
"Alhamdulillah, Pah. Ini beneran proyek perusahaan kita diterima? Ya Allah, Maha Besar Engkau Atas Segala Kuasamu," ucap Yusuf yang langsung sujud syukur karena rencananya menyebarkan dakwah islam itu bisa diterima dengan baik di Amerika.
"Iya, Nak. Tapi ya balik lagi ke segala resiko yang akan terjadi. Beruntungnya mereka pun muslim, jadinya setuju aja dengan usulan kita ini. Alhamdulillah. Papa hanya mengingatkan kembali, bahwa kita harus siap jika sewaktu-waktu para kaum atheis atau non muslim akan menyerang kita. Ingat! Amerika itu penganut Islamophobia. Mereka benar-benar anti pada Islam dan umatnya. Apalagi, kaum muslimin di sana hanya ada 1% mungkin bahkan kurang dari 100%" peringatkan Raihan.
Ya, karena proyek ini untuk yang pertama kalinya akan Yusuf tanggungjawabi. Jadi mau tidak mau Yusuf harus berpikir secara matang dan siap atas segala konsekuensinya mengenai kerjasama ini yang mungkin akan mengalami gesekan sengit dari para anti islam yang ada di negara Amerika.
"Mungkin sebagai percobaan kita memulainya di Amerika dulu aja ya, Pa? Soalnya kan di Indonesia mah sudah banyak. Inimah Yusuf pengen berdakwah di negeri yang memang minim agama Islam. Ya, semoganya niat baik ini akan selalu dilindungi oleh Allah," harap Yusuf.
"Iya, Nak. Bismillah aja. Wong Nabi Muhammad aja dulu dakwahnya lebih terancam dan bisa dikatakan extream. Banyak yang mau membunuh-lah, mencelakai-lah, dicela-lah, dimusuhi-lah. Kita juga harus siap seperti itu, Nak. Semoga kerja sama ini bisa berjalan lancar dengan baik ya, Aamiin,"
Kedua pria berbeda usia itu pun segera beristirahat di rumah Raihan yang ada di negara Amerika. Maklum, Raihan ini bisa dikatakan Crazy Rich. Maka soal tempat tinggal atau kendaraan, jika harus membeli secara mendadak pun tidak jadi masalah baginya.
"Oh, iya Nak. Di sini juga kan ada usaha perhotelan Papa. Selain kamu fokus ke project baru kamu, nanti jangan lupa juga ya dilihat perkembangannya. Lumayan, ada tiga hotel di daerah Washington, Newyork, sama Los Angeles. Papa percayakan semuanya sama kamu," kata Raihan memberitahu.
"Siap, Pah. Kalau boleh tau, di hotel tersebut aman-aman aja 'kah atau ada masalah, Pa?" tanya Yusuf penasaran.
"Aman, Nak. Cuma ya begitu. Namanya juga di Negara minim muslim. Mereka anti banget sama yang namanya Islam. Bahkan Papa pernah buat mushola di sana, eh, banyak pengunjung yang tak suka dengan keberadaanya akhirnya mushola pun di tutup massal. Papa gak bisa ngapa-ngapain, wong papah juga nggak sempat ngurus hotel yang ada di sini. Kamu yakin Nak, bakal nerusin project ini? Yakin sama resiko yang akan kamu hadapi nantinya?" kata Raihan terlihat ragu.
"Insya Allah, Pak. Namanya juga dakwah. Gak semua orang akan menerima akan kebenaran yang disampaikan oleh kita. Kalau bukan kita generasi ummat Nabi Muhamad yang akan berdakwah, siapa lagi? Bismillah, Pa. Doakan Yusuf. Semoga Yusuf bisa secara lambat launnya menyadarkan orang-orang yang ada di sini. Ya, minimalnya tidak terlalu membenci islam, setidaknya tumbuhkanlah sikap toleransi. Gitu sih. Itu harapan terbesar Yusuf, berdakwah di negeri ini,"
Sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nahl ayat 125 yang menjelaskan bahwa kita harus berdakwah melalui tiga metode di antaranya dengan hikmah (ilmu pengetahuan), mauidzoh (pengajaran yang baik), dan jidal (berdebat dengan cara yang baik).
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk."
"Maa sya Allah. Pasti Tiara bangga punya suami sepertimu, Nak. InsyaAllah, papah dukung sebisa mungkin. Kalau ada apa-apa. Kamu bilang aja ya ke Papa. Kalau begitu, Papa mau ke kamar dulu. Kebetulan hari ini ada rapat penting di daerah Columbia. Kamu juga ikut ya?" ajak Raihan.
"Baik, Pah. Yusuf akan ikut," timpal Yusuf sambil tersenyum.
__ADS_1
Bohong, jika di hati kecil Yusuf merasa tidak takut dengan resiko yang akan ia hadapi ke depannya. Apalagi sebelumnya ada terorisme yang melakukan pengeboman di Amerika dan sedihnya mereka mengaku dari kalangan umat Islam. Hal itulah yang menjadi pemicu orang Amerika di sini yang semakin kentara membenci Islam.
"Huft! Semoga langkah ini tidak salah. Ya Allah, lindungilah hamba dan juga keluarga hamba. Sesungguhnya, Engkaulah sebaik-baiknya pelindungku," gumam Yusuf dalam hatinya.
...----------------...
"Ekhem, Ti." tegur Rayn yang sedari tadi menyadarkan lamunan sahabatnya.
"Eh, Rayn. Iya, kenapa?" Tiara pun menoleh ke arah Rayn sambil tersenyum simpul.
"Kenapa sih, kayaknya lagi galau banget," celetuknya.
"Aku kok kangen dia, ya? Ko aku jadi nggak mau berjauhan gini sama dia. Aneh banget!" Tiara pun ketawa sendiri.
"Yeay. Ada yang merindukan si dia yang jauh di sana. Pastilah. Secara 'kan kalian selama ini bersama-sama mulu. Pasti ada rasa rindu menyeruak kala kalian berjauhan. Tapi, percayalah. Semua itu menguji kesetiaan cinta kalian. Apakah kalian percaya bahwa cinta kalian itu besar ataukah hanya sesaat saja?" goda Rayn.
Sontak, Rayn pun melebarkan bola matanya, ia terkejut dengan penuturan sahabatnya itu, "Seriusan? Kamu nggak ngibul 'kan?" Rayn menuntut penjelasan dari sang sahabat. Akhirnya, Tiara pun menjelaskan ceritanya selama ia liburan di Turki pada Rayn.
"Ish, si Dhika gak ada kapok-kapoknya. Ya Allah, kasihan banget. Pasti kamu sedih banget, ya," Rayn pun memeluk sahabatnya itu. Akhirnya, Tiara pun menangis kembali karena mengingat kejadian menyedihkan tempo hari.
"Aku nggak nyangka, ternyata sesakit ini ya kehilangan buah hati yang sudah hadir di rahim ini. Awalnya aku nolak mentah-mentah, karena waktu pertama kalinya juga kita tuh buatnya saling emosi. Eh, ternyata berbuah juga. Pas kedua minggunya, aku dikabarkan keguguran karena lengah juga kami berdua tuh dan nggak sadar, bahwa aku udah telat haid dan nggak nyangka bakal kebobolan juga," curhat Tiara lagi dengan nada terisak.
"Hem, gapapa sahabatku. Aku ngerti kok perasaan kamu. Inget, aku juga pernah mengalami hal yang sama. Cuma bedanya aku nggak tahu benih siapa yang aku kandung waktu itu. Kalau kamu ya beda. Itu hasil buah cinta kalian. Tapi, dari sana aku menyadari, bahwa pentingnya mengandung dari orang yang kita cintai itu memang akan terasa berbeda feelnya. Ya Allah, maafkan atas segala dosa-dosaku. Sungguh, aku sangat berdosa karena telah melakukan dosa besar itu," rintih Rayn mengusap perlahan airmatanya yang seketika membasahi pipinya.
Kedua sahabat itu masih betah mencurahkan unek-uneknya satu sama lain, dan menuntaskan rasa perih dan sakitnya hati mereka yang terasa tercabik akan kehilangan sesuatu yang begitu berharga bagi mereka.
Bukan hal yang mudah bagi Tiara maupun Rayn yang sama-sama mengalami keguguran di usianya yang masih belia. Ya, lagi-lagi takdir yang mengajarkan mereka untuk lebih berhati-hati lagi ke depannya. Mereka hanya bisa berharap, semoga Tuhan menghadirkan kembali sesuatu yang berharga itu kelak di waktu yang terbaik dan di saat yang tepat saat mereka berdua sama-sama sudah siap menanggung beban besar itu.
...----------------...
__ADS_1
"Sayang. Kamu udah di pesantren?" ucap Yusuf di dalam video call-nya bersama sang isteri.
"Iya, Mas. Nih, aku udah di kamar kamu," jawab Tiara dengan keadaan rambut tergerai dan juga baju yang sedikit minim karena saat mereka vc-an keadaan di Indonesia sedang malam, sedangkan di Amerika lagi siang.
"Aih, kamu pakai bajunya kok seksi begitu. Mau goda aku ya? Ah, jadi kangen kamu sayang," ucap Yusuf manja.
"Gerah, Mas. Enak aja ngegoda. Gaada!" ucap Tiara menahan tawa. Sebenarnya dia sengaja dan ingin melihat reaksi suaminya.
"Bohong! Biasanya juga kamu pakai piyama panjang saat tidur bersama suamimu ini. Kamu sengaja menggoda Mas, ya?" ujar Yusuf menaik-turunkan halisnya dengan menahan hasrat yang kian meninggi karena sang isteri tega membuatnya tersiksa seperti ini.
"Ekhem. Aku ngantuk Mas. Kamu mau ikut aku bobok gak?" ucap Tiara yang kini semakin sengaja menyentuh lehernya juga mengibas-ngibaskan baju bagian depanya di depan kamera.
"Sayang. Kamu menyiksaku di sini. Awas ya, kalau aku pulang ke sana. Nggak ada kata ampun buat kamu. Mas akan menggempurmu berhari-hari," ancam Yusuf yang saat ini sudah panas dingin karena melihat isterinya yang semakin menggoda libidonya.
"Siapa takut!" Tiara pun menjulurkan lidahnya dan semakin menggoda suaminya dengan memperlihatkan belahan dadanya pada layar kamera.
"Udah ah. Mas harus mandi ini. Gara-gara kamu, Mas harus main solo. See you isteriku yang nakal. Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam," balas Tiara cekikikan.
"Astaghfirullah, baru segini aja dia udah ketar-ketir. Gimana kalau aku kasih service yang cetar membahana, hihi," gumam Tiara masih cekikikan di kamar Yusuf.
"Benar-benar keterlaluan isteriku. Argh, dia menyiksaku," gumam Yusuf yang masih betah mandi malam di bawah guyuran shower dingin di rumah sang mertuanya yang berada di Amerika.
Perasaan cinta yang mencuat di hati keduanya. Membuat sepasang kekasih yang tengah dilanda kerinduan itu menahan gelisah dan perasaan sepi dihati keduanya, karena sayang mereka harus terpisahkan oleh benua bahkan tak tahu akan bertemu lagi kapan karena sang suami nyatanya tidak secepat itu meninggalkan proyek barunya yang akan ia bangun di luar negeri.
"Isteriku. Maafkan Mas ya. Kalau seandainya suamimu ini akan membuatmu khawatir ke depannya. Semoga, Allah selalu menjagamu di sana. Ku titipkan Engkau pada Tuhanku dengan mengarap ridha dan rahmat-Nya," harap Yusuf yang saat ini tengah memandang hampa ke atas langit-langit kamar mandinya dengan tatapan sendu bahkan sampai menitikkan airmatanya saking merindunya.
...----------------...
__ADS_1