Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 32


__ADS_3

"Loh, kamu kenapa, Ki?" tanya bu Nyai Susi pada Saskia yang saat ini tengah berusaha menghentikan tangisnya.


"Eh, Bu Nyai. Nggak kenapa-napa kok, Bu. Tadi Saskia tersandung saja di jalan. Kakinya sedikit terkilir, jadinya nangis deh," ucapnya jujur. Ya, sebelumnya ia pun jatuh di depan asrama puteri karena saking tidak fokusnya, tapi tidak sampai terkilir juga. Ia beralasan, agar bu Nyai tak mencurigai alasan sebenarnya ia menangis.


"Innalillah. Tapi gak sampai luka kan?" bu Nyai pun nampak peduli dan menghhawatirkan Saskia.


"Tidak, Bu." Saskia tersenyum dan nampak memperlihatkan dirinya baik-baik saja. Padahal hatinya ia kecewa dan penuh rasa dendam pada Tiara.


"Baiklah. Maaf ya, menganggu waktu istirahat kalian. Ibu ke sini mau bawa pakaian Tiara. Terimakasih karena telah membersamai Tiara dengan baik selama ini."


Lili, dan Anisa pun yang mendengar penuturan Bu Nyai nampak terkejut dan melirik ke arah Saskia dengan wajah yang sudah tidak terkondisikan.


"Oh iya. Ibu hanya akan membawa beberapa pakaian saja. Sisanya, akan dibawa sendiri oleh Tiara. Hehe. Kebetulan Tiara sedang tidak enak badan. Kalau Yusuf yang bawa ke sini, kan gak mungkin," Perkataan bu Nyai barusan pun semakin menusuk relung hati Saskia.


"I-iya, Bu. Apakah kami perlu membantu bawaan barang-barang Tiara?" tawar Anisa.


"Boleh sekali, Nak. Terimakasih ya!" akhirnya mereka pun membantu bu Nyai untuk membawa semua barang Tiara. Begitupun Saskia, dengan berat hati ia membantu bu Nyai, walau sebenarnya hatinya sangat terluka.


"Alhamdulillah. Barang-barang menantuku ternyata tidak terlalu banyak. Terimakasih yah." ungkap bu Nyai lega saat semua barang Tiara sudah dibantu oleh teman sekamar Tiara sampai rumah.


"Iya Bu, sama-sama. Kalau begitu, kami permisi." ungkap Saskia diiringi yang lainnya. Mereka pun salaman dengan ta'dzim pada bu Nyai, lalu kembali ke asrama puteri.


"Apa Tiara tidak enak badan karena sudah..." racau Anisa. Seketika Lili pun menepuk bahu teteh kamarnya itu.


"Hei, inget.." bisik Lili pelan.


"Gapapa. Aku juga sudah menduganya kok. Mungkin benar, Yusuf itu memang lebih pantas bersama Tiara," ungkap Saskia sendu. Sedangkan Anisa dan Lili nampak tak enak hati.


"Yah, Teh. Jangan galau gitu donggg! Em, bukanya A Wisnu suka sama Teteh yaa sejak lama?" tanya Lili hati-hati.


"Hem, begitulah." jawab Saskia singkat.


"Apa nggak lebih baik kamu terima saja niat baik Wisnu, Ki?" timpal Anisa.


"Gak semudah itu mencintai. Aku tidak mencintai siapapun lagi selama ini, selain.. Ah, sudahlah. Aku izin istirahat sebentar ya. Lumayan dua jam. Nanti bangunkan aku saat akan shalat ashar." pinta Saskia pada kedua temannya itu.

__ADS_1


"Iya. Aku gak bakal tidur kok. Mau bikin jadwal patroli baru." ucap Anisa, sedangkan Lili nampaknya akan ikut tidur juga.


"Jangan sampai. Diriku. Bisa yuk! Kamu harus ikhlas." gumam Saskia dalam hatinya.


**


**


Sedangkan di dalam kamar, nampaknya gadis itu tengah gelisah. Ia nampak masih tak habis pikir. Seberani itu seorang Yusuf menggantikan pakaian untuknya. Ia semakin benci saja pada orang yang sudah menyandang gelar sebagai suaminya itu.


"Maaf loh Ti. Aku juga gak mau sebenarnya. Tapi, siapa lagi coba yang mau memakaikan baju untukmu." ungkap Pria itu santai. Sementara sang isteri malah menatap tajam ke arahnya.


"Seharusnya kamu jangan seberani itu. Aku gapapa kok seandainya harus pakai kimono basah. Argh! Sudahlah! Lupakan apa yang kamu lihat. Aku mau tidur." ungkapnya yang langsung menelusupkan dirinya ke dalam selimut.


Sebenarnya Tiara bukan benci-benci amat. Tapi ini masalah harga diri. Ia merasa malu, karena aurat yang telah ia jaga selama ini harus diperlihatkan pada lelaki yang tak ingin ia anggap sebagai suaminya.


"Mau apa kamu?" ungkap Tiara yang kaget, karena Yusuf pun ikut rebahan di kasur yang sama denganya.


"Ya mau tidur juga lah"


"Emangnya kenapa? Aku harus tidur di lantai gitu?" ia pun nampak asyik menggoda isteri kecilnya itu.


Yusuf telah berjanji pada dirinya, bahwa ia akan terus bersabar dan menurunkan egonya, demi mempertahankan rumah tangganya itu.


"Ck, ngeselin." ketika Tiara hendak berdiri, seketika tangan kekar Yusuf menahannya. Tiara pun akhirnya ambruk ke atas tubuh Yusuf.


"Aaaa!!" pekik Tiara sangat keras. Yusuf pun membekam mulut isterinya itu. Namun posisi mereka lagi-lagi membuat Tiara memberontak.


"Kamu!!!" ucap Tiara tidak jelas, karena Yusuf masih membekamnya.


"Tidurlah. Aku tidak akan macam-macam." kini Yusuf membaringkan Tiara sangat lembut. Sementara Tiara jadi salah tingkah.


"Awas ya kalau berani macam-macam." ancamnya. Namun Yusuf malah membalasnya dengan senyuman.


"Aku tidak akan menyentuhmu. Aku akan menunggumu saat kau telah siap. Percayalah." Hal itu sontak membuat hati Tiara berdesir. Entah kenapa, dirinya serasa diistimewakan. Namun ia tepis jauh-jauh perasaan itu. Ia akan tetap teguh, membuat Yusuf jengah olehnya hingga ia pun menceraikanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu nekad nikahin aku? Aku kan masih di bawah umur. Apa kamu tidak kasihan padaku? Kamu benar-benar menghancurkanku." ungkap Tiara sendu. Bulir-bulir air mata pun sudah siap keluar dari sudut matanya.


"Aku hanya ingin menjagamu, Tiara. Lagian, aku juga akan berpisah cukup lama denganmu. Saat aku kembali lagi ke sini. Pikirkanlah baik-baik tentangku. Apakah kamu masih menyesal menikah denganku? Tapi jangan pernah berharap. Aku akan menceraikanmu."


"Kamu jahat! Kamu Jahat!" Tiara pun tak bisa memendam lebih lama rasa kesalnya. Ia pun memberontak dan akhirnya memukul Yusuf keras-keras.


"Kamu boleh membenciku. Kamu boleh menumpahkan rasa kesalmu. Tapi kamu jangan membenci orangtuamu. Mereka sangat menyayangimu. Percayalah, orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya."


"Tapi nggak harus nikah sama kamu juga kan?" ungkap Tiara yang masih emosional.


"Ti! Aku akan membebaskan keinginanmu. Kalau kamu setelah lulus dari Pesantren ini ingin kuliah, aku izinkan. Ingin kerja? Aku izinkan. Aku tidak akan menghalangi cita-citamu. Jujur, aku hanya ingin menjagamu."


Kini mereka pun saling memandang. Kedua mata mereka bertemu satu sama lain. Tiara pun menatap lebih dalam manik mata pria itu. Ia ingin melihat, apakah Pria itu tengah berbohong padanya?


"Janji?"


"Janji."


Kedua insan itu pun akhirnya bisa berdamai. Meskipun cinta belum tumbuh dalam hati Tiara. Nampaknya Yusuf tidak seburuk yang ia kira. Ia sedikit lega, karena Yusuf akan membebaskan keinginanya. Ia pun tak egois, malah Yusuf sendiri yang mengalah dan mengikuti keinginanya.


"Makasih, Yusuf. Aku akan memegang janjimu. Aku harap, kamu bisa menepati janji kamu."


"Ya, tentu. Percayalah, aku hanya ingin membahagiakanmu. Melihat kamu bahagia, aku pun akan bahagia. Maka, kamu harus nurut pada suamimu ini, ya?"


"Ko harus nurut sih? Kamu mau ngapain aku?" seketika Tiara salah paham.


"Eh, maksud aku. Patuhlah selama tidak ada aku di sini. Jadilah istri yang baik, sekaligus santri yang ta'at saat aku tidak di sisimu. Itu saja."


"Oh. Kalau itu. Aku usahakan."


"Emangnya kamu mikir apaan, hayoh?" kini Yusuf kembali menggoda si istri kecilnya itu.


"Nggak! Apaan sih." Tiara pun salah tingkah dan memilih memunggungi pria tampan itu. Sedangkan Yusuf masih menatap lekat-lekat punggung istrinya itu.


"Semoga Allah membukakan hatimu untukku, Ti. Aku harap, kamu bahagia bersamaku." pintanya dalam hati.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2