
Dipeluknya seketika tubuh Shofii erat, Syafiq menangis tersedu teringat kesalahannya pada Shofii, air matanya jatuh berderai dibalik punggung Shofii yang masih membelakanginya.
Hanya kalimat singkat yang terus terucap di bibir Syafiq saat ini ...
Ma-afkan aku istri-ku ....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Shofii
Aku terlarut dalam pilu akan takdir hidupku. Kusapu lagi-lagi air mata yang terus mengalir dan tak ingin berhenti saat otakku terus melayang pada kisah masa laluku. Kududuk lunglai ... namun hati kecilku tak ingin terlarut dalam sesak, aku harus bisa mengambil keputusan karena ternyata hadirku tak diharapkan atau lebih tepatnya tak sesuai harapan.
Hingga tiba-tiba sebuah tangan kekar mengunci tubuhku. "Mas Syafiq ...," lirihku.
Aku bergeming, berusaha mencerna apakah ini nyata atau hanya imajinasi yang memang sangat merindukan kehangatan suamiku. Kurasakan tangan yang mengunciku semakin erat, barulah kusadari ini benar-benar nyata. Terdengar pula isakkan di punggungku.
Mas Syafiq, ia menangis? Tapi kenapa kau menangis Mass ...? lirih kudengar pula sebuah kalimat yang terus diucapkannya ... ma-afkan is-tri-ku ....
Bukannya tangisku mereda setelah mendapatkan pelukan suamiku, tangisku semakin menjadi, merasa kehangatan inilah yang kudamba namun tak kudapat sebulan ini. Terlebih setelah kuketahui mas Syafiq juga menangis, berbagai fikir memenuhi otakku. Bukankah aku yang bersalah padanya, tapi mengapa ia yang menangis ?
Kubalik tubuhku hingga kami saling menatap dan mendekat. Mas Syafiq menyapu air mataku, ia mengecup keningku. Aku yang merasa terhanyut dengan perlakuannya seketika mendekap tubuh kekar mas Syafiq. Aku menangis di bahunya, ia pun menangis pula di bahuku, kami saling terisak dan mendekap. Hingga beberapa saat berlalu ...
•
•
"Mengapa Mas tadi menangis?" lirihku bersandar di dada mas Syafiq.
"Ma-afkan aku Sho-fii ... " ucap mas Syafiq seraya menyapu jemariku.
"Maaf? Aku yang seharusnya meminta maaf pa-damu, Ma-s," tuturku.
__ADS_1
"Aku salah telah mengabaikanmu!"
"Pasti karena kamu sangat sibuk. Aku mengerti, Mas." Aku yang sebelumnya telah siap mengambil keputusan berpisah dan tak memahaminya, entah mengapa kini aku luluh. Aku bahkan berkata dengan sangat lugas mengerti kondisinya. Padahal sebetulnya ... aku sangat tersiksa sebulan belakangan ini.
"Aku bukan suami yang baik untukmu Shof, bahkan aku lebih buruk dari Raihan yang terus membuatmu bersedih di awal pernikahan kita," lirih mas Syafiq kembali.
"Aku yang tidak memahamimu, Mass! Aku istri yang buruk ...." Dan lagi-lagi aku memilih merendahkan diriku daripada kudengar mas Syafiq merendahkan dirinya.
Kulihat mas Syafiq terdiam ....
"Kenapa kamu terdiam? Apa kata-kataku menyakitimu?" lirihku.
"Tidak ... tidak sama sekali. Kamu wanita yang baik, Shoff," ujar mas Syafiq berkali-kali mengecup jemariku.
"Mas, apa aku tak bisa membuatmu tertarik? Apa kehadiranku membuatmu tak nyaman? Aku ingin kau menjawabku dengan jujur, Mas ...!" ucapku berusaha mencari tahu rasa mas Syafiq sesungguhnya terhadapku.
"Shofii ... Kamu wanita yang baik dan pintar, tidak sulit untukku menyukaimu," lirih mas Syafiq seakan mulai membuka rasanya terhadapku.
"Aku serius dengan kata-kataku."
"Jika kamu memang tak nyaman, aku tidak apa menjalani kehidupanku sendiri lagi, Mas. Aku tidak ingin kamu tertekan saat berdekatan denganku. Toh hubungan kita baru sebatas sah di mata agama."
Setelah beberapa saat terdiam, mas Syafiq berujar. "Aku akan menjaga perjanjianku dengan Robbku, aku akan menjagamu, Shoff!" tampak sedikit keraguan kudengar dari kata-kata mas Syafiq.
"Tapi kamu tidak mencintaiku, Mas, aku bisa melihatnya ... kamu seakan sungkan berdekatan denganku."
"Bagaimana denganmu? Apa kamu mencintaiku, Shoff?" tanya mas Syafiq.
"Jika boleh jujur, aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu, Mas."
"Apa yang membuatmu menyukaiku?" Mas Syafiq menatapku lekat.
__ADS_1
"Aku menyukai kedewasaanmu yang mau menerimaku, walau saat itu kukatakan aku pernah gagal berumah tangga sebelumnya, bahkan aku pun lebih tua darimu. Mass ... kamu tidak seperti lelaki lain yang seolah mengkotakkan wanita bekas sepertiku."
"Jangan ucapkan kata-kata buruk seperti itu. Kamu suci dimataku, bahkan aku mulai berfikir ... akulah yang tak pantas mendapatkanmu," lirih mas Syafiq.
"Masss ...." Kubelai wajah mas Syafiq kini, ia menangkap jemariku dan menggenggamnya. Kutatap ia tersenyum setelahnya.
"Mas, sekarang jawablah! Bagaimana rasamu padaku?" lirihku dengan rasa takut akan jawaban yang tak sesuai harapku.
"Kurasa aku pun mulai menyukaimu."
Mass Syafiq ... jujur atau tidak yang kau ucapkan, tapi aku sungguh bahagia mendengarnya. Setidaknya kamu memiliki sedikit rasa padaku.
Tiba-tiba aku sangat ingin mendekapnya. Kupeluk erat tubuh mas Syafiq kini dan kurasakan mas Syafiq juga membalas pelukanku.
Entah mengapa aku ingin merasakan kehangatannya lebih ... kudekati wajah tampan suamiku. Dan .....
Kami pun saling melayani lagi akhirnya ...
•
•
•
•
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading❤❤
💔Beberapa bab kedepan Shofii akan bertemu Fura, mohon bersabar yaa😊
__ADS_1