Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 30


__ADS_3

"Jadi, mobil yang di belakang kita tadi tuh, mobilnya pak penghulu?" ucap Tiara tak percaya.


Bagaimana mungkin dirinya yang masih SMA harus nikah saat ini juga. Ya, walaupun Yusuf hanya berbeda tujuh tahun darinya. Tetap saja, yang namanya pernikahan itu, tidak bisa dipaksakan apalagi dijodohkan seperti ini. Sungguh, tak ada dalam daftar kamus Tiara untuk menikah di usia mudanya.


"Iya." jawab sang Mama singkat.


"Ah, nyebelin! Tiara kabur sekarang juga!" ungkapnya yang langsung saja berdiri dan berlari ke arah pintu.


"Eits. Mau ke mana, sayangku." cegah Papanya yang sudah stand by di balik pintu luar.


"Papa? Ga tau ah! Kalian ngehancurin hidup Tiara. Aku benci kalian! Kalian gak sayang sama Tiara!" ungkapnya yang terus menagisi takdirnya, air matanya pun terus bercucuran tanpa henti. Kini ia memberontak sambil memukul dada Raihan dengan sangat keras.


Sang Papa pun hanya bisa pasrah dipukuli begitu oleh anaknya, hingga akhirnya Tiara pun pingsan dan orang-orang di sana pun nampak bersalah karena telah memaksa Tiara untuk menikah hari itu juga.


"Bagaimana ini, apa pernikahan ini akan tetap dilaksanakan?" ucap pak Penghulu yang nampak memperhatikan situasi, bahwa penganti wanita menolak untuk menikah.


"Ya, Pak. Laksanakan saja pernikahan ini." ucap Raihan berat hati. Meskipun Tiara tidak ada di sana, namun pernikahan akan tetap sah, karena mempelai wanita bukan salah satu syarat sahnya akad nikah.


Sebenarnya ia tak tega karena telah menikahkan anaknya secara mendadak ini. Namun, saat dirinya teringat putri sulungnya, juga kejadian Tiara kemarin. Hatinya terasa diremas, ia takut bahwa suatu saat kejadian buruk itu akan menimpa Tiara lagi. Maka ia memutuskan, untuk menikahkan Tiara pada anak sahabatnya itu, karena ia yakin, mereka akan mendidik Tiara lebih baik lagi, selama di Pesantren.


"Bagaimana saksi?" ucap Pak Penghulu.


"Sah!"


"Sah!"


"Alhamdulillah," ucap mereka serempak, kecuali Yusuf yang merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga Engkau Ridhoi pernikahan ini dengan penuh rahmat dan kasih-Mu. Sungguh, hamba tak tahu takdir-Mu akan membawaku dan istriku ke mana. Tapi hamba yakin, Kau adalah perancang terbaik. Maka, ku serahkan hidup dan matiku ini seluruhnya padaMu. Hampa pasrah dan tawakkal kepada-Mu. Wahai Rabb, Semesta Alam." lirihnya dalam hati.


Yusuf pasrah, bagaimanapun pernikahannya ini pasti tidak akan berjalan mulus, secara sang istri belum tentu menerima dirinya sebagai suami. Perjodohan dan keterpaksaan ini harus dialami istrinya, tentu dia sebagai suami sangatlah bersalah. Tapi ia harus manut pada orangtuanya. Bagaimanapun, pernikahan ini telah disepakati oleh kedua keluarga masing-masing pihak. Maka, mau tidak mau ia harus siap membimbing istrinya itu sesulit apapun, dalam menerima takdir yang telah terjadi ini.


**


**


"Auh, di mana ini?" ringis wanita itu sambil memegang kepalanya. Saat itu ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya.


"Hei, kok kamarnya aesthetick begini. Aku di mana sih?" gumamnya heran. Ia pun memindai setiap sudut ruangan itu.


Ruangan itu nampak seperti kamar pria, walau dindingnya itu perpaduan antar warna abu dan putih. Tapi ia bisa merasakan, bahwa ia saat ini berada di kamar yang asing.


Jleb! Seketika ia terkejut, ada seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Hei, kamu! Yusuf!" ungkapnya terkejut sambil menutup matanya begitu erat.


"Kamu sudah halal melihatku begini kok, bahkan kalau mau lihat lebih dari itu. Aku siap." godanya pelan.


Lalu ia pun menuju ke ruangan khusus untuknya berganti baju. Ia masih senyum-senyum sendiri, karena istri kecilnya itu ternyata sudah bangun, bahkan melihat badannya yang kekar itu.


"Apa maksudnya? Ih, stress emang." gumamnya sebal.


"Eh, apa iya aku di kamar Yusuf? Ngapain coba? Apa beneran mereka nekad nikahin aku?" ucapnya sambil melotot tak percaya.


Saat dirinya telah menebak-nebak berbagai kemungkinan yang terjadi. Hingga tak disadari, pria berperawakan tinggi itu sudah mendekat dan berjalan menuju ke arahnya. Tiara pun refleks menjauh dan mencoba menghindar karena sang Pria malah sengaja mendekatinya.

__ADS_1


"Kamu apaan sih! Dosa tau deket-deket aku kayak gini." ucapnya yang langsung menutup seluruh tubuhnya oleh selimut. Sementara pria itu malah tersenyum dan duduk di sisi ranjang.


"Ti. Kita sudah sah menjadi suami istri. Kamu harus menerima kenyataan ini," ucapnya tenang. Yusuf pun memandang istrinya yang nampak sedang ketakutan itu.


"Nggak! Itu bukan keinginanku. Sampai kapanpun aku gak bakal nerima kamu jadi suamiku!" sulutnya penuh emosi.


Sementara Yusuf dengan sangat sabarnya menerima amukan dan makian yang dilontarkan oleh Tiara. Bagaimanapun, ia telah memprediksi ini semua. Ia juga telah siap, andai dirinya harus lebih sabar lagi menghadapi Tiara. Secara ini kan pernikahan satu sepihak saja, tanpa adanya cinta, tanpa adanya saling punya rasa antar kedua belak pihak.


"Ya sudah. Kamu segera mandi gih. Bentar lagi ashar. Aku ke masjid dulu ya!" ia pun mengusap pucuk hijab Tiara itu dengan lembut, namun oleh dara itu langsung ditepis dengan kasar.


"Sana pergi!" ucapnya yang langsung menangis kembali. Tentu hal itu membuat Yusuf semakin bersalah.


"Apa aku tak semenarik itu di mata dia? Hingga dia terus saja menolak aku sampai saat ini?" gumamnya sambil menutup pintunya pelan.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Dia terus menangisi takdirnya. Ia merasa dunia memang sangat tidak adil padanya. Ia mengutuki kedua orangtuanya juga. Ia merasa, ia sudah tidak ada artinya lagi hidup juga.


"Mama.. Papa.. Kalian benar-benar orang paling jahat yang pernah ada!" racaunya yang terus menangis dibalik selimutnya.


Sementara Mama dan Papa Tiara ternyata sudah balik lagi ke Thailand. Keduanya mendadak ada meeting yang tak bisa ditinggalkan dan hal itu tentu membuat mereka semakin bersalah karena ia tak bisa berpamitan terlebih dahulu dengan anaknya yang sudah sah menikah dengan pria pilihan mereka.


"Ma.. Kita harus siap dibenci anak kita." ucap Raihan pasrah.


"Iya. Mama juga merasa sangat bersalah. Tapi gimana lagi. Hiks." Sandra pun menangis di sandaran bahu suaminya. Sebenarnya mereka pun tak tega, namun keadaan memaksanya untuk seperti itu.


Mungkin sudah menjadi takdirnya juga, bahwa puteri kecil mereka harus menikah di usia yang masih di bawah umur itu. Yap, kali ini dinas mereka selama di luar negeri akan memakan waktu yang lama. Ditambah kehadiran Yusuf yang akan membantu kerajaan bisnis mereka. Tentu, menitipkan Tiara di pesantren, tepatnya di rumah besannya adalah sebuah pilihan yang tepat.


"Mama harap, lambat laun Tiara akan menerima keputusan kita ini. Semoga Allah melunakkan hatinya."

__ADS_1


"Ya. Semoga saja, Ma."


...----------------...


__ADS_2