
Sementara di pondok pesantren, kini semua orang resah tak karuan. Hilangnya Tiara membuat semua orang menerka-nerka. Benarkah ada motif penculikan di dalamnya? Apakah Tiara memiliki musuh bebuyutan terselubung? Ataukah ini hanya prank semata, karena bisa saja Tiara kabur dari pesantre, akibat ketidakbetahannya yang sampai saat ini masih menjiwainya?
Ya, meskipun semakin hari ia menjadi santri yang semakin baik. Namun tak dapat dipungkiri, bahwa sisi pemberontak itu masih ada dalam dirinya. Seringkali ia pura-pura sakit hanya karena dia malas mengaji maupun setoran hafalan quran. Pernah juga dia pura-pura ke luar pesantren dengan dalih membeli keperluan bulanan, eh ternyata dia pergi ke bioskop seorang diri dan menikmati jamuan makanan ataupun minuman yang sudah lama tak ia cicipi seperti di kota Jakarta.
Hebatnya, kelakuan Tiara itu belum diketahui siapapun semenjak ia masuk pesantren. Ia sudah seperti intellijen yang berpura-pura baik-baik saja, namun dirinya melakukan hal-hal di luar dugaan. Ya, hal itu rutin ia lakukan minimalnya dua minggu sekali, tepatnya di hari Jum'at. Hari jum'at di pesantren Ar-Rizqon memanglah hari yang sakral. Selain waktu belajar di dalam kelas yang singkat, karena para ikhwan (pria) harus jum'atan, maka sekolah pun membubarkan murid sekaligus santrinya itu tepat pukul 11 siang. Nah, waktu senggang itulah Tiara gunakan untuk kesenangan pribadinya.
Berjalan dua bulan, Tiara memang sudah merasa nyaman tinggal di Pesantren. Apalagi keluarga bu Nyai Susi dan Kiai Rifki yang seringkali memanjakannya, tak heran para santri pun ada yang dibuat iri dengki oleh sosok Tiara. Apalagi para santri yang mengagumi Yusuf, sang anak pemilik pondok pesantren. Banyak haters Tiara di sana yang membuatnya harus hati-hati, tak terkecuali teman dekatnya yang terkenal baik, yaitu Saskia.
Ya, sampai saat ini Saskia masih belum menerima, bahwa Tiara memang sedekat itu dengan keluarga Pesantren. Ia pun masih tak tahu, bahwa dibalik kedekatan itu ada sesuatu yang tak ia ketahui. Mungkin saja jika ia tahu, saat itu juga ia langsung benci pada sosok Tiara. Ya, masalah hati siapa yang tahu? Semua orang berhak mengapresiasi keinginannya untuk mencurahkan unek-uneknya dalam benaknya.
Gak semua orang bisa mengerti diri kita sekalipun dia sangat dekat dengan kita. Yang bisa mengertimu, hanyalah dirimu. Kamu tak bisa menggantungkan orang lain terus-terusan dalam hidupmu. Kamu harus berdiri di atas kakimu sendiri dan buktikan bahwa kamu mampu menghadapinya seorang diri. Tak peduli kau nangis darah sekalipun, karena dunia ini hakikatnya menuntutmu untuk memiliki mental yang kuat.
Itulah pikiran Tiara selama ini, apalagi saat orangtuanya seperti berjarak darinya dan membiarkan dirinya menjadi pribadi yang mandiri. Namun ia juga jengah, ia serasa terkurung dalam jangkar yang sulit sekali untuk keluar dari sana. Maka modus-modusnya selama di pesantren itu adalah senjata baginya, untuk menikmati dunia luar walaupun dia masih berstatus santri di pesantren.
"Bu Nyai, jangan kaget. Saya menemukan foto-foto Tiara di Mall, tepatnya di dekat kota ini," ungkap Fadli, santri yang bisa melacak keberadaan seseorang. Namun ia malah menemukan fakta mencengangkan dari sosok Tiara.
__ADS_1
"Coba ibu liat." Susi pun melihat sejumlah foto yang menampilkan Tiara sedang duduk di Cafe. Ada juga foto-fotonya yang sedang berbelanja maupun sedang membeli ticket bioskop, tak terkecuali karaokean.
"Astaghfirullah. Kok saya sampai gak tahu, Tiara ini sering keluar dari ponpes. Mana ke kota itu kalau dari sini jaraknya hampir satu jam. Kira-kira, dia sama siapa? Ada foto yang lainnya juga kah?" gumam bu Nyai Susi yang nampak terkejut sekaligus miris melihat sosok calon mantunya yang seperti itu.
"Gaada, Bu Nyai. Saya meretas foto-foto ini dimulai dari CCTV sekitar jalan, melaju ke gedung-gedung penting, termasuk Mall. Hasil yang saya dapatkan hanya segini dan kemungkinannya, Tiara ke Mall itu seorang diri," ungkap Fadli apa adanya.
"Ya sudah, coba kamu print ya! Nanti kasihkan pada Ibu. Semoga polisi pun segera menemukan keberadaan Tiara," harap bu Nyai Susi.
Entah saat ini dirinya kecewa ataukah harus khawatir? Saat ini ia pun dilema, karena rupannya kecemasan orangtua Tiara itu nyata. Seandainya ia tidak termakan sikap polos Tiara, mungkin kejadian Tiara yang sering keluar-masuk pondok seenaknya tak akan terjadi. Kini, ia bertekad. Setelah Tiara ditemukan kembali. Ia akan menjaganya dengan ketat, dan membentuk Tiara menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
...----------------...
"Nak, maafkan anak saya ya! Karenanya, kamu harus melalui semua ini. Ini di luar dugaan saya. Tolong jangan sampai Papa kamu tahu, bahwa anak saya lah yang menyebabkan kamu seperti ini," pinta Om Reza. Papa Dhika yang saat ini akan bertanggungjawab membawa pulang Tiara dari rumahnya.
"Memangnya, ada hubungan apa Om sama Papa saya?" tanya Tiara. Saat ini dirinya sudah lebih baik, karena Dhika sudah tidak ada lagi di sekitarnya.
__ADS_1
"Kami menjalin kerja sama yang baik selama bertahun-tahun. Saat ini, perusahaan Om sedang stabil-stabilnya. Semua itu berkat pertolongan Papa kamu, Raihan. Maka, ketika saya tahu, ini bukan yang pertama kalinya Dhika mengusikmu. Saya langsung pulang dari Singapura dengan dalih anak saya sakit. Padahal saya ingin menghentikan tingkah konyol Dhika yang terobsesi dan ingin mengurungmu di sini. Sekali lagi, saya minta maaf ya, Nak," ungkap Reza tulus.
Reza merupakan pebisnis yang bisa dibilang tersohor juga seperti Raihan. Apalagi mereka berteman dengan baik karena sebuah bisnis. Maka tatkala Reza mendengar anaknya berlaku yang tidak senonoh, apalagi ia baru tahu, anaknya itu sempat menusuk orang tempo lalu saat di pantai Ancol. Ia semakin geram, dan bodohnya, ia baru memperhatikan kembali anaknya yang memang kurang sekali perhatian darinya. Mungkin itu sebabnya Dhika bertindak brutal seperti ini, karena tak ada sosok orangtua yang menyokong mentalnya apalagi memberinya kasih sayang.
Tiara pun berpikir sejenak. Memang ia sedikit terguncang jiwanya. Apalagi orang yang melakukan itu adalah Dhika. Orang yang sama sekali tak ia duga, bisa bertindak seperti ini padannya. Namun ia juga menghargai pengorbanan Om Reza yang bela-bela pulang dari dinasnya, demi dirinya yang saat ini terancam menjadi korban pelecehan Dhika. Satu ide dalam pikiran dia saat ini, yaitu menenangkan diri di rumah salah satu sahabatnya.
"Baiklah, Om. Saya tidak akan mengadukan hal ini pada Papa. Namun, jika Dhika mengulangi hal yang sama pada saya kapanpun itu. Jangan salahkan jika saya akan menuntut lebih pada Om. Jujur, saya tidak menyangka, anak Om bisa bertindak seperti itu. Saya pun sangat menyayangkan, Dhika yang kelihatannya seperti orang baik, ternyata memiliki jiwa-jiwa brutal seperti itu." ucap Tiara terang-terangan. Reza pun tak tersinggung, bagaimanapun memanglah benar anaknya itu bersalah. Ia tak ingin membela anaknya yang sudah terlanjur menjadi penjahat itu.
"Terimakasih nak Tiara. Saya sangat bersyukur, karena nak Tiara sudah memaafkan kejadian kali ini. Saya juga akan pastikan, bahwa kejadian ini takkan terulang kembali. Lalu, untuk menebus kesalahan saya sekarang. Apakah nak Tiara akan saya antar ke pesantren lagi atau bagaimana?" tawar Reza.
"Ya, sama-sama Om. Kalau boleh, saya ingin diantarkan ke Jakarta saja, lebih tepatnya ke rumah teman saya. Dan juga, kalau Om Reza ini sudah berangkat ke Singapura lagi. Tolong, jangan buat orangtua saya tahu akan kejadian ini. Saya ingin menenangkan diri dulu, lalu saya pun akan pulang lagi kok ke pesantren," ungkap Tiara.
"Oke. Kalau begitu saya antar saja Nak Tiara sekarang yaa sebelum Dhika mencurigai bahwa kamu sudah meninggalkan tempat ini,"
"Mari Om, itu lebih baik," Tiara pun bersiap-siap dan bergegas pergi dari ruang tamu itu. Mereka pun akhirnya menebus jalanan raya yang gelap gulita, karena saat itu kebetulan hari sudah semakin malam.
__ADS_1
...----------------...