Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 73


__ADS_3

"Ekhem. Kenapa sayang? Ada yang sakit?" tanya Ummi Susi mengkhawatirkan sang menantu yang sedang duduk di ruang tamu.


"E-eh, Ummi. Gapapa kok. Tiara lagi ngafalin aja buat setoran," jawab Tiara sambil tersenyum.


"Beneran? Ko muka kamu kayak yang lesu gini?" ucap Ummi Susi sambil membelai lembut pucuk hijab menantunya.


"Seriusan, Mi. Tiara gapapa," sanggah Tiara lagi sembari tersenyum. Ummi Susi pun akhirnya duduk di samping menantunya.


"Kamu rindu ya sama suamimu?" goda Ummi.


"Em, Ummi. Tiara mau bertanya sesuatu. Boleh?"


"Boleh, Nak. Ada apa?"


"Mas Yusuf sebelumnya pernah punya mantan kekasih tidak, Mi?" tanya Tiara penasaran.


"Oh, jadi ini penyebab menantu Ummi yang cantik ini galau. Em, kalau boleh jujur, Yusuf punya mantan, Nak. Dia juga pernah mondok di sini, cuma takdir kematian-lah yang akhirnya memisahkan mereka," jelas Ummi Susi.


Seketika Tiara pun berwajah murung, "Dia hanya masa lalu, sayang. Ya, namanya anak muda, istilah modernya cinta monyet. Mungkin itulah yang dirasakan Yusuf bersama Kirani dulu," sambungnya.


"Kirani? Seseorang yang pernah Mas Yusuf sebut saat tempo lalu siuman?" ujar Tiara terkejut.


"Loh, kapan Yusuf ngigau Kirani, Nak? Siuman kapan ya? Ummi lupa,"


"Itu, Mi. Yang waktu itu Mas Yusuf ditikam sama Dhika. Em, ternyata Mas Yusuf sesayang itu ya sampai ngigau wanita itu di alam bawah sadarnya,"


"Hehe, kayaknya ada yang cemburu nih. Percaya sama Ummi, Yusuf jauh lebih mencintaimu ketimbang Nak Kirani. Walau ya mereka pernah berkomitmen juga untuk bersama, tapi kamu jangan merasa risau. Sekarang, wanita satu-satunya di hati putera Ummi, ya kamu, sayang. Gak ada yang lain," tenangkan Ummi Susi.


"Em, Ummi. Apa penyebab Kirani meninggal dunia? Apakah semenjak itu Mas Yusuf tidak bisa move-on?"


"Jadi, Yusuf sama Kirani itu saling menyadari perasaannya satu sama lain saat perpisahan SMA di pesantren ini. Nah, urusan pacaran atau tidaknya, jelas Ummi tidak mengetahuinya. Tapi percayalah, Yusuf tidak akan melanggar syariat Islam. Malah sepenglihatan Ummi, mereka itu saling mengagumi cuma hanya bisa saling diam saja. Puncaknya saat Nak Kirani pulang ke Rumahnya di Tangerang.


Tiba-tiba tersiar kabar tidak enak dari pihak keluarganya, mereka mengatakan bahwa Nak Kirani selama ini punya penyakit tumor otak sudah stadium empat. Itu sebabnya, Kirani sama sekali tidak membalas perasaan Yusuf yang mengajaknya untuk berkomitmen. Dari sana-lah, hati Yusuf hancur, bahkan dia seperti mati rasa enggan menerima seorang perempuan lagi dalam hidupnya sampai akhirnya dia bertemu kamu, dan tiba-tiba dia minta ingin menikahimu sesegera mungkin," jelas Ummi Susi panjang lebar.


"Ya Allah, ternyata perempuan itu memiliki penyakit tumor ya," sahut Tiara berkaca-kaca.


"Iya, sayang. Kita doakan yang terbaik dari sini, semoga Nak Kirani tenang dan sudah bahagia di Surganya Allah. Aamiin," Tiara pun turut mengaminkan dan melantunkan al-fatihah untuk almarhumah.


"Em, Ummi sedih loh sama musibah yang menimpa kalian berdua," ucap Ummi Susi tiba-tiba.


"Musibah apa, Ummi?" sahut Tiara tidak mengerti.


"Kalian udah berhubungan lagi, apa tidak Nak?"


"Eh, Ummi. Tiara tidak mengerti," ucap Tiara sambil menggaruk pucuk hijabnya yang tak gatal.


"Harusnya ditunda dulu sih, cuma... Ummi menyayangkan saja kamu harus mengalami itu semua sejak dini," kata Ummi Susi lagi dan Tiara sekarang sudah mengerti.

__ADS_1


"Oh, itu... Iya Ummi. Maafkan ya, karena keteledoran Tiara, cicit Ummi sama Abi harus keguguran." ungkap Tiara merasa bersalah.


"Tidak, Nak. Bukan maksud Ummi seperti itu. Justru Ummi tidak habis pikir dengan Yusuf. Harusnya dia menundanya terlebih dahulu, kan kasian kamu masih sekolah. Itu maksud Ummi, sayang," ucap Ummi Susi meluruskan.


"Yah, Ummi. Tiara mana tega mendzalimi suami sendiri. Lagian itu beneran kelepasan Ummi. Sebelumnya ada tragedi pertengkaran, ya akhirnya peristiwa itu harus terjadi dan langsung jadi. Awalnya Tiara tidak mengira akan secepat itu, tapi.. Mungkin inilah jawaban Allah pada kami bahwa Tiara memang belum siap menjadi seorang ibu. Makanya Allah sayang dan membuat Tiara keguguran tanpa disengaja saat di Turki. Semoga anak kami tidak marah ya pada orangtuanya. Tiara benar-benar ceroboh dan serasa gagal menjaga amanah tersebut," ungkap Tiara sambil menunduk dan meremas sepuluh jarinya.


Ummi Susi pun mengenggam kedua tangan menantunya, "Tidak, Nak. Itu bukan salahmu. Benar kata kamu. Mungkin Allah ingin memberikan sebuah pengajaran pada kalian, agar suatu saat kalian lebih hati-hati lagi. Bukan berarti Allah marah karena kamu tidak menjaganya dengan baik. Tapi takdir Allah-lah yang mengajarkan kalian untuk berproses dan berusaha menjadikan kalian calon orangtua yang lebih baik lagi ke depannya. Percayalah, semua ini adalah yang terbaik dari-Nya. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu lagi ya, sayang," ungkapnya sambil membelai pipi menantunya dengan lembut.


"Terimakasih ya, Ummi. Makasih, karena sudah menerima Tiara sebagai menantu Ummi yang tidak sempurna ini. Tiara janji akan menjadi isteri yang sholehah untuk putera Ummi serta menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kami kelak,"


"Aamiin,"


***


"Rayn, gimana betah gak di pesantren?" tanya Tiara pada sobatnya itu yang kini sudah bersamanya di kelas 10 mipa.


"Betah dong. Kan sama kami," sahut Saskia dan Anisa bersamaan. Rayn pun mengangguk senang.


"Wah, alhamdulillah dong. Aku jadi rindu ngobong lagi," sahut Tiara yang tiba-tiba saja berubah masam.


"Yuk, kapan-kapan nginep aja di kobong sama kami. Gak bakal kenapa-napa kan?" ajak Saskia.


"Ya, nggak sih. Cuma Ummi kasian di rumah gak ada yang nemenin. Kalian aja yang nginep di sana, gimana?"


Rayn pun menggeplak lengan Tiara sedikit keras, "Ngaco! Dikiranya ngekos apa bebas keluar-masuk seenaknya. Itu tuh rumah pimpinan pondok pesantren sayangku, bukan rumah kosan," gemas Rayn.


"Yailah, kayak ke siapa aja sih, Ti," sambar Saskia sambil tersenyum.


"Sekalian cerita pengalaman malam pertama. Kami penasaran," sahut Anisa tanpa dosa.


"Hush! Kamu kayak nggak punya adab aja. Mana ada hubungan ranjang diumbar ke ranah publik. Nanti Tiara bisa dimarahin sama suaminya lah," kilah Rayn. Sedangkan Saskia hanya tersenyum kecut.


"Apa iya mereka udah begituan? Ya Allah, ko perasaan ini begini terus ya. Apa maksudnya aku masih mencintai suami orang," batin Saskia.


"Ki!" tegur Tiara.


"I-iya, Ti?" Saskia tiba-tiba gelagapan.


"Kamu siap nggak jadi Roisah taun depan? Kata Ummi, kandidat Roisah bakal dijatuhin ke kamu. Aku sih, setuju kalau seandainya kamu bersedia," ungkap Tiara yang membuat Anisa maupun Rayn menohok.


(Roisah : Ketua Pengurus Puteri di Pondok Pesantren


Rois : Ketua Pengurus Santri Puteranya)


"Ko bisa? Aku baru naik ke kelas sebelas masa iya udah menjabat jadi Roisah?" kata Saskia terkejut bukan main.


"Gak tau, Ki. Ummi pengennya kamu. Gimana, setuju?"

__ADS_1


"Wah, apa maksudnya? Masa iya aku bakal diangkat jadi isteri kedua? Eh, astaghfirullah. Pikiran laknat apa itu," batin Saskia meringis.


"Nanti deh dipikirin lagi. Kok ya aku. Kan masih ada teh Adinda (Siswa dan Pengurus Kelas 12 SMA),"


"Beliau mau melanjutkan kuliah ke luar negeri, jadi gak bisa ngabdi di pondok, Ki," jelas Tiara.


"Kalau teh Nuha (Siswa dan Pengurus kelas 11 SMA)?" tanya Saskia lagi.


"Beliau mengatakan tidak menginginkan jabatan tersebut. Apalagi jika harus menjabat dua tahun, teh Nuha juga udah ada planning kuliah di luar kota," jelasnya lagi.


"Ya ampun. Aku nggak mau, tapi.. Ya deh, kan masih ada beberapa bulan lagi. Biar kupikirkan matang-matang," timpal Saskia sambil memijit pelipisnya.


"Semangat! Kamu pasti bisa!" ucap ketiganya serempak.


"Ya Tuhan. Ko aku masih suka dia sih. Apa ini hanya terobsesi saja? Gak mungkin cinta 'kan?" ujar Saskia bertanya-tanya dalam hatinya.


***


Sementara di sudut kota, tepatnya di sekolah Rere. Hari ini dia sedang menjalankan tugasnya sebagai sekretaris osis dan menyebabkannya ke fotocopy-an disebrang sekolah untuk nge-print data-data kepengurusan yang sudah sang ketua berikan.


"Idih, kenapa harus Ray yang menjabat jadi ketua bidang olahraga?" gerutu Rere yang masih tak terima dengan keputusan sang ketua-Adit.


"Hei!"


"Astaghfirullah! Hantu!" pekik Rere sambil menelangkupkan kedua tangannya ke wajahnya.


"Gue Ray. Lo kenapa? Biasa aja kali," sahut Ray, menggelengkan kepalanya karena gemas melihat tingkah Rere di hadapannya.


"Hish, orang rese! Minggir! Gue mau ngeprint portofolio buat diserahin ke kepala sekolah!" ketus Rere dan langsung nyolonong gitu saja ke hadapan Ray.


"Tunggu!" ucap Ray tak segan-segan memegang tangannya.


"Apaan si main megang-megang. Bukan muhrim!" pekik Rere tidak terima dan menatap nyalang ke arah Ray.


"Idih, biasanya juga saling pegangan tangan sama si Adit," sindir Ray.


"Fitnah ya Lo! Inget, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan!" peringatkan Rere dengan mata berkilat siap menerkam mangsanya.


Ray pun menyeringai, "Emangnya gue gak tau, cewek macem lo itu hanya so' suci aja. Jangan so' alim deh," cibir Ray kembali.


"Lo udah bosen idup? Apa idup lo semenyedihkan itu? Gue gak peduli sama pandangan oranglain ke gue! Bodo amat! Yang penting gue nggak pernah ngelakuin apa yang lo tuduhkan itu!" sungut Rere sambil melotot dan menunjukkan telunjuknya ke depan wajah Ray.


"Dasar ja...."


Saat Ray akan menampar Rere, tiba-tiba saja ada tangan kekar berusaha menahannya.


"U-ustad?"

__ADS_1


***


__ADS_2