Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 38


__ADS_3

"Kamu bisa kan, Suf?" tanya Profesor itu memastikan kembali.


"Maaf, Prof. Sebetulnya beberapa hari yang lalu, saya sudah melangsungkan pernikahan. Selain itu, setelah study ini selesai. Saya diminta kedua mertua saya ke luar negeri untuk membantu perusahaan mereka yang sedang pailit. Sekali lagi, mohon maaf atas kelancangan saya menolak lamaran putri Prof," ungkap Yusuf menunduk, ia sangat segan mengatakan demikian, karena sepertinya profesornya itu sungguh-sungguh menawarkannya menjadi menantu.


"Sayang sekali. Baiklah, Suf. Tidak apa-apa. Semoga pernikahanmu Sakinah Mawaddah Warrahmah ya!" ungkap sang Professor sambil menepuk-nepuk bahu Yusuf yang terlihat berkaca-kaca.


Ya, selama ini beliau adalah dosen Yusuf yang paling baik di antara dosen lainnya. Ketika ada sesuatu yang ingin didiskusikan pun, profesor Bayu ini adalah yang paling welcome ketika Yusuf membutuhkan arahan.


Ternyata di balik itu semua, sang Professor diam-diam memperhatikan Yusuf. Lalu ia pun merencanakan perjodohan mahasiswanya dengan putrinya yang kini kuliah di universitas yang sama, namun berbeda jurusan.


Yusuf bisa merasakan kekecewaan dosennya. Apa boleh buat? Tentu dosennya pun akan mengerti keadannya, secara dia pun tak tahu menahu bahwa selama ini dosennya telah mengincarnya dan berniat menjodohkanya dengan putrinya.


Kini Yusuf melangkahkan kakinya kembali ke lantai satu dengan gontai. Ia masih merasa tak enak, karena yang ia tolak itu adalah dosen yang paling berarti baginya. Mana ngelulusin dia dengan cepat saat sidang skripsi. Entahlah, kini Yusuf pasrah, seandainya keputusan dosennya itu malah tidak meluluskan Yusuf.


"Ada apa, Bro?" tanya Zae yang sedari tadi menunggu Yusuf. Begitupun Tiara dan juga Rayn.


"Hem, gapapa." jawabnya terlihat baik-baik saja.


"Tapi kok aku curiga," ujar Tiara penasaran. Sontak Yusuf pun langsung melirik ke arah kekasih halalnya.


"Eh, sekarang jam berapa? Kita jalan-jalan yuk! Mau gak?" ucap Yusuf mengalihkan pembicaraan.


"Beneran? Ke mana?" ucap Zae antusias. Sedangkan Tiara nampak biasa aja.


"Loh, kamu mau ikut?" goda Yusuf pada sobatnya.


"Yaelah, kalian jadi mau bulan madu nih?" selidik Zae.


"Nggak!" sahut Tiara menolak.


"Yah, ditolak mentah-mentah sama istri sendiri," kata Zae cekikikan.


"Orang aku belum buka puasa," jawab Yusuf sambil melirik ke arah Tiara.


"Wah, ngenes banget nasibmu, Bro!" ledek Zae.


"Maksud buka puasa?" tanya Tiara mengrenyitkan halisnya.


"Nanti juga kamu tau," sambar Rayn yang nampak tau sindiran tersebut.


"Huh! Dasar orang-orang aneh," gumam Tiara sebal.

__ADS_1


"Mau ke mana?" ketus Tiara pada Yusuf.


"Gimana kalau kita ke pulau seribu?" jawab Yusuf santai. Ia tahu, bahwa istrinya saat ini sedang merajuk.


"Hem, boleh tuh. Aku setuju!" jawab Rayn sumringah.


"Gimana, Ti?" tanya Yusuf.


"Boleh aja," jawabnya datar.


"Lah, kamu masih marah, sayang?" kini Yusuf merangkul pinggang Tiara. Sontak Tiara pun melepaskan rangkulan tersebut dan menatap Yusuf sangat tajam.


"Hem, boleh loh. Kamu jangan nolak suamimu ini," bisiknya dengan nada menggoda.


"Hish! Nyebelin" akhirnya Tiara pun pasrah dirangkul pinggangnya begitu saja oleh Yusuf. Sedangkan Zae dan Rayn yang melihat tingkah pengantin muda itu hanya geleng-geleng kepala saja.


"Sekarang nih? Aku aja yang nyetir," tawar Zae yang nampak semangat. Rupanya dia pun sangat ingin pergi berlibur.


"Gasss!" timpal Rayn.


...----------------...


"Beneran ini pulau seribu? Rasanya udah lama gak main ke sini," ujar Rayn yang nampak terpana melihat keindahan pulau Pari atau dikenal dengan wisata Pantai Pasir Perawan, karena terumbu karangnya ini sangat mempesona.


"Loh, iya. Ke mana dua sekawan kalian? Ko gak diajak?" timpal Yusuf yang nampak mendengar percakapan Tiara dengan Rayn.


"Kita sedang berjarak, Suf." jawab Tiara.


"Kenapa?" kini Yusuf menghentikan langkah kakinya, lalu memandang istrinya itu.


"Panjang ceritanya. Intinya mereka salah paham sama aku." sahut Tiara tanpa menoleh ke arah Yusuf yang sedang menatapnya.


"Jangan bilang kamu gak bilang status kita?" tebak Yusuf asal.


"Ko tau?"


"Sudah kuduga,"


"Terus aku harus gimana" Tiara pun mendadak jongkok dan hendak menangis, seketika Yusuf pun menguatkan istrinya itu dengan memeluknya dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Jujurlah, Ti. Aku tau, kenapa kamu bersikap seperti itu. Aku paham. Tapi, sampai segitunya kah kamu tidak menginginkan pernikahan ini? Aku mencintaimu dan menyayangimu, Ti. Aku harap, kamu bisa merasakan ketulusan aku," ucap Yusuf yang masih mengeratkan Tiara dalam dekapanya.

__ADS_1


"Suf! Maafin aku! Aku bukan wanita yang baik buat kamu. Maka, ceraikanlah aku. Ceraikan! Aku rela kok jadi janda muda. Lebihpada kamu tersiksa begini olehku."


"Hush! Kamu ngomong apaan sih. Memangnya pernikahan ini mainan ya? Aku sudah janji di hadapan Allah. Juga dihadapan orangtuamu. Mana mungkin aku mengingkarinya. Pernikahan ini suci Tiara. Walaupun perceraian itu diperbolehkan. Tapi aku gak akan pernah membiarkan hal itu terjadi,"


"Tapi aku bukan wanita.." belum saja Tiara meneruskan perkataanya. Yusuf pun tiba-tiba saja membungkam mulut Tiara dengan bibirnya. Seketika, suasana pun berubah menjadi syahdu.


"Haduh, nasib jomblo memang begini," gumam Zae yang nampak ngenes melihat adegan ciuman Yusuf dengan Tiara.


"Hihihi! Makanya nikah, Kang." sambar Rayn.


"Kamu mau gak sama aku?" tawar Zae begitu saja.


"Ngaco kamu. Baru aja kenal. Udah ngajak nikah aja," sahut Rayn tampak geleng-geleng kepala.


"Beneran? Eh, lupa. Kita kan beda agama." kata Zae yang memang sadar diri.


"Aku bukan wanita baik-baik. Jadi, kamu cari saja wanita yang lebih baik dari aku," timpal Rayn.


"Tapi, kalau aku mau masuk agama islam. Kamu mau gak jadi pasanganku?" kata Zae terlihat serius.


"Ih, kang. Gak lucu tauuu bercandanya. Udah ah, aku mau liat-liat pantai sambil main pasir di sebelah sana. Dah!" ujar Rayn meninggalkan Zae seorang diri. Sementara kedua pasutri itu nampaknya malu-malu setelah adegan ciuman itu terjadi.


"Plis! Kamu jangan minta cerai lagi, yah? Aku sedih saat kamu melontarkan kata-kata itu. Aku mohon, cintailah aku. Ti" pinta Yusuf tulus sambil menggenggam erat kedua tangan Tiara.


"Iya. Maafin aku juga, karena masih bersikap kekanak-kanakan begini." kini Tiara pun memeluk suaminya. Ada rasa damai di hati Yusuf, tatkala Tiara memeluknya saat ini.


"Aku janji, aku akan belajar mencintaimu, mulai saat ini." ucap Tiara kembali.


"Makasih, sayang" Yusuf pun mencium kening Tiara sangat lama. Sontak, para pengunjung yang melihat pemandangan indah di hadapan mereka, nampak hanyut melihat kemesraan dua sejoli itu.


"Eh, udah ah. Malu! Ternyata kita jadi tontonan di sini," ujar Tiara yang langsung membawa Yusuf ke tepian pantai yang lebih sepi.


"Kamu mau ngelanjutin ehem-ehem di sini?" goda Yusuf.


"Ih! Dasar mesuuum" kini kedua pasutri itu saling berlarian di pantai. Ada denyut-denyut cinta menggema di hati keduanya. Ternyata, penantian Yusuf selama ini, perlahan-lahan mulai bersambut.


Kesabaran Yusuf menghadapi Tiara, akhirnya berbuah manis. Begitulah nikmatnya pacaran setelah menikah. Bergandengan, dapat pahala. Saling berpelukan, dapat pahala. Bahkan yang lebih dari itu, pahalanya pun berlipat-lipat ganda.


...----------------...


...πŸ’“πŸ’“πŸ’“...

__ADS_1


..."Hubungan intim antara kalian adalah sedekah". Para sahabat lantas ada yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu malah mendapatkan pahala?' Beliau menjawab, 'Bukankah jika kalian bersetubuh pada wanita yang haram, kalian mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika kalian bersetubuh dengan wanita yang halal, kalian akan mendapatkan pahala"Β (HR. Muslim no. 1006)....


...πŸ’“πŸ’“πŸ’“...


__ADS_2