
"Kalian mau tau apa pura-pura bodoh sih?!" seketika, raut wajah bule itu pun berubah sangat menyeramkan.
Dia menyeringai sambil tertawa sinis dan mengelilingi kedua tamu yang baru saja tiba di rumah megahnya itu.
Benar saja. Rayn sudah menduga ini dari awal. Mana dia datang berdua saja ke tempat ini. Bagaimana bisa ia lari dari cengkraman maut seorang Brain?
"K-kamu sebenarnya siapa? Maaf. Kami gak berbuat jahat ko sama kamu. Kami hanya ingin ketemu hacker bernama Brain itu. Tolong pertemukanlah kami dengannya. Kumohon!" pinta Mega memelas. Sedangkan Rayn terdiam membisu sambil menunduk.
Bukanya Iba. Wanita bule itu menghampiri Rayn dan mendongakkan wajahnya yang terbalut hijab pashminanya, hampir saja hijabnya itu lepas karena Brain mencengkram kepalanya cukup kuat. Tentu bule itu menampilkan raut wajahnya yang terlihat meremehkan, sedangkan Rayn menutup matanya karena takut, lalu tak sadar ia pun menitikkan air matanya sangat deras.
"Kamu temannya wanita ****** bernama Tiara itu kan? Berani-beraninya kamu datang bersama klien-ku ke sini! Kamu mata-mata dia?! Apa punya rencana lain kepadaku?!" hardik Brain dengan suara lantang yang terdengar menggema di ruangan itu.
Sedangkan Mega nampak terngaga, drama macam apa ini. Kenapa wanita itu tau Tiara juga? Apa hubungannya dengan Rayn? Sudahlah. Di sini Mega nampak seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa, padahal kalau Brain tau Mega juga adalah temannya Tiara? Wuh.
"Maaf, Brain. Aku pure menemani Mega ke sini. Gak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Tiara. Lagian, kamu tau dari mana kami berteman?"
Brain pun menyeringai, wanita di hadapannya ini memang benar-benar bodoh. Ya pasti dia tau lah, secara Brain gitu loh. Hacker yang banyak dicari, namun tak ada seorang pun yang mengetahui tentangnya apalagi identitasnya yang seorang cowok atau cewek.
"Dasar bodoh! Dan kamu, Mega. Kamu mau tahu di mana para tikus itu berada?" kini Brain beralih ke Mega yang tentu saja dia pun sama-sama takutnya seperti Rayn.
"I-iya. Ternyata, kamu adalah Brain ya," ucap Mega tenang, padahal hatinya takut oleh sosok bule yang ada di hadapannya.
"Mereka masih ada di Indonesia. Mengapa kamu sangat ingin mengetahui mereka? Imbalan apa yang akan kamu beri untukku seandainya aku memberi tahu alamat lengkap para tikus itu?" tukas Brain jumawa.
"Aku bisa melakukan apapun untukmu. Asal, aku ingin mengetahui keberadaan orang-orang yang telah mencelakai kedua orangtuaku," jawab Mega sambil tertunduk. Lama-lama menatap bule itu rasanya ia semakin sakit mata. Cantik sih iya, tapi tatapannya itu loh, bikin merinding.
"Hahaha. Apapun? Yakin?" tantangi Brain kembali sambil menepuk-nepukan tanganya terlihat senang akan mainan barunya.
"Aku mau kamu bawakan Yusuf ke rumah ini!" titah Brain sambil menatap sinis ke arah keduanya.
Seketika, Mega dan Rayn pun saling pandang. Ini mimpi kan?
"Aku tidak kenal dia, Brain. Tolonglah, ganti yang lain. Apapun itu akan aku turuti, asal jangan itu," pinta Mega memelas.
__ADS_1
"Emangnya aku gak tau kalian itu sebenarnya sahabatan? Aku gak bisa dibodohi ya!" geram Brain sambil melotot dan menggertakkan geraham gusinya seolah siap mencengkram dua wanita yang ada di hadapannya.
"Kami beneran tidak sedekat itu. Kami, sungkan kalau harus melakukannya, Brain. Tolonglah aku, kumohon!" ucap Mega kembali, terdengar putus asa.
"Oh jadi begitu ya? Oke deh. Kalian tidak akan bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup-hidup!"
"Brain?!!! Kenapa kamu begini??" Mega pun panik, sementara Rayn yang sedari tadi tak sadar, bahwa ponselnya itu tengah disadap oleh seseorang.
Brak!
Tiba-tiba pintu pun terbuka dan menampilkan dua orang pria menggunakan setelah kemeja bergaris putih biru, disertai topi dan kacamata yang menghiasi kedua pemuda tampan itu yang seperti akan menghampiri ke arah Rayn, Mega dan Brain.
"Siapa kalian? Berani-beraninya merusak pintu rumahku!" teriaknya sangat geram. Brain tak ada rasa takut sedikit pun, lalu ia pun merogoh pisau yang sedari tadi telah ia persiapkan untuk mengancam kedua gadis bodoh yang ada di hadapannya.
"Bang, Zae," gumam Rayn tersenyum. Namun belum saja ia berlari ke arah mereka, Brain sudah lebih dulu mencengkram pergelangan Rayn sementara Mega sudah ancang-ancang untuk berlindung di punggung kedua pria itu.
"Lepaskan dia! Kamu gak berhak nyakitin wanita itu!" geram Zae sambil menodongkan pistol ke arah Brain.
"Kamu berani menembakku? Aku juga sudah sangat siap untuk memotong leher gadis ini," ucap wanita itu sambil tertawa.
Sementara Rayn saat ini begitu kesakitan. Ia mencari cara agar dia selamat, begitupun kedua pria yang hendak menyelamatkannya itu agar tidak melakukan apapun di rumah ini. Ia takut, mereka membunuh seseorang dan akhirnya polisi akan menangkap mereka lalu menjebloskan ke penjara.
Sungguh, kedua pria di hadapan Rayn begitu berarti baginya.
"Awh" ringis Rayn yang lehernya semakin di pegang erat oleh Brain sambil sesekali mengarahkan pisau ke hadapan mukanya.
"****! Wanita sialan!"
Saat Brain lengah, Rayn rupanya langsung menggigit lengan Brain lalu ia pun berlari ke arah Stephan dan Zae, namun sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
"Rayn!"
Dengan cekatan Zae menyambar Rayn yang sedang berlari, lalu tak sadar, pisau itu telah menancap di punggung pria kekar itu, karena Brain benar-benar menyerang mereka secara brutal.
__ADS_1
"Zae!!!" pekik Rayn. Ia bingung saat ini dirinya kalut, Zae sampai berkorban seperti ini demi dirinya.
Stephan pun melepaskan pelatuk pistolnya, lalu ia pun menjedorkan biji pistol itu pada kedua kaki Brain juga tangan kanan dan kirinya Brain tanpa ampun.
"Aku udah nelepon ambulance. Sebentar lagi bantuan akan datang ke sini," ucap Mega yang langsung peka. Sementara saat ini Brain nampak kesakitan karena kedua kaki dan tangannya terkena pistolnya Stephan sampai bercucuran darah yang begitu kental.
****
Di rumah sakit, nampaknya Zae tengah di dorong oleh beberapa perawat dan dokter menuju ruangan UGD. Ya, dia masih tengkurap, rupanya pihak medis menganjurkan hal itu pada Zae karena sebelum operasi berlangsung walaupun pisau sudah dilepaskan. Mereka tak ingin selama pengoperasian tancapan pisau itu menyebabkan Zae terkena infeksi.
Makanya Zae yang masih setengah sadar itu mencoba menguatkan dirinya sambil sesekali meringis, lalu ia pun tersenyum untuk yang terakhir kalinya ke arah Rayn yang masih tergugu, sebelum pintu pengoperasian ditutup tanda operasi akan segera berlangsung.
"Dek, udah jangan nangis terus," tenangkan Stephan di sampingnya sambil menepuk bahu adiknya yang sudah ia anggap seperti adik kandung sendiri.
"Iya, nih mending kamu minum air putih dulu," ujar Mega yang langsung menyodorkan air minum dingin itu ke Rayn dan juga Stephan.
"Terimakasih," balas Stephan. Rayn pun langsung meminumnya sampai tandas. Ia dipenuhi rasa bersalah, karena ada orang yang rela nyawanya terancam demi dirinya.
"Peristiwa ini mengingatkanku pada Tiara beberapa bulan yang lalu," gumam Mega mencairkan suasana.
"Emangnya, dia kenapa?" tanya Stephan yang nampak tertarik, sedangkan Rayn diem aja sambil terus menangis karena ia tak bisa berhenti menangisi Zae.
"Waktu itu juga Yusuf sempat kena tikam oleh Dhika, orang yang terobsesi pada Tiara. Untungnya Yusuf datang tepat waktu, tapi.. Kejadian itu menjadi awal mula Yusuf dan Tiara saling dekat satu sama lain," kenang Mega.
"Wah, berarti mereka berdua pun berasal dari insiden seperti ini juga ya? Tuh, Dek. Kamu kok samaan gini sih sama sahabat sendiri? Apa jangan-jangan, kalian berjodoh juga," goda Stephan sambil menyenggol Rayn, namun Rayn malah memukul Stephan lumayan keras.
"Aduh, ko digebukkin sih. Abang gak salah ngomong loh, ups," Mega yang mendengarkan interaksi kedua kakak adik itu pun tertawa terbahak-bahak.
Namun, saat Mega melirik ke arah kirinya. Ia seperti melihat kekasihnya sedang membawa bunga lalu masuk ke sebuah kamar yang jaraknya tak jauh dari ruang operasi Zae.
"Eh, Rayn, Om Stephan. Mega izin pamit dulu ke sana ya," ujar Mega yang nampak tak peduli lagi dengan orang yang ada di sekitarnya.
Saking dag-dig-dugnya, ia pun menghela nafasnya dulu yang begitu berat. Lalu menoong kekasihnya itu dari jendela pintu kamar rumah sakit yang sempat dimasuki oleh sang kekasih.
__ADS_1
"Rendra?" seketika, orang-orang di sana pun menoleh ke arah Mega yang saat ini tatapanya terlihat emosional dan air mata pun siap bercucuran dan mengalir deras dari pelupuk matanya.
...----------------...