
"Jadi, Om Stephan ini siapanya Pa Indra, ya?" tanya Yusuf diiringi anggukkan Tiara dan juga Zae.
"Stephan siapa, ya?" balas Indra nampak terlihat gugup saat menjawab pertanyaan Yusuf.
"Sepertinya, aku harus nanya-nya ke Rayn aja saat sudah siuman nanti," gumam Tiara dalam hatinya.
"Oh, baiklah Pak. Untuk saat ini, apakah bapak dan ibu mau ikut bersama kami ke rumah sakit? Kebetulan Rayn sedang dirawat di sana," tawari Tiara yang memang lebih akrab dengan kedua orangtua sahabatnya.
"R-ayn di rumah sakit? Putriku kenapa, Nak?" balas ibunda Rayn dengan tatapan yang berkaca-kaca. Ayah Rayn pun tak kalah terkejut, namun ia tetap bersikap tenang.
Tiara lantas mengusap punggung tangan ibu Rayn dengan lembut, "Ibu jangan khawatir lagi, Rayn akan segera sembuh kok. Qodarullah, tiga hari yang lalu. Kami mengalami musibah," ucap Tiara sambil menatap hangat ibu Rayn.
"Kami ingin melihat anak kami. Tapi kami harus bilang bagaimana ke polisi,"
Yusuf pun menyela, "Ibu dan bapak tak usah khawatir, karena saat ini kalian sudah memiliki pengacara. Kalian disekap di penjara kemarin, karena bapak tidak mengatakan hal yang sebenarnya dan membenarkan kasus korupsi dan penggelapan dana tersebut. Maaf, jika kami datang sangat telat untuk menolong ibu dan bapak. Semoga persidangan ini berakhir dengan baik dan juga adil," jelasnya.
"Ya, ibu bapak tidak usah khawatir. Saya akan berusaha sampai titik darah penghabisan untuk membela kebenaran dan keadilan rakyat," timpal Zae meyakinkan.
"MasyaAllah, kalian memang anak muda luar biasa. Terimakasih nak Yusuf dan nak Zae. Semoga kalian menjadi pemuda-pemudi yang membanggakan agama, bangsa dan juga negara," harap Ayah Rayn.
"Aamiin,"
"Kami juga bisa seperti ini karena arahan dan bimbingan om Stephan. Kalau tidak ada beliau, niscaya kami pun tidak bisa seperti sekarang. Katanya, nanti malam beliau pun akan menjenguk Rayn. Maka, saya pun ingin mengajak ibu dan bapak agar kita bisa bersama-sama ke rumah sakit," ujar Yusuf.
"B-baiklah, terima kasih," sahut Ayah Rayn.
"Eh, ternyata sudah jam empat sore nih, bagaimana kalau kita sholat ashar terlebih dahulu?" ajak Yusuf, lalu mereka pun menganggukkanya.
Sementara Zae nampak mencurigai sesuatu yang janggal. Ya, kini dirinya menunggu yang lainnya di halaman kantor kejaksaan dan merenungi setiap proses persidangan yang telah ia hadapi tadi.
**
**
"Rayn, Nak" ujar sang ibunda yang langsung menghemburkan pelukannya ke dekapan sang anak.
__ADS_1
"I-bu," ucap Rayn sangat pelan.
"Nak, maafkan Ayahmu ini," Ya, kini mereka bertiga pun terisak dan saling menguatkan satu sama lain. Kebetulan di sana kedua orang tua Mega dan Rere sudah pulang. Sementara mereka berdua masih ada setia menunggu Rayn yang baru saja siuman sore itu.
"Sebenarnya, I-bu, A-yah, benarkah mela-kukan tin-dak korup-si?" ujar Rayn terbata.
"Tidak, Nak. Kami sama sekali tidak melakukannya. Kami dipaksa dan diancam untuk mengakuinya. Tapi sayang, kami masih belum bisa membuktikannya bahwa kami tidak bersalah," jawab sang Ayah.
Ya, benar. Sampai sekarang mereka masih memikirkan cara agar mereka terbebas dari jerat fitnah itu.
"Assalamualaikum," seseorang mengetuk pintu dari arah luar.
"Wah, itu pasti om Stephan" sahut Zae antusias.
"Waalaikumussalam," jawab yang ada di dalam ruangan serempak.
Seketika, Stephan beradu pandang dengan keluarga Rayn dengan tatapan yang begitu dalam.
"Ayah, Ibu.." lirihnya pelan. Lalu Stephan pun menghamburkan pelukannya pada kedua paruh baya yang ada di hadapannya.
"Jadi..." Yusuf pun tak kalah terkejut.
"Ini ibu dan ayah angkat saya. Ya, selama ini saya sangat beruntung bisa dianggap seperti anak kandung sendiri oleh mereka. Maaf, Ayah, Ibu. Beberapa bulan ke belakang, Stephan belum bisa membantu kalian," ujarnya nampak terisak.
"Gapapa, Nak. Kami bersyukur, sekarang bantuanmu sangat pas untuk kami. Ga tau kalau seandainya persidangan hari ini tidak ada yang membela kami. Niscaya Ayah sudah dijebloskan ke penjara hari ini juga," ungkap Indra berkaca-kaca sambil menepuk-nepuk punggung stephan begitu lembut.
"Ko Rayn gak pernah cerita ya tentang Om Stephan?" ucap Tiara penasaran sambil mengetuk-ngetukan jarinya pada dagunya.
"Hehe, maaf Tiara. Saya memang merahasiakannya. Jujur, saat pertama kali menjadi seorang pengacara. Banyak kejadian di luar nalar dan itu sangat beresiko bagi keluarga saya. Tentu, saya sebagai anak angkat tidak ingin membebani Ayah dan Ibu. Makanya saat saya menghadapi sebuah kasus yang sangat besar, saat itu pula saya memilih untuk memisahkan diri. Tapi, dampaknya ternyata sekarang. Saat sebagian orang sudah tahu saya pernah diangkat oleh sebuah keluarga, mereka berbondong-bondong menjatuhkan keluarga angkat saya. Kini, saya sangat ingin mencari pelaku ilegal itu," ungkap Stephan menggebu-gebu.
"Sudahlah, Nak. Meskipun di dunia ini mereka tidak diadili, tapi pengadilan Allah kelak tidak akan ada lagi yang mengelak. Yakinlah, Allah sebaik-baiknya Hakim." ucapan Indra barusan, mulai menyadarkan Rayn.
Ya, selama ini dia bersuudzon pada kedua orangtuanya. Rayn menganggap Ayah dan Ibunya itu jauh dari agama. Ternyata anggapannya itu sangat salah. Maklum, selama ini komunikasi mereka sangat buruk. Apalagi saat Stephan memilih keluar dari rumah tersebut.
"Dek, kamu masih inget kan sama abang?" ucap Stephan sambil mengusap lembut hijab instans Rayn.
__ADS_1
"Hih, apaan si. Ya inget lah, setelah sekian purnama. Abang baru jenguk adek lagi. Jahat!" balasnya pura-pura merajuk.
"Uluh, ternyata ada yang rindu abangnya ya? Mau apa atuh sekarang, itung-itung menebus kesalahan abang nih. Ice kream? Martabak? Ramyeon?"
"Haish, abang. Gak berubah-berubah ternyata. Rayn ini udah besar ya, bukan anak kecil lagi yang apa-apanya akan luluh kalau dikasih sesuatu. Dasarrr,"
"Aduh kalian, ternyata masih sama ya kayak dulu. Kalau ketemu pasti ada aja yang diributin," ucap Ibu Rayn sambil tersenyum. Ya, dia bahagia anak-anaknya saling bertemu kembali.
Mereka pun nampak bahagia dan saling tertawa satu sama lain.
"Nak Rere dan nak Mega. Bagaimana kabarnya?" sapa Ibu Rayn ramah.
"Alhamdulillah, kami sehat, Tan. Tante sendiri bagaimana? Maaf ya tante, kami baru tau musibah yang menimpa Tante dan Om. Tadi siang juga orang tua kami ke sini kok. Mereka hanya menitipkan salamnya saja, semoga kasus ini segera berakhir dengan baik," ucap Rere dengan sopan.
"Aamiin. Terimakasih ya atas do'a-do'a baiknya." balas Ibu Rayn, juga Ayah Rayn yang ikut menimpali.
"Maaf, Tante, Om. Barusan Zae dapat kabar mengenai pelaku utama dalam kasus ini," seketika mereka semua pun melirik ke arah Zae.
"Siapa? Kamu mendapatkan informasi dari mana?" sambar Stephan nampak terkejut.
"Ya Tuhan, saya tidak sanggup mengatakannya,"
"Katakan, siapa...." desak Yusuf yang ikut penasaran.
"Kalian bisa lihat sendiri," Zae pun memperlihatkan bukti-bukti berupa photo dan video seseorang yang nampak tengah tertawa bergembira sambil membicarakan kejahatan mereka.
"Hah?"
"Benarkah?"
Semuanya nampak tidak percaya.
...----------------...
Jangan lupa vote, like, dan beri ulasannya ya readers🙌✨
__ADS_1
Syukron🥰