TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Empat Puluh Lima


__ADS_3

"Ke alun-alun Abii, Hana mau martabak unyil di samping masjid!"


"Martabak? Oke siappp!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Raga semampai perlahan menuruni satu persatu anak tangga rumah besar yang ia tempati. Netranya melihat sekeliling mencari wanita pertama suaminya. Ia sangat penasaran apakah Fura benar-benar wanita yang ikhlas atau hanya kepura-puraan saja yang ia tampilkan di hadapan Syafiq. Ia pun memutuskan untuk turun berbincang.


Walau bertemu Fura bukan yang pertama untuknya. Selalu ada desiran sesak mengingat Fura adalah wanita pertama di hati Syafiq dan telah banyak momen indah tentunya yang mereka rasakan menghitung usia pernikahan yang lebih panjang.


"Ibu mau kemana?" Santi, wanita paruh baya ART rumah tersebut mendekat.


"Fura, maksudku ibu Fura di-mana, Bu?"


"Duhh ... jangan panggil saya ibu, panggil saja saya Mbok atau Bibik. Ibu itu untuk sebutan nyonya," lirihnya sembari tersenyum membuat Shofi turut tersenyum pula.


"Ja-di ... di mana ibu Fu-ra?"


"Ibu lagi di taman depan, biasa mengamati mawar-mawarnya," jawab Santi.


"Makasih, Bik," ucap Shofi sebelum akhirnya menuju ke depan.


Raga cantik dengan balutan gamis rayon rumahan dan jilbab bergo model segitiga depan tampak berbinar melihat satu persatu mawar di tamannya.


"Mbak Shofi, ke-sini? Kemarilah mendekat!" Fura yang menangkap bayang Shofi melontar kata.


Shofi mendekat dan tersenyum. Ia duduk setelahnya di bangku taman di sisi kursi roda Fura.


"Kenapa mbak Shofi tidak mau ikut mas Syafiq?"


"Aku sedang ingin di rumah saja," jawab singkat Shofi sembari menelusuri wajah Fura yang sedang mencium sebuah mawar berwarna jingga di sana.


"Cantik," lirih Shofi.


"Aku setuju. Mawar memang cantik, oleh karenanya aku suka. Selain cantik ia juga kuat, ia memiliki duri untuk melindungi dirinya. Aku iri dengan mawar!"


"Aku tidak bicara tentang bunga yang mbak pegang, melainkan aku bicara tentang dirimu. Kamu cantik mbak Fura." Fura menoleh dan tersenyum.


"Mbak Shofi juga cantik, semua wanita cantik! Kalau tampan tentunya pria." Fura kembali tersenyum.


"Kenapa Mbak Fura bisa tersenyum sebahagia itu? Padahal ada aku yang mungkin saja akan jadi badai dalam rumah tangga Mbak?" lugas Shofi.


"Badai juga datang sebab perintah Sang Pencipta. Lagi pula kenapa mbak Shofi menyebut diri sendiri badai. Mbak Shofi wanita baik, tidak pantas dengan sebutan itu!"


"Jika aku jadi jahat?"

__ADS_1


"Sejahat apa?" lirih Fura.


"Ingin menguasai mas Syafiq mungkin!"


"Silahkan! Berarti nasibku kurang mujur, tapi aku akan tetap di sisi suamiku. Memastikan hanya hatiku yang sakit tapi suamiku tetap bahagia," ucap Fura setelah menelan kasar salivanya. Ia tak benar-benar siap dengan ucapannya.


"Bukankah itu bodoh?"


"Tekatku mendampingi suamiku hingga akhir!" Fura tersenyum getir menatap Shofi. Ia berkata lagi setelahnya. "Tapi aku tidak yakin mas Syafiq akan tetap bersama mbak Shofi jika mbak Shofi berubah jadi jahat!" Fura menutupi hatinya yang sesak, walau ia berfikir Shofi tak serius dengan ucapannya tapi rasa takut itu ada, namun ia berusaha membuangnya. Ia mencium lagi mawar yang lain setelahnya.


"Apa yang akan mbak Fura lakukan jika mbak bisa berjalan kembali?" tanya Shofi kembali menatap lekat Fura.


"Itu tidak mungkin!"


"Tidak ada yang tidak mungkin!" Fura tersenyum.


"Aku punya saran apa yang harus mbak lakukan saat mbak kembali berjalan."


"Apa itu?"


"Jangan biarkan wanita manapun mengambil milik mbak! Genggam mas Syafiq hanya menjadi milik Mbak!"


"Saran yang bagus, aku akan melakukannya jika itu terjadi. Namun sangat disayangkan semua tak mungkin, dan aku memilih tidak menghayalkan itu!"


"Sebentar lagi ia pasti kembali!"


"Mbak sangat yakin."


"Tentu saja, mereka hanya beli ice cream, paling-paling Hana minta martabak setelahnya. Lalu mereka akan langsung pulang."


"Apa mas Syafiq tidak mungkin mampir ke tempat lain?" lugas Shofi.


"Tempat lain yang mungkin ia singgahi selain rumahku adalah rumah mbak Shofi sendiri, tapi bahkan kamu ada di sini. Jadi mas Syafiq pasti akan segera kembali." Shofi tersenyum.


Hmm .... Baiklah, aku izin ke atas lagi, Mbak!"


"Silahkan! Terima kasih sudah menemaniku," ucap Fura tersenyum getir.


________________


Di kamar, Shofi mencerna setiap yang terlontar dari bibir Fura. Ia yang menangkap ketulusan dan besarnya cinta yang Fura miliki pada Syafiq merasa sesak. Bahkan ia belum tentu bisa berkorban sebesar itu. Berbagi suami! Hal yang menjadi momok mengerikan dan sangat ia benci namun ternyata sang Pencipta menghadapkan ia pada situasi itu.


Jika ada ungkapan jangan terlalu membenci sesuatu nanti kamu akan masuk ke dalamnya, sepertinya hal itu sedang menimpa Shofi. Hal yang dibenci kini menjadi ujian ketaatannya. Apakah ia akan menerima syariat yang dicontohkan namun tidak dianjurkan tersebut, atau menghindar sebagai tanda lemahnya iman yang ia miliki, sebab merasa tak sanggup berada di posisi itu.


Shofi bergeming hingga terdengar adzan magrib berkumandang bertepatan masuknya APV Syafiq ke pelataran. Suaminya telah kembali! Suara hatinya ingin berlari dan menyambut suaminya, tapi sisi hati yang lain sadar ini bukan rumahnya. Shofi memilih membuka jendela dan menatap raga itu di kejauhan. Perilaku yang ia sadari suatu kebodohan. Setelah kebohongan sang suami, ia bahkan masih mengharapkan sosok Syafiq bersamanya.

__ADS_1


Ia menghentikan sejenak fikir otaknya dan menjalankan ibadah. Lantunan ayat suci ia lantunkan setelahnya hingga masuk waktu isya dan ia menjalankan ibadahnya kembali.


"Bu .... Bu Shofi," panggil Rani, wanita yang biasanya membantu Fura banyak hal.


Setelah membuka kain sembahyang, Shofi membuka pintu dan tersenyum pada sosok wanita yang bergeming di depan kamarnya tersebut.


"Mbak ...."


"Eh, iya Bu. Maaf ... saya jadi melamun."


"Ada perlu apa mencari saya?"


"Ibu diminta turun oleh Bu Fura untuk makan malam!"


"Oh ...." Keduanya beriringan ke lantai bawah.


Dari atas tangga mata Shofi terus menelusuri area bawah namun tak menemukan Syafiq. Ia pun melontar tanya pada Rani. "Mbak, pak Syafiq tidak terlihat?"


"Setelah sholat maghrib Bapak keluar, Bu," ucap Rani.


"Ke mana?"


"Maaf saya kurang tau, Bu." Shofi mengangguk.


"Kemana Mas Syafiq, kenapa tidak mengabariku? Apa ia tak menganggapku di rumah ini? Ia bersama Fura dan mulai melupakanku-kah?" batin Shofi.




Sampai di lantai bawah, sudah ada Fura dan 2 buah hatinya. Benar saja tempat Syafiq kosong. Shofi semakin bertanya-tanya.


"Duduk, mbak Shofi!" pinta Fura.


"Kenapa mas Syafiq tidak ada?" tanya Shofi seketika.


"Oh iya, sampai lupa. Tadi atasan mas Syafiq menghubungi meminta mas Syafiq mengambil contoh design ke rumahnya. Ia terburu-buru tak sempat mengabari mbak Shofi, tapi mas Syafiq memintaku untuk mengabarimu, Mbak." Fura tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Begitu rupanya," batin Shofi. Ia membalas senyuman Fura.


"Baru kehilangan kabar Mas Syafiq sesaat aku sudah berfikir buruk, ternyata yang terjadi tak seperti dugaanku. Aku memang bukan Fura yang bisa tenang dan ikhlas berbagi. Aku penuh fikir buruk. Apa ini tanda aku sebaiknya menghindari hubungan semacam ini," batin Shofi lagi-lagi bergejolak di tengah acara makan malam mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2