
"Bisa dijelaskan, ada apa sebenarnya, sayang? Kenapa kamu di sini?" ungkap Sandra nampak tenang, namun hatinya terlihat keruh karena sang anak hanya terdiam dan tidak berkata sepatah kata pun sampai saat ini.
"Begini, Tante.." ucap Rere yang akan mewakili Tiara, namun malah dipotong oleh Sandra.
"Mama hanya ingin mendengarkan penjelasan kamu," kata Sandra yang mulai tegas lalu melirik ke arah Tiara yang saat ini berada di hadapannya. Dari sorot matanya pun ia nampak kecewa, karena sang putri malah cuek dan tak merasa bersalah.
"Mama sama Papa gak akan nyangka kalau Tiara mengatakan ini..." akhirnya Tiara bersuara.
"Katakanlah, Mama ingin mendengar penjelasanmu." ucap Sandra kemudian dianggukkan oleh semua orang yang turut menyimak. Kebetulan, di sana ada Ratna dan Adit sebagai orang tua Rere yang ikut berkumpul di ruang tamu. Mereka harap-harap cemas, karena suasana semakin menegangkan saja.
"Kurang ajar! Reza dan anaknya gak bisa dibiarkan begitu saja!" sulut Raihan yang terpancing emosinya. Begitupun Sandra yang ikut geram, karena bisa-bisanya dia terlihat santai dan malah seperti orang yang tidak bersalah saat tempo hari di Singapura.
"Jadi, Papa sama Mama mau bertindak bagaimana? Apakah tidak akan mempengaruhi bisnis keluarga kita?" ungkap Tiara ragu-ragu.
"Tidak sama sekali, sayang. Justru mereka-lah yang akan gulung tikar, karena berani macam-macam sama kita!" ungkap Raihan sedikit tenang. Ia sudah bisa meredam emosinya kembali.
"Pokoknya, kalian harus baik-baik saja. Tiara gak mau Mama dan Papa terjadi apa-apa." harap Tiara.
"Kamu harusnya bilang dari awal sama kami. Kenapa harus menyembunyikan ini semua?" tanya Sandra tak habis pikir.
"Karena Tiara takut berada di rumah itu. Dhika saja wataknya kayak begitu. Bagaimana dengan Papanya? Bukankah Tiara harus menyelamatkan diri dulu, lalu setelah selamat sentosa, Tiara bisa memikirkan strategi selanjutnya. Betul?" ungkap Tiara cerdik.
"Wah, ternyata anak kita cerdas juga, Mas." ungkap Sandra bangga.
"Harus, Ma. Kita harus hati-hati dengan cara yang cantik. Jangan gegabah! Bahaya!" seru Tiara semangat.
"Baiklah. Untuk saat ini, Papa akan antar kamu ke Pesantren. Pasti bu Susi sangat khawatir padamu, Nak."
"Ya. Besok juga, kamu harus pulang ya!" sahut Mama Sandra.
"Hem."
__ADS_1
"Berhubung hari sudah semakin malam, bagaimana kalau kita dinner ala-ala rumahan dulu? Kami sudah menyiapkan hidangan makan khas Sunda. Wah, tinggal dipilih deh." ungkap Ratna mencairkan suasana.
"Maaf lho, kedatangan kami malah merepotkan kalian. Ayo! Kami pastinya gak akan nolak dong." ungkap Sandra yang memang sangat akrab dengan mama Rere.
Mereka pun akhirnya menyantap berbagai makanan yang telah disajikan, di antaranya ada nasi timbel, ayam serundeng, soto, gepuk, lotek, empal gentong, sampai liwet dan aneka lalap, asin dan sambal pun menghiasi meja makan malam yang syahdu bagi keluarga besar itu.
Setelah kenyang menikmati hidangan yang beraneka ragam itu, mereka pun melahap aneka pudding dan dissert yang tidak jauh rasanya seperti yang ada di restoran pada umumnya. Keluarga Rere memang sudah mempersiapkan itu dari siang hari, karena mereka tahu Sandra dan Raihan akan datang dari Singapura.
Namun tiba-tiba saja, saat keluarga Tiara hendak pamit pulang. Mereka melihat sekelabat orang ber-jas hitam dari arah samping kanan dan kiri rumah Rere. Satpam pun sudah tergeletak tak berdaya di pos depan rumah.
"Pa, ada apa ini? Ko perasaan Mama gak enak sih?" ucap Sandra yang baru ngeuh kalau mereka seperti sedang di kepung oleh orang-orang asing.
Dug! Dug! Dug!
Terlihat seseorang berjalan menggunakan setelan jas hitam, memakai kacamata dan kemeja garis putih yang membuat orang itu semakin gagah saja. Ya, pria itu berhasil memecah keheningan Raihan, Adit, Ratna, Sandra, Tiara, dan juga Rere yang sama-sama diam mematung di teras rumah.
"Syakir?" ungkap Raihan terkejut. Pria itu pun lantas mendekat ke arahnya.
"Kabar baik, adik iparku. Sejak kapan di Indonesia? Kaka pikir kamu itu mafia, mana bawa bodyguard segala ke sini. Itu satpam di depan kenapa pula pingsan? Dasar nakal." ucap Raihan yang lantas menepuk punggung adik iparnya itu.
Ya, Syakir adalah suami dari adik perempuan Raihan yang ada di Turki. Entah apa maksud kedatangannya, Raihan masih belum tahu.
"Gawat kak, Gawat!" ungkapnya begitu saja.
"Ya sudah, mari kita bicarakan ini di rumah saja." Mereka pun akhirnya menuju ke rumah kediaman Raihan yang jaraknya tak jauh dari rumah Rere.
...----------------...
Di sudut kamar, tampak pria itu sedang frustasi. Hari ini adalah hari resmi kehancurannya. Ya, kafe yang sudah lama ia rintis ternyata harus berakhir tragis seperti ini. Kini dia terpuruk, tapi dia juga harus bangkit.
"Ya Allah, andaikan modal usahaku dari awal tidak berasal dari riba. Pasti kejadian ini tak akan terjadi. Aku minta maaf, aku menyesal. Maafkanlah aku, Rabb." ucapnya yang kini tengah menangis sendu dalam lantunan do'a-do'a malamnya.
__ADS_1
Ya, kini dia tengah mengadu pada Rabb-Nya dan mencurahkan segala kegundahan hatinya. Saat ini, dia sedang meminta ampunan atas segala kekhilafan dan dosa-dosanya, apalagi jika tidak menebusnya dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Ia menyesal, ia mengaku salah, bahwa tindakanya itu memanglah tidak benar. Ia tak menyangka, dalam kurun waktu yang sama. Akhirnya Tuhan menegurnya dan langsung menimpakan musibah yang berkali-kali lipat padanya.
Padahal, ia sendiri paham dalil Quran maupun Haditsnya tentang perkara yang haram maupun yang halal. Tapi hari itu, nampaknya ia benar-benar gelap mata. Yap, ini semua sudah menjadi takdirnya. Kini ia hanya bisa pasrah pada Rabb-Nya, seandainya kerugian lainnya ia tak sanggup membayarnya, termasuk hutang-piutang yang nominalnya sampai berpuluh-puluh juta. Maka ia harus tegar dan menerima nasibnya. Apakah dia harus kembali ke Pesantren ataukah kerja di tempat yang lain? Untuk melunasi semua kerugian beserta hutangnya.
Tiba-tiba saja, teleponnya berdering sangat nyaring. Pertama, ia tak menghiraukannya. Ia merasa hidupnya telah hancur dan sekarang ia tidak berdaya apapun lagi, kecuali hanya terdiam di pojokan kamarnya dan menenangkan dirinya di atas sajadahnya. Deringan kedua ia mulai melirik, seketika ia melotot karena telah mengabaikan seseorang yang begitu penting baginya.
"Assalamualaikum, Om." ucap Pria itu berusaha tenang.
"Waalaikumussalam, Suf. Kamu sehat?" sapa seseorang dari sebrang telepon.
"Ya. Alhamdulillah, Om." Jawabnya sambil meringis. Tentunya ia menertawai dirinya sendiri.
"Om ada suatu proyek di Turki. Kami pun membutuhkan posisi penting di perusahaan itu. Skripsi kamu sudah beres belum, Suf?" tanya orang itu lagi.
"Alhamdulillah, bulan ini tinggal sidang munaqosahnya, Om. Em, kalau boleh tau proyek apa ya, Om? Lantas, maksudnya Yusuf harus ke Turki kah?" ucap Yusuf mulai mengerti arah pembicaraannya.
"Baik, syukurlah. Semoga lancar ya sidangnya!Sebetulnya, posisi perusahaan Om di sana sedang tidak baik-baik saja. Sementara Om masih belum beres menyelesaikan proyek kontruksi Masjid di Singapura. Kalau kamu mau, Om ingin kamu menempati posisi sebagai Direktur Utama di Perusahaan Al-Aziz. Om sudah menyiapkan asisten pribadi, sekaligus orang yang akan membimbing kamu untuk menjalankan perusahaan kok. Bagaimana?" tawar Raihan. Yap, dia adalah Ayah Tiara.
"Ya Allah, Om. Mimpi apa Yusuf?" gumam Yusuf tak percaya.
"Mau ya? Adik Om yang semula menjabat Dirut di Turki sedang diterpa masalah. Sekarang, perusahaan di sana sangat kacau. Kalau bisa, akhir bulan kamu sudah ke Turki. Gimana?" desak Raihan. Ia merasa Yusuf pantas menjabat posisi Dirut di perusahaannya yang ada di Turki.
"Baik, Om. InsyaaAllah Yusuf bersedia. Terimakasih atas kepercayaaanya, Om." ungkap Yusuf berkaca-kaca.
"Itung-itung, kamu menyibukkan diri terlebih dahulu sebelum menikahi Tiara. Om yakin, kamu adalah jodoh terbaik untuk Tiara. Makannya Om gak segan-segan ngasih posisi ini untuk kamu." ungkap Raihan yang saat ini tengah terharu.
"Sebelumnya Yusuf mau bicarakan dulu hal ini sama Ummi dan Aby ya, Om. Kalau begitu, Yusuf pamit mengakhiri teleponnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." telepon pun terputus. Sementara Yusuf saat ini nampaknya berseri kembali. Ia sudah memiliki jalan untuk menutupi permasalahannya. Semoga Raihan tidak kecewa terhadapnya.
__ADS_1
...----------------...