
Di rumah Rere...
"Loh, Nak Tiara sejak kapan ke sini?" sapa tante Ratna yang terkejut melihat Tiara pagi hari sudah membantu ART di dapur.
"Eh, Tante." Tiara pun langsung menyalami tante Ratna, lalu mereka pun berbincang hangat di ruang makan.
"Tante denger, Nak Tiara mondok ya di sebuah pesantren?"
"Iya, Tan. Cuma sekarang lagi libur dulu. Kalau boleh, Tiara ikut nginep tiga harian di sini. Apa tidak menganggu, Tan?" ucap Tiara sungkan. Ia berbohong karena takut diadukan pada kedua orangtuanya perihal kedatangannya ke rumah Rere.
"Oh, libur. Kirain ada apa, hehe. Ya boleh lah sayang, masa gak boleh," ucapnya sambil tersenyum.
Di sana memang hanya ada Tante Ratna saja, sedangkan Ayah Rere sudah pergi ke perusahaan sejak pagi karena ada rapat penting.
"Ti!" teriak Rere dari lantai dua.
"Eh, kamu udah bangun?"
"Udah lah. Kok kamu ninggalin aku sih?!" gerutu Rere yang kesal, ia pun langsung menuruni anak tangga dan menghampiri keduanya.
"Lah, kamu gak shubuh dong, Re?" selidik Ratna sambil mendelik ke arah anaknya.
"Hehe, shubuh lah, Bunda. Rere tuh ketiduran lagi. Tadinya mau ikutan tadarus sama Tiara. Cuma mata ini udah pada manggil-manggil terus buat tidur lagi ke kasur. Jadinya bablas deh," ucapnya sambil mengunyah.
"Haduh, ini nih kebiasaan anak Tante paling sholehah. Udah diceramahin juga sama ustadz Danu biar jangan tidur kalau sudah shubuh. Ya malah jadi rutinitasnya,"
"Ih, Bunda.." ucap Rere manja.
"Nak Tiara, udah dari sini berarti pulang yaa ke rumah? Apa mau langsung ke pesantren?" tanya Tante Ratna lagi.
"E-eu.. Sepertinya ke Pesantren, Tan." ungkapnya gelagapan.
Permisi! Ungkap suara dari arah luar pintu.
__ADS_1
"Eh, siapa tuh?" kata Rere yang penasaran. Akhirnya ia menghampiri ke arah pintu dan membukanya.
"Polisi?" gumamnya dalam hati.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Rere tenang.
Saat itu polisi yang datang ke rumah Rere cuma dua orang sehingga Rere cukup lega, karena ia takut seperti kejadian tiga tahun lalu, yang mana Ayahnya itu dituduh penggelapan dana perusahaan. Padahal ia sendiri dijebak dan beruntungnya tidak terbukti bersalah. Pada waktu itu, Polisi datang sangat banyak, hingga Bundanya pun menangis dan dilarikan ke rumah sakit. Hal itu menjadi trauma tersendiri bagi Rere.
"Apakah di sini ada saudara yang bernama Tiara?" tanya Polisi itu tegas.
"Hah, kok nanyain si Tiara sih? Harusnya ini Polisi datang tuh ke rumah si Dhika sialan, bukannya nyariin Tiara," lirih Rere dalam hatinya. Ia tidak tahu, padahal Polisi tadi adalah utusan dari Pesantren Tiara yang sedang mencari keberadaanya.
"Mbak?" tegur Polisi satunya lagi.
"Eh, gimana pak? Tiara? Enggak tuh. Bapak salah alamat mungkin.. Aku tuh namanya Rere dan Bundaku namanya Ratna. Ayahku bernama Adit yang sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaan X." ungkap Rere dengan nada polosnya.
"Oh, gak ada ya, Mbak? Beneran?" tekan Polisi itu lagi.
"Hih, kok bapak polisi ini gak percayaan sih?! Pak, jangan buat trauma saya kambuh lagi yah! Gimana kalau saya dilarikan ke rumah sakit gara-gara kalian berdua. Saya punya penyakit yang gak bisa ditekan-tekan atau dituduh sama orang loh!" ancam Rere dengan siasat liciknya. Kedua polisi itu pun saling pandang. Mereka berdua pun akhirnya menyerah dan meninggalkan kediaman Rere dengan tangan hampa.
"Re, ada apa?" ungkap Bundanya tiba-tiba. Sontak Rere pun kaget karena melihat Bundanya sudah tepat di balik pintu.
"Oh, itu.. Ada tukang kurir salah alamat. Udah dibilangin bukan Rere yang pesan paket, eh malah ngotot gitu.. Kesel kan jadinya," ucap Rere berkilah.
"Haduh, untung.. Selamat-selamat.." tenangnya dalam hati.
"Bunda lagi ngapain di sini? Kirain gak bakal nyusul aku ke luar," ucap Rere sambil berlalu. Sementara Ratna yang mendengar semua percakapan Rere dengan Polisi tadi semakin curiga, bahwa keduanya menyembunyikan sesuatu darinya.
...----------------...
"Ndra.. Ada yang aneh.. Anakmu sekarang lagi di rumah aku nih. Bilangnya sih libur di pondok, tapi kok aku ragu yaa?" ungkap Ratna dibalik teleponnya.
"Hah? Seriusan Rat? Tiara ada di situ?" ungkap Sandra yang terkejut di sebrang telepon. Saat ini dirinya masih dinas di Singapura. Ia pun tak percaya dan tak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya.
__ADS_1
"Beneran. Katanya mau tiga harian di sini. Udah gitu mau ke Pesantren lagi. Sebelumnya, aku gak bermaksud ngusir ya, Ndra," ungkap Ratna jujur apa adanya.
"Yaudah deh. Hari ini, aku sama Mas Raihan mau ke Indonesia. Kamu jagain terus anakku di sana, ya? Makasih banyak loh udah mau bilang-bilang kayak gini." puji Sandra pada sahabatnya.
Ya, persahabatan keempatnya memang bukan murni karena mereka bersahabat sejak SMP, melainkan karena para orang tuanya pun saling sahabatan sehingga Tiara, Mega, Rayn, dan Rere pun meneruskan tali persahabatan para orangtuanya itu.
"Oke. Hati-hati say! Udah dulu ya.. Rencananya mereka berdua mau ke mall tuh, aku juga mau ikut sekaligus ngawasin mereka," kata Ratna sambil menutup telepon.
Sandra pun yang sekarang di Singapura sangat cemas. Pasalnya dari Pesantren pun tak ada kabar apapun tentang kondisi anaknya. Apa memang sedang libur? Sebagai Ibu nalurinya sangat kuat. Akhinya ia pun chat bu Nyai Susi untuk meminta kejelasan dan pembenaran, seandainya dirinya benar Tiara ada apa-apa. Hari ini juga, dirinya dan suaminya akan pulang ke Indonesia.
...----------------...
Di Mall..
"Bunda.. Itu ada boneka bear lucu banget.. Rere mau.." rengeknya pada sang Bunda dengan wajah memelas dan menggemaskan.
"Nggak! Kamu mau sampai kapan ngoleksi boneka. Boneka kamu udah numpuk di kamar. Gak baik loh berlebihan gitu. Harusnya kamu sumbangkan saja ke anak yatim biar lebih berkah lebihpada nimbun kayak gitu malah ngeberatin hisab nanti di akhirat. Iya gak, Ti?" kata Bunda Ratna yang sedikit tegas. Ya, baru kali ini dia melarang anaknya beli boneka.
"Ko Bunda berubah sih? Kenapa Bunda jadi galak begini? Ini beneran Bunda kan?" kata Rere memastikan.
"Haduh.. Nak Tiara.. Coba ceramahin sahabatmu itu, biar paham. Apa yang Tante obrolkan betul tidak? Kamu lebih paham ilmunya." ucap Tante Ratna serius.
"Beneran, Ti?" kini Rere memastikan jawaban dari sahabatnya itu.
"Sebetulnya, Ulama Syafi'iyah, Malikiyah dan Hambali membuat alasan dalam rangka menggembirakan anak perempuan, bahwa mainan seperti boneka itu dibolehkan karena ada hajat untuk mendidik anak. Kenapa seperti itu? supaya anak perempuan bisa jadi lebih penyayang. Kan biasanya, cewek tuh senang main-main yang lebih ke boneka, barbie-barbie-an. Hal itu tuh naluriah sebenarnya. Kebanyakan mayoritas ulama pun membolehkannya kok. Asal.. Jangan terlalu berlebihan, karena hal yang berlebihan itu tidak disukai Allah maupun Rasulullah,"
"Sebagaimana Hadits riwayat dari Ibnu Abbas, Nabi SAW berkata kepada rombongan pagi hari (untuk keperluan melempar jumrah), "Tolong ambilkan aku kerikil." Mereka mengambilkan kerikil seukuran batu ketapil. Akan tetapi, saat mereka menyerahkannya kepada Nabi, beliau berkata, "Terima kasih, mirip seperti ini. Hindarilah berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya berlebih-lebihan (al-ghuluw) dalam agama, telah membinasakan orang-orang sebelum kalian." (HR An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad)."
"Nah, menurut Ibnu Taimiyah, makna hadits tersebut bersifat umum. Artinya, meliputi semua jenis berlebih-lebihan baik dalam keyakinan maupun perbuatan. Kalau Tiara setuju sih sama pendapat Tante, kamu jangan terlalu berlebihan ngoleksi boneka. Sewajarnya saja. Coba buat apa kamu banyak boneka gitu? Aku malah serem sendiri pas masuk ke kamar kamu juga," jelas Tiara panjang lebar. Saat ini dirinya tertawa, karena Rere malah cemberut mendengarkan kata penolakan dari dua wanita berharga di sampingnya.
"Nah loh. Ma Syaa Allah.. Kamu baru mesantren beberapa bulan aja udah pinter agama yah, Ti. Tante salut sama kamu. Sukses selalu ya!" kagumi Ratna pada Tiara. Namun tiba-tiba saja, ada seseorang yang memanggil Tiara dari kejauhan.
"Loh? Ko aku harus ketemu dia mulu sih!" umpat Tiara kesal dalam hatinya.
__ADS_1
...----------------...