
Hari berikutnya, ketiga sahabat Tiara itu nampaknya sudah bersiap untuk pulang ke tempat tujuannya masing-masing. Sebelum ke pondok pesantren, Mega dan Rayn berencana untuk menengok restoran Mega yang ada di Bandung. Sementara Rere nampaknya akan sibuk dengan kegiatan sekolahnya di SMA apalagi dirinya diamanahi sebagai pengurus OSIS di sekolahnya.
Sementara Tiara masih ada waktu sekitar dua mingguan untuk sekedar berlibur dan memanjakan dirinya bersama sang suami. Rencananya, mereka akan ke luar negeri, namun sepertinya Tiara masih bingung ingin ke mana.
"Sayang, kamu mau liburan ke mana?" tanya Yusuf lembut.
"Hem, pengen ke Korea. Tapi, aku belum pernah ke Makkah dan Madinah. Dosa gak sih aku malah mentingin jalan-jalan ke ke sana dibanding pergi ke tanah suci?" balasnya sambil cemberut.
"Ya nggaklah. Masa segala sesuatu disandingkan dengan dosa. Mas juga sebetulnya belum pernah ke sana, kalau Ummi sama Aby udah tahun lalu. Cuma, aku mikirnya nanti aja lah kalau sudah punya istri, hehe,"
"Duh, Mas Yusuf kayaknya pengen ke sana deh. Apa aku ngalah dulu aja gitu ya? Siapa tau abis dari sana langsung gow ke Korea," gumam Tiara dalam hatinya.
"Ya udah deh. Aku juga pengen ke sana. Yuk, kita umroh aja," ajaki Tiara sambil tersenyum.
"Seriusan kamu mau? Kamu gak ngerasa terpaksa kan?" tanya Yusuf berbinar.
"Tidak lah. Masa mau berkunjung ke rumah Allah terpaksa sih, keterlaluan banget. Eh, btw Mas. Mama semalam chat aku. Katanya mereka ngasih kita ticket gratis ke luar negeri plus embel-embelnya deh, kayak hotel, transportasi termasuk uang jajan. Ke mana pun terserah. Jadi sebaiknya kita pakai voucher itu aja. Katanya sih hadiah pernikahan kita, mumpung aku lagi libur juga, terus kamu pasti pusing udah sidang skripsi. Jadi kita jadikan refreshing ini, yuk?" jelas Tiara.
"Wah, Mas kok jadi gak enak ya? Apalagi kan sebelumnya usaha Mas bangkrut. Dan yang nolongin papa kamu, sayang. Mas ngerasa bersalah, karena belum apa-apa udah ngerepotin gini," sahut Yusuf, lebih ke malu.
"Oh yang restoran Mas malah ada yang korupsi itu ya? Ya ampun, gapapa kali, Mas. Kita kan udah jadi keluarga. Lagian, kamu juga udah ganti kan uangnya? Malah gak diterima sama Papa. Katanya buat tabungan pernikahan kita aja. Menurutku sih, Papa sama Mama itu lebih sayang sama menantunya dibanding sama anaknya sendiri. Tapi gapapa, justru aku bahagia, karena berkat mereka juga, aku bisa nikah sama kamu. Makasih ya Mas," tiba-tiba Tiara memeluk Yusuf. Sontak Yusuf pun kaget, karena ini yang ke sekian kalinya Tiara berterimakasih padanya apalagi sekarang istrinya semakin bersikap agresif dan tidak malu-malu lagi seperti awal-awal mereka menikah.
"MasyaAllah, terimakasih Ya Allah. Berkat kekuatanMu, berkat rahmat dan kasih sayangMu. Aku bisa melewati ujian pernikahan ini dengan sabar dan ikhlas. Kini aku menyadari, bahwa perubahan sikap istriku merupakan takdirMu yang sengaja Kau tunda agar kenikmatannya bisa menjadi sempurna. Ya, kini aku bahagia Rabb. Entah yang ke berapa kalinya aku berkata seperti ini. Yang pasti, Engkau Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Janji-Mu Benar. Engkau tak pernah sekalipun ingkar dan berpaling dariku. Ah Ya Allah, terimakasih. Aku bahagia," rintihnya dalam hati sambil terus mengelus rambut Tiara yang lembut dan wangi itu.
"Mas, ko diam sih? Aku dari tadi ngobrol loh. Kenapa gak jawab aku?" celotehnya manja.
Yusuf pun mencubit hidung istrinya itu, "Mas sedang bahagia, sayang. Saking bahagianya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kamu adalah sumber kebahagiaan Mas. Makasih ya sayang udah mau mencintaiku. Jadilah teman hidupku. Jadilah ibu dari anak-anakku. Jadilah teman menuaku hingga raga ini berpisah dan akan bersatu kembali di Jannah-Nya," sahutnya sambil tersenyum manis. Sangat manis sampai Tiara pun salting.
"Ah Mas. Dari sejak kapan kamu pandai menggombal seperti ini. Kata-katamu terlalu manis untuk diungkapkan. Tanggungjawab, kamu udah buat aku baper. Pokoknya aku mau liburan sama kamu, titik. Kita jalan-jalan sepuasnya. Pokonya kamu harus tetap seperti ini, selamanya. Sarangheyo," teriaknya sambil tersenyum bahagia pada suaminya yang saat ini ada dihadapanya.
Ya, kini mereka saling menatap satu sama lain. Ada rasa kagum dibenak keduanya. Di mana dulu mereka tak pernah merasakan cinta sedahsyat ini. Ya, rupanya cinta setelah menikah itu luar biasa indahnya.
__ADS_1
Jika menurut orang-orang zaman sekarang pacaran itu indah, tapi pacaran setelah halal itu jauh lebih indah. Kini mereka pun saling berpagut satu sama lain, ada rasa yang berdebar-debar saat mereka berpaut dalam gejolak asmara yang mereka ciptakan. Entah yang ke berapa kalinya, yang pasti mereka jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi pada orang yang sama.
"Mas," kini Tiara pun menyenderkan kepalanya dibahu kekar milik suaminya itu.
"Kamu gak pengen cepet-cepet pengen punya anak kan?" tanya Tiara hati-hati.
"Haha, sayang. Kenapa kamu malah kepikiran itu?" ucap Yusuf tak habis pikir.
"Maaf ya Mas. Aku belum bisa jadi istri kamu seutuhnya. Tapi, kalau seandainya kamu mau pun. Aku siap kok. Asal, pakai pengaman," ucapnya malu-malu.
"Ah kamu. Bikin pikiran ini melayang saja," ucap Yusuf sambil tertawa.
"Loh, Mas gak percaya? Aku peka loh. Kalau Mas lagi naik-naiknya hasrat, pasti langsung mandi kan? Harusnya aku bisa nuntasin keinginan kamu itu. Tapi, setiap kali aku ingin menawarkan diri. Aku ragu. Aku takut. Maaf ya Mas. Andaikan aku ini udah tamat sekolah. Mas pasti gak bakal tersiksa begini," ucapnya sambil menunduk, sementara Yusuf nampak tercengang dengan penuturan sang istri.
"Sayang. Kamu merhatiin Mas selama ini? Ya ampun, malu aku. Kirain kamu tuh gak sampai berpikir seperti itu." balas Yusuf sambil mengacak-ngacak kepala istrinya itu dengan gemas.
"Tapi.. Aku bakal tetap teguh sama pendirian aku dari awal. Aku pengen kamu tetap fokus sama sekolah kamu. Lagian, aku kan bakal sibuk gantiin Papa kamu di salah satu perusahaanya. Jadi, kita seriusinnya nanti aja. Mending sekarang kita pacaran dulu aja. Kamu gapapa kan?"
"Sini deh, ko Mas gemes banget sih sama kamu. Isteri siapa ini," ucap Yusuf sambil mengelitiki perut istrinya itu.
Kedua pasutri itu pun saling menggoda satu sama lain. Ya, mereka tak pernah menyangka akan sampai ke tahap seperti ini. Apalagi Tiara. Sejak awal dia selalu cari gara-gara, katanya sih biar dia bisa dicerai-in oleh Yusuf. Tapi nyatanya sekarang dia malah jatuh cinta. Yakin masih mau minta cerai? Wk
***
Sebelum ke Bandung. Rayn meminta izin dulu untuk pamit pada kedua orangtuanya didampingi oleh Mega yang sedari tadi setia menemaninya ke mana pun.
"Rayn, kasus orangtua kamu beneran udah ditutup?" ucap Mega tak percaya.
"Belum sih. Cuma ada beberapa orang yang masih dalam tahap pengejaran, termasuk orang yang membunuh kedua orangtua kamu. Sampai sekarang, keberadaan mereka masih menjadi misteri. Belum ada yang bisa menemukannya. Huh, aku kok gereget sendiri ya?" balas Rayn dengan wajah yang sedikit ditekuk karena sebal.
"Pasti gereget lah. Gimana kalau kita diam-diam ikut mencari? Aku punya kenalan hacker dari Bandung. Dia jago banget tau di bidang itu. Siapa tau, dia bisa ngelacak para laknat itu.," ucap Mega menggebu-gebu.
__ADS_1
"Wah, boleh tuh. Tapi, mending minta izin dulu gak sih ke Bang Stephan? Gak enak loh kalau gak ngomong apa-apa. Apalagi Bang Stephan dan Zae sekarang ini sibuk ngejar dan nyari para pelaku juga,"
"Hem, boleh aja. Tapi, mendingan nanti aja gak sih? Kita coba dulu aja ke hacker ke kenalan aku dulu. Nanti setelah dari Bandung kita ke Om Stephan sama Zae. Siapa tau kita bisa ikut ke mana gitu. Mumpung aku masih belum masuk di pesantren. Kata adikku, katanya pesantren masih libur."
"Oke deh. Kamu beneran Ga mau ke pesantren sana? Gak sama kita aja?" tawari Rayn.
"Beneran, Rayn. Adikku harus aku temani di sana. Di sini kan kamu udah ada Tiara. Kasian juga pas denger kisah dia di pesantren. Kayaknya orang-orang pada iri deh sama dia. Secara dia kan langsung diangkat jadi menantu dan nikah sama anak pimpinan pondok pesantren,"
"Hem, iya sih. Yaudah deh. Ayok kita habisin waktu kangen-kangenan ini. Aku bakal rindu kamu Mega. Kamu harus sehat dan baik-baik aja ya selama di pesantren nanti,"
"Iya Aamiin. Yuk ah, gass. Ibu sama Ayah kamu udah kamu kasih tau kan, siang ini kita berangkat ke Bandung?" ucap Mega memastikan.
"Aman. Mereka malah pengen ke rumah bang Stephan. Katanya rindu anaknya. Mungkin beberapa hari mau tinggal di sana. Nanti kalau kita udah beres urusan di Bandung. Kin kita ke rumah bang Stephan ya?"
"Oke. Asiapp" balas Mega tersenyum.
Saat mereka berdua saling berceloteh, tiba-tiba saja ponsel Mega bergetar.
"Hei, dia hacker yang aku maksud," ucal Mega bersemangat.
"Halo, Brain. How are you?" ucap Mega sambil tersenyum.
"Apa, Brain? Ini orang yang sama gak sih?" celoteh Rayn dalam hatinya.
"What? Really? Yes, thank you. I will see you soon," balas Mega kembali.
"Hacker itu namanya, B-brain?" tanya Rayn tergagap.
"Iya. Ko kamu kayak gugup gitu?" kata Mega heran.
"Aduh, mampus. Kenapa dia bisa kenal sih?" gerutu Rayn dalam hatinya.
__ADS_1
...----------------...