
Mereka berbincang serius tak menyadari sepasang mata memperhatikan keduanya. Seorang pria dengan jas cordorai coklat casual sedang meeting bersama bosnya. Ia tersenyum dan tampak terus menanggapi usulan-usulan sang atasan atas proyek barunya namun netranya sesekali melirik sang istri yang sedang makan siang bersama pria lain tanpa seizinnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 22:05 seperti biasa Syafiq tiba di rumah Shofi setelah sebelumnya menghabiskan waktu bersama putra-putrinya. Berbagai fikiran negatif melintasi otak Syafiq setelah netranya menangkap kehadiran sang istri tadi siang.
Syafiq segera masuk ke kamar, terlihat Shofi sedang duduk di sofa membaca buku mengenai berbagai karakter manusia dan cara menghadapinya. Shofi segera melipat halaman buku yang digenggamnya saat menyadari sang pujaan hati berdiri menatapnya.
Shofi mendekat. "Ingin mandi dulu atau langsung makan, Mas?" ucap Shopi meraih tas laptop dan jas Syafiq. Shofi ingin beranjak meletakkan barang yang dipegang namun lengan Syafiq lebih dulu mengunci tubuhnya.
Syafiq mendengus bahu Shofi. "Aku suka harummu, Shof ...! Sangat suka! Tubuhmu seperti candu untukku!"
"Mass ... kamu baru tiba, pasti letih, bukan?" Shofi menjauhkan tubuhnya namun lingkaran tangan Syafiq justru semakin erat menguncinya.
"Mass ... sakit! Jangan terlalu erat!"
"Kamu menghindariku, Shof. Ada apa?"
"Mass ... kamu aneh. Aku bukan menghindarimu, aku hanya ingin ka-mu membersih-kan-----
Oupp .... Belum lagi Shofi menyelesaikan kalimatnya, Syafiq membungkam mulut Shofi dan mencium dengan kasar tak seperti biasanya. Shofi memukul-mukul dada Syafiq tak menyukai permainan Syafiq, namun Syafiq yang dikuasai emosi tak menggubris.
Shofii mengaduh saat Syafiq melepaskan bibirnya. Tampak luka di bibir Shofi akibat ulah Syafiq. Shofi memundurkan tubuhnya, ada ketakutan Shofi menatap netra Syafiq saat ini.
"Sa-yang ... ma-af ...!" lirih Syafiq menyadari perilakunya menyakiti Shofi. Ia berusaha meraih tubuh Shofi, namun Shofi menghindar. Syafiq tak patah arang ia menarik tubuh istrinya tersebut hingga masuk dalam dekapannya. Shofi tak berkutik namun enggan membalas eratan itu, ia bergeming.
Beberapa saat berlalu, keduanya duduk bersandar pada head board ranjang dalam keheningan. Shofi tak sedikitpun menatap Syafiq, tak menyangka pria tercintanya melakukan hal seperti itu.
Dan Syafiq yang merasa bersalah mengacak rambutnya, bahkan ia bingung mengapa bisa melakukan tingkah menjijikkan seperti tadi ... sesuatu hal yang tak pernah ia rasa sebelumnya terhadap wanita, cemburu!
Syafiq sebelumnya memang bersama Fura seorang wanita rumahan yang penurut. Jika boleh dibandingkan, Fura bahkan lebih cantik dari Shofi, tapi sifatnya yang tak banyak berinteraksi dengan dunia luar membuat Syafiq tenang. Kalau pun Fura keluar, ia selalu mengajak Syafiq. Ia akan mengabari setiap hal yang dilakukan dan meminta izin serta berkomunikasi apapun dengan Syafiq.
Sedangkan Shofi ... ia memiliki aura cantik berbeda. Ia wanita karir mandiri, jiwanya bebas, ia bisa lembut dan keras sesuai kondisi. Harinya berinteraksi banyak orang, ia ramah dan pribadi yang menyenangkan. Tak sedikit lelaki yang menyukainya, termasuk Raihan sang mantan suami yang tak mudah melupakannya.
Syafiq sadar maaf dari Shofi sangat penting dalam hubungan mereka, ia pun mulai merapatkan bahunya dengan bahu Shofi. Direntangkan tangan kirinya hingga menyentuh sisi bahu Shofi yang lain. Shofi menggerakkan bahunya tanda penolakan. Hingga tiba-tiba Syafiq berujar.
__ADS_1
"Tadi siang aku melihatmu bersama seorang pria!" Shofi menoleh, kaget.
"Aku cemburu melihat kalian! Aku marah karena istriku tak meminta izin saat ia bertemu pria lain!" ucap Syafiq. Shofi bergeming.
"Shof, maaf jika cintaku menyakitimu! Aku juga tak mengerti mengapa bisa seperti ini! Mengapa aku jadi kasar padamu ... ma-aff ...!" ucap Syafiq menatap Shofi dengan rahut penyesalan dan mengiba. Melihat Shofi tak merespon, Syafiq menunduk.
Sebuah butiran air jatuh dari sudut mata Shofi, ia berujar, "Aku kecewa dengan perlakumu, Mas. Tapi aku juga salah tak mengabarimu. Ma-af ...!" Mendengar kata maaf Shofi, Syafiq mengangkat wajahnya. Ia melihat wajah itu mengeluarkan bulir kesedihan hingga tangannya spontan menarik raga Shofi, kali ini tak ada penolakan dari Shofi.
Air mata Shofi tumpah di dada Syafiq, "Jangan ka-sar la-gi, Mass!" Syafiq mengangguk.
"Ma-af, maaf! Sa-yangg! Dekapan itu semakin kuat.
"Pria itu mas Raihan, kami makan bersama sebab ada hal yang harus kami bicarakan! Tidak lebih!"
Syafiq merenggangkan tubuhnya. "Ia mantan suami yang ki-ni menjadi direktur rumah sakitmu, kah?" Shofi mengangguk.
"Kalian berbincang sangat serius membuatku berfikir macam-macam. Terlebih istriku memotongkan steak pula untuknya!"
"Seharusnya kamu melihat pula jika sebelah tangannya tak mampu memegang alat makan!"
"Mak-sud-mu?"
"Kamu tak pernah cerita jika mantan suamimu ca-cat?"
"Aku pun baru mengetahuinya hari ini! Ia dan istrinya mengalami kecelakaan. Istrinya meninggal di tempat sedang ia mengalami kerusakan di tangannya."
"Istrinya su-dah meninggal?" Shofi mengangguk.
"Dia duda rupanya ...," getir Syafiq.
"Tolong jangan berfikir macam-macam, Mas!" Syafiq bergeming.
"Walau aku hanya melihatnya dari belakang, tampak ia pria gagah, wajahnya juga terus menghadapmu!"
"Kamu lagi-lagi cemburu!"
__ADS_1
"Karena aku mencintaimu, Shof! Dengar! Jangan sampai empatimu membuat ia berfikir lain padamu, hem!" Shofi menatap Syafiq.
"Percayalah padaku, Mas! Rutinitasku mamang bergelut dengan banyak orang, jangan sampai kamu cemburu pada setiap pria yang berinteraksi denganku!"
"Aku berdoa semoga benihku lekas berhasil mendiami rahimmu dan kamu bisa resign secepatnya!" ucap Syafiq menyapu perut rata Shofi.
"Jangan egois, Mas! Aku seorang dokter dan memiliki mimpi bermanfaat untuk orang lain. Kalau pun aku tak bekerja, aku tetap akan berinteraksi dengan manusia lain. Dan kamu harus memupuk kepercayaan padaku seterusnya, selamanya!" Syafiq mengangguk.
"Kamu benar ...," Syafiq mencium puncak kepala Shofi. Ia meletakkan jemarinya di sisi bibir Shofi yang terluka. "Aku sungguh suami yang buruk!"
"Aku tidak suka suamiku merendahkan dirinya! Besok luka ini akan membaik!"
"Kamu sungguh baik, Shof." Syafiq merekatkan pelipisnya pada pelipis Shofi sembari menyapu lembut kepala Shofi.
"Tunggulah di sini!" ucap Syafiq setelahnya.
Setelah beberapa saat berlalu, Syafiq kembali dengan obat merah dan kapas. Ia mengarahkan kapas ke bibir Shofi dan menyapunya lembut.
"Sudah cukup, terima kasih, Mas."
"Sudah malam, besok kamu harus bekerja, sebaiknya kita tidur, Sayang!" lontar Syafiq. Keduanya pun segera memejamkan mata.
_____________
Sebulan berlalu, Raihan semakin gencar mendekati Shofi yang menurutnya masih sendiri. Setiap hari bunga berganti-ganti mendarat di meja Shofi. Raihan selalu memiliki alasan untuk bisa melihat Shofi. Rapat para dokter membahas kinerja perawat, penyaluran obat, visi dan misi rumah sakit, pelayanan yang kurang efisien, pemberian kemudahan pada masyarakat tingkat bawah, dan banyak hal lain. Dalam sebulan ini bahkan sudah 5x pertemuan diadakan, dan Shofi selalu hadir.
Setelah malam itu, Shofi mulai tau Syafiq tipikal pencemburu, ia kini berbagi setiap aktivitasnya pada Syafiq, menghabiskan waktu di luar pun selalu meminta izin suaminya. Ia sangat menjaga keharmonisan hubungannya bersama Syafiq, tak ingin kegagalan masa lalu dan perilaku kasar Syafiq terulang atas dirinya.
Pagi ini seperti biasa Shofi melakukan aktivitasnya di rumah, menyiapkan sarapan untuk Syafiq dan berlanjut menyiapkan dirinya menuju rumah sakit. Ia mengabaikan kondisinya yang kurang baik. Dua hari ini Shofi memang kerap pusing dan mudah letih. Tapi hari ini bahkan ada pertemuan dokter membahas panduan etika medis antara dokter dan pasien, jadi ia merasa perlu hadir dalam pertemuan tersebut.
Pukul 17:00 pertemuan selesai. Shofi menahan kepalanya yang sangat pusing, ia terus berjalan hingga sampai ke parkiran. Di sisi Mazdanya ia tak mampu bertahan, tubuhnya lunglai dan jatuh bersandar pada Madzanya.
Raihan sedang berada di parkiran pula, ia seketika kaget melihat raga Shofi tak sadarkan diri. Ia yang bingung segera membawa Shofi masuk ke jeepnya. Ia menelepon Yoga sang asisten dan memintanya mencari informasi alamat Shofi yang merupakan dokter gigi di Rumah Sakitnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
💔Happy reading😘
💔Selalu dinanti komen kalian ya😊❤