Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 59


__ADS_3

Tuhan masih pantaskah ku 'tuk bersamanya


Karna hati ini inginkannya


Tak segampang itu ku mencari penggantimu


Tak segampang itu ku menemukan sosok seperti dirimu...


💓 cinta 💓


Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu


Mengapa kau memilih untuk berpisah


...----------------...


Langit kala itu nampak temaram. Awannya nampak kelam karena tertutup kabut yang begitu menggumpul di langit malam. Begitupun hati seorang wanita yang kali ini tengah terduduk di balkon kamarnya nampak terlihat suram.


Ya, setelah perdebatan singkat hari kemarin, wanita itu memilih untuk pulang ke kediamannya untuk sekedar menenangkan diri. Pulang sendirian tanpa seseorang yang akhir-akhir ini membuatnya nyaman saat bersama.


Mengapa harus dia yang menorehkan luka itu? Mengapa harus dia yang selama ini berhasil membuatnya bahagia, lalu akhirnya disungkurkan begitu saja kemudian menorehkan luka pahit yang berkesudahan?


Oke. Wanita itu tidak berhak marah karena mungkin pria-nya juga seorang manusia yang sesekali akan membuat kesalahan. Tapi kenapa gitu loh harus di depan umum?


Bukankah sepasang suami-istri itu adalah baju bagi pasanganya. Aib yang harus ditutup rapat dan tak berhak diumbar satu sama lain apalagi di hadapan publik? Toh, meskipun itu terlihat sederhana, tapi kalau menyangkut harga diri. Apa tidak berhak ia kecewa karena kecerobohan prianya?


Malu! Itulah satu kata untuknya saat itu, apalagi tatapan orang-orang yang di sekitarnya nampak tak enak hati karena melihat dirinya dan sang suami saling ribut dan mempermasalahkan hal sepelé padahal itu aib yang tak harus diumbar?


Benar! Itu adalah hal sepele bagi prianya. Tapi dia sudah berjuang mati-matian loh untuk berubah. Demi siapa? Ya, demi prianya karena ia sadar ia harus memantaskan diri dan menjadi wanita yang baik untuk prianya.


Ah, hati wanita itu sangat berkecamuk. Rupanya jangan ditanya, ia seperti singa jantan yang ketika bangun tidur rambutnya sudah acak-acakan bak orang yang hampir mendekati kata 'stress' karena hal yang dianggap remeh ini.


Dia masih kelas 10 SMA tapi harus belajar menjadi seorang istri. Apa semua orang bisa mengerti fisik dan mentalnya saat ini? Apa semua orang menganggap dirinya tetap kekanakan dan tak mampu berubah barang sedikit pun gitu terlihat dewasa setidaknya di hadapan pria-nya?


Sudahlah! Dirinya capek! Letih! Pusing! Mungkin jadwal liburannya ke luar negeri harus di cancel kembali. Dia sudah tidak mood untuk bepergian apalagi dengan orang yang sudah menorehkan luka pahit di hatinya.


"Non, ini sate sama gulainya udah bibi siapkan. Makan dulu ya?" ucap bik Mia, pegawai IRT-nya yang sudah setia mengabdi di rumahnya sejak ia masih kecil.


"Iya, Bi. Letakin aja di meja makan. Tiara mau makan di sana aja," ucapnya di balik pintu. Saat ini Tiara berpakaian biasa, memakai piyama hello kitty, lalu rambutnya dikucir satu ke atas, dan hendak membuka pintu kamarnya dengan malas.


Bik Mia sedari tadi tutup mulut dan tak berani menyampaikan kabar, bahwa anak majikannya sedang pulang ke rumahnya. Ia juga menyadari, saat ini Tiara sedang tidak baik-baik saja. Maka dia pun berinisiatif untuk membeli non-nya Sate dan Gulai makanan kesukaanya yang mungkin saja seharian ini si Non belum mengisi perutnya.

__ADS_1


"Bik, ko tau Tiara lagi kelaparan? Makasih loh karena udah baik gak ngasih tau Mama Papa bahwa Tiara saat ini sedang pulang," ucapnya sambil meminum dulu jus Jeruknya lalu mengucapkan basmallah dan siap untuk menyantap satenya yang ia balur dengan nasi putih yang masih terasa hangat.


"Ya saya tau lah, Non. Wong Non datang ke sini sambil ngelamun terus dari tadi siang belum keluar kamar. Saya khawatir Non sakit, makanya udah maghrib Pak Supri beliin sate sama gulai. Siapa tau Non pengen makan kesukaan," ucap bik Mia sambil menyiapkan beberapa hidangan lainnya yang telah ia persiapkan untuk sang anak majikannya.


"Bik, makan juga dong. Tiara kesepian kalau harus makan sendiri. Pokoknya bibi harus duduk di sini di samping Tiara!" pinta Tiara sambil menarik lengan bik Mia yang masih sibuk mempersiapkan buah-buahan serta cake puding untuk Tiara makan setelah selesai makan.


"Lah Non, saya sudah makan kok. Silahkan saja Non nikmati hidangannya. Em, maaf Non. Kalau suami Non, Den Yusuf ke mana? Ko gak bareng ke sini?" ungkapnya sungkan, namun seketika Tiara langsung tersedak dan seperti tak ada niatan untuk menjawab.


"Non, saya mau ke dapur dulu ya buatin kopi buat bapak. Katanya pengen kopi," ujarnya sambil berlalu. Ia sudah tau bahwa Non-nya itu seperti tidak ingin disinggung tentang suaminya.


"Mas Yusuf, kamu udah makan juga kah?" gumamnya dalam hati.


Ya, meskipun dirinya saat ini tengah kecewa pada suaminya. Namun tak dipungkiri lagi, rasa sayang itu sudah tertanam beberapa hari ke belakang untuk sang suami. Hem, ia bingung, tapi dia juga masih belum mau berdamai. Entahlah, mungkin liat beberapa hari ke depan baiknya gimana.


***


Lelaki itu nampak memapah langkahnya menuju jalanan ramai yang berjejer rapi di kota kembang yang terkenal akan banyak kuliner yang tersaji di sekelilingnya.


Ramainya orang yang berlalu lalang saat itu nampak sangat berbeda dengan suasana hati yang tengah ia rasakan saat ini. Sepi! Heni! Sunyi! Tentu ia merasakan penyesalan yang teramat dalam akibat ucapannya yang ia lontarkan siang ini pada sang isteri.


Ya, dia pantas menerima amarah isterinya. Dia sadar ia telah mempermalukan sang istri di khalayak umum yang seharusnya tak perlu ia umbar sana-sini akan kejelekan dan keburukan sang dara sekalipun itu memang fakta.


Kali ini, dia tak ingin menyalahkan keadaan. Ya, dia harus berbenah diri lalu menenggelamkan jiwanya pada sebuah masjid yang terpampang di depannya untuk sekedar shalat taubat dan memohon ampun atas khilaf dan salahnya selama ini.


Setelah selesai berwudhu, ia mulai shalat i'tikaf di masjid lalu segera menunaikan shalat maghribnya yang kebetulannya baru saja terdengar adzan berkumandang di dalam masjid. Saat ia tengah menuju iqomah, karena memang saat ini di masjid itu lumayan ramai akan orang-orang yang akan berjamaah.


Tiba-tiba saja, ada yang menepuk bahunya lalu mempersilahkan dirinya untuk menjadi imam pada maghrib itu, dengan alasan Imam yang biasanya hadir sedang berhalangan dan makmum pun terlihat banyak saat ini.


"Maaf, tapi saya merasa sungkan kalau harus menjadi imam dadakan gini. Apa tidak ada yang lain?" ucapnya sambil menunduk ke arah pria sepuh yang mendorongnya untuk menjadi imam saat itu juga.


"Jadilah Imam yang bijaksana, Nak. Banyaklah menahan sabar dan ego demi keberlangsungan rumah tanggamu. Perbanyaklah juga tirakat yang akan membuatmu semakin dekat dengan Allah dan semakin yakin akan jalan kehidupan rumah tanggamu yang saat ini tengah terombang-ambing tak tentu arah. Kikislah emosimu dengan kalimat istighfar, hawa nafsumu dengan puasa, dan kesabaranmu dengan perbanyak mengalah dan mengerti istrimu. Silahkan Nak, jamaah menunggumu untuk menjadi imam," tutur pak sepuh itu yang sepertinya sangat mengertí kegelisahan dirinya saat ini.


Lantunan takbir pun terdengar di bibir pria kekar berwajah kearab-araban itu. Dengan lantunan surah al-baqarah tiga ayat terakhir, mampu membuat semua makmum yang mendengarkanya tersayat pilu karena pria berwajah kearab-araban itu melantunkannya dengan nada yang bergetar seperti hendak menangis.


Salam pun akhirnya mengiringi shalat terakhir sang Imam, lalu diikuti puluhan makmum yang nampaknya masih terharu akan lantunan surah yang imam bacakan di shalat maghrib kali ini.


"Kunjungilah istrimu, sekarang. Berbaiklah padanya. Bersabarlah jika hal yang tak sesuai keinginanmu belum terwujud pada diri istrimu. Isterimu adalah ladang bagimu, begitupun kamu adalah pelindung baginya. Jika bukan kamu yang menguatkannya, siapa lagi yang akan memahami istrimu lebih dari siapapun? Kuat-kuat Nak. Rumah tangga itu berat. Kamu harus kokoh menjadi nahkoda dan mempertahankan penumpangnya supaya tak ada satu pun yang jatuh ke laut, apalagi karena kecerobohan dirimu," tepuk-tepuk singkat pak sepuh itu, lalu ia pun meninggalkan Yusuf yang nampak masih meresapi petuah itu yang entah harus ia gugu atau biarkan saja karena ini sangat aneh.


"Pak, tunggu!" teriak Yusuf lalu mengedarkan pandagannya dan hendak mencari pria sepuh yang sedari tadi mengusik relung hatinya.


"Ko ga ada?" gumamnya lagi sedikit bingung.

__ADS_1


Akhirnya, ia pun segera menaiki mobilnya. Lalu tak lupa membelikan beberapa makanan kesukaan sang isteri yang ia temui di jalanan ramai penuh kuliner di samping masjid, lalu segera melajukan mobilnya ke arah Jakarta, tepatnya menuju kediaman sang istri.


...----------------...


"Assalamualaikum," ucap Yusuf dibalik kaca mobilnya, lalu pak Supri pun sebagai satpam rumah itu segera membukakan gerbangnya untuknya. Ia tahu bahwa orang yang ada dibalik kemudi itu adalah suami dari anak majikannya.


"Tiaranya ada Pak?" tanya Yusuf lagi, lalu pak Supri pun segera menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Pintu pun terbuka lebar. Rupanya bik Mia menantikan kedatangannya Yusuf yang merupakan suami dari anak majikannya.


Dengan langkah tegap sambil menenteng beberapa bungkus donat madu, martabak, hingga cilung kesukaan sang istri ia tenteng dengan hati berkecamuk, karena ia takut sang istri masih menaruh amarah padanya.


Tok! Sekali ketukan terdengar, namun sayang, tak ada sahutan sama sekali dari pemilik kamar bercat pink itu untuk mau membuka pintunya.


"Non, ada tamu nih," teriak bik Mia. Ia tahu bahwa pria yang ada di sampingnya sedang gugup, makanya ia berinisiatif untuk membuat Non-nya membukakan pintu.


Terdengar dekheman dan derap langkah kaki menuju balik pintu, lalu, ceklek, terbukalah pintu. Seketika sang gadis pun membelalakan matanya, karena ia tak menyangka suaminya akan menyusul ke rumahnya secepat ini.


"Bibi tinggal ya, Non," ucapnya sambil tersenyum, namun sang gadis nampaknya masih abai dan tak sedikipun mengucapkan sepatah kata.


"Aku bawa makanan kesukaan kamu nih. Lengkap kan? Ayok di makan dulu, keburu dingin, nanti jadi gak nikmat disantapnya," ucap pria itu dengan santai. Namun sang gadis malah hendak menutupkan pintunya kembali dengan kasar.


Pria itu pun menahannya menggunakan satu tangan, lalu ia pun ikut masuk ke dalamnya, lalu segera menghamburkan kepala sang istri ke dalam dekapannya.


Berbagai pukulan ia terima dari sang gadis, tapi ia tak mempedulikannya. Lebih baik ia disakiti secara fisik, lebihpada istrinya menahan perih di batinnya lalu ia pun jatuh sakit karena ulahnya,. Ya itu lebih menyakitkan dari apapun, makanya ia rela digebuki oleh istrinya begitu.


"Lepasin! Aku gak kuat lagi pura-pura jadi wanita dewasa! Aku mau pisah!" begitulah kalimat yang terus terlontar dari mulut wanitanya. Pria itu pun semakin merekatkan kembali pelukannya, lalu segera menenangkanya di sofa kamar itu sambil menaruh tentengan makanan yang ia bawa, namun sama sekali tak disentuh oleh wanitanya.


"Ti. Maafin aku. Aku khilaf. Aku janji gak bakal gini lagi," ucapnya memelas.


"Boong! Aku muak sama janji kamu! Kalau gak bisa pegang janji, ya jangan berjanji. Aku benci sama kamu! Benci! Kita cerai!"


Bagaikan belati yang langsung menghujam jantungnya. Yusuf pun hampir tersulut lagi emosinya, namun ia redam sebisa mungkin, lalu ia pun membiarkan wanitanya terlepas dari dekapannya.


"Nyerah kan? Makanya, aku minta pisah ya pisah! Kamu gak bakal kuat sama aku!" ucap Tiara sambil menyeringai, lalu ia pun mengusap pipinya yang basah karena air mata dengan kasar. Kemudian berdiri dengan jalan mundur, karena pria itu terus mendekatinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"O ya? Kamu mau kita pisah? Kayaknya aku harus ngikat kamu sekarang, supaya kamu mikir dua kali lagi dan gak akan pisah dari aku!" ucapnya sambil menghamburkan dirinya seperti hendak memangsa wanita dihadapannya dengan beringas.


"Kamu mau ngapain, Mas. Lepasin! Aku gak mau melakukan itu!" namun Yusuf tak mempedulikannya, dan ia tetap melanjutkannya. Tentu dengan emosi yang sedari tadi ia tahan karena ia juga jengah dengan kata PISAH dari sang istri.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2