Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 61


__ADS_3

Kedua pasutri itu kompak bergandengan mesra di kampus. Ya, tak ayal keduanya menjadi pusat perhatian seperti biasanya.


Hingga di mana Yusuf memasuki gedung fakultasnya, karena ia harus meminta tanda tangan setiap dosen sebagai bukti bahwa dia telah lulus revisi berkas skripsinya.


Lalu keduanya pun masuk ke gedung megah. Di mana di sana lalu-lalang mahasiswa mengepalkan buku atau sekedar hang-out dan saling bercengkrama satu sama lain di sekitaran gedung itu, baik di luarnya maupun di dalamnya.


"Mas, aku betah loh di sini. Aku bener-bener pengen jadi mahasiswa UI suatu saat nanti," gumam Tiara antusias.


"Makanya, belajar yang rajin ya. Mas yakin, kamu pasti keterima di sini." ucapnya lalu mengusap pucuk hijab istrinya.


Beres! Alhamdulillah, Yusuf pun resmi menyudahi serangkaian persyaratannya untuk mendaftar wisuda bulan depan.


"Uh, gak nyangka. Suamiku udah lulus dan jadi sarjana saja. Aku pengen cepet gede," rengek Tiara manja.


"Kan kamu juga udah besar, udah bisa bikin dedek bayi," bisiknya. Spontan, Tiara pun langsung menggebuk suaminya yang mesum itu.


"Ih, Mas. Kamuuuu. Pokoknya jangan begitu lagi. Aku pengen dulu kuliah ya! Plis!" ucap Tiara menampilkan pupe eyesnya di hadapan Yusuf.


"Gimana nanti lah. Mas gak janji!" ujarnya sambil menjulurkan lidah, lalu berlari meninggalkan isterinya yang sedang cemberut itu.


"Mas! Ke bioskop yuk! Aku penasaran, di sini ada film apa aja sih. Sama gak kayak di bioskop pada umumnya," Tiara berhasil menangkap Yusuf dan ia pun tak segan-segan mencubiti Yusuf di depan umum.


"Auw, lama-lama aku biru dicubiti kamu terus. Udah dong! Nanti aku terkam lagi malam kalau kamu nyubitin terus," Tiara pun menciut, tapi ia tetap menggandengnya, lalu segera ke ruangan bioskop yang ada di gedung itu.


"Wah, aku pengen nonton ini! Ya?" ucap Tiara kegirangan, ia pun saking senengnya lompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainannya.


"Hem, kamu suka horor? Bukannya waktu itu kamu takut ya, pas kejadian Devi di pesantren," ucap Yusuf terlihat tidak antusias.


"Ayolah. Beda itu vibesnya. Sekarang kan aku bisa nyubit Mas kalau ketakutan," ucapnya nyengir, namun Yusuf malah gemas dibuatnya.


"Oke lah, gas!"


Keduanya pun langsung masuk ke ruangan bioskop yang sebentar lagi lampunya akan dimatikan. Pertanda film akan dimulai.


Sebelumnya Yusuf sudah membelikan cemilan popcorn pedas dan dua buah minuman untuk mereka. Maklum, Tiara memang suka ngemil.


"Auw, Mas Yusuf!" ucap Tiara berteriak. Sontak orang-orang pun melirik ke arah Tiara yang sedang ketakutan itu.


"Apa aku bilang, kamu penakut!" Yusuf pun menyentil hidung Tiara, namun Tiara malah fokus kembali menonton film yang ada di hadapannya dengan serius.

__ADS_1


"Loh, kok!" Tiara berisik sendiri, ia tak nyadar sekarang dirinya sedang berada di bioskop, tapi dia tak malu berteriak seperti itu hingga Yusuf pun yang akhirnya meminta maaf pada orang-orang di sekitarnya.


"Ti, jangan teriak. Kamu menganggu orang-orang yang fokus nonton tau!" bisik Yusuf pelan.


"Abisnya dibunuh. Ko sadis sih!" ucap Tiara tak terima.


"Namanya juga film. Fiksi! Gak nyata. Kamu terlalu menkhayati sayang,"


Akhirnya, setelah sekian purnama. Yusuf dan Tiara pun beres menonton genre horor plus pembunuhan itu.


Sepanjang jalan, Tiara terus mengomel sedangkan Yusuf dengan sabarnya mendengarkan ocehan isterinya itu.


"Industri perfilm-an makin ke sini makin ke sana aja. Kenapa coba sadis banget? Mana adegannya vulgar, eh maksudnya pemainnya pada seksi-seksi. Ah, nyesel aku nonton film ini," gerutunya.


"Kan, Mas bilang juga apa. Kamu pasti mengomel. Filmnya memang gak asyik!" ujar Yusuf so' tau.


"Emangnya, Mas tau sebelumnya, kalau film itu gak rame?" selidiki Tiara.


"Nggak sih. Cuma, ya sudahlah. Mending kita nonton film islami aja. Banyak kan, contohnya film bunda Asma Nadia yang judulnya 'Surga Yang Tak Dirindukan', terus..."


"Wait! Mas, kamu???" Tiara pun tiba-tiba melotot tajam pada Yusuf.


"Kamu mau bilang, bahwa kamu akan poligami?!" skak Tiara.


"Lah, kenapa ke situ?" Yusuf pun nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Itu, emangnya aku gak tau kamu nyebutin film tentang apaan," Tiara benar-benar merajuk.


"Surga Yang Tak Dirindukan? Itu film pertamaku pas dulu nonton bareng Faisal. Katanya dia greget sama cowok yang menduakan istrinya, apalagi dengan alasan menolong. Gak masuk akal," jelas Yusuf.


"Oh..." seketika Tiara menarik nafas lega.


"Kamu takut suamimu ini menduakanmu?" goda Yusuf.


"Ya cewek mana lah yang gak rela suaminya nikah lagi sama cewek lain. Berani kamu begitu. Aku potong milik kamu!" ancam Tiara tak segan-segan.


"Wow, serem banget sih ancamannya. Ternyata isteriku benar-benar telah mencintaiku ya!" Yusuf pun tersenyum kegirangan.


"Beneran! Aku gak main-main," tegas Tiara kembali.

__ADS_1


"Ha ha ha. Aku pria yang setia. Tenang saja. Poligami tak berlaku untuk suamimu ini." kata Yusuf bersungguh-sungguh.


"Awas aja. Sekalipun situasinya sulit, rumit maupun terjebak. Kamu jangan sekali-kali mengkhianati kepercayaan aku ini!" kini Tiara memeluk suaminya itu. Ia tak segan-segan menunjukkan rasa kepemilikannya.


Ya, seseorang yang sudah mencintai kekasihnya karena Allah. Pasti akan membuatnya takut untuk melepasnya. Apalagi mereka baru saja merajut kebahagiaan itu, walau kemarin-kemarin sempat bertengkar.


"Mas sungguhan sayang. Sesuram apapun masa depan menanti kita. Asal kamu di samping Mas. Mas akan sanggup menghadapinya, karena kamu memang kekuatan Mas sampai kapan pun," ucap Yusuf membalas pelukan Tiara lalu mengusap pucuk hijabnya.


"Iya, pokoknya aku gak rela kamu ngelirik cewek lain. Aku gak sanggup di posisi itu. Sekalipun surga bagi mereka yang rela di poligami. Aku gak mau masuk surga jalur pintu itu. Titik!" ungkap Tiara emosional.


"Mas juga berat ko kalau harus seperti itu. Satu aja pertanggungjawabannya besar. Mana mau Mas memperumitnya lagi, sedangkan satu saja gak bakal habis. Pokoknya, kamu jangan mikir aneh-aneh ya saat kita akan berjauhan," ucapnya berat.


Tiba-tiba saja, ponsel Yusuf berdering. Ia pun segera menggeser panggilan teleponnya itu.


"Waalaikumussalam Pa. Yusuf lagi di kampus," ujarnya. Sementara Tiara mengupingnya, karena penasaran, papanya akan membahas apa dengan suaminya.


"Harus minggu depan banget ya Pa? Oh tiga bulan saja. Baiklah Pa. Yusuf siap," tiba-tiba saja, Tiara merebut ponsel Yusuf.


"Apaan si, Papa. Kenapa Papa tuh selalu gak nepatin janji Papa? Kenapa harus Mas Yusuf yang ke Turki. Kan papa udah janji gak bakal nyuruh mas Yusuf ke sana. Gimana si! Pokoknya Tiara gak bakal ngizinin. Titik!" Tiara pun mematikan ponselnya sepihak.


"Sayang. Papa belum selesai ngobrolnya. Ko main matiin-matiin aja. Gak boleh gitu," tegur Yusuf.


"Tapi, Mas. Kenapa orangtuaku itu selalu saja mengingkari janji pada anaknya. Kenapa sih mereka tuh seolah-olah gak boleh liat anaknya bahagia? Aku sebel sama mereka!"


Tiara yang tak kuat bicara lagi pun akhirnya menangis. Segera Yusuf menenangkan isterinya. Lalu mengajaknya duduk di bawah pohon rindang yang ada di gedung tersebut.


"Sayang. Mas cuma tiga bulan aja. Udah gitu. Mas akan megang yang ada di Jakarta kok. Kamu jangan over thingking ya. Mana, katanya mau rajin belajarnya? Kalau ada Mas. Yakin kamu bakal fokus belajarnya? Hem.. Yuk bisa. Itung-itung. Aku nunggu kamu sampai lulus SMA. Kan waktu pun berjalan begitu cepat. Udah gitu, kita bisa terlepas dari pesantren," ucap Yusuf menguatkan.


"Janji ya, mas gak bakal kenapa-napa di sana. Saat balik lagi ke sini. Mas harus utuh! Mas harus sehat! Mas jangan sakit-sakit. Nanti aku kepikiran," ucap Tiara cemberut.


"Iya. InsyaAllah. Allah selalu menjaga Mas. Yakin aja ya? Kamu mau kan percaya pada Mas?" Tiara pun menganggukkan lalu Yusuf pun segera mencium kening istrinya itu.


"Pintar. Isteriku yang sholehah. Terimakasih ya!"


...----------------...


..."kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga dalam hidup ini bergantung pada adanya rasa saling percaya di antara suami-istri, serta adanya rasa hormat yang layak dan cinta yang tulus di antara keduanya,"...


...-{Said Nursi, Al-Lama'at, hlm.375}-...

__ADS_1


__ADS_2