Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 21


__ADS_3

Lelaki tampan berwajah kearab-araban itu nampak termenung memikirkan bisnisnya yang terancam gulung tikar. Belum lagi skripsinya yang selalu ditolak oleh dosen pembimbingnya. Rasanya ingin frustasi menghadapi problematika hidupnya, namun ia ingat, bahwa ini adalah ujian semata dari Rabb-Nya. Ia percaya, bahwa dibalik kesulitannya pasti akan ada kemudahan.


"Suf. Yakin bakal nutup bisnis lu minggu depan?" tanya seorang pemuda bernama Zae. Ia adalah sahabat karib Yusuf di kampusnya.


"Ya mau gimana lagi, Zae. Gak nyangka, bi Tata yang aku percaya buat ngelola bisnis ternyata bertindak korupsi. Eh, sekarang dia pergi entah ke mana," jawab Yusuf lesu.


"Harusnya sih dari awal lo jangan terlalu percaya orang. Walaupun keliatannya baek, tapi belum tentu juga kan dia bakal amanah? Yah, maafin gue. Gak bisa bantu lo, terutama dalam hal materi," ungkap Zae yang ikut merasakan sedih.


"Gapapa, ini pembelajaran hidup paling berharga menurutku. Semoga ke depannya aku lebih hati-hati lagi, terutama dalam mempercayai orang lain. Dunia ini memang tak semuanya harus berjalan baik, tapi kita juga harus hati-hati dalam menyikapinya. Mungkin aku pun akhir-akhir ini stress mikirin skripsi yang tak kunjung di acc. Jadinya imbas ke bisnisku ini." ucap Yusuf tegar.


"Emang ada masalah apa dengan penelitian lo? Bukanya data lo itu sudah relevan dan sesuai sama teorinya yah? Apalagi yang dipermasalahin oleh dosen pembimbing lo?" tanya Zae kembali. Pasalnya Zae sendiri udah beres menyelesaikan skripsinya, ia tinggal menunggu jadwal sidang munaqosahnya.


"Masalahnya ada di data penelitian yang aku cantumin. Ternyata, aku gak boleh nyantumin dalil dari al-Quran sebagai penguat argumen dataku. Kan ngeselin, iya gak? Masa gak boleh gitu loh. Kita kan jurusan hukum. Ya gak harus melulu tentang pasal dan hukum negara aja. Kalau ada sangkut pautnya sama al-Quran, kenapa nggak? Asli, bingung banget ngadepin dosen yang terlalu realistis," keluh Yusuf.


"Lo sabar ya? Gue juga gak bisa bantuin, secara kan gue gak terlalu tau agama lo. Tapi hebat, kita bisa nyambung gini, padahal beda agama. Makasih ya Suf, karena lo mau jadi sahabat yang baik." tutur Zae. Ia memang beragama kristen katolik.


"Gapapa kali, Zae. Justru aku yang harus berterimakasih. Kadang kalau lagi future, lo nyemangatin buat sholatlah, dzikirlah, baca quranlah. Jujur, salut banget sama toleransi kamu. Semoga kita tetap berteman baik yah," kata Yusuf tulus.

__ADS_1


"Sudah seharusnya kita saling toleransi satu sama lain. Kan negara kita itu, 'Bhinneka Tunggal Ika berbeda-beda tapi tetap satu' iya gak?" Zae pun tertawa kecil, karena Yusuf yang semula tak bergairah, jadi ceria kembali.


"Mantap Pak Zae. Aku dukung deh, kamu jadi seorang politikus, biar Indonesia makin jaya!" racau Yusuf pada sobatnya.


"Hih, tau gak? Gue tuh gak terlalu pengen terjun ke dunia politik. Kayaknya, gue salah deh ngambil jurusan Hukum. Secara nyokap-nyokap gue, gak ada satu pun yang terjun ke dunia politik. Mamah jadi dosen, Ayah gue pebisnis. Lah anaknya? Nggak deh Suf. Keknya gue pengen jadi pebisnis juga kayak Papah," curhat Zae berterus terang pada Yusuf.


"Lah, kenapa? Padahal kritis banget otak kamu tuh. Harusnya kamu terima aja jadi pengacara atau jaksa pas kemarin magang. Cocok loh kamu di kedua profesi itu. Tinggal pilih aja, mana yang bikin kamu nyaman. Yakin, perlahan-lahan hukum di Indonesia tuh berubah menjadi hukum yang menjunjung keadilan masyarakatnya, bukan pejabat atau orang yang berkuasa dan banyak duit yang bisa ngotak-ngatik pemerintahan gitu aja, lalu menindas kaum yang lemah. Tangkap tuh para koruptor atau penjahat yang serakah. Ngapain kita nyuburin mereka di negeri ini. Bukankah tugas kita sebagai mahasiswa menegakkan keadilan itu?"


"Gak semudah itu, Yusuf. Lo tau kan, ada beberapa kasus yang melibatkan para mahasiswa yang menentang pemerintah demi membela masyarakatnya. Tapi apa responnya? Nihil! Kita tuh sebagai mahasiswa kayak udah gak ada lagi harganya. Sekarang tuh zaman uedan. Yang kuat makin dijunjung, yang lemah makin ditindas. Kita gak bisa ngubah itu semua kalau gak ada kekuatan, betul? Makannya kekuasaan itu harusnya jatuh pada orang yang berhak memberi keadilan. Tapi sayang, hal itu tuh udah sangat minim di zaman ini. Entahlah, kayaknya ngomongin politik tuh makan ati. Ujung-ujungnya pailit gak ada solusi, ya mending rakyat biasa kayak kita mah diem aja. Mau memberontak pun, gak akan mempan,"


"Iya, Suf. Betul banget. Ya udah, gue ternyata harus datang ke pabrik nyokap nih. Cabut dulu yah!" pamit Zae.


Kini Yusuf pun merenungkan kembali rencananya untuk merevisi data skripsinya. Pokonya dia harus beres sebelum pendaftaran sidang munaqosah ditutup bulan ini. Setelah itu, ia pun akan mendatangi restorannya dan coba mencari solusi atas kerugian yang terbilang cukup banyak itu.


"Oh iya. Apa aku kontek Om Raihan aja gitu ya? Nanti kalau bisnisnya udah berjalan lancar kembali, di ganti deh. Eh, malu banget gak sih? Tapi mau gimana lagi," gumam Yusuf dalam hatinya.


...----------------...

__ADS_1


Di sudut pesantren, nampak seorang pemuda tengah memperhatikan gadis yang sedang menyapu halaman di dekat aula pesantren. Ya, pria itu adalah orang yang tempo hari terobsesi oleh pesona gadis itu. Ia nampak belum kapok, setelah dia kabur dan kehilangan jejak, saat peristiwa penusukan seseorang terjadi oleh dirinya.


Sayangnya, polisi tak dapat menemukan sang pelaku, hingga saat ini pelaku pun masih bersembunyi dan kini, ia menampakkan kembali di hadapan gadis incarannya. Ia nampak semakin menggebu-gebu, ingin menculik gadisnya itu dan membawanya kabur dari dalam pesantren.


"Li, kamu nyapu di sini aja, biar aku yang nyapu di luar gerbang pesantren," tutur Tiara pada Lili. Saat itu mereka sedang melaksanakan piket sore.


"Oke. Perlu aku temani gak?" tawar Lili.


"Gak usah. Lagian kan gak terlalu kotor di sana. Hanya menyapu bagian-bagian yang sering terkena debu dan daun dari arah samping saja," ucap Tiara yang kini melaju ke arah gerbang pesantren.


Ia tak mencurigai apapun. Padahal, kini penculik itu dengan siap siaga akan membawa Tiara pergi jauh dari pesantren.


Buk! Tiara pun dipukul di bagian tengkuk lehernya sedikit keras, sehingga ia pun tak sadarkan diri. Sementara cowok bertopeng itu segera membopong Tiara ke dalam mobilnya. Kini, tak ada siapapun yang menyadari, bahwa Tiara sudah diculik.


"Akhirnya, kamu sudah dalam dekapanku, my sweety." ungkap pria psikopat itu. Ya, dia adalah Dhika yang tempo hari menusuk Yusuf saat di Ancol.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2