"Gimana Pa?" bisik Sandra.


"Hem, kita turutin saja kemauan Tiara. Lagian, mereka kan masih bisa bertemu kalau sama-sama di Indonesia. Beda lagi kalau Yusuf di Turki. Nanti putri kita kesusahan kalau sedang rindu pada suaminya." ungkap Raihan yang masih terdengar jelas oleh Tiara dan Yusuf di sebrang telepon.


"Baiklah, sayang. Kami juga berat sih sebenarnya nyuruh Yusuf tinggal selama satu sampai dua tahun di luar negeri. Alhamdulillah, putri kami sudah besar ternyata. Semoga rumah tanggamu langgeng sampai Jannah ya sayang, Aamiin"


"Aamiin" keduanya pun turut mengaminkan.


"Eh, tunggu sebentar. Ko kalian seperti sedang di rumah sakit? Loh, itu wajah Yusuf kenapa ungu-ungu gitu? Baru ngeuh loh Mama," ucap Sandra khawatir.


"Iya, Ma. Ada insiden hari ini. Biasa anak muda. Rayn lagi dirawat di sini Ma. Pokoknya keadaan sekarang udah baik-baik aja kok. Mama gak usah khawatir,"


"Haduh, kalian. Kalau ada apa-apa, bilang ya sama Papa. Eh, Rayn kenapa?" sambar Raihan yang ikut penasaran.


"Emh, Rayn.." belum sempat meneruskan perkataanya, tiba-tiba Tiara dipanggil oleh dokter untuk ke ruangan Rayn.


"Ma, Tiara dipanggil dokter nih. Ngobrolnya lanjut aja ya sama Yusuf. Dah Mama, Dah Papa." pamit Tiara yang nampak tergesa-gesa menghampiri ruang rawat Rayn.


"Ya Allah, Pa. Temen kita tersandung kasus korupsi. Masa iya? Ko mereka gak curhat ya ke kita?" gumam Sandra di sebrang telepon.


"Bentar deh, Papa cari dulu informasinya. Kasihan juga ya Rayn. Apalagi dia malah terjerumus ke dunia gelap. Untung ketemu sama Tiara. Haduh, ko Indra gak bilang ke aku ya." timpal Raihan.


"Aneh deh, Pa. Kalau seandainya mereka korupsi, pasti gak bakal sendirian. Ko ini kesannya kayak yang dilimpahkan semuanya pada Indra ya?" tebak Sandra.


"Papa juga mikirnya begitu. Hem, Papa mau ngehubungin dulu pengacara kenalan Papa deh. Kira-kira, sekarang kondisi mereka baik-baik aja gak yah di sel tahanan? Kasian,"


"Kalau kasus ini sudah ke tahap persidangan, terus mereka belum ada pengacara. Bisa berabe, Pa. Kita harus bertindak cepat," kompori Sandra.


"Nak Yusuf, boleh kah kami minta bantuan?" pinta Raihan.


"Boleh, Pa. Dengan senang hati,"


Raihan pun melimpahkan pertolongannya untuk keluarga Rayn melalui Yusuf. Ia berharap, Yusuf yang notabenenya seorang mahasiswa jurusan hukum bisa bertindak lebih rasional mengenai kasus keluarga Rayn itu.


"Pa, boleh gak Yusuf nyaranin seseorang untuk dijadikan seorang pengacara?" ucap Yusuf yang begitu antusias dengan perbincangannya mengenai kuasa hukum.


"Sangat boleh. Apakah orang tersebut sudah memiliki pengalaman?"


"Tidak sih, Pa. Tapi dia adalah orang yang kritis dan siapapun yang berdebat denganya pasti akan kalah. Dosen pun tak jarang tak dapat berkutik lagi jika sudah berdebat dengannya,"

__ADS_1


"Wah, boleh tuh. Nanti Papa bantu temenin aja sama pengacara yang sudah berpengalaman, ya? Jadi, orang yang kamu rekomendasikan itu yang bakal terjun di lapangan. Gimana?"


"Nah iya, boleh Pa. Begitu saja. Nanti Yusuf sampaikan lagi ya pah ke orangnya. Pasti dia seneng banget, apalagi ini keluarga Rayn yang akan ia bantu,"


"Oke. Atur-atur saja ya, Nak. Papa percaya sama kamu."


"Terimakasih ya, Nak Yusuf. Kamu udah mau sabar mempertahankan rumah tanggamu dengan putri kami. Semoga kamu tidak menyesal ya," ucap Sandra tulus.


"Tidak sama sekali, Ma. Justru Yusuf beruntung, karena kalian telah merawat puteri kalian dengan baik, lalu mempercayakan kehidupan puteri kalian pada pria seperti Yusuf. Doakan kami ya, Pah, Mah. Semoga apapun ujian yang akan menyapa kami di depan sana, tetap Allah kuatkan dan teguhkan dalam keimanan dan ketaqwaanNya semata," harap Yusuf.


"Alhamdulillah. Ya, do'a kami selalu menyertai. Ya sudah, di sini udah larut malam nih. Kami mau istirahat dulu ya, Nak. Tolong sampaikan salam hangat kami pada Tiara dan Rayn. Assalamualaikum," ucap Sandra mengakhiri video call mereka.


"Waalaikumussalam,"


Seketika, Sandra pun menitikkan air matanya. Ia begitu terharu, karena perbincangannya kali ini dengan putri dan menantunya itu sudah jauh lebih baik. Tidak seperti tempo hari yang masih saja ada pertengkaran panas antara anak dan orangtuanya.


Begitupun Raihan. Keputusannya untuk menikahkan putri bungsunya itu adalah pilihan yang tepat. Ya, walaupun awalnya mereka harus melaksanakannya dengan rasa keterpaksaan, apalagi sang anak. Rupanya, kini putrinya itu lambat laun menerima perjodohan dadakan itu.


Ya, orang tua mana yang tidak ingin hal yang baik terjadi pada anaknya? Tentu, siapapun ingin, siapapun mengharapkan, anaknya itu bahagia. Entah itu dalam sebuah karier, pendidikan, bahkan sebuah pernikahan.


**


**


"Dok, kenapa Rayn belum sadar juga ya?" tanya Tiara yang saat ini sudah berada di ruang rawat Rayn.


"Begini, Mbak. Kebetulan kami telah memeriksanya. Hasil diagnosis mengatakan, bahwa nak Rayn ini sedang mengandung. Nah, saat peristiwa penembakan itu terjadi. Ternyata nak Rayn ini langsung keguguran. Pantas saja, saat kami akan membawa biji pistol di perut nak Rayn, tiba-tiba saja banyak darah keluar. Ternyata itu adalah darah keguguran. Jadi, untuk sementara waktu ini. Nak Rayn harus perawatan total, mungkin beberapa minggu sampai ia pulih kembali," jelas Dokter.


"Innalillah, tapi.. Rayn masih baik-baik saja kan? Maksudnya, ada kemungkinan di masa depan ia masih bisa mengandung (memiliki anak) kan?"


"InsyaAllah, masih bisa, Mbak."


"Syukurlah. Terimakasih ya, Dok," ucap Tiara lega.


Ceklek! Pintu pun terbuka. Nampak seorang pria membawa beberapa tangkai bunga mawar dan putih menuju ke arah seorang wanita yang tengah terkulai tak berdaya di brankarnya.


"Wah, siapa nih yang datang. Sayang, orangnya masih belum sadarkan diri," sapa Tiara.


"Eh, kebetulan kamu di sini, Zae. Aku mau berbicara sangat penting denganmu"


...----------------...


...πŸ’“πŸ’“πŸ’“...


..."Mencintai orang yang kita cintai itu pilihan. Namun mencintai orang yang kita nikahi itu kewajiban."...


...πŸ’“πŸ’“πŸ’“...

__ADS_1


Happy ReadingπŸ₯°


__ADS_2