
"Mom juga sedang kami tangani, namun penanganan utama adalah pada diri anda. Bagaimana Dad menguatkan mental Mom untuk kemungkinan buruk yang terjadi pada bayinya!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Fura ...!"
"Ka-kak!"
"Kenapa termenung di sini! Kita harus berangkat? Atau kamu ragu?"
Sebuah senyuman tipis tertoreh. Fura tampak menyandarkan satu kayu penopangnya ke dinding dan berusaha duduk di sofa.
"Rumah ini banyak menyimpan kenanganku, Kak! Rasanya sulit meninggalkan semuanya."
"Jangan ragu, please! Jangan tengok ke belakang! Kita maju ke depan bersama! Aku akan membahagiakanmu!"
"Tapi hatiku bukan milik Kakak!"
"Aku tidak masalah! Seiring berjalan waktu, kamu akan tau siapa yang benar-benar selalu ada untukmu!"
"Aku memiliki dua buah hati! Aku bekas! Dan belum pulih sepenuhnya!"
"Berapa kali kukatakan untuk tanya yang sama, aku menerimanya! Hana dan Omar akan kuanggap anakku! Masalah kondisimu ... waktu sudah membuktikan, bahwa usaha itu tak akan menghianati hasil. Memang belum pulih sempurna. Tapi aku yakin akan ada saatnya kamu berjalan dengan kakimu sendiri, tanpa 2 kayu itu lagi!"
"Kakak terlalu baik untukku!"
"Bahkan kamu yang terlalu baik, hingga aku selalu berusaha keras memahami setiap pemikiranmu!" Fura tersenyum getir.
"Apa Kakak percaya karma?"
"Maksudmu?"
"Kedua orang tua kita!"
"Jangan membahas itu! Semuanya sudah berlalu, bahkan ibuku sudah tenang di sisinya."
"Tapi semua terjadi padaku!"
"Berhenti bicara!" Fura bergeming dan mengangguk.
"Apa Ka-kak masih se-ring bertemu di-a di-ru-mah sa-kit?" Fura terbata dan tampak berhati-hati dengan tanya yang akan dilontarkan.
"Dua hari lalu aku bertemu."
"Dan kondisinya?"
"Kenapa masih memikirkan orang yang abai padamu!"
"Bagaimana kondisinya, Kak?"
__ADS_1
"Dia baik, dan kondisi sang wanita juga terlihat baik!"
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya!"
"Yang jelas mereka sudah mendapat balasan! Ya, kepergian bayinya adalah balasan ketidak-adilan Syafiq padamu dan keegoisan Shofi yang ingin memiliki suamimu sepenuhnya." Fura tak menyukai perkataan Billy. Ia berusaha meraih kayu penyangga dan berjalan ke sisi jendela. Air matanya tumpah.
"Ma-afkan aku mbak Shofi. Keinginanku menarikmu terus masuk dalam lingkaran hubungan ini. Dan kini berbagai hal buruk menimpamu, sesuatu yang tak adil ... kamu korban! Akulah orang pertama yang harus disalahkan. Aku! Nuha Shafura sang istri pertama yang egois! Meminta suaminya menikah untuk mendapatkan kepuasan hasrat yang tak bisa kuberikan! Akhh ... Sudahi semua ya Rabb ... Kembalikan mbak Shofi menjadi wanita ceria seperti dulu. Ya, wanita ceria sebelum ia mengenal kami! Dan aku rela mundur untuk itu!"
Sebuah tepukan mendarat di bahu Fura. "Pasti sedang menyalahkan dirimu lagi!" Fura menghapus bulir itu baru kemudian berbalik.
"Antar aku ke suatu tempat, Kak!"
"Dan kepindahanmu?"
"Sepertinya tidak hari ini! Satu hari lagi! Beri aku waktu lagi, Kak!"
Billy menghembuskan napas kasar baru kemudian mengangguk.
Seorang bocah kecil tampak berlari ke arah Fura. "Umi ... kita mau ke-mana?"
Fura membungkuk, diciuminya wajah polos tanpa dosa itu. Ialah Omar sang putra kecil yang juga merindu sosok abinya. Ia yang tak tau apa pun nyatanya kena imbas dari segalanya. Fura tersenyum kecil tanpa kata menatap wajah polos itu.
"Mbak Kinan!" panggil Fura pada pengasuh buah hatinya tersebut. Tak lama ia menghampiri.
"Mbak, aku akan keluar sebentar. Sepertinya kita tidak jadi pindah hari ini. Tolong jaga Omar selama aku pergi!"
"Baik, Bu!"
"Anak pintar! Umi hanya pergi sebentar dan akan segera kembali. Surabi ... Umi akan bawa surabi nanti saat pulang. Oke!" raga kecil itu terus memeluk kaki Fura baru akhirnya mengangguk.
________________
Zidna Khairana Maliki. Tertulis nama itu di sana. Gundukan kediaman sang malaikat cantik yang masih tampak basah. Takdir menghantarkan sang malaikat memiliki kelainan pada hati, ginjal serta paru-paru sejak dilahirkan. Keadaannya lemah saat didapati keluar dari rahim Shofi, jantung itu berdetak sangat lambat. Pembuluh darah Shofi yang menyempit tak mampu menghantarkan oksigen dengan baik malam itu. 6 Jam pada malam itu setiap organnya tak bekerja stabil. 6 jam bayi kecil itu berusaha bertahan dengan minimnya oksigen diperoleh.
Hingga akhirnya Sang malaikat cantik berhasil menghirup udara di dunia baru. Dunia baru yang nyatanya tak seindah harap. Selang-selang itu menyangga kerja organnya yang tak lagi baik. Bayi itu berusaha berjuang. Dua bulan ia berada di ruang ICU dengan kepayahan. Ia keluar dan menjalani rawat jalan setelahnya. Hingga takdir berkata lain, tepat 4 bulan kehadirannya ia menyerah. Bayi mungil itu tak mampu bertahan.
Fura terus menyapu nisan dengan nama depan yang ia sematkan. Berbagai doa serta ucapan maaf dipanjatkannya di sana. Hingga beberapa saat ia memutuskan pergi.
Kaki yang belum bisa berpijak sempurna itu terus bergerak melewati tanah dengan rerumputan menutupinya. Ia terus berjalan, hingga ia menemukan wajah itu di sana ... wajah yang senantiasa ia rindukan dalam diam tampak berjalan menunduk ke arahnya.
Jantung Fura berdetak cepat, andai tak terbingkai sesal ingin rasanya meraih raga itu. Kini raga itu berdiri tepat di hadapannya. Netra itu terangkat. Ia tak kalah terhenyak menyadari kehadiran wanita yang sejatinya selalu ia rindukan pula. Dua pasang mata saling mengunci. Mata sayu itu tampak menatap Fura dengan binar kerinduan. Seketika ingatannya kembali pada pembicaraan 5 bulan lalu.
💔Flashback ...
Syafiq sang ayah terpukul. Kondisi yang menimpa malaikat cantiknya sungguh di luar prediksi. Malam bahagia yang ia habiskan dengan bidadari pertamanya, sejatinya menjadi malam terburuk untuk bidadari keduanya. Ia merasa hancur dan menyesal. Andai ia mengetahui yang akan terjadi, tentunya ia tidak akan ke kamar Fura dan membiarkan Shofi sendiri malam itu. Tapi lagi-lagi penyesalan memang selalu datang terlambat. Jika sudah ditakdirkan daun itu gugur, walau tak ada angin kencang pun, ia akan gugur. Dan semua terjadi sesuai ketetapanNya.
Hari itu Syafiq melihat dua orang tercintanya berjuang. Di sisi lain seorang wanita tampak tak kalah pilu terus menatapnya di kejauhan. Mata itu sembab, bekas tangis tak dapat disembunyikan. Ia yang merupakan cinta pertamanya tampak begitu hancur. Syafiq mendekat.
Seketika ditariknya kepala itu masuk dalam dekapannya. "Bii ...."
__ADS_1
"Kamu datang, Juriyy?"
"Bii ... ma-aff ...."
"Bukan kamu, tapi aku yang salah!" Syafiq menyapu kepala itu.
"Aku Bii ... bukan kamu!"
"Aku ...."
"Aku ...!" Lirih kembali Fura.
"Kita!" lugas Syafiq. Fura mengangguk.
"La-lu ba-gaimana?"
"Zidna masih ditangani, sedang Shofi belum sadar!"
"Bii ...."
"Hem?"
"Aku tidak bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada Shofi ataupun bayimu!"
"Kita hadapi bersama!"
"Tapi kebersamaan kita akan membuat Shofi semakin terluka!"
"La-lu?" bingung Syafiq.
"Bawalah Shofi pulang ke rumah kalian setelah segalanya membaik! Sebaiknya jangan temui aku sampai mereka pulih!"
"Ti-dak, Juriyy!"
"Harus, Bii! Atau aku akan merasa terus bersalah. Bagaimana pun aku yang menyeret Shofi masuk di tengah kita. Aku menghancurkan hidupnya. Kini ia diuji pula dengan kondisi putri kalian sebab kita lagi!"
"Juriyy ...!"
________________
Lima bulan telah Syafiq lalui. Ia selalu berusaha tegar mengukir senyum yang paling menawan teruntuk bidadari kedua yang banyak tercekam sesak sejak penyatuan hubungan mereka.
Ya, sebulan lalu bayi mereka menghadap sang pencipta. Perih, sakit masih terasa jelas. Tapi yang terjadi tentunya yang terbaik, sebab jika bertahan pun, entah bagaimana bayi kecilnya itu tumbuh di masa depan dengan berbagai kerusakan organnya.
Dan Fura, ia lagi-lagi memutuskan sesuatu di luar logika otaknya. Ia memilih memberi jarak hubungan mereka selama kondisi Shofi tak membaik. Hal yang menyakitkannya, namun lagi-lagi tak mampu Syafiq tentang.
Syafiq diam-diam selalu memantau perkembangan keadaan Fura. Ia merasa senang bidadarinya tersebut semakin menunjukkan perbaikan kondisinya. Otaknya selalu ingin datang bersua tapi kondisi Shofi yang masih terselimut pilu akibat kepergian Zidna, membuat ia lagi-lagi mengurungkan niatnya.
Dan wajah itu kini di hadapannya. Wajah ayu itu tak pernah berubah. Jantung Syafiq seketika berdetak cepat seakan menemukan tempatnya pulang. Ia bahagia sekaligus sedih bersamaan sebab telah mengabaikan Fura selama ini. Ya, walau ia abai nyatanya karena keinginan Fura sendiri.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘