Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 57


__ADS_3

"Rendra?" Mega yang sudah terlanjur mengetahui maksud dari semua ini. Ia pun langsung mendekat ke arah kekasihnya itu lalu menamparnya tanpa aba-aba.


"Kamu!" geram Rendra yang langsung berdiri, lalu menarik lengan Mega dengan kasar, hingga Mega pun meringis kesakitan oleh cengkraman Rendra.


"Kamu selingkuh?!" lontar Mega dengan nada yang sangat emosi, karena ia tahu kekasihnya itu tak punya adik perempuan. Siapa lagi cewek yang sedang terbaring lemah di sana apalagi dia bawa bucket bunga segala sambil megang tangan wanita sialan itu lagi.


"Emangnya kenapa? Kamu juga akhir-akhir ini susah kuhubungi. Ke mana kamu? Apa benar rumor itu? Ck, gak sudi aku punya pacar anak koruptor," hardiknya sambil menyeringai, lalu berdecih karena ia merasa Mega sudah sangat buruk di matanya.


"Oh, ini watak aslimu ya! Dasar lelaki sampah! Makan tuh cinta! Dasar pengkhianat! Kita putus!" Mega pun langsung menendang anu nya si Rendra itu. Tentu dia pun kesakitan dong, tapi dia tak peduli. Mega sudah tak respect lagi dengan Rendra yang kini sudah resmi menjadi mantannya itu.


Dengan langkah yang begitu gontai, juga tangisnya yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Mega berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu dengan hati yang tentunya penuh dengan luka.


Ya, Rendra yang dulu ia yakini akan setia padanya bahkan berjanji akan segera membawanya pada hubungan yang serius setelah lulus sekolah menengah atas. Nyatanya sama saja seperti laki-laki bangsat lainnya yang sama sekali tak menerima kekuranganya bahkan di saat kondisinya saat ini sedang terpuruk.


Mega tentu sangat menyesal karena ia sudah mempercayai Rendra sebagai kekasih yang bisa dipegang kata-katanya dan juga janjinya. Padahal, sahabat-sahabatnya telah memperingatinya. Sebelum hubungan tersebut menjadi halal, siapapun gak boleh terlalu menyimpan rasanya yang begitu mendalam pada lawan jenis apalagi masih dalam tahap pacaran.


Ya, dia menyesal. Dia terlalu di butakan oleh cinta. Siapa sih yang gak gila kalau sudah berhubungan dengan urusan cinta? Apalagi melalui jalur haram yang sudah jelas-jelas Allah peringatkan dalam surah Al-Isra ayat 32:


وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا


"Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk."


Saling menatap dengan lawan jenis yang belum halal saja sudah termasuk dosa. Apalagi menyentuhnya, memegangnya, sampai berduaan di tempat sepi? Gak malu sama Allah?


Emangnya Allah gak tau sekalipun kau bersembunyi di tempat yang paling tersembunyi pun, Allah pasti tau. Sudah tau CCTV terbaik itu adalah pengawasannya Allah. Tapi masih aja melanggar, yakin merasa semuanya tenang-tenang aja?


Belum lagi suatu saat nanti, rekaman yang telah Allah simpan itu akan diputar kembali di pengadilan akhirat, lalu ditayangkan dan dipertontonkan pada triliunan manusia dari zamannya Nabi Adam As sampai umatnya Nabi Muhammad SAW. Yakin gak malu? :'(


Nabi Muhammad saja yang saking cintanya sama umatnya, tiap hari selalu menangis dalam sujudnya dan selalu memohon ampun pada Allah tentang umatnya. Sebegitu besarkah cinta Nabi Muhammad pada kita tapi apa balasan umatnya di zaman yang semakin uedan ini?


Nabi Muhammad saja yang sudah dijamin Allah surga-Nya masih shalat sampai berjam-jam bahkan sampai lutut dan tumitnya bengkak-bengkak juga masih memohon ampun dengan dzikir istighfarnya sebanyak 100 kali. Sedangkan kita? Manusia biasa yang penuh dengan dosa dan salah masih semena-mena dan merasa santai saja hidup di dunia ini dengan berleha-leha seolah-olah kita akan hidup selamanya dan melupakan akhirat. Sebegitu jauhnya kah kita pada Allah?


Astaghfirullahal 'adzim.. Astaghfirullahal 'adzim.. Astaghfirullahal 'adzim..


Mega pun sejenak merapalkan istighfar, lalu duduk di salah satu kantin yang ada di rumah sakit itu sambil mengusap pipinya yang terasa sembab, karena ia begitu kejer menangisi kekasih yang sudah berkhianat itu.


Beruntungnya, setelah ia mengetahui Rayn sudah hijrah dan memutuskan untuk berhijab seperti Tiara dan juga Rere. Ia pun tergoda untuk sama-sama berhijab juga. Walaupun secara perlahan dan hijabnya itu belum selebar Tiara. Tapi ini merupakan titik tobatnya sebelum ia melangkah lebih jauh dan mantap untuk masuk ke sebuah pondok Pesantren, tempat adiknya berada.


Saat ia tengah meminum jus jambu kesukaanya. Ia pun tersedak, karena mendapati abang Rayn yang tiba-tiba saja menghampirinya lalu duduk di hadapannya.


"Om Stephan? Mau makan juga?" sapa Mega. Ia mencoba bersikap santai, walau tak dapat ditutupi bahwa ia sedang malu, karena ia ketauan menangis di hadapan Stephan. Si pengacara tampan yang terkenal itu.


"Aku mau gabung di sini sama kamu, boleh?" Mega tersentak. "Ko Om Stephan berbicara non formal padanya?" gumamnya dalam hati.


"B-boleh Om. Silahkan," jawab Mega sungkan.

__ADS_1


"Kamu pesan apa?" tanyanya lagi. Kayaknya basa-basi sih.


"Lagi pengen makan bakso merecon yang levelnya sadis, hehe. Btw, Rayn mana, Om?"


"Waduh. Saya juga mau lah pesen baso, tapi yang sedeng aja levelnya." ujarnya sambil memanggil pelayan kantin, yang memang sedang melaju ke arah Mega dan mengantarkan baksonya pada perempuan berhijab biru muda yang ada di hadapanya.


"Saya pesan bakso juga ya, Mas. Minumannya jus lychee aja," ujarnya, lalu dianggukkan oleh pelayan kantin itu.


"Rayn lagi ngobrol sama Tiara. Kebetulan Yusuf datang juga ke sana. Katanya besoknya mau ke luar negeri. Jadi gak enak kalau belum jengukin Zae," jelas Stephan.


"Oh, begitu." sahut Mega singkat.


Tiba-tiba suasana menjadi jempling. Stephan yang merasa canggung pun akhirnya melebur egonya dan hati-hati untuk mengajak Mega berbicara.


"Kamu habis menangis?" tanya Stephan ragu.


"Em, iya Om. Tadi kelilipan aja, gak taunya makin ngilu sengatan serangganya. Jadinya gini deh," balasnya sambil tersenyum yang terlihat terpaksa.


"Oh, kirain saya. Kenapa,"


Sebenarnya, Stephan mengikuti Mega sedari tadi. Ia tak menyangka bahwa ia sampai sejauh ini mengikuti seorang wanita yang menurutnya aneh dan sedikit misterius itu.


"Maaf, aku ngikutin kamu sampai aku tahu, bahwa kamu baru saja...."


"Baiklah. Percayalah, akan ada pria yang tulus membersamaimu. Jadi, bersabarlah," ucap Stephan, terkesan menasihati. Tapi dia pun tak tahu kenapa ia harus berada di suasana seperti ini dengan sahabat adiknya itu.


*****


"Rayn, Om Stephan ke mana?" tanya Tiara sambil tulah-toleh karena sedari tadi yang ada di sana hanya Rayn seorang diri.


"Oh, abang. Gak tau tuh. Semenjak Mega pergi, dia juga ikutan pergi," sahutnya sambil menaikan bahunya tak peduli, karena mungkin abangnya ada keperluan lain.


"Mega? Dia ke mana?" kini Tiara yang kepo akan keberadaan Mega yang tidak biasanya pergi meninggalkan Rayn seorang diri.


"Sayang, aku mau ke kantin. Kamu mau ikut gak?" tawari Yusuf, karena jujur saja dia kehausan, lupa membeli membekal minum saat dia melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bandung.


"Eh iya. Tadi bukannya beli dulu ya pas dari mushola. Oke deh, go!"


Ketiganya pun berjalan beriringan, tentunya dengan Yusuf yang posesif memegang tangan Tiara sementara Rayn berjalan di samping Tiara bagaikan nyamuk yang merasa terbuang karena kemesraan kedua pasutri itu.


Saat mereka menyisiri kantin, lalu memilih-milih menu makanan. Tiara tertuju pada Mega dan Stephan yang rupanya sedang duduk bersama walau terlihat canggung satu sama lain.


"Hey, itu mereka!" seru Tiara pada Rayn yang berada jauh darinya, karena membeli minuman yang berbeda dari ruko lain yang ada di kantin itu.


"Mega," teriaki Tiara sambil meleburkan pelukannya, lalu ia pun menyadari bahwa sahabatnya itu seperti telah menangis.

__ADS_1


"Kamu nangis?" tanya Tiara yang langsung duduk di sampingnya, sementara Yusuf di samping Stephan dan sejajar dengan Tiara dan Rayn berada di samping Mega.


"Hem, ketauan deh," ucap Mega sambil meringis, karena insiden menangisnya tak bisa ia tutupi. Maklum, kalau cewek udah nangis, pasti bekasnya tuh awet, apalagi di sekitaran hidungnya masih akan membekas merah dan mata juga pipi pun tak kalah memerah juga.


"Kenapa? Coba cerita sama aku," desak Tiara. Sementara Rayn yang penasaran pun menganggukkan saja.


"Nanti aja ah. Malu!" ujarnya sambil melirik ke arah kedua pria yang ada di hadapannya.


"Di sini cuma ada kita berdua kok. Lagian saya udah tau," timpal Stephan yang nampak menggarukkan kepalanya yang tak gatal.


"Abang ngapain Mega?" selidiki Rayn sambil memicingkan matanya, karena ia curiga pada kakaknya itu.


"Suudzon kamu. Tanya aja gih kalau gak percaya mah," jawabnya sambil mencebik dan meninjak kaki Rayn yang ada di bawah meja.


"Awh, awas ya!" geram Rayn, lalu mereka pun tertawa oleh ulah adik kaka tak sedarah itu.


"Jadi ceritanya...," akhirnya Mega pun menceritakan pertemuannya dengan Rendra. Lalu, akhirnya ia pun memutuskannya sampai cerita terakhir saking kesalnya ia menajong anunya si mantan.


"Waduh, kurang ajar ya! Tapi hebat, kamu berani ngelakuin itu padanya," ujar Tiara yang nampak langsung terbahak-bahak saat mendengarkan cerita terakhir yang dilontarkan Mega.


"Tuhkan. Apa kataku juga. Semua lelaki emang breng***!" geram Rayn setengah emosi.


"Ekhem, aku gak gitu ya," Yusuf pun membela kaum lelaki yang tak semuanya seperti itu.


"Iya betul. Kami serasa kesinggung loh," timpali Stephan juga.


"Tapi rata-rata begitu. Huh, harus aku kasih perhitungan!" Rayn yang masih emosi itupun akhirnya menyingsingkan lenganya sebahu, lalu memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, sambil mengepalkan tanganya, layaknya orang yang mau tawuran.


"Kamu kenapa begitu? Udah ih. Lagian aku udah puas bisa nendang dia. Syukurin banget!" kata Mega yang nampak menghentikan tingkah Rayn yang menurutnya lucu.


"Aku pengen nabok dia juga, Ga. Ini gak bener!" sulut Rayn kembali.


"Hei, kamu mau cosplay jadi preman dek? Nanti Zae sedih ngeliat kamu begini," goda Stephan.


"Apaan sih bawa-bawa nama dia. Gak lucu!" Rayn pun nampak marah pada abangnya, karena ia memang sedang PMS. Jadi wajar, emosinya lagi gak stabil.


"Hadeuh, udah deh. Nanti kalau ketemu, kita keroyok bebarengan," kompori Tiara. Sedangkan Yusuf memicingkan matanya.


"Gak usah so' jadi pahlawan deh. Udah diem. Nanti juga bakal kena karma," sahuti Yusuf, karena ia tak suka isterinya ikut-ikutan jadi super girl.


"Aku kesel sama Rendra sia***, Mas. Eh, itu dia!" seru Tiara antusias. Seketika, semuanya pun tertuju pada pria yang diduga bernama Rendra itu.


"Serbuuuu!!" seru Rayn.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2