Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 39


__ADS_3

"Kita berasa jadi nyamuk gak sih di sini?" ujar Rayn yang nampak kesepian sendiri.


"Nasib-nasib. Niatnya mau liburan, eh harus liat yang pada mesra-mesraan. Ya pasti begini," timpal Zae. Sontak, Tiara pun yang sedang dihuapi Yusuf malah mengatupkan mulutnya, lalu tersenyum ke arah Zae dan Rayn.


"Iri bos? Nikah dongg!!" sahut Yusuf yang semakin memamerkan kemesraan di hadapan kawannya.


"Belum unboxing aja bangga. Huh!" ujar Zae yang nampak ketawa puas melihat Yusuf yang wajahnya semakin memerah.


"Uhuk-uhuk!" Tiara pun tersedak.


"Eh, hati-hati," kata Yusuf yang langsung menyodorkan es kelapa pada Tiara. Sedangkan Rayn dan Zae malah cekikikan.


"Alhamdulillah, pacaran kami halal. Insya Allah berpahala. Jadi, kami nikmati saja prosesnya. Toh, mau ngapain juga bebas. Iya gak, sayang?" ujar Yusuf yang minta pembelaan pada Tiara.


"Hehe, betul. Eh, makasih loh air kelapa dinginnya. Uh, segerrr bangettt. Kebetulan tadi pagi aku kram, sekarang jadi mendingan lah," ucap Tiara yang langsung menghabiskan air kelapanya itu.


"Kamu kram di mana? Beneran udah membaik? Gak perlu ke rumah sakit kan?" tanya Yusuf yang nampak mengkhawatirkan kondisi tubuh istrinya. Ia pun menyentuh seluruh tubuh Tiara dengan instens, sontak Rayn dan Zae pun memalingkan pandangan mereka, karena Yusuf memang terlalu bucin.


"Eh nggak kenapa-napa, asli! Emang cewek mah suka gini kalau lagi haid," balasnya yang langsung tertawa pelan. Lalu menyingkirkan tangan Yusuf yang meraba seluruh tubuhnya.


"Nanti dong di kamar begituannya. Inget! Ini di tempat umum," tegur Zae yang semakin jengah melihat tingkah Yusuf.


"Haduh, jadi serba salah. Yaudah deh. Udah maghrib juga. Aku mau shalat dulu ya!" pamit Yusuf pada ketiga orang di sana. Kebetulan Rayn dan Tiara sedang halangan, sementara Zae memang bukan muslim.


"Ti! Kamu tau gak? Rere sama Mega lagi di sekitar sini juga," bisik Rayn sambil memperlihatkan lokasi keberadaan dua sahabatnya.


"Masa sih? Serius? Kita samperin yuk!" ajak Tiara yang langsung berdiri dan bersiap mencari Rere juga Mega.


"Eh, jangan dulu deh. Kita bareng-bareng aja sama Yusuf. Hati-hati loh. Gimana kalau mereka masih marah kayak tadi siang? Gak takut emang sama geng gengsternya?" peringatkan Rayn agar mereka berhati-hati.


"Ada apa?" Zae yang mendengarkan perdebatan kecil itu langsung menyambar obrolan keduanya. Ia nampak tertarik dengan kata-kata gengster. Maklum, anak hukum ya gatel kalau menyangkut paut keamanan masyarakat.


"Ini. Jadi kami tuh empat sekawan. Aku, Tiara, Rere, sama Mega. Kebetulan siang ini kami saling salah paham. Ya, begitu deh. Kira-kira, kalau kami menghampiri mereka. Masih marah gak ya?" ujar Rayn meminta pendapat Zae.


"Saling salah paham gimana? Kenapa coba sampai musuhan?" selidik Zae yang nampak paham induk permasalahanya.


"Enak aja, bukan musuhan. Kami hanya bertengkar saja. Merekanya yang nggak mau denger klarifikasi Tiara. Gara-gara anak ini sih gak mau jujur ke mereka. Jadinya pada marah," ucap Rayn sambil melirik ke arah Tiara.


"Dasar cewek. Pasti permasalahan kecil pun di besar-besarkan. Gak aneh sih. Kadang aku selaku cowok jengah aja dengan perilaku cewek. Makanya aku males berhubungan sama cewek. Paling kalau lagi ada maunya aja," celetuk Zae membongkar kebiasaannya.


"Maunya aja gimana? Tunggu! Kamu pemain wanita?" tebak Rayn tidak percaya.

__ADS_1


"Hem, lebih tepatnya mencari wanita hiburan saja. Kan cowok perlu lah menyalurkan hasratnya," ujar Zae tanpa dosa.


"Ih, Zae." Tiara pun nampak begidik ngeri mendengar penuturan Zae.


"Oh, aku kira kamu tidak begitu," gumam Rayn santai.


"Kenapa? Kamu makin gak mau ya sama aku?" tanya Zae pada Rayn.


"Kita sama!"


"Maksudnya?"


"Eh, kita mau ke mana lagi nih?" sapa Yusuf yang nampak sudah beres menunaikan ibadah shalat Maghribnya.


"Anterin aku yuk, ketemu Rere sama Mega. Mau ya?" pinta Tiara memelas. Ia pun sedang memberikan kesempatan pada Rayn dan Zae untuk saling berbicara dari hati ke hati.


"Emang mereka lagi di sini juga?" balas Yusuf.


"Iya! Yuk ah, lets go!" Tiara pun segera menarik lengan Yusuf, lalu meninggalkan Rayn dan Zae yang masih terdiam untuk sesaat.


**


**


"Kenapa bisa masuk ke dunia malam?" tanya Zae sekali lagi. Ia nampak masih terkejut dengan fakta yang diungkapkan Rayn.


"Ceritanya panjang. Makanya, aku merasa tidak pantas untuk siapapun. Saat ini, aku hanya ingin memperbaiki diri saja di Pesantren. Semoga Allah mengampuniku," ucapnya sambil menunduk dan tak kuasa melihat Zae yang ada dihadapannya.


"Semua orang memiliki masa lalu yang buruk. Tak semua orang mampu bangkit dan menyadari kesalahannya tersebut. Aku bangga sama kamu, meskipun kamu seperti itu. Kamu mau menyadarinya dan berusaha memperbaikinya. Lanjutkanlah, semoga kehidupanmu lambat laun berubah menjadi lebih baik lagi ya!" ucap Zae menyemangati Rayn.


"Terimakasih. Aku pun sangat bersyukur, karena setelah Tiara mendengarkan kisahku. Dia tidak memandangku jijik apalagi buruk. Dia malah memelukku dalam kedamaian. InsyaAllah, ini pertanda dari Tuhan bahwa aku diperkenankan untuk bertaubat dan kembali lagi di jalan-Nya," ujar Rayn yang nampak tersenyum, lalu memandangi langit di malam hari yang nampak indah bertaburkan bintang-bintang yang nampak kerlap-kerlip di angkasa.


"Kamu cantik, Rayn. Begitu juga hatimu. Meskipun aku sadar bahwa kita tak mungkin bersama. Tapi aku berharap, kamu mendapatkan pasangan terbaik nan tulus membersamaimu kelak," gumamnya dalam hati.


"Rayn, kamu mau nyusul Yusuf sama Tiara gak?" kata Zae mengubah topik obrolan.


"Gas! Orang dari tadi kita berjalan menuju tempat yang dituju," saat Rayn dan Zae menapaki langkah demi langkah. Mereka pun berhenti di sebuah resort yang ada di pulau Sepa.


"Ini tempatnya kan? Di mana Tiara?" gumam Rayn yang nampak celingukan ke sana kemari.


"Rayn!" teriaki Tiara dari dalam resort.

__ADS_1


"Mereka ada di sini kan?" bisik Rayn yang saat itu sudah sampai ke tempat makanan yang Tiara booking.


"Iya! Tuh di resort sebelah," namun tiba-tiba saja, Rere dan Mega menghilang dari pandangan mereka.


"Loh, ke mana?" Tiara pun saling pandang dengan Rayn.


"Suf! Gawatt ini" Tiara nampak heboh, karena Rere dan Mega nampak dibopong oleh kawan-kawan gengsternya.


"Sudah kuduga," gumam Rayn.


"Ayo kita ikuti!" namun Yusuf malah mencegah aksi Tiara dan membuatnya terduduk di pahanya.


"Ih, Suf!" gerutu Tiara tak nyaman karena kini ia dipangkuan Yusuf.


"Kita liatin saja dulu dari kejauhan. Baru kalau ada yang janggal. Beraksi!" perintah Yusuf. Ia nampak berhati-hati, karena bisa saja mereka membawa alat senjata. Kan bisa bahaya.


"Tuh, itu mereka ke sebuah hotel. Gimana kalau mereka diapa-apain." Tiara pun memberontak dan ia pun berhasil lari dari cengkraman Yusuf.


"Anak ini." gerutu Yusuf yang langsung berlari mengejar Tiara.


"Ayo, Rayn!" Zae dan Rayn pun berlari mengikuti dari arah belakang.


"Berhenti!" teriak Tiara yang saat ini jaraknya sudah lumayan dekat dengan gengster itu.


"Hei, cewek cantik! Boleh juga nih," gumam salah satu gengster berperawakan tinggi dan bertato di lenganya.


"Turunkan mereka! Saya sudah manggil polisi untuk meringkus kalian!" ancam Tiara pada keempat gengster itu.


"Ti!" kini Yusuf berada di depan Tiara. Ia nampak tak habis pikir dengan perbuatan yang dilakukan istrinya itu.


"Sikat nih para cecunguk. Berani-beraninya melawan kita," ungkap salah satu ketua geng yang tampilannya itu tak kalah sangar di antara mereka berempat.


Seketika perkelahian pun terjadi. Tiara pun mengamankan Rere dan Mega yang nampak sudah di turunkan ke bawah pasir dalam keadaan pingsan. Sementara Rayn nampak berjaga-jaga, takutnya ada salah satu gengster yang menyerang mereka.


"Suf! Hati-hati," nampaknya Tiara bersalah, karena akibat keras kepalanya. Yusuf dan Zae harus berkelahi melawan gengster.


"Aaaa" Tiara pun berteriak, karena salah satu gengster hendak menyerangnya. Namun Rayn seketika menghadang ke arah Tiara.


Dorrr!


Seketika pistol pun mengenai perut Rayn yang nampak menghalangi Tiara di belakangnya.

__ADS_1


"Rayn!"


...----------------...


__ADS_2