Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 67


__ADS_3

"Apa maksudnya, Tiara keguguran?" kata Mama Sandra menginterogasi anak dan menantunya dengan tatapan kecewa.


"Maaf, Ma. Yusuf gagal menjaga Tiara. Yusuf...,"


"Ini salah Tiara, Ma. Tiara gak hati-hati.. Jangan salahin mas Yusuf. Ini murni karena aku ceroboh, Ma," bela Tiara.


"Nak...," kini Papa Raihan yang ingin bicara.


"Sebetulnya Papa sedih mendengar kabar ini. Tapi, Papa yakin kok, Allah mungkin akan memberikan seorang anak pada kalian di waktu yang tepat dan di saat kalian sudah benar-benar siap menjadi orang tua. Jadi, kalian jangan merasa bersalah lagi, ya. Papa yakin, kalian pasti bisa mengambil hikmah dari kejadian ini," kata Raihan lebih bijak dibanding Mama Sandra yang terbawa perasaan.


"Huft. Maafkan Mama juga, ya. Jujur, Mama sedih banget dan yah, betul kata Papamu. Gapapa, sekarang kalian fokus aja masing-masing. Toh, Tiara masih sekolah SMA kan, sementara kamu harus megang dulu tanggungjawab ini di sini. Pokoknya, semangat! Kalian jangan sedih-sedih lagi, biarlah anak kalian bangga di sana, punya orang tua seperti kalian," ujar Mama Sandra menyemangati kedua pasutri itu.


"Mama....," Tiara pun mendadak mellow dan memeluk mamanya.


"Tiara sedih... Hiks," gadis itu tergugu pilu dalam dekapan sang ibunda. Sementara Yusuf dan Raihan menatap kedua wanita mereka dengan wajah yang berkaca-kaca.


"Gapapa, sayang. Kamu gak inget, kamu juga hampir mau punya adik lagi. Tapi Allah sayang sama adikmu, makanya dia nunggu kita di surganya Allah," kata Mama Sandra menenangkan.


"Anakku, Ma.. Anakku. Aku berdosa padanya karena tidak menjaga diri ini dengan baik. Aku...," racau Tiara lagi.


"Sayang.. Udah, gapapa. Masih ada banyak kesempatan untuk kita, kok," kini Yusuf pun ikut membelai hijab istrinya dari samping, karena di sampingnya lagi masih ada Mama Sandra memeluk puterinya.


"Nah, betul itu. Pintar menantu Mama. Pokoknya, setelah kamu lulus SMA. Mau bikin anak sepuluh pun, Mama siap ikut ngurus kok," sontak Tiara pun tertawa geli dan langsung menyenggol pelan sang Mama dari sampingnya.


"Mama," rengek Tiara manja.


"Ya udah, Ma. Yuk kita keluar dulu, Papa ko mendadak lapar sih. Eh, kalian mau nitip makanan apa? Biar sekalian kami belikan," tawar Papa Raihan.


"Enggak perlu, Pa. Tiara udah makan buah kok, tadi. Sedang tidak nafsu makan," tolak Tiara.


"Eh, gak boleh begitu, sayang. Kamu harus tetap menjaga imun. Badan kamu baru saja kehilangan banyak darah, jadi kamu harus menggantinya dengan protein dan karbohidrat. Mau ya Mama pesankan daging gitu?"


"Hem, Tiara pengen kebab aja, Ma. Kalau boleh sama es krim juga, hehe,"


"Hem, kalau kebab Mama izinkan. Tapi kalau es krim, nanti aja pas kamu udah sehat dan keluar dari rumah sakit ini. Sekalian sama bubur, ya?"


"Iya deh. Eh, Ma. Pengen susu coklat. Bebas mau merek apapun, yang penting susu," pinta Tiara lagi.


"Oke, sayang." Kedua orangtua Tiara pun langsung saja pergi untuk membeli beberapa makanan sebagai stock di kamar inap Tiara.


Berhubung Yusuf pun belum makan, maka dia izin terlebih dahulu untuk ke kantin rumah sakit dan akan segera kembali lagi ke kamar inap untuk menemani isterinya.


Namun saat Tiara sedang memejamkan matanya sesaat, karena ya tubuhnya masih terasa lemas dan butuh waktu istirahat yang cukup lama. Seseorang pun tiba-tiba membukakan pintu ruang inap itu tanpa permisi.


"Siapa kamu?" kata Tiara melirik sinis, karena orang itu rupannya seseorang yang tak dikenalnya sebelumnya. Saat ini, orang yang diduga berjenis kelamin pria itu tengah duduk sambil menyilangkan kakinya di sofa dekat brankar Tiara.

__ADS_1


"Tidak usah banyak bicara. Aku ke sini untuk menawarkan beberapa syarat padamu. Itu pun kalau kamu gak mau kehilangan suamimu," ucap seseorang memakai topi hitam, kaca mata hitam, dan juga celana dan blazer hitam yang mendominasi penampilannya saat ini.


"Apa hubunganmu dengan suamiku? Lagian, kamu siapa memberikan syarat segala kepadaku. Kamu gak berhak!" bentak Tiara.


Pria itu pun menyeringai, "Kamu lupa siapa aku? Bahkan anakmu saja barusan sudah pergi dari hidup kalian. Apa aku perlu menyingkirkan suamimu lagi," seketika, Pria itu pun membukakan kacamata dan topinya, dan..


"Dhika??" ucap Tiara terkejut dan juga tidak percaya, bahwa seseorang yang sudah membuatnya trauma di masa lalu kini hadir kembali dalam kehidupannya.


"Ya! Kamu tega Tiara. Kamu tega menikah dengan oranglain, sementara aku menderita seorang diri di sini karena menunggumu. Tapi apa balasanmu padaku? Ha?!" Pria itu pun tak segan-segan mendekat ke arah Tiara.


Sontak, Tiara pun ketakutan. Kini dia melepaskan infusannya secara paksa. Dia tidak peduli lengannya berdarah karena suntikan infus itu menggores punggung tangannya.


Dengan kekuatan yang masih ia punya, Tiara berusaha bangkit dari duduknya dan hendak menghindari tatapan yang menghunus tajam dari mata pria brengs*ek di samping brankarnya.


"Jangan sentuh aku!" sentak Tiara lagi, karena Dhika berhasil mencengkram pergelangan tangannya.


"Suamiku sebentar lagi akan ke sini! Kamu jangan mengusik ketenangan kami! Aku sudah bahagia hidup bersamanya," entah Dhika masih punya hati nurani atau tidak. Ia tak menggubris setiap kata yang dilontarkan wanita yang ada di sampingnya.


"Oh ya? Aku tidak peduli! Jika aku tak bisa mendapatkanmu, maka jangan harap, kamu bisa bahagia dengan kehidupanmu," jawab pria itu dengan seringai tajamnya.


"Dasar psikop*at! Kamu gak punya perasaan, Dhika! Aku benci kamu!" hardik Tiara lagi.


"Ahhh!!!! Lepaskan tangan biad*b itu!" saat Dhika sudah berhasil menyentuh wajah Tiara dan berlanjut ke bib*rnya. Saat itu pula Yusuf kembali ke ruangan isterinya.


Betapa terkejutnya Yusuf saat mendapati ada orang asing tengah melecehkan isterinya.


Tiara yang tergugu di atas brankar semakin menjadi-jadi, karena sudah dua kali ia dilecehkan oleh pria yang sama dan itu, sangat melukai harga dirinya.


"Kurang ajar kamu! Apa kamu sudah bosan hidup? Hah?! Kamu menyentuh isteriku! Aku tak sudi membiarkan tangan ini menyentuhnya lagi!"


Dengan segenap kekuatan yang ia punya, Yusuf pun memutarkan tangan pria itu dan dia berhasil mematahkannya dalam sekejap.


"Argh! Dasar syet*n! Aku bakal balas perbuatanmu!" hardik pria bernama Dhika itu.


Saat Yusuf dan Dhika masih sibuk berkelahi, kedua orangtua Tiara pun sudah kembali ke kamar inap puterinya.


"Astaghfirulah! Apa yang kalian lakukan?" teriak Sandra kaget.


"Ma, tolong tenangkan Tiara. Dia menangis," saking kagetnya, Sandra tidak menyadari, bahwa anaknya saat ini tengah menangis histeris di atas brankarnya dan melihat pertikaian sengit suaminya dan pria brengs*k itu.


"Kamu harus mati!" kata Yusuf sudah gelap mata.


"Yusuf, Nak! Sadar, Nak. Istighfar!" ingatkan Raihan. Seketika ,Yusuf pun menghentikan bogem mentahnya itu ke wajah Dhika yang sudah babak belur.


Pria itu menyeringai tanpa bersalah sama sekali, sementara Raihan langsung mengusap punggung menantunya dan menenangkannya sejenak.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa bertikai seperti ini?" tanya Raihan benar-benar bingung.


Bibir Yusuf pun ternyata berdarah karena terkena pukulan sengit dari Dhika tadi. Sementara kini, Dhika sudah duduk dan menenangkan dirinya sejenak di dekat sofa tanpa perasaan bersalah sama sekali.


"Dia melecehkan isteriku, Pa. Aku gak terima isteriku dibuat seperti itu olehnya!" adu Yusuf.


"Astaghfirullah! Kamu Dhika' kan? Kenapa kamu melakukan hal buruk itu pada puteriku, Nak?" kata Raihan menatap kecewa pada pria yang tengah duduk sambil menenangkan deru nafasnya.


"Saya sangat mencintai Tiara, Om. Apakah salah jika saya menginginkannya?"


"Tutup mulutmu, bedeb*h! Sampai kapan 'pun, aku gak sudi dicintai oleh pria sepertimu!" sungut Tiara yang sudah menghentikan tangisnya. Sementara Yusuf langsung memeluk isterinya, dan membawanya ke dalam dekapannya.


Sandra masih mematung di samping brankar dan akan menghampiri suaminya. Namun Raihan justru malah menghampiri Dhika dengan wajah tenangnya.


"Nak Dhika," kata Raihan berjongkok, dan mengusap kepala Dhika dengan lembut, "Lupakan Tiara, Nak. Kamu hanya terobsesi padanya. Itu bukan cinta, Nak. Carilah seseorang yang bisa membuatmu bahagia, bukan malah menghancurkan seseorang yang kau cintai. Jika kamu benar-benar cinta pada Tiara, maka kamu harus mengikhlaskan Tiara dengan kebahagiaanya, bukan seperti ini caranya," nasihati Raihan.


Dhika yang mendengarnya pun seketika tersentuh oleh ucapan Papanya Tiara itu. Lalu ia pun langsung menundukkan kepalanya. Entahlah, Dhika memang aneh.


"Om," Dhika pun menghela nafas sejenak, "Apa Dhika tidak ada kesempatan sama sekali untuk memiliki Tiara?" pertanyaan itu lagi-lagi membuat amarah Yusuf membara.


"Nak," kini Sandra yang berusaha memberikan pengertian pada anak kolega bisnisnya itu.


"Kamu sebenarnya butuh kasih sayang dan perhatian, kan? Apakah Ayahmu berlaku buruk padamu sehingga kamu tumbuh menjadi seperti ini?" tanya Sandra.


Entah kenapa, tiba-tiba saja Dhika terisak dan meluapkan amarah yang selama ini ia pendam dengan menangis. Mereka semua speechless dan membiarkan Dhika meluapkan emosinya itu.


"Maafkan aku, Tiara. Maafkan aku, Yusuf. Maafkan aku, Om, Tante," kata-kata itu lolos dari mulut pria yang saat ini tengah tergugu.


Seketika Raihan pun memeluk pria yang sebenarnya berjiwa kesepian itu. Sementara Sandra senang, kini Dhika bisa berdamai dengan takdirnya.


"Sayang, kamu gapapa 'kan?" kata Yusuf sambil membelai lembut wajah Tiara yang terlihat pucat itu.


"Nggak, Mas. Dia hanya menyentuh wajahku saja. Tapi, aku merasa sangat ternodai. Maafkan aku, Mas," kata Tiara tak enak dan kini ia menundukkan wajahnya di hadapan Yusuf.


"Sayang," Yusuf pun membawa kembali tubuh Tiara ke dalam dekapannya. Lalu ia cium kening Tiara dengan penuh kehangatan dan mengelus punggung sang isteri yang nampak bergetar itu.


"Kamu harus diobati dulu, sayang. Lihatlah, tanganmu terluka," kata Yusuf mengakhiri adegan pelukannya.


"Mas, juga." kata Tiara menyentuh bibir Yusuf yang nampak sedikit berdarah di sisi kanannya.


"Luka ini kecil, sayang. Mungkin akan segera sembuh jika...," di suasana seperti itu saja, Yusuf masih sempat-sempatnya bertingkah mesum.


"Ish, dasar otak porno. Udah ah, kamu gak malu apa. Di sini masih ada mereka," kata Tiara sambil melirik ke arah Mama dan Papanya yang masih terlihat setia menenangkan Dhika dari jarak yang lumayan jauh dengannya.


"Dhika... Kalau kamu butuh bantuan kami. Kami siap membantumu, Nak. Kamu anak baik. Jadi, sudahilah semua ini, ya?" ujar Raihan mencoba mengarahkan Dhika ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


"Tolong pesantren 'kan saya, Om. Bila perlu, saya ingin hijrah di Arab Saudi," ucapnya begitu keras. Sontak, Tiara dan Yusuf yang ada di brankar pun kaget mendengar penuturan Dhika yang tidak mereka sangka sama sekali.


***


__ADS_2