
"Perjodohan kamu sama siapa, nak?" Kiai Rifki pun bertanya-tanya.
"Loh, astaghfirullah." ungkap Yusuf keceplosan. Hal itu membuat dirinya malu sendiri. Apalagi Ummi dan Aby-nya ternyata belum ia kasih tau sama sekali.
"Hehe, canda, Mi. Yusuf eror nih. Kayaknya efek dari operasi." kata Yusuf berkilah. Ia berniat memberi tahu kedua orang tuanya nanti saja saat di rumah saja. Padahal, kiai Rifki sudah tau dari Raihan, hanya Ummi-nya saja yang belum tau.
"Hih, Ummi udah kaget duluan. Kamu kan belum bisa move on dari Kirani. Tak kira kamu lagi deket lagi sama siapa gitu. Bikin kaget aja kamu, Suf." kata Ummi Susi yang langsung mencubit pipi anaknya itu.
"Aww, Mi. Sakit tau." keluh Yusuf sambil memegang pipinya yang sedikit memerah.
Yusuf pun akhirnya tersenyum bahagia, ia merasa akhir-akhir ini banyak sekali yang menyayanginya. Dulu, saat Ummi dan Aby-nya tidak harmonis. Yusuf begitu kesepian. Kakaknya Rabi'ah, memilih untuk kuliah di luar kota dan jarang sekali pulang. Paling hanya Idul Fitri dan Idul Adha saja sang kakak pulang. Itupun terpaksa, karena anak pertama itu cenderung egois dan ingin sesuka hati.
Sementara adiknya, sangat tidak peduli dengan keadaan yang ada. Ia memilih sekolah SMP sampai saat ini SMA di pesantren Jawa Timur. Hanya Yusuf saja yang merasakan pedihnya keretakan itu. Di tambah Kiai Rifki ternyata pernah ada niatan untuk menduakan sang Ummi. Hal itu sontak membuat keluarga kecilnya menjadi terguncang dan hampir saja di ambang kehancuran.
Pesantren yang tadinya banyak sekali santrinya, akibat masalah internal, banyak santri yang mengeluh dan akhirnya memilih untuk keluar dari pondok pesantren Ar-Rizqon. Hanya Yusuf saja yang bertahan tinggal di pondoknya, karena ia tetap sekolah dari SD sampai SMA di dalam pesantren. Lalu pada akhirnya, ia pun bisa bernafas lega, saat sang kakak bernama Rabi'ah itu kembali ke pesantren setelah kuliahnya selesai.
Rabi'ah mengabdi di pesantren selama empat tahun. Selama di pesantren, ia harus LDR-an dengan sang kekasih yang sekarang sudah menjadi suaminya. Suaminya adalah seorang Gus dari Jawa Timur, tempat sang adik menimba ilmu saat ini. Mereka bertemu saat keduanya kuliah di Bandung dan akhirnya memutuskan untuk menikah dan sang kakak saat ini ikut dengan suaminya mengabdi di pesantren.
Sementara Yusuf saat ini masih dalam proses skripsian, tepatnya di Jakarta. Ya, dia adalah Mahasiswa di Universitas Indonesia. Sehingga saat para santrinya memutuskan untuk liburan di Jakarta, tempat Yusuf kuliah. Maka yusuf sendiri-lah yang dengan senang hati mengantar mereka, ibarat jadi tour guide, lalu mengawasi santri-santrinya itu.
Di pesantren Yusuf, memang para santrinya selalu mengadakan Rihlah (Bertamasya). Kebetulan, rihlah itu diadakan setiap setahun sekali. Rihlah dijadikan program setiap tahun di pesantren, agar para santrinya itu tidak jenuh, dan mereka pun walau sebagai seorang santri, bisa merasakan tadabur alam maupun bertafakkur, mengingat bahwa kita hidup di dunia ini memanglah sementara.
Rihlah atau perjalanan, seringkali disangkut pautkan seperti halnya kehidupan kita di dunia. Di mana, kita ini sebenarnya hanyalah tamu saja yang sedang singgah sementara, lalu akan pulang ke rumah abadi kelak, yakni akhirat. Hanya ada dua pilihan, jika Allah menghendaki, maka tempat berpulangnya orang-orang beriman ialah Surga. Sebaliknya, mungkin jika orang-orang kafir atau disebut yang tidak beriman kepada Allah, maka tempat berpulangnya kelak adalah di Neraka. Naudzubillah.
Tahun lalu, para santri pun sempat berziarah ke Walisongo, mulai ke Cirebon, yakni tempatnya Syaikh Sunan Gunung Djati atau seringkali dipanggil dengan sebutan Syarif Hidayatullah. Lalu ke Gresik di Jawa Timur, tempatnya Sunan Gresik yang bernama asli Maulana Malik Ibrahim, beliau juga dikenal dengan sebutan Malik Maghribi. Di situ juga adalah makamnya Syaikh Sunan Giri, yang bernama asli Maulana 'Ainul Yaqin. Beliau pun sering disebut Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudro.
Lalu para santri pun berpetualang ke Surabaya, yakni ke tempatnya Syaikh Sunan Ampel yang disebut dengan Raden Rahmat. Nama aslinya, Raden Mohammad Ali Rohmatullah. Lalu ke makam Sunan Bonang yang berada di Tuban. Beliau merupakan putera keempat Sunan Ampel, yang bernama lengkap Maulana Maqdum Ibrahim. Setelah itu, mereka pun ke makamnya Syaikh Sunan Drajat di Lamongan. Beliau memiliki nama asli Raden Syarifuddin atau Raden Qosim. Beliau juga adalah puteranya Sunan Ampel, sekaligus adiknya Sunan Bonang.
Selanjutnya, beralih ke Jawa Tengah. Pertama-tama mereka mengunjungi makam Sunan Muria di Kudus. Beliau sering kali disebut Raden Umar Sa'id. Beliau merupakan wali termuda yang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah. Berlanjut ke makamnya Sunan Kalijaga di Demak. Ia sering kali dipanggil dengan Raden Said. Cara dakwahnya pun begitu fenomenal dan cukup terkenal di kalangan masyarakat, yakni yang biasa disebut wayang.
Kemudian mereka pun ke makamnya Sunan Kudus yang letaknya masih di Jawa Tengah yaitu daerah Pejaten, Kauman, Kudus. Ia juga sering kali di panggil dengan sebutan Ja'far Shadiq.
Ya, setiap tahunnya perjalanan rihlah itu terkadang berbeda-beda. Bagaimana hasil dari kesepakatan para santrinya. Kiai Rifki dan Bu Nyai Susi selaku pengasuh utama pun memberikan kebebasan pada para santrinya untuk memilih, ke mana mereka akan rihlah. Lalu para pengurus santri, atau yang biasa disebut Musrif/ah. Mereka lah yang akan mengurus para santrinya, baik di pesantren maupun di luar pesantren.
(Maksud di luar pesantren, yakni seperti kegiatan rihlah ini dan juga masalah urusan perpulangan para santri ke rumahnya maupun izin ke rumahnya, jika benar-benar ada urusan mendesak).
Begitulah kehidupan pesantren, memanglah terdengar capek-lah, gak betah-lah, menderita-lah. Tapi yakinlah, semua itu adalah pembelajaranmu kelak di kehidupan mendatang. Di mana saat kamu terjun ke masyarakat kelak, maka pembelajaran yang secara tidak langsung diajarkan di pesantren. Bisa diamalkan dengan baik suatu saat di lingkungan masyarakat.
...----------------...
"Tau gak? A Yusuf sekarang lagi dirawat di rumah sakit." ucap salah satu santriah bernama Citra. Ia memang santri yang terkenal ceriwis dan juga genit pada Yusuf.
"Loh, kok bisa? Bentar, kamu tau dari mana. A Yusuf di rumah sakit?" tutur Sekar, temannya Citra.
__ADS_1
"Barusan ada A Faisal di depan. Katanya, kita akan pulang hari ini. Mengingat A Yusuf pun dirawat, maka hanya ada pengurus pesantren saja yang menjaga kita. Sementara, setiap kita rihlah kan, A Yusuf selalu bertanggungjawab penuh. Mana kabarnya Bu Nyai sama Pak Kiai pun sekarang di rumah sakit. Jelas-lah, sakitnya A Yusuf itu pasti parah." ungkap Citra panjang lebar.
"Wah, kira-kira, A Yusuf kenapa? Padahal kemarin masih baik-baik saja deh?" pikir Sekar.
"Nah itu, aku juga khawatir sama calon suami aku."
"Idih, haluuuu. Gak bakal mau A Yusuf sama kamu. Sadar Citra, banguuuun!" teriaki Sekar tepat di gendang telinga Citra.
"Sialan, Lu! Liatin aja, gue pasti bisa jadi istrinya A Yusuf."
"Jangan terlalu percaya diri. Orang modelan A Yusuf, pasti udah punya cewek atau nggak dijodohin sama bu nyai, pa kiai." peringatkan Sekar pada Citra.
"Heuh, terserah, ah! Yang penting, aku berharap. Aku juga berusaha kali, secara, aku kan cantik juga. Mana mungkin A Yusuf nolak."
"Hei kalian. Jangan pada ribut. Ayo masuk ke hotel. Kita harus segera berkemas. Sebentar lagi bus akan datang." tegur salah satu musyrifah, yang melerai perdebatan kecil antara Sekar dan Citra.
"Baik, Teh." ucap mereka berdua kompak.
"Huh. Dasar musyrifah nyebelin!" ungkap Citra sebal.
"Makannya, jangan terlalu haluu. Nanti jatuhnya sakit bangett." ledek Sekar yang kini menjauh dari arah Citra.
"Awas ya, kamuuu!" Citra pun mengejar Sekar yang sudah berada jauh di hadapannya.
"Kak Rafa?" sapa Tiara kaget, karena lelaki itu sudah duduk di sampingnya. Tepatnya di kursi taman rumah sakit yang secara tidak langsung menghadap ke arah pancuran air yang begitu indah saat di pandang.
"Pangling. Kamu makin cantik aja, Ti." ucap lelaki bernama Rafa itu.
"Ah, enggak. Justru aku gak nyaman. Ko aku sekarang berubah jadi gini? Apa ini aku? Aku masih bingung, apakah keputusanku sudah benar." curhatnya pada lelaki itu.
"Benar atau tidak. Itu tergantung dirimu, Ti. Kalau pandangan aku sih sebagai lelaki. Memandang wanita sepertimu itu sangat mahal. Kenapa? Karena mutiara akan sangat indah dan takkan pernah tersentuh oleh siapapun. Keindahannya akan abadi dan tidak bisa dinikmati oleh sembarangan orang. Begitulah gambaran para wanita yang menjaga auratnya, kehormatannya, juga kesucian dirinya. Maka, hanya lelaki sejati pula-lah yang akan mendapatkan wanita itu, dan tak mungkin sembarangan pria yang mendapatkannya." tutur Rafa jujur.
"Indah sekali perumpamaannya. Andaikan kamu mau jadi kekasihku, kak Rafa." gumam Tiara dalam hatinya.
Fyi : Rafa adalah kakak kelas Tiara waktu di SMP.
"Em, bagus. Kakak ternyata pandai berkata-kata." puji Tiara pada Rafa.
"Hehe, gak juga. Itumah kebetulan aja. Btw, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Rafa.
"Lagi jenguk teman yang sakit, kak. Kaka sendiri?" tanya Tiara balik.
"Lagi nganter ibu. Kebetulan ibuku dari kemarin dirawat di sini. Mohon do'anya ya." ucap Rafa tulus.
__ADS_1
"Semoga ibu kakak, segera sembuh dan penyakitnya segera diangkat, ya." harap Tiara.
"Aamiin. Terimakasih Tiara."
"Oh iya, kamu udah lulus nih. Rencana mau sekolah ke mana nih?" tanya pemuda itu kembali.
"Aku.." belum sempat mengatakan, tiba-tiba saja Tiara dipanggil oleh seseorang dari kejauhan.
"Yusuf? Ngapain dih manggil aku segala." gumam Tiara pelan sambil mengkerutkan halisnya.
"Itu temen kamu, Ti?" ucap Rafa yang langsung menoleh ke sumber suara.
"I-iya." kata Tiara terbata.
Yusuf pun saat ini menghampiri Tiara menggunakan kursi roda. Ia di dorong oleh Faisal yang kebetulan saat itu Faisal langsung menjenguknya setelah ia pergi ke daerah Bogor mengantar kedua orangtuanya.
"Oh ini, yang namanya Tiara itu?" gumam Faisal sambil tersenyum ngeledek ke arah Yusuf.
"Berisik!" kata Yusuf mencebik.
"Udah mendingan?" sapa Tiara pada Yusuf. Sementara Yusuf saat ini menyelidik lelaki yang ada di samping Tiara. Ia tidak menjawab pertanyaan Tiara.
"Kenalin. Aku Rafa." sapa Rafa pada Yusuf.
"Yusuf." jawabnya datar.
"Ini kakak kelas aku." kenalkan Tiara pada Yusuf.
"Oh." seketika, suasana pun menjadi canggung.
Memang Yusuf tak berhak cemburu, karena bagaimanapun perjodohannya masih dirahasiakan dan Tiara pun belum mengetahuinya. Maka sekuat tenaga, ia menahan amarah cemburunya. Lalu membiarkan Tiara melanjutkan kembali perbincangannya dengan lelaki itu, walau tak dapat dipungkiri, hati Yusuf memanglah sedikit terluka.
"Ti, aku pamit dulu ya! Takutnya ibu nyariin aku." pamit Rafa pada Tiara. Tiara pun menganggukkan kepala, lalu memperhatikan Rafa sampai ia menjauh dan menghilang dari pandangannya.
"Ekhem." dehem Yusuf pada Tiara.
"Eh." Tiara pun salah tingkah. Ia tak sadar, saat itu Yusuf masih di sana.
"Kamu suka ya, sama cowok itu?" selidik Yusuf.
"Em, gimana ya? Kalau dibilang suka, ya suka. Tapi, gimana takdir Allah aja. Kalaupun berjodoh, insyaaAllah bakal dipertemukan kembali." kata-kata Tiara barusan membuat hatinya tergores begitu pedih.
Sementara saat ini, Faisal menganga mendengar penuturan tersebut. Baru kali ini, ia melihat lelaki modelan Yusuf tercampakkan. Ia tak menyangka, tipe Tiara memanglah bukan seperti Yusuf yang gantengnya itu khas lelaki Arab. Melainkan modelan seperti Rafa, yang wajahnya itu seperti Jefry Nichol.
__ADS_1
...----------------...