
"Emang yah... Kalau jodoh itu gak akan ke mana. Pasti selalu saja ada jalan untuk bertemu," sindir Rere pada sahabatnya yang kini tengah gundah akan kedatangan Yusuf yang sedang berlari menuju ke arahnya.
"Hih, nggak mau! Argh, kenapa sih di mana-mana harus ketemu dia terus?" keluh Tiara. Sementara saat ini orang yang dimaksud sudah ada di hadapannya.
"Tiara... Kamu tau gak? Saat ini, orang-orang di Pesantren itu sedang heboh, karena kamu menghilang. Kamu ko bisa di sini sih? Aku juga yang dengernya ikut syok, untung pas banget bisa ketemu kamu di sini," ungkap pria itu yang nampak ngos-ngosan mengejar Tiara. Kini ia sudah menetralkan deru nafasnya kembali.
"Seriusan? Ceritanya panjang, sih..." ujar Tiara nampak santai. Di sana memang hanya ada dirinya dan Rere, sedangkan Tante Ratna sedang belanja baju dulu ke salah satu toko brandied di mall itu.
"Ayolah Tiara. Pulanglah! Ummi sangat mencemaskanmu." pinta Yusuf memelas.
"Suf! Kamu janji bakal percaya aku? Kamu pasti gak nyangka dengan cerita yang akan aku ungkapkan,"
"Cerita apa? Kamu kenapa? Silahkan ceritakanlah..."
"Re.. Kamu aja deh. Aku males harus nyeritainnya." pinta Tiara pada sahabatnya itu.
"Lah, nanti Yusuf ini gak percaya kalau aku yang nyeritain, mending kamu aja." tolak Rere sambil melirik ke arah Yusuf.
"Gapapa. Kalau Tiara gak mau cerita, kamu juga tidak masalah, asal jujur." kata Yusuf kooperatif. Ia mengatakan seperti itu, karena melihat raut wajah Tiara yang gelisah. Sepertinya, ia yakin bahwa Tiara akan berkata jujur.
"Baiklah."
Akhirnya Rere pun menceritakan kejadian yang dialami Tiara tanpa ada yang dilebihkan maupun dikurangi. Sesaat Yusuf syok karena tidak menyangka, apalagi hal ini menyangkut sosok Dhika yang tempo lalu telah menikamnya di pantai Ancol. Sementara Tiara hanya manggut-manggut saja, karena penjelasan Rere ini terkesan dramatis. Kalau dirinya yang menceritakan, belum tentu semenghayati ini, dilengkapi penuh rasa kekesalan dan kebencian pada keluarga Dhika.
__ADS_1
"Astaghfirullah, jadi kamu mengalami ini semua, Ti?" tanya Yusuf yang nampak berkaca-kaca. Ia miris, karena Tiara harus mengalami pelecehan juga. Tiara pun menjawabnya dengan memanggutkan kepalanya saja tanpa menjawab lewat kata.
"Gak bisa dibiarin! Aku mau lapor polisi sekarang juga! Bagaimanapun, kejahatan itu harus dituntaskan, bahkan pelakunya harus ditangkap biar jera! Gimana kalau kejadian ini menimpa kalangan kelas bawah yang tidak bisa berkutik apapun, karena terbatas kekuasaan dan materi. Ini sudah sangat fatal!" ungkap Yusuf emosional.
"Jangan!" sergah Tiara menahan Yusuf yang nampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Sementara Rere hanya tersenyum melihat interaksi kedua sejoli itu. Rupanya ia sengaja memancing emosi Yusuf, agar Tiara tidak terlalu disalahkan saat nanti kembali ke pondok pesantren.
"Kenapa? Karena dia partner bisnis Papa kamu sehingga kamu rela menutupi hal sefatal ini?! Ini keterlaluan Tiara, sangat keterlaluan!"
"Yusuf! Aku mohon!" kini Tiara bersimpuh dihadapan Yusuf sambil terduduk. Ia menunduk dan memohon agar Yusuf tak melaporkan kejadian ini ke kantor polisi.
"Bangunlah. Kenapa kamu begini?" Yusuf jadi serba salah. Akhirnya ia pun mengalah, dan akan memikirkan solusinya agar Tiara tidak terlalu diberatkan hukumannya saat ia tiba di pondok.
Yusuf tahu, bahwa selama ini Tiara sering keluar pondok hanya untuk kesenangannya saja. Namun ia tak rela menegurnya atau memberitahu orang pesantren, secara ia memiliki hati pada Tiara. Ia ingin menyembunyikan fakta tersebut, namun sekarang fakta itu sudah terkuak dan tetap akan disidang di pesantren nanti.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu ke Pesantren, supaya Ummi dan Aby tidak menghukummu begitu berat." kata Yusuf pasrah.
"Yakin? Emangnya aku tidak tahu. Kamu rutin kan ke kota hanya sekedar untuk nge-mall dan menuntaskan kesenanganmu saja di sana, sebagaimana kamu hidup di kota ini. Masih mau mengelak?" ungkap Yusuf tegas.
Tiara pun terperangah, ia kaget, kelakuan badungnya itu seketika ketahuan. Ia seperti penjahat saja yang kejahatannya itu baru terungkap dan akan di sidang nanti di pengadilan. Sementara Rere pun tak kalah kaget. Ia merasa Tiara akan menghadapi masalah yang besar, saat nanti tiba di Pesantren.
"Ko kamu tau sih? Ah, kenapa harus ketahuan segala," Tiara pun tak bisa menutup-nutupinya lagi di hadapan Yusuf. Apalagi dirinya sudah terciduk oleh anak pimpinan pondok, opsi terakhir ialah berkata jujur, agar hukuman tidak semakin berat.
"Nah kan.. Akhirnya ngaku juga. Berani banget sih kamu Tiara ke kota segala. Gimana kalau terjadi sesuatu padamu saat di perjalanan? Udah bener kamu jadi santri yang baik dan patuh di dalam pondok. Kenapa harus gitu segala," ceramahi Yusuf kembali.
__ADS_1
"Ya, maaf. Aku bosan Yusuf! Janji deh, gak bakal gitu lagi." ungkap Tiara sambil cemberut. Ia pun menoleh ke arah Rere yang sedang cekikikan. Rupannya ini kesenangan tersendiri bagi Rere, karena Yusuf akhirnya bisa menaklukan Tiara.
"Oke. Jadi kapan kamu mau ke Pesantren? Tapi jangan hari ini. Ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu,"
"Em, besok lusa deh. Boleh gak? Eh, serius kamu mau nganter aku? Naik apa? Mobil?" kata Tiara memastikan.
"Boleh. Sepertinya pakai motor. Gapapa kan?"
"Hah, motor? Jangan ngaco deh. Gak mau!" tolak Tiara secara terang-terangan.
"Ya sudah. Aku aja yang antar kalian ke Pesantren. Gimana?" tawar Rere.
"Nah, boleh. Gini aja ya Suf!"
"Oke deh." Akhirnya mereka bertiga pun berpisah satu sama lain. Yusuf kembali ke asramanya lalu setelahnya akan berkunjung ke kafenya. Sementara Tiara dan Rere menuntaskan hobby-nya yaitu bersenang-senang di mall. Kini mereka akan pergi ke Bioskop untuk menuntaskan rasa mumet di dalam hati Tiara.
...----------------...
"Re.. Aku ko takut yah di hukum sama bu Susi." curhat Tiara tiba-tiba. Saat ini mereka sedang di balkon kamar Rere yang ada di lantai dua.
"Kamu harus sanggup! Bagaimanapun, kamu harus bertanggungjawab dengan apa yang kamu perbuat, Ti. Semangatlah!" ucap Rere tulus.
"Huft. Bener juga apa kata kamu. Aku harus bisa melewati ini. Jujur, deg-degan banget." ketika mereka sedang berbincang. Tiba-tiba saja ada mobil merek Tesla Model X Long Range yang mirip dengan mobil yang Tiara kenal. Seketika, pandangan mereka terpusat pada sosok yang keluar dari mobil yang dibandroll seharga 3M itu.
__ADS_1
"Mama?" ungkap Tiara melotot tak percaya, melihat Mama dan Papanya tersenyum ke arahnya, kemudian senyuman itu pudar menjadi raut kekecewaan pada sosok anaknya yang kini tengah ketar-ketir melihat kedatangan kedua orangtuanya.
...----------------...