
"Aku selalu mencintai Juriyyku, paham!" Fura mengangguk tanpa kata.
"Aamiin .... Semoga!" lirih Fura saat bayang Syafiq tak terlihat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam besar menunjukkan Pukul 13:40 tertangkap netra Shofi saat kakinya melewati ruang keluarga mengikuti langkah Syafiq yang berjalan di depannya. Pria kecil dalam gendongan Syafiq terus menghadap belakang menatap raga Shofi, membuat Shofi salah tingkah dan memilih menunduk. Sedang Hana sudah berlari lebih dulu menuju meja makan.
Kaki-kaki itu akhirnya sampai ke ruang makan. Rasa tak karuan menyelimuti batin Shofi yang akan bertemu Fura dalam kondisi mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya.
Mata Fura langsung mengarah ke Shofi, senyum mengembang Fura semakin membuat Shofi sesak. Shofi bergeming, berkecambuk banyak hal di otaknya.
"Fura harusnya marah padaku, kenapa wajahnya bisa setulus itu? Aku tak pantas disambut dengan senyum! Bagaimana ini?" batin Shofi.
Di meja makan Fura telah duduk di tempat biasa ia duduk, di sisi kanan Syafiq. Hana berada di sebelah kiri Syafiq, tepat berhadapan Uminya, sedang Omar lebih senang duduk di sisi Uminya.
Jarak mereka semakin dekat, Fura berkali-kali tersenyum saat mata mereka tak sengaja bertemu. Shofi yang merasa bersalah lagi-lagi sulit membalas senyum itu, ia hanya menatap Fura sekilas dan menunduk.
Syafiq membuka kursi di sisi Hana tepat di hadapan Omar. "Sayang, Hana duduk di sini ya, Nak! Biar tante Shofi duduk di tempat Hana."
"Nggak mau, ini kan tempat duduk Hana. Hana mau dekat Abi dan Umi," celoteh polos Hana.
"Sayang, dengarkan abi dong! Duduk di situ sama saja, bisa lihat Abi dan Umi juga, kan?" Fura ikut meyakinkan. Hana terus menggeleng.
"Aku di mana saja, tidak apa-apa!" ucap Shofi tidak enak dengan situasi ini dengan pandangan terus menunduk. Ia duduk di hadapan Omar akhirnya.
Baru saja tubuhnya mendarat di kursi, Shofi merasa tak nyaman, ia ingin langsung ke inti mendapat dompetnya dan pulang. Dalam benaknya mempertanyakan, mengapa harus ada acara makan bersama dahulu. Ia pun memberanikan diri menatap Fura yang tengah menyendokkan nasi ke piring Syafiq.
"Mbak, ma-af ... bisakah aku memperoleh dompetku saat ini! Aku harus pergi!" ujar Shofi yang membuat Syafiq seketika menatap netra itu.
"Kita makan dulu, Mbak Shofi! Lagipula tidak baik berbicara hal seperti ini di depan anak-anak!" Fura tersenyum menatap Shofi. "Betul bukan, Bi!" ucap Fura menghadap Syafiq setelahnya. Syafiq mengangguk dan tersenyum menatap Fura.
__ADS_1
Acara makan berlangsung tanpa kata. Semua raga sibuk dengan aktifitas makannya. Fura dan Shofi tampak menunduk. Syafiq berkali-kali menatap Fura dan Shofi bergantian. Rasa bahagia dan bangga selalu memenuhi batin Syafiq tatkala menatap Fura, walau semua pasti tak mudah tapi tak pernah keluar keluhan dari bibir bidadari pertamanya itu.
Syafiq meletakkan sendok dan meraih jemari kiri Fura yang tengah berada di pangkal pahanya. Ia menyapunya lembut. Fura mendangak merasakan aktifitas Syafiq, ia menatap Shofi setelahnya. Fura menggeleng perlahan, tak ingin Shofi melihatnya. Melihat Shofi tetap asik dengan makanan di piringnya, Fura menatap Syafiq. Syafiq tersenyum. Sebanyak apapun ungkapan terima kasih, Syafiq merasa tak akan cukup mengimbangi cinta dan pengorbanan Fura untuknya. Fura terlihat mengangkat dagunya ke arah piring, meminta Syafiq melanjutkan makannya. Syafiq pun melepaskan genggaman jemari itu.
Pandangan Syafiq menuju Shofi kini. Rahut kesedihan dan kebimbangan terpancar jelas, ia yang syok dengan semua kebenaran yang terjadi terlihat tak sebaik dulu, keceriaan itu tak terlihat, Shofi seakan menjadi pribadi berbeda, kurang bersemangat dan tidak se-enerjik dulu. Dada Syafiq seketika sesak sebab ialah pangkal dari semua yang terjadi.
"Andai aku tak berbohong dan membuka segalanya sejak awal, semua tak akan serumit ini. Aku telah menghancurkan 2 hati. Tapi aku akan mengenggam kedua hati itu. Aku akan belajar adil ...." monolog Syafiq menatap kedua bidadarinya bergantian.
Beberapa saat berlalu, makanan di piring masing-masing telah habis. Fura memanggil Kinan memintanya membawa anak-anak untuk tidur siang. Bayang anak-anak pun dalam sekejap tak terlihat.
"Kita berbincang di kamar saja ya Mbak Shofi!" lirih Fura, Syafiq mengangguk.
Syafiq mendorong kursi roda Fura ke arah kamar diikuti Shofi yang berjalan di sisi Syafiq. Shofi memilih tetap bergeming.
Pintu putih itu terbuka. Syafiq mendorong kursi roda Fura masuk. Shofi tertegun di muka pintu. Syafiq mendekat, "Masuklah!" Ingin segalanya cepat selesai Shofi pun masuk.
"Bii ... bisa tinggalkan kami berdua!" lontar Fura. Syafiq mengangguk dan keluar dari kamar.
"Semua di luar dugaan. Aku wanita buruk yang hadir di tengah pernikahan kalian! Maafkan aku, Mbak!" ucap Shofi mengeluarkan kegelisahan yang beberapa hari ini disimpannya.
"Kita pernah berbincang sebelumnya bukan, aku yang meminta suamiku menikah lagi. Jadi mbak Shofi tidak salah sedikitpun!" ujar Fura merekatkan eratan jemarinya.
"Kalian pasangan serasi dengan dua malaikat kecil yang lucu. Dan lagi-lagi aku bicara seperti saat itu, apa hubungan pernikahan sebatas pemuasan di ranjang, hingga mbak membiarkan suami mbak bersama wanita lain?" lirih Shofi sembari matanya menatap foto-foto kebersamaan Syafiq, Fura dan anak-anak yang terlihat bahagia tertempel di dinding.
"Kita sama-sama tau mbak Shofi, seberapa penting hubungan semacam itu dalam pernikahan, dan aku merasa tak bisa memberinya. Perlu diketahui, mas Syafiq juga sangat marah saat aku memintanya dulu, ia tak berkutik karena tak ingin ada perpisahan dalam hubungan kami."
"Pernah kukatakan aku sangat tidak suka berbagi! Dan aku sakit menerima kenyataan ini, kebohongan kalian. Terlebih akulah sosok pihak ketiga itu," lirih Shofi.
"Ya, kami bersalah. Aku lebih tepatnya, harusnya aku bisa mengarahkan mas Syafiq untuk jujur sejak awal pada mbak Shofi. Tapi aku tak bisa menyalahkan sepenuhnya pada mas Syafiq, karena aku saat itu yang terus mengejarnya untuk menikah lagi, dan mas Syafiq memilih jalan membohongimu."
"Mas Syafiq dulu pasti sangat mencintaimu, Mbak! Maaf ... jika sekarang aku mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa mas Syafiq juga mencintaiku kini. Apa mbak menyesal dengan keputusan mbak dulu?"
__ADS_1
"Sedikit! Tapi sesuai tujuanku untuk membahagiakannya, aku senang kehadiran mbak Shofi menutupi kekuranganku." Fura menarik kursi rodanya ke sisi jendela. Shofi mendekat.
"Jelas kamu bersedih mbak! Tak ada wanita manapun yang sanggup berbagi! Kamu sakit bukan, menyadari suamimu mencintaku pula kini, bahkan kami akan memiliki anak?" lontar Shofi berdiri di sisi jendela pula menatap ke luar tanpa titik pasti.
"Yang terpenting suamiku bahagia dan ia tak melupakan haknya padaku dan anak-anak!"
"Hak yang dibagi dengan wanita lain? Bahkan suamimu lebih banyak bersamaku?"
"Aku ikhlas!"
"Tapi kamu tak benar-benar mencintainya, Mbak!" lugas Shofi.
"Cintaku lebih besar dari yang mas Syafiq atau siapapun tau! Mbak Shofi tidak berhak menjudgeku seperti itu!"
"Cintamu tidak benar, Mbak! Jika cintamu tulus, kamu tak akan membiarkan mas Syafiq condong padaku! Sesuatu yang berimbas tak baik untuk akhirat suamimu!"
"Kelak akan aku katakan, aku ikhlas menerima setiap perlakuan suamiku di dunia!"
"Kamu berdalih Mbak, bahkan hati kecilmu dan setiap indra dan anggota tubuh yang dicurangi haknya oleh mas Syafiq yang akan menjawabnya!" lontar Shofi.
"Mbak Shofi membuatku takut! Tapi Mbak lupa pria yang sedang Mbak hakimi tak lain suami Mbak juga, ayah calon anak Mbak!" ucap Fura.
"Itulah penyesalan terburukku! Oleh karenanya aku memilih mempermudah segalanya dengan pergi dari hidup kalian!"
"Kenapa kita tidak mempermudah suami kita dengan hidup berdampingan dengan baik?"
"Apa mbak Fura yakin mas Syafiq bisa adil pada kita?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
__ADS_1