Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 40


__ADS_3

"Rayn! Ah. Tidak!" Tiara pun menangis histeris, karena Rayn yang harus tertembak. Akhirnya para gengster itu pun diringkuk oleh Polisi yang baru saja datang, tepatnya setelah Rayn tertembak.


"Rayn! Sadar! Kamu harus kuat!" tangis Tiara pun semakin keras, hingga Rere dan Mega pun terbangun dari pingsannya.


"Tiara? Rayn? Astaghfirullah! Apa yang terjadi?!" seketika Rere membelalakan matanya, begitupun Mega yang nampak langsung terkejut.


"Teman kalian yang sudah menembak Rayn seperti ini. Puas kalian?!" ungkap Tiara emosional.


Yusuf pun yang nampak lumayan babak belur langsung menenangkan Tiara yang sedang marah-marah. Sedangkan Zae terpaku di tempat. Ia nampak syok melihat Rayn yang sudah bersimbah darah, bahkan banyak sekali sehingga para tim medis dan ambulance pun melakukan transputasi darah di tempat kejadian.


"Hiks, Rayn! Bertahanlah!" Rere pun menangis, begitupun Mega. Mereka nampaknya tidak tahu, bahwa teman SMA-nya itu memiliki alat senjata seperti pistol. Kini, mereka pun hanya pasrah melihat Rayn yang sedang ditangani oleh tim medis.


"Kalian ngapain juga sih ke sini? Mana sama laki-laki modelan kayak mereka? Untung kami segera menolong kalian, coba kalau kalian kenapa-napa?! Kenapa sih kalian keras kepala sekali, coba dengarkan dulu penjelasan aku tadi siang. Pasti kejadian ini gak bakal terjadi," ungkap Tiara sambil gemetar. Bagaimanapun Rayn telah menyelamatkan nyawanya saat itu.


"Maafkan kami, Ti. Maafkan kami. Ya Allah, hiks!" ungkap Mega yang terus terisak.


"Sudahlah, Ti. Kita lihat saja perkembangan Rayn ke depannya. Jangan saling menyalahkan," ujar Yusuf menenangkan.


"Maaf, apakah kalian saudara pasien?" ungkap seorang dokter yang saat itu baru tiba di lokasi. Lalu segera memeriksa Rayn yang masih dalam tahap ditangani.


"Iya, Dok. Saya! Bagaimana keadaan Rayn sekarang?" ucap Tiara dengan sigap.


"Pasien harus segera di operasi secara darurat, apa tidak apa-apa tempatnya di sini sekarang juga?" ujar Dokter meminta izin.


"Itu tidak apa-apa kan Dok? Maksudnya operasi di luar ruangan apa tidak akan terkena infeksi atau berakibat fatal? Pokoknya, saya mohon, lakukanlah yang terbaik," ucap Tiara.


"Tidak, Mbak. InsyaAllah, operasi darurat ini akan ditangani oleh saya sendiri, kebetulan saya sudah terbiasa melakukannya di luar ruangan. Soalnya, jika pasien tidak segera ditangani, kemungkinan besar nyawa pasien tidak akan tertolong." jelas Dokter.


"Astaghfirullah, pokoknya lakukan yang terbaik! Jika operasi darurat ini bisa menyelamatkan nyawa saudara saya. Lakukanlah!" pinta Tiara dengan wajahnya yang berkaca-kaca.


"Baiklah, kami akan melakukan yang terbaik." pamit Dokter yang langsung mengeksekusi tempat pengoperasian darurat untuk Rayn.


"Huhu, aku takut Rayn kenapa-napa. Kenapa harus ada kejadian seperti ini sih. Ini ngingetin aku waktu kamu ditikam oleh Dhika" tangis Tiara dalam pelukan Yusuf.


"InsyaAllah, Rayn akan selamat. Kita do'akan saja yang terbaik. Oya? Apakah kamu saat itu, mengkhawatirkanku juga seperti ini?" goda Yusuf.


"Ih, lagi serius-serius juga. Ya iyalah khawatir. Aku tuh kayak yang berhutang nyawa banget sama kamu. Nakal! Kok ya katanya kamu bisa bela diri, tapi ketubles juga akhirnya, huh!" ungkap Tiara yang langsung memukul pelan dada bidang Yusuf.


"Auh, sakit tau. Itu kan sudah takdir, mana mungkin aku menghindari takdir tersebut. Mungkin kita tidak akan saling mengenal, jika kejadian itu tidak pernah terjadi,"


"Hem, ko bisa ya, cinta tumbuh dari sebuah insiden," gumam Tiara begitu saja.


"Wah, berarti kamu sekarang udah cinta ya sama aku?" goda Yusuf lagi.

__ADS_1


"Nggak! Kata siapa? GR!" tolak Tiara yang saat ini harga dirinya serasa jatuh.


"Alah, tadi kamu juga udah lihai loh balas ciuman aku. Apalagi coba kalau bukan cinta," bisiknya dengan nada menggoda.


"Hish! Udah ah, jangan dibahas! Kamu nyebelin!" Tiara pun melepaskan pelukannya. Lalu ia pun segera menghampiri dua sekawannya itu yang nampak masih terkejut atas kejadian Rayn.


**


**


"Ti. Maafkan kami, ya!" ucap Rere memelas.


"Iya, aku juga. Maaf kalau tadi siang kami egois," timpal Mega.


"Coba ceritakan, kalian ko bisa ke pulau ini? Sama mereka lagi," ucap Tiara menginterogasi.


"Awalnya kami hanya kerja kelompok saja, Ti. Sungguh! Lalu setelah kejadian siang tadi, kami kesal kan pada kalian. Nah, mereka tiba-tiba aja ngajakin kita ke pulau ini. Ya kami terima aja. Mana perasaan kami sedang dongkol. Ya kami pengen-lah refreshing," jelas Rere.


"Nah, kami juga gak nyangka, bahwa mereka akan selicik itu. Kami tiba-tiba saja tak sadarkan diri setelah minum es jeruk. Bukan alkohol loh. Kami juga masih tau batasan kok. Dan akhirnya, begini deh, Ti. Kami salah, kami menyesal. Maafkan kami," timpal Mega.


"Ya Allah. Lain kali, kalian jangan dikit-dikit marah dong. Aku juga sempat kaget, gak biasanya loh kalian begini. Kita doakan saja, semoga Rayn sehat kembali,"


Tiba-tiba saja, mereka melihat dokter sedang berlarian.


"Sus, kenapa ya?" tegur Rere yang nampak langsung ke lokasi Rayn yang sedang melakukan operasi.


"Pasien mengalami kejang-kejang saat proses pengoperasian. Lalu, pasien pun ternyata masih kekurangan darah. Kami sedang mengambil stock darahnya di ambulance. Kalau begitu, permisi!" ucap suster itu yang langsung berlari ke arah ambulance.


Tut.. Tut.. Tut..


"Tolong ambilkan Defibrillator," perintah sang Dokter yang sedang mengoperasi.


Dug! Dug! Dug!


Alat kejut jantung itu pun beberapa kali dihentakan pada dada Rayn. Namun detak jantung Rayn tak kunjung normal kembali. Hal itu membuat para tim medis harap-harap cemas.


"Dok! Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa teman saya tak kunjung sadar?!" ucap Tiara yang saat itu sudah tiba di tempat pengeksekusian operasi Rayn.


"Dok!" geretak Rere juga.


Deg!


"Maafkan kami, ini di luar kendali," ungkap Dokter yang sudah pasrah, bahwa detak jantung Rayn seketika berhenti.

__ADS_1


"Dok! Katanya mau menyelamatkan nyawa teman kami? Tidak! Ini salah kan?!" mereka pun menangis bersama dalam keheningan. Namun tiba-tiba saja, ada keajaiban menghampiri mereka.


"Alhamdulillah, detak jantung saudari Rayn sudah kembali lagi atas pertolongan-Nya. Untuk tahap selanjutnya, mungkin kami akan membawanya ke rumah sakit sekarang," ungkap Dokter yang sedari tadi sudah cemas mengenai kondisi pasiennya.


"Alhamdulillah," mereka pun menghela nafas lega bersamaan.


Di sisi lain, tepatnya di tepian pantai yang tak jauh dari tempat lokasi Rayn yang sedang di operasi.


"Zae!" tegur Yusuf. Ia melihat temannya itu sedang bersedih dan menatap laut malam dengan sendu.


"Alhamdulillah, Rayn selamat." ujar Yusuf kembali.


"Beneran?" seketika wajah Zae berbinar.


"Lo beneran suka sama dia?" selidik Yusuf.


"Gak tau, rasanya hati gue damai aja kalau liat dia. Padahal baru juga kenal. Kira-kira, ini cinta bukan sih?" ungkap Zae meminta pendapat.


"Kayaknya sih iyah. Tapi, lo buktiin dulu aja sampai beberapa bulan. Konon kalau beneran cinta, terus selama empat bulan kamu masih ada rasa sama dia. Itu cinta,"


"Sulit banget kalau udah bersinggungan sama cinta. Bisa gak sih kita tuh hidup tanpa cinta? Keknya serba salah aja. Gue kadang buta sama tuli kalau udah cinta," keluh Zae.


"Nggak bisa lah. Di dalam agama gue, cinta itu mutlak harus diberikan sepenuhnya pada Sang Maha Pencipta. Meskipun gue istilahnya, cinta banget sama bini, tapi kalau dia-nya gak cinta. Gue bisa apa? Bahkan di titik terakhir, bini gue minta cerai terus. Gue ikhlasin ke Allah. Kalau memang bukan jodohnya, ya sudah. Berikanlah jalan untuk berpisah. Eh, gak disangka, Allah malah makin deketin hubungan gue sama bini. Kalau bukan karena kasih sayang Allah yang melimpahkan rasa cintanya pada kami, apa coba? Kalau dipikir logika, gaakan nyampe,"


"Tau ga? Kadang gue tertarik masuk agama lo. Tapi kalau nyokap tau, auto diusir deh dari rumah. Mereka sangat sulit untuk bertoleransi, padahal dari dulu gue mikir. Apa iya Tuhan yang gue sembah itu benar? Entahlah, gue bingung sendiri,"


"Yaudah. Mending sekarang lo mantepin dulu aja keyakinan hati lo. Jangan dulu mikirin masalah, nyokap bakal murka apa ngga ya? Atau apalah itu. Yakin, dengan sendirinya jawaban itu pasti ada,"


"Thanks ya Suf. Lo gak maksa gue untuk percaya keyakinan lo. Begitupun tidak menyalahkan keyakinan yang gue anut. Kalau suatu saat gue udah mantap sama pilihan gue, tolong bimbing ya?" pinta Zae.


"Pasti! Lo bisa datangin gue, kapanpun dan di manapun itu. Jangan sungkan." ungkap Yusuf tersenyum.


"Eh, mau nyusul ke rumah sakit ga? Istriku dan teman-temannya udah ke sana tuh,"


"Gass!"


...----------------...


Penjelasan:


🕊️Halodoc, Jakarta – Defibrillator adalah perangkat yang memberikan kejutan listrik ke jantung, untuk mengatasi irama jantung abnormal yang berpotensi fatal (aritmia). Alat ini juga umum digunakan pada pengidap henti jantung atau ventrikel agar detak jantung kembali ke ritme normal.


🕊️ Di cerita ini, Rayn menggunakan Defibrillator manual, yakni alat yang digunakan oleh profesional kesehatan, misalnya di ambulance atau unit gawat darurat. Pengoperasian darurat ini memang jarang terjadi, alias hanya di saat-saat tertentu saja. Jika dalam beberapa menit pasien tidak segera ditangani, maka nyawa pun menjadi taruhannya. Makanya di scene ini Rayn mau tidak mau harus dioperasi dalam keadaan darurat.

__ADS_1


🕊️


__ADS_2