
"Astaghfirullah. Istriku, bertahanlah!" kata Yusuf sambil membopong istrinya ke dalam mobil dan mereka akan langsung di bawa ke rumah sakit terdekat yang ada di sekitar sana.
"Ya Allah, aku gagal menjaga istriku. Keningmu sampai berdarah gini." gumam Yusuf lagi dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka segera disambut para perawat yang mendorong brankar untuk Tiara. Lalu Yusuf pun ikut mendorongnya sembari mengenggam kuat lengan sang dara, berharap tak ada sesuatu yang parah apalagi sampai di operasi.
Namun dari kejauhan, terlihat seseorang sedang mengawasi keduanya sambil menyeringai. Entahlah. Apa maksudnya dan kenapa ia melakukan begitu pada mereka. Yang pasti, orang itu tak senang melihat kebahagiaan kedua pasutri itu.
Sambil mengepalkan kedua tangan ke dagu, diiringi tangan yang terus bergetar. Yusuf terus saja gelisah karena dokter tak kunjung muncul dari ruang UGD. Ia terus mondar-mandir, tak lama ia duduk kembali. Terus saja begitu, karena saking khawatirnya ia pada kondisi sang dara.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan itu sembari mendatangi Yusuf yang sudah sangat stand by di depan kamar UGD.
"How is my wife's current condition doctor? (Bagaimana keadaan istri saya saat ini, Dokter?)" kata Yusuf tidak sabaran.
"Pasien sedikit mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepalanya. Hal itu mengakibatkan pasien mengalami geger otak. Tapi Anda tidak perlu khawatir, pasien akan segera pulih, karena ini merupakan cedera yang tergolong ringan dan tidak membahayakan pasien," terang Dokter dalam bahasa Inggris.
Ya, karena mereka sedang di Turki. Jadi Yusuf pakai bahasa Internasional saja. Di mana, bahasa Inggris cenderung dipakai di negara mana pun. Maka Yusuf pun yang notabenenya kurang dalam menguasai bahasa Turki, memilih untuk menggunakan bahasa Inggris.
"Can I see her already? (Saya sudah bisa menjenguknya?)" tanya Yusuf lagi.
Mukanya terlihat sangat khawatir. Meskipun didiagnosis cedera yang ringan, tapi tetap saja istrinya itu terluka.
"Yes. We will transfer the patient to the inpatient room first (Ya. Kami akan pindahkan pasien ke ruangan rawat inap terlebih dahulu),"
Yusuf pun mengangguk dan dia pun segera melihat istrinya yang tengah didorong brankar dari kamar UGD menuju kamar inap yang telah ia selesaikan saat melakukan administrasi.
Saat ini sepasang suami istri itu sudah di ruang kamar inap. Matanya mulai memanas saat melihat sang istri pucat dan lemas tak berdaya di atas brankar. Kini, tangan sang dara ia pegang kuat-kuat, lalu ia letakkan diwajahnya sedangkan dirinya sedang tergugu sambil memejamkan matanya degan perasaan yang begitu sesak di dadanya.
Tiba-tiba, tangan sang dara mulai bergerak. Ya, Yusuf bisa merasakannya. Segera ia memandang ke arah isterinya yang seperti akan siuman, lalu isterinya pun perlahan membuka matanya.
Segera tangan Tiara yang lemas itu mengusap lembut wajah sang suami. Ya, dia tak ingin suaminya menyalahkan dirinya sendiri. Menurutnya, dialah yang tidak hati-hati.
"Mas," lirihnya sangat pelan.
"Iya sayang. Maafkan Mas ya. Gara-gara Mas, kamu harus mengalami ini semua," kata Yusuf dengan wajah sendu.
Tiara malah menggeleng, "Nggak, Mas. Ini salahku. Bukan salahmu," ungkapnya sambil tersenyum lemas.
Segera Yusuf memeluk isterinya itu, lalu dia pun menangis di sana. Tiara langsung mengusap punggung suaminya yang bergetar itu.
__ADS_1
Namun, saat moment haru itu terjadi. Tiba-tiba Tiara menjerit dan itu mengarah ke arah perutnya.
"Auwh," ucap Tiara meringis.
"Mas. Sakit!" katanya lagi.
Yusuf yang menyadari itu, tiba-tiba ia terkejut karena darah mengalir begitu banyak di atas dipan brankar.
"K-kamu.. Haid sayang?" kata Yusuf yang tak mengerti dengan situasi tengah terjadi.
Tiara menggeleng, iya terus saja meringis kesakitan. Segera Dokter dipanggil ke ruangan itu dengan bel yang tersedia di kamar itu.
"Ini kenapa Dok? Istri saya kenapa?" Yusuf terlihat begitu panik dan tak sabaran saat Dokter baru saja tiba ke kamar inap istrinya.
"Dok!" kata Yusuf lagi menyentak.
"Isteri Anda mengalami keguguran," kata Dokter itu tak enak hati.
Deg!
Seketika Yusuf pun luruh ke lantai. Begitupun Tiara yang meskipun kesakitan tiba-tiba ia menangis dalam perihnya.
Ya, meskipun dirinya sempat bilang pada suaminya bahwa dia belum mau mengandung. Tapi, ini kan rezeki. Rezeki terindah yang Allah titipkan pada mereka yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya penjagaan.
Namun kini, Yusuf merasa bersalah yang kedua kalinya. Ya, dia tergugu juga. Tangisnya pecah. Ia seakan tak becus menjadi suami. Bagaimana bisa dia tidak menjaga dengan baik isteri dan calon anaknya itu.
Kalau waktu bisa berputar kembali. Ia berjanji akan terus mengawasi isterinya agar tak ada satu pun yang menyentuhnya maupun mencelakainya.
Astaghfirullah. Yusuf telah menyalahkan takdir. Kini ia berusaha lebih tegar dari sang isteri. Dia harus menguatkan isterinya terlebih dahulu. Kalau tidak dia, siapa lagi yang akan menguatkannya.
Dengan langkah yang gontai ia hampiri sang isteri yang tengah dibersihkan darahnya oleh perawat. Lalu isterinya pun dibopong ke brankar sebelahnya dan segera ditidurkan, namun lagi-lagi keduanya beradu pandang dengan wajah yang sendu.
Ya, kini mereka pun berpelukan kembali dengan tangis yang begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Mereka menyesali kecerobohan mereka dan terus menguatkan diri bahwa ini sudah menjadi takdir mereka. Mereka harus menerimanya.
Ternyata sang istri telah hamil semenjak dua minggu yang lalu. Pantas saja Tiara merasa ganjal dengan hitungan haidnya yang terasa tidak pas. Apalagi dirinya memang sering telat haid sebelumnya. Jadi, siklusnya itu memang tidak beraturan.
"Mas. Maafin aku!" ucapnya, ia begitu menyesali kecerobohannya.
"Mas yang harusnya minta maaf. Maaf karena tidak bisa menjagamu dan calon anak kita dengan baik. Maafkan suamimu yang tidak telaten ini," kata Yusuf tersedu-sedu, namun Tiara tidak setuju dengan penuturannya.
__ADS_1
"Sudahlah, Mas. Tidak ada satu pun di antara kita yang harus disalahkan. Ini sudah takdir. Ini sudah ketetapan gusti Allah. Mungkin suatu hari nanti, kita akan dikasih yang lebih baik lagi dari ini. Mungkin ini teguran bagi kita, bahwa kita harus lebih berhati-hati dan jangan sekali-kali lagi bertindak ceroboh seperti sekarang," ucap Tiara menguatkan, walau dirinya sakit dengan apa yang ia ucapkan.
Yusuf pun melepaskan pelukannya, lalu ditataplah wajah cantik yang telah memberikannya kebahagiaan selama ini. Lalu ia pun mengecup kening isterinya begitu lama. Sangat lama.
Ia bangga. Ia mulai menyadari, bahwa pilihan hatinya sejak awal memang tidak salah. Ya, kini dia bahagia karena telah menemukan tulang rusuknya yang telah ia cari selama ini.
Jodoh yang telah Allah persiapkan semenjak masih di lauhul mahfudz. Jodoh yang sering ia doakan kedatangannya dan ia nantikan pertemuannya.
Ya, kini dia ada di hadapannya. Wanita yang mungkin semua orang meragukannya, karena wanitanya ini memang agak lain dari yang lain.
Tapi dia begitu istimewa. Yusuf selalu candu pada apapun yang ada pada diri sang dara. Sampai kini moment yang seharusnya mereka sambut dengan air mata bahagia, namun malah berujung derai air mata yang menyisakkan sesak di dada.
Sang isteri yang sejak awal tak mau peristiwa ini terjadi, namun sekarang dia malah begitu sangat kehilangan. Ya, Yusuf yakin, hatinya kini sedang terluka dan itu terlihat dari sorot matanya yang penuh dengan rasa penyesalan.
"Maaf. Tapi.. Bagaimana kita mengatakan ini semua pada orangtua kita," ucap Tiara tiba-tiba.
"Kita jujur saja dan ceritakan yang sebenarnya. Bukankah itu lebih baik? Mungkin ini kesalahan kita juga, karena ya masing-masing dari kita pun tidak ada yang menyadarinya bukan? Bodohnya, harusnya aku sadar bahwa kamu sedang hamil, tapi aku tak melihat tanda-tanda itu dan baru merasakannya tadi, saat kamu begitu lahap ketika makan di rumah warga Turki tadi," sahutnya.
"Mas, maaf," cicit Tiara lagi dengan perasaan yang masih tetap mendekel dihatinya.
"Tidak apa-apa, sayang. Sudah. Jangan nangis lagi. Kita bisa membuatnya lagi nanti. Biarkan anak kita tenang di sana. Mungkin dia akan menjemput Mommy dan Daddy-nya kelak di Surga. Kita doakan, semoga dia memaafkan kesalahan kita dan juga Allah pun mengampuni kita, atas kelalaian kita ini," kata Yusuf menenangkan.
"Aamiin." sahut Tiara sambil menghela nafasnya sejenak.
"Mas, tuh ada dering telepon," kata Tiara yang kebetulan sedang melirik ke atas nakas dan ia dapati ponsel Yusuf ada yang menelpon.
Yusuf mengrenyitkan halisnya, ia rasa ia tak mengenali nomor telepon tersebut.
"Abaikan saja. Mungkin dia orang iseng lagi yang akan menganggu keharmonisan rumah tangga kita," kata Yusuf cuek.
"Tapi Mas...,"
"Sudahlah. Kamu harus cepat sembuh. Mas tidak ingin kamu berlarut-larut lagi dalam kesedihan ini,"
"Ko aku merasa berat banget ya? Apa iya bakal ada calon anak kita, kalau tadi aku tidak keguguran?" ucap Tiara mengenang kembali suasana itu.
"Sayang. Sudah ya. Kamu jangan banyak pikiran. Ini mungkin berat bagi kamu. Tapi, kamu harus bisa melewatinya dengan baik." Yusuf pun segera mengelus pucuk hijab Tiara dengan lembut.
Ia sengaja tak menampik lagi perkataan isterinya. Ia takut, isterinya akan terus kepikiran. Ia berharap, sang isteri bisa mengikhlaskannya. Walau berat, dan dia juga sama terluka. Tapi inilah salah satu cara agar mereka ikhlas dengan takdir yang memang mendadak mengejutkan ini dan harus segera berdamai, agar Allah pun bisa menggantikannya dengan hal yang lebih baik lagi suatu saat nanti.
__ADS_1
...----------------...