Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 58


__ADS_3

"Serbuuuu!" seru Rayn yang nampak bersemangat, sedangkan Mega hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah kedua sahabatnya.


"Kalau Rere di sini, pasti dia paling heboh deh," gumam Mega sambil tersenyum.


"Sayang! Jangan macem-macem!" cegah Yusuf, karena kedua wanita itu benar-benar dengan perkataanya yang ingin melabrak Rendra di sebrang tempat mereka duduk.


"Hei, itu bukan Rendra." cegah Mega yang baru menyadari, lelaki yang membelakangi mereka itu bukan orang yang dimaksud.


"Lah, emang iya?" saat itu Tiara sudah berdiri, begitupun Rayn yang sudah mendekati pria itu.


"Hei, kalian malu-maluin!" seru Yusuf. Ia pun langsung mencekal tangan istrinya.


"Aduuh, sakit, Mas. Kamu KDRT," ujar Tiara sambil cemberut, lalu pura-pura merajuk.


"Aku pelan-pelan juga. Kamu jangan ngada-ngada sayang," balasnya sambil tersenyum simpul.


"Hehe. Tapi boong," ia pun nyengir lalu menoleh ke arah teman-temanya yang nampak gemas dengan mereka berdua.


"Kita ke depan ruang UGD lagi yuk! Siapa tau Zae udah siuman," ajak Stephan.


Saat mereka berjalan di lobby rumah sakit, tak sengaja seorang pria berjaket kulit bertabrakan dengan Stephan.


"Eh, maaf," ujar pria itu, namun saat menoleh ia tak menyangka bahwa seseorang yang dikenalnya tengah menatap sinis ke arahnya.


"Rendra?" ucap ketiga wanita itu bersamaan.


"Sudahlah. Kita tidak level kalau harus mengotori tangan ini demi melawannya," ujar Stephan nampak dingin. Rayn pun nampak tercengang abangnya yang terbiasa menjaga image malah begitu ke Rendra.


"Kamu Stephan kan?" ujar Rendra sambil menyeringai. Ia tahu Stephan, karena ia seorang pengacara terkenal. Tentu sosoknya menjadi perhatian lebih bagi publik, apalagi damagenya yang selalu menawan walau sudah mau berkepala tiga.


"Ck, gak ada sopan-sopannya anak muda," timpal Yusuf yang nampak geram karena Rendra yang usianya masih siswa SMA tidak sopan memanggil Stephan dengan nama langsung.


Rendra tak peduli, ia malah semakin menjadi ingin mencaci orang-orang yang sedang bersama wanita yang sudah menjadi mantannya.


"Hei kalian. Asal kalian tau aja, bahwa Mega itu...,"


"Kami tidak mempermasalahkannya. Memangnya kamu ngakunya manusia tapi kelakuan kayak iblis! Jangan suka merendahkan orang lain, saya takut suatu saat nanti kamu lah yang akan di posisi Mega!" sulut Tiara dengan tatapan yang begitu menghujam pada Rendra.


"Ha.ha.ha... Kalian memang sama-sama orang rendahan. Pantas saja kalian masih betah berteman sama dia!" tunjuk Rendra pada Mega yang tertawa meremehkan dengan gaya yang tentu menyebalkan.


Tanpa aba-aba Mega pun langsung menampar Rendra yang jaraknya tak jauh darinya. Begitupun Tiara dan Rayn ikut-ikutan menaboknya berkali-kali.


"Dasar para cewek kriminal!" umpat Rendra. Namun ketiga perempuan itu malah tertawa terbahak-bahak sementara Yusuf dan Stephan ikut mengulum senyum karena menurut mereka kejadian ini sangat lucu.


"Emangnya enak di serbu kaum super girl," Yusuf pun yang tadinya tak suka Tiara akan melabrak Rendra, namun saat berhadapan langsung dengan orangnya, ia pun nampak geram dengan tingkahnya yang tak punya sopan santun.


"Kamu kok bisa sih Mega, jatuh cinta sama manusia seburuk ini?" caci Tiara lagi.


"Sialan!" Rendra pun langsung kabur terbirit-birit, dan langsung menghilang dari pasukan kaum-kaum pemberontak.


"Ada ya cowok letoy kayak dia? Ih, pengen tak jitak lagi mukanya. Seru!" ungkap Tiara yang nampak aprok-aprok kedua tangannya saking senangnya.

__ADS_1


"Udah deng. Kita kan mau ke Zae," ucap Yusuf yang langsung menenangkan lagi keadaan.


Pas sekali, saat mereka tiba di depan ruang operasi Zae. Dokter pun keluar dengan masih memakai masker dan pakaian lengkap ala operasi.


"Bagaimana kondisi Zae, Dok?" tanya Yusuf mendahului.


"Alhamdulilah, operasi berjalan dengan baik. Jahitannya pun tak ada masalah apapun lagi. Saat awal-awal memang terkena infeksi, namun beruntungnya pasien tidak banyak gerak saat menuju ke rumah sakit. Jika sebaliknya, mungkin pasien saat ini terancam kritis," jelas Dokter.


"Kami sudah bisa jenguk, Dok?" tanya Rayn.


"Sudah, silahkan," dokter pun langsung pamit dan mempersilahkan mereka menjenguk Zae.


Dengan langkah yang gemetaran, begitupun jantungnya yang berdegup kencang. Rayn pun memegang erat tangan Mega yang berjalan di sampingnya. Ia jadi teringat moment saat Zae rela tertusuk oleh alungan pisau Brain demi dirinya.


Sungguh, Rayn merasa sangat bersalah!


"Bang, kira-kira si Brain bisa dijeblosin ke penjara gak sih?" ujar Rayn tiba-tiba. Sedangkan Yusuf dan Tiara yang belum tau kejadian yang sebenarnya merasa janggal dengan pernyataan Rayn.


"Bentar, kalian belum jelasin. Kenapa ini ada sangkut pautnya sama Brain?" tanya Yusuf menyela.


"Dia yang udah nusuk Zae, Suf. Saat kami ke sana. Wanita psikopat itu tengah mengancam Rayn yang mengarahkan pisau ke leher Rayn. Eh, saat Rayn berhasil lepas dari cengkramannya dia ngalungin pisau ke arah Rayn. Tiba-tiba Zae melindungi, akhirnya begini deh," jelaskan Stephan.


"Jadi, hacker yang kalian maksud itu si Brain? Kamu ko nekad si Rayn?" ujar Tiara sedikit emosi.


"Bentar, ko kalian udah pada kenal Brain sih?" Mega pun menyela pembicaraan mereka semua, karena dia benar-benar yang paling gak tau hubungan mereka dengan Brain.


"Sebagaimana yang telah kamu dengar, si Brain itu terobsesi sama Yusuf!" jelas Rayn.


"Aku takut kamu nekad. Aku tau kamu orangnya gimana. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Makanya aku nekad juga deh. Untung abang, eh, jadi selama ini abang ngawasin aku? Gak mungkin kalian tiba-tiba tau lokasi kami berada saat itu," selidik Rayn pada Stephan.


"Hem, begitulah. Kami sudah menduganya. Ini juga atas dasar firasat Zae. Tuh, dia perhatian banget sama kamu, Rayn," balas Stephan santai.


"Ih, nyebelin. Jadi selama ini aku disadap?" tanya Rayn sekali lagi. Stephan pun menganggukkan kepalanya.


"Terus sekarang si Brain di mana?" tanya Mega penasaran.


"Aman. Dia sudah kami sekap. Untung saya jedor kaki dan tangannya." jawab Stephan.


"Gak diobatin?" sela Tiara.


"Ngapain ngobatin penjahat. Biarin aja dia membusuk," Stephan pun menyeringai, seketika Mega, Rayn, dan Tiara begidik ngeri.


"Jadi selama ini cara kerja pengacara begitu? Kalau ada yang ngusik bisa berakhir sama kayak Brain?" tanya Tiara lagi, karena dia memang anaknya kritis.


"Ya nggaklah, sayang. Itu permintaan aku. Aku udah capek diteror mulu sama dia. Mana dia sempet mau nyelakain kamu. Aku gak mau kamu dalam bahaya terus," timpal Yusuf. Tiara pun menoleh dengan tatapan mendelik.


"Tapi gak usah segitunya. Kasian! Dia perempuan," ujar Tiara memelas.


"Ah, kamu kan dulu juga gak pedulian. Kenapa sekarang mendadak begini?" Yusuf yang sudah terlanjur emosi pun, malah membuat suasana semakin panas.


"Oh, jadi kamu masih nganggap aku istri yang gak bisa berubah gitu? Emang sih, aku gak pernah bisa menjadi pasangan yang sempurna buat melengkapi kamu. Maaf, kalau kamu kecewa dan menyesal nikah sama aku!"

__ADS_1


Tiara yang sudah terlanjur kecewa pun meninggalkan mereka semua dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Niat Yusuf memang tidak ingin berbicara begitu, tapi entah kenapa lidahnya malah berujar seperti itu.


Mereka semua pun terdiam dan mempersilahkan Yusuf untuk mengejar Tiara yang sudah lari ke luar dari ruangan Zae. Bukannya Mega maupun Rayn tidak mau mengejar sahabatnya, tapi masalahnya kini karena berkaitan dengan keharmonisan rumah tangga Tiara dan Yusuf.


Mereka tidak mau ikut campur, begitupun Yusuf yang merasa bersalah karena ia sebagai imam rumah tangga malah tidak bisa bersikap dengan baik, apalagi ini malah berantem di depan umum.


Tiara dengan kondisi yang terus menangis, sedangkan Yusuf yang menyesal karena sudah menyakiti Tiara oleh ucapannya. Cukup membuat hubungan keduanya merenggang, karena kesalahpahaman.


Tanpa terasa, Yusuf pun tiba-tiba menitikkan air matanya. Bisa-bisanya dia menjadi seperti ini. Sementara Tiara yang sudah mau berubah untuknya malah dianggap remeh olehnya.


"Suami macam apa aku ini!" rutuknya dalam hati.


Wajar, mungkin saat itu pikiran Yusuf sedang rumit. Apalagi dia harus memenuhi janjinya pada sang Ayah mertua. Entahlah, dia harus membicarakan ini ketika keadaan sudah membaik lagi.


Tiara saat ini berlari menuju taman rumah sakit. Ya, dia memang menyukai hal-hal yang berbau dengan alam. Dia menangis tergugu pilu di kursi taman itu tanpa memedulikan tatapan orang-orang yang menganggapnya menyedihkan.


Memang menyedihkan. Dia yang sudah mati-matian berubah malah dianggap sepele oleh suaminya. Tak seberharga itukah dia bagi Yusuf?


"Kak, kaka mau lolipop?" ujar gadis kecil berusia lima tahun yang mendekat ke arah Tiara sambil tersenyum dan menyodorkan dua lolipop padanya.


"Eh, adek. Nggak kok dek. Buat adek aja. Kaka gapapa," Tiara yang tersentuh pun langsung mengusap rambut anak kecil yang terurai lurus itu.


"Kaka, jangan menangis. Mama bilang, adek gak boleh menangis. Nanti cantiknya ilang," celoteh gadis kecil itu dengan lucunya. Tiara pun terhibur dengan kehadiran gadis kecil itu.


"Iya sayang. Kaka gak nangis kok. Tadi mata kakak terkena debu, terus perih. Jadinya sakit deh," ujar Tiara sambil tersenyum dan mendudukkan gadis kecil itu di pahanya.


"Oh, debu. Emmm, hati-hati ya kakak. Tapi betulan, adek pengen ngasih kaka lolipop. Di terima ya!" ucap gadis kecil itu lagi sambil menampilkan giginya yang terlihat ompong dibagian tengahnya, namun terlihat menggemaskan.


"Baiklah, terimakasih adek sayang. Kaka terima ya satu lolipopnya. Nanti kaka emutt," ucap Tiara sambil menirukan gaya anak kecil yang menggemaskan.


"Wah, kaka cantik sekali kalau tersenyum. Jangan sedih-sedih lagi ya!" Tiara pun nampak mencium kening adek kecil itu sebelum si gadis itu berlari menuju keluarganya.


Saat itu pula, seseorang yang melihat pemandangan haru itu nampak tersenyum, namun matanya tak dapat dipungkiri begitu sendu dan penuh penyesalan.


"Sayang.. Maafin aku ya!" ujar suara lelaki yang nampak sangat dikenali oleh Tiara.


Tiara nampak tak bergeming, ia malah memilih pergi dari suaminya yang nampak ingin mendekatinya.


"Lepasin!" bentak Tiara sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Yusuf.


"Sayang.. Maafin aku!" Yusuf pun menurunkan dirinya ke hadapan Tiara sambil menunduk dan tentunya Tiara tak nyaman dengan posisi itu.


"Bangunlah. Aku gak mau kamu seperti itu, Mas," ucap Tiara namun tak sedikit pun melemparkan pandangannya pada Yusuf.


"Sayang, maafin aku ya?" ucapnya memelas sambil memegang tangan isterinya.


"Kamu jahat! Aku masih marah sama kamu! Biarkan aku sendiri!" tuturnya sambil melepaskan tanganya dengan kasar, lalu meninggalkan Yusuf, namun tak dapat dipungkiri dirinya meluruhkan kembali air matanya yang sudah menggenang dari pelupuk matanya.


"Ya Allah, maafkan aku. Aku telah menyakiti isteriku," ujar Yusuf dalam hati sambil memegang dadanya yang terasa pilu dan sesak.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2