Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 55


__ADS_3

"Kamu kenal sama Brain?" tanya Mega sambil menatap aneh ke arah Rayn.


"E-enggak kok. Aku cuma tau aja. Dia kan hacker terkenal," sahut Rayn sambil pura-pura tersenyum.


"Wah, bagus dong. Berarti kamu setuju kan kita akan bertemu dengannya?"


"B-boleh. Kita coba aja. Semoga dia benar-benar membantu kita," harap Rayn, meskipun hatinya saat ini tengah cemas.


"Ya Allah, semoga Brain ini orang baik. Dia hanya terobsesi pada suami Tiara. Dia pasti gak bakal melakukan hal buruk padaku dan Mega," optimisnya dalam hati.


"Jadi gak berangkatnya? Aku udah siap nih?" ajaki Mega yang sudah sangat bersemangat ingin menemui hacker terkenal itu.


"Ayo! Kita cuma nginep sehari aja kan di sana? Aku kan cuma bawa baju tidur sama ganti aja buat besok," jawab Rayn santai sambil dandan tipis, lalu mengenakan hijab pashminanya dengan simpel.


"Iyah, sehari doang. Barusan Brain bilang dia lagi ngelacak orang-orang itu melalui alamat email, nomor telepon, dan alamat pribadi lainnya yang udah aku kirim lewat data perusahaan. Uh, ko rame gini ya? Vibesnya kita seolah-olah ikutan jadi intel," curhat Mega sambil cekikikan.


"Kata kamu kan orang-orang itu dari perusahaan yang berbeda-beda, kamu bisa nyuri data mereka lewat apa?" tanya Rayn penasaran.


"Aih, aku bilang aja ke orang-orang yang aku kenal atas nama orangtuaku. Mereka baik-baik dan mau ngasih informasinya. Huhu, jadi sedih juga. Katanya mereka juga turut berduka cita sama membelas kasihani aku dan adikku, karena sekarang kami sudah menjadi yatim piatu," jawabnya sambil tertunduk.


"Kamu anak hebat. Jadi, buktikanlah, bahwa orangtua kamu bukanlah orang yang jahat. Masih ada orang-orang yang lebih jahat dibalik kasus ini. Jadi, kamu harus tetap bertahan dan memperjuangkan hak-hak orangtuamu. Oke?" semangati Rayn sambil merangkulnya menuju bagasi mobil.


"Iya, Rayn. Makasih ya udah mau membersamaiku di segala suka dan dukaku. Padahal, orangtuaku udah tega terlibat untuk mengkambing hitamkan om Indra. Tapi kamu sebaik ini sama aku, aku jadi gak tega ngerepotin kamu, hiks,"


Saat Mega tergugu dan Rayn menepuki bahunya. Saat itu pula-lah, Zae dan Stephan datang ke rumah Rayn.


"Hei, kamu mau ke mana Dek?" sapa Stephan yang terlihat santai dengan Zae yang mengekorinya dari belakang.


Semenjak peristiwa Zae yang ditolak habis-habisan oleh Rayn. Zae menjadi dingin jika bertemu dengan wanita itu. Seperti saat ini.


"Aku mau ke Bandung, Bang. Eh, mau jemput Ayah sama Ibu ya?" balas Rayn.


"Mau ngapain ke Bandung? Iya. Abang mau jemput mereka. Sekalian diajak dulu ke kantor abang, hehe. Mau tau katanya, gimana kantor seorang pengacara," ucap Stephan sambil tersenyum.


"Itu..." Rayn nampak bingung menjelaskan misinya dan Mega pada Stephan.


"Kami mau melihat restoranku yang ada di Bandung, Om. Boleh kan aku ajak Rayn dulu ke sana?" sela Mega.


"Oh, mau nengok ceritanya ya? Boleh lah. Hati-hati aja ya selama di sana," nasihati Stephan.


"Iya, bang. Pasti. Kalau begitu, kami berangkat sekarang ya," pamit Rayn sambil bersalaman dengan abangnya, lalu beralih ke Zae yang hanya tersenyum sambil menunduk dan menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Om, aneh gak sih mereka berdua?" bisik Zae saat melihat kedua gadis itu hilang dari pandangannya. Begitupun Stephan.


"Tenang saja. Saya sudah menaruh sesuatu di ponselnya. Lagian, saya bisa tau gerak-gerik Rayn melalui hacker saya di kantor. Jadi aman," timpal Stephan santai.


"Wah, abang yang sangat protektif," puji Zae.


"Kamu kan minat sama adik saya. Kenapa tadi kalian berdua seperti bermusuhan?" goda Stephan.


"Hem, biarkan waktu saja yang menjawab," jawabnya sambil menghela nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Kayaknya ada yang ditolak, terus menyerah. Tenang saja. Saya bisa yakinin anak itu,"


"Em, nggak ah Om. Saya gak mau maksa dia. Biarlah semuanya mengalir apa adanya. Kalaupun berjodoh, pasti gak akan ke mana,"


Stephan pun menepuk pundak Zae yang kini telah resmi jadi tangan kanannya sebagai pengacara, "Saya setuju. Semoga yang terbaik, datang di waktu yang terbaik juga ya!" semangati Stephan. "Tenang saja. Saya juga belum mau berumah tangga, mungkin taun depan," sambungnya sambil tertawa pelan.


"Wah, siapakah gadis beruntung itu?" Zae pun jadi penasaran.


"Rahasia ilahi. Nanti juga tau sendiri," timpalnya.


Kedua pria itu pun memasuki kediaman Rayn sambil sesekali tertawa dan bercengkrama. Ya, setelah kasus yang Zae menangkan tempo hari. Dengan skill debatnya yang sudah tidak diragukan lagi. Maka di hari itu pula Stephan merekrut Zae sebagai tangan kananya atau bisa katakanlah pengganti dirinya, jika Stephan sedang kewalahan melayani klien-nya.


****


Kedua gadis itu pun akhirnya tiba di restoran Mega selama dua jam perjalanan mereka tempuh dari Jakarta ke Bandung. Ya, restoran dengan gaya klasik Eropa dengan sajian menu khas Eropa juga yang tentunya sangat menggiurkan dan memanjakan lidah para foodie blogger maupun selegram yang sesekali mengabadikan momentnya di restoran itu.


Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa di zaman yang semakin berkembang ini. Budaya luar negeri kerap kali menduduki bumi Indonesia bahkan hampir mendominasi penduduk sekitarnya, begitupun dalam hal makanan. Bagi pebisnis mungkin hal ini sangat menguntungkan, apalagi peminatnya gak main-main.


Dengan seorang chef yang berasal dari Eropa, tentu sajian kulinernya juga pasti mirip-lah sama negara aslinya. Sebutlah Crepes yang merupakan pancake tipis yang berasal dari negara Prancis.



Makanan yang berbahan dasar tepung dicampur bahan lainnya ini memiliki dua varian yang bertolak belakang, yakni bisa manis dan juga asin. Jika biasanya crepes ini sering dihidangkan menggunakan saus apel. Kamu bisa menikmatinya menggunakan isian keju, sayur-sayuran, daging, termasuk strowberry yang dicampur dengan es-krim.


"Rayn, kamu mau pesan apa? Yok, kamu bebas pesan apapun, kalau mau semua menu pun tidak masalah. Gratis!" tawarkan Mega sambil menselonjorkan kakinya yang terasa pegal di ruangan khusus untuk tamu VVIP di restoran itu.


"Aduh, tersanjung aku jadinya. Aku pengen pizza aja sama waffle rasa coklat. Kayaknya enak. Apalagi kan kokinya asli Eropa. Betul nyonya?" ucapnya sambil bercanda pada Mega.


"Eh, kenapa pesennya irit banget. Gak bisa gitu ah. Aku pesankan semua menu. Kamu harus mau. Kalau gak habis bisa di bekel nanti buat si Brain. Haha," Mega pun langsung menyuruh pegawainya untuk memesankan semua menu untuknya ke ruangan khusus itu.


"Nah kan ngaku juga. Aku tau kamu tuh seneng banget kuliner makanan. Udah lah, gaada namanya malu di antara kita. Justru aku banyak berhutang budi padamu,"


"Ih, diungkit terusss. Nanti aku palak kamu loh, kamu gak takut?" canda Rayn sambil menyeruput Citron Presse. Sementara Mega malah nampak cekikikan akan penuturan Rayn.


Minuman asal Perancis yang dicampur lemon itu begitu menyegarkan tenggorokan Rayn yang sedang haus. Maklum, cuaca di Bandung sedang terik-teriknya. Jadi Rayn dan Mega kompak meminum Citron Presse yang paling best seller di restoran itu.



"Wih, seger banget. Aku buat di rumah juga bisa ini. Ala-ala aja gitu," gumam Rayn lagi.


"Iya. Pokoknya silahkan nikmati makanannya ya!" ujar Mega yang saat ini tengah berterima kasih pada pelayan restorannya yang begitu terampil dan sangat cekatan meletakan semua menu yang ia pesankan.


"Daebak, Mega. Kamu gak main-main rupannya. Ini gak nunggu 10 menit loh. Udah tersaji saja," takjub Rayn sambil mempotretkan semua makananya ke insta story instagramnya. Tak lupa ia pun tag restoran Mega beserta akun pribadi Mega untuk mempromosikan kulinernya juga sih.


"Steak, Hamburger, Spaghetti, Glato, Frittes, Kroketten, Croissant, Fizza, Waffle, dan ah, kamu pengen sahabatmu ini gendut ya?" gumam Rayn yang langsung mengucapkan basmalah lalu melahap menu makanan itu satu persatu.


"Makanlah. Aku kok kayak kenyang liatin kamu, Rayn," ucap Mega sambil tertawa. Lalu ia pun sama melahap makanan yang tersaji banyak di hadapannya.


Mereka pun menikmati makanan siang menjelang sore itu dengan khidmat. Setelah selesai, tak lupa mereka shalat ashar terlebih dahulu di ruangan pribadi Mega yang ada di restoran itu.


"Ga. Yakin kita mau ke kediaman Brain?" tanya Rayn yang saat ini tengah melipat mukenanya. Begitupun Mega.

__ADS_1


"Iya dong. Apalagi dari sini cuma 20 menitan. Nanti kita bisa nginep di hotel yang tak jauh di restoranku. Sebelum kita ke Jakarta, aku mau beli dulu sesuatu untuk manajerku. Jadi, antar dulu aku besok pagi ke sini lagi ya!" sahut Mega.


"Oke."


Rayn pun menyetujui rencana Mega. Walaupun dirinya terlihat tenang. Entah kenapa ia begitu cemas dan takut saat mendengar dirinya akan segera ke tempat Brain.


Entahlah, kini mereka sedang di perjalanan. Sesekali Mega melirik ke arah maps yang telah dikirimkan oleh Brain. Sedangkan Rayn terlihat mengamati jalanan sekitar yang ia lalui bersama Mega.


Nampaklah perumahan seperti perum dengan rumah yang sudah bisa ditebak, karena rupanya tempat Brain itu terlihat sangat elite, walaupun ada yang lebih mewah dari rumah itu.


"Tadaaa. Akhirnya sampai juga. Aku penasaran, dia itu cewek atau cowok. Soalnya pas nelepon suaranya itu samar. Kayak suara hacker-hacker yang muncul bertebaran di film gitu," gumam Mega sambil membuka pintu mobilnya.


"Rayn. Ayo turun!" ajaki Mega kembali. Rupanya Rayn malah melamun.


"Eh, Iya Ga. Maaf," Rayn pun segera turun.


Tak ada satpam yang menjaga di pos rumah mewah itu. Begitupun pembantu yang biasanya nampak saat mereka mengetuk pintu utama rumah.


"Hem, sepi," gumam Rayn pelan.


"Bentar lagi Brain bukain pintunya. Katanya sedang menuju ke sini," Entah kenapa Rayn semakin deg-degan.


Ceklek!


Saat pintu terbuka. Nampaklah wanitu berparas bule yang begitu cantik. Sangat cantik. Malah kalau boleh dibilang dia seperti barbie yang sangat manis apalagi kalau tersenyum.


"Kamu Mega kan?" ucap bule itu menggunakan bahasa Indonesia.


"Ya, aku Mega. Eh kamu siapa? Ko bisa bahasa Indonesia juga?" balas Mega terlihat heran, karena biasanya bule tidak sefasih ini berucap tanah airnya.


"Hai, ayo masuk! Kita ngobrolnya di dalam saja," ucap wanita berwajah barbie itu sambil tersenyum. Senyum yang tak bisa ditebak apakah itu tulus ataukah palsu?


Aneh! Rayn merasa inilah si Brain itu. Pantes Yusuf menghindar, karena dari cara berpakaiannya pun sangatlah tidak nyaman untuk di pandang oleh kaum adam, apalagi lelaki sholeh seperti Yusuf.


Wanita itu pun mengajak kedua tamunya untuk duduk di ruang tamu rumah itu. Sambil menunggu wanita barbie itu mengambilkan minuman dan cemilan untuk Rayn dan Mega. Nampaknya keringat Rayn semakin bercucuran, bahkan keningnya pun menimbulkan beberapa bulir keringat yang nampak kentara.


"Rayn. Kamu ko keringetan? Sakit?" ujar Mega yang langsung mengeluskan punggung tangannya ke kening Rayn.


"Enggak ko. Aku gerah aja. Huh. Gak nyangka ya. Rumah hacker bernama Brain itu mewah begini. Apa wanita berwajah barbie itulah orangnya?" bisik Rayn pelan.


"Ngaco kamu. Mana mungkin dia hacker." Mereka berdua pun menghentikan pembicaraanya, saat wanita itu membawa tiga gelas nampan berisi air minum yang segar pada kedua tamunya. Sepertinya es jeruk, karena berwarna orange dan harumnya sampai ke indra penciuman kedua gadis itu.


"Minumlah. Pasti kalian kelelahan saat perjalanan ke sini," ujarnya ramah.


"Ya, terimakasih. Sebenarnya, kami membawa oleh-oleh ke sini," ucap Mega sambil menyodorkan makanan khas Eropa dari restorannya itu.


"Wah, makasih banyak loh. Jadi ngerepotin gini. Oh iya, ini temen kamu ya?" tanya bule itu sambil menatap insten Rayn dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Iya, sama-sama. Justru kami yang merepotkan. Hem, Ini Rayn. Sahabatku." sahut Mega sambil tersenyum.


"Oh iya. Hacker bernama Brain itu, mana ya?" ucap Mega lagi.

__ADS_1


"Kalian mau tau apa pura-pura bodoh sih?!" seketika, raut wajah bule itu terlihat sangat menyeramkan.


****


__ADS_2