Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 46


__ADS_3

"Hah?"


"Beneran?"


"Ini gak mungkin kan?"


Kata beberapa orang yang nampak syok dengan apa yang mereka lihat.


"Ayah.. Bunda.." lirih seseorang begitu pelan.


"Ga" seketika mereka pun terkejut karena Mega pingsan. Zae yang ada di sampingnya pun dengan cekatan memindahkan Mega ke sebelah brankar yang ada di samping Rayn.


"Itu beneran Ayah Bundanya Mega?" kata Rere yang masih tidak percaya.


"Iya, betul. Dilihat-lihat, beliau memang tante Amora dan om Siregar," balas Tiara.


"Ya ampun,"


"Jadi, kedua orangtua Mega berkomplotan sama orang-orang ini?" tanya Yusuf memastikan.


"Iya" jawab Zae apa adanya.


"Mega pasti syok dan kecewa berat sama orangtuanya," ucap Rere lesu.


"Kenapa mereka terlibat, Zae?" tanya Tiara.


"Menurut informasi yang saya dapatkan, mereka berdua kebagian uang sebesar 2 trilliun yang mereka simpan di bank Swiss. Sementara 18 trilliun lainnya dibagi rata oleh 8 orang lainnya yang terlibat," jelas Zae.


"Pantes di Swiss. Swiss kan terkenal dengan undang-undang privasinya yang begitu ketat. Itulah alasan utama mengapa orang menyimpan uang mereka di bank Swiss. Kebijakan tersebut berguna bagi orang kaya untuk membantu mereka menghindari tuntutan hukum yang dibuat-buat. Selain itu tingkat inflasi yang rendah juga menjadi tolak ukur selanjutnya," timpal Stephan.


"Hebat kamu, Zae. Setelah saya ajarkan kemarin, kemampuanmu dalam mengumpulkan informasi semakin baik. Tingkatkan!" puji Stephan.


"Tidak begitu juga, Om. Kebetulan Ayah saya berteman akrab dengan seseorang yang mempunyai hotel di Swiss. Beliau mengatakan, akhir-akhir ini ada tamu yang mencurigakan dari Indonesia. Lalu saya minta bantuanlah pada Ayah dan menceritakan kasus yang sedang saya tangani ini. Kebetulan mereka tuh sedang travelling juga di Swiss seminggu yang lalu dan menginap di hotel milik teman Ayah saya. Ditelusurilah, tepatnya di sebuah ruangan yang biasa dipakai meeting. Teman Ayah saya pun mengambil video CCTV ini. Lalu di kirimkanlah pada saya. Dan akhirnya, terbongkarlah," ucap Zae panjang lebar.


"Wah, gak nyangka banget. Ya ampun, kenapa harus orang tua Mega?" lirih Tiara tak tega.


"Itu betulan Siregar?" timpal Indra, Ayah Rayn.


"Iya, Om." jawab Zae.


"Ayah, kenapa Siregar tega melakukan itu pada kita?" tanya Ibu Rayn sedih.


"Pasti mereka pun tidak sengaja ikut-ikutan, Bu." balas Ayah Rayn yang tetap berpikiran positif.

__ADS_1


"Tapi, Yah. Di dalam video itu, mereka kayak yang seneng banget mengkambing hitamkan kita," jawab Ibu Rayn kembali.


Ayah Rayn pun menatap istrinya, "Bu, kalaupun mereka jahat pada kita. Kita harus mengingat kebaikan yang telah mereka lakukan pada kita. Di saat kita pailit, siapa yang menolong usaha kita? Bahkan di saat Ayah dipecat, siapa yang menawarkan pekerjaan? Ini memang sulit. Tapi sebaiknya kita bicarakan baik-baik dengan mereka," jelasnya.


"Ayah, Ibu. Maaf Stephan menyela pembicaraan. Boleh?" tanya Stephan ragu-ragu.


"Ya, silahkan Nak. Apa yang ingin kamu katakan?" ucap Indra terlihat penasaran.


"Sebenarnya, semua ini telah direncanakan sejak awal. Maaf kalau Stephan baru memberitahunya sekarang. Tapi, sungguh Stephan pun baru tau, Om Siregar dan Tante Amora hanya memanfaatkan keluguan keluarga kita. Semua ini telah mereka rencanakan, bahkan saat Ayah pertama kali kerja di perusahaan Om Siregar," jelas Stephan tidak enak.


"Apakah kamu punya buktinya, Nak?" tanya Indra.


"Ya. Kemarin banget, Stephan mencuri rekaman suara Om Siregar yang mengatakan niat jahatnya pada Ayah. Bukti videonya pun sudah Stephan dapatkan dari dashboard mobilnya. Pokoknya bukti tersebut sudah valid dan bisa kita gunakan saat di persidangan berikutnya," sahut Stephan meyakinkan.


"Tapi, Nak. Apakah boleh buktinya itu berupa video, photo, rekaman, atau apapun itu. Memangnya tidak butuh seorang saksi? Bukankah Hakim mengatakan kita harus mendatangkan seorang saksi agar bisa membuktikan Ayah ini tidak bersalah?" tanya Indra kembali.


"Ada sih, Yah. Tapi Stephan ragu-ragu untuk membuat saksi tersebut bersaksi ketika di pengadilan nanti," ujar Stephan menunduk.


"Siapa kira-kiranya orang yang bisa dijadikan saksi tersebut?" tanya Tiara penasaran. Zae pun menunjukkan jarinya ke arah Mega yang masih pingsan.


"Mega?" sambar Rere juga.


"Iya," ucap Zae menimpali.


"Karena hanya dialah yang bisa membongkar keburukan orangtuanya. Saya yakin, jika Mega sanggup bersaksi di pengadilan. Maka fitnah ini akan segera berakhir," jelas Stephan.


"Nggak. Mega kayaknya gak bakalan ngelakuin itu deh," tebak Rere.


"Iya. Secara kan dia sangat menyayangi kedua orangtuanya. Apalagi dia sempat bilang, tiga tahun lagi dia bakalan tunangan sama pacarnya." timpal Rayn yang sedari tadi sudah sadar dan mendengarkan percakapan orang-orang di sekitarnya.


"Rayn?? Kamu udah siuman?" ucap Tiara yang langsung memeluk Rayn yang masih terbaring.


"Iya, Ti. Aku udah sadar dari tadi kok. Cuma aku penasaran aja kalian sedang bicarain apa. Ternyata, kasus orangtuaku bersangkutan dengan keluarga Mega ya," ungkap Rayn berkaca-kaca.


"Gapapa, Rayn. Kami sedang memikirkan masalah ini dengan bijak," timpal Rere.


"Jadi, kita harus bagaimana, Mas?" bisik Tiara pelan.


"Kamu manggil aku 'Mas'?" tanya Yusuf berbinar.


"Hem, suka gak?" balas Tiara sambil tersenyum.


"Suka bangettt, makasih sayangku," Yusuf pun memeluk Tiara di tengah-tengah perbincangan panas itu. Orang-orang pun tentu tersenyum melihat kebahagiaan pengantin baru itu.

__ADS_1


"Hei, kamu sangat memalukan," ucap Tiara yang langsung melepaskan pelukan suaminya.


"Haduh, lagi dalam keadaan getir gini ada aja yang kasmaran," celetuk Zae sambil geleng-geleng kepala.


"Om Indra, Tante Wina, Om Stephan. Katanya ada yang mau daftar jadi menantu dan adik ipar. Mau diterima gak?" ungkap Tiara mendelik ke arah Zae. Sementara Zae pun langsung menoleh ke arah Tiara dengan tatapan tajam.


"Siapa? Wah, Rayn kamu sudah punya pacar Nak?" tanya Ayah Rayn.


"Eh, Ayah. Jangan dengerin ocehan Tiara, dia hanya bercanda," sanggah Rayn. Ia tau, bahwa sahabatnya itu tengah menggoda Zae.


"Nih, orangnya." ungkap Tiara dengan polosnya, ia pun segera ke belakang Yusuf untuk berlindung. Sementara Yusuf pun tertawa puas menggoda sahabatnya itu.


"Haha, Om, Tante. Yusuf dan istrinya ini jangan di dengerin. Mereka emang iseng dan seneng buat orang lain malu." kelakar Zae dengan tawanya yang dibuat-buat.


"Tapi saya juga mengendus sesuatu yang gak wajar. Dek, kamu suka kan sama Zae?" goda Stephan.


"Hem, aku haus sama lapar nih. Kalian tega ngebiarin pasien ini kelaparan ya?" ungkap Rayn sambil pura-pura mengeluh dan memegang perutnya. Ia berusaha mengalihkan topik.


"Eh, Ayah lupa beliin kamu makanan. Tunggu di sini Nak. Ayah mau nyari dulu makanan buat kamu." ucap Indra yang langsung pergi begitu saja, disusul Ibunya Rayn.


"Huft, Abang bener-bener curiga deh," selidik Stephan sambil mengkerlingkan matanya ke arah Rayn, berganti pada Zae.


"Beneran, kami gak ada apa-apa," sahut Rayn tenang.


"Eh, Ga. Kamu udah sadarkan diri?" tanya Rere yang saat ini melihat Mega sudah terduduk dari brankarnya.


"Aku izin pulang dulu ya! Permisi." pamit Mega begitu terburu-buru.


"Tuhkan, apa? Dia pasti sangat bersalah," celetuk Rere ikut sedih.


"Ada jalan keluar yang lain gak sih? Maksudnya biar gak ada pihak yang tersakiti" ungkap Tiara merasa frustasi.


"Gak ada, Ti. Kecuali...,"


"Kecuali apa?"


"Salah satunya harus ada yang menyerahkan diri," sahut Yusuf benar adanya.


"Yeay, sama aja bunuh diri itu," ketus Tiara sebal.


"Mending aku aja deh yang nyerahin diri," seketika orang-orang pun menoleh ke sumber suara itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2