
"Jawab dulu i-ni rumah siapa?"
"Rumahku!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tidak! Jangan ke sini! Tak baik mantan suami istri berada dalam satu atap!"
"Jadi aku harus mengantarmu ke rumah sakit lagi? Ayolah Shof, aku bukan pesulap yang bisa mengabulkan inginmu dalam sekejap. Akan sulit mencari kontrakan di malam hari. Dan menurutku tempat ter-aman adalah di sini, Syafiq tak akan bisa menjangkaumu!"
"Tapi, Mas? Ini tidak benar!"
"Shof ... kamu selalu kebiasaan memikirkan segalanya hingga jauh. Ayolah! Kita tidak berdua di dalam, ada 2 wanita tua ART di sini dan juga ada Shofi putriku. Aku hanya ingin memastikan kondisi kesehatanmu! Ingat syaratku membawamu keluar dari Rumah Sakit tadi? Kamu akan memulihkan kondisimu! Dan aku akan memastikan itu!" Shofi bergeming, setelah berpikir sejenak ia mengangguk.
Keduanya sudah di muka pintu saat dentum jam berbunyi 8 kali menandakan pukul 8 saat ini. Seorang wanita paruh baya membuka pintu, seketika bocah kecil menggemaskan berlari dari sebuah ruangan tatkala mendengar pintu terbuka.
"Papa ...." Raga kecil dalam sekejap mendarat di tubuh Syafiq. Ia melirik Shofi wanita yang pernah ia tabrak. Shofi kecil terlihat bingung melihat kehadiran Shofi di rumahnya.
"Sayang ... kenalkan ini teman Papa. Sementara ia akan tinggal di rumah kita. Ohya, kamu tau siapa nama teman Papa?" Shofi kecil menggeleng.
"Namanya Shofi juga sepertimu." Shofi kecil terus memperhatikan Shofi.
"Oh iya, Papa akan ajak Tante Shofi ke kamarnya. Shofi main di kamar dengan Mbok Ratih ya! Nanti Papa menyusul. Shofi kecil mengangguk dan tak lama ia naik ke lantai 2 rumahnya diikuti seorang wanita tua pengasuhnya.
"Ayo!"
"Mass ...." Shofi menggeleng. Ragu melangkah.
"Ayo! Anggaplah ini rumahmu. Kamu di sini tidak akan bosan, bisa bermain dengan putriku nanti." Shofi menutup matanya sejenak dan mengangguk setelahnya.
"Mbok Arum, tolong siapkan kamar tamu! Beberapa hari ke depan temanku ini akan menginap di sini!" Mbok Arum yang beberapa saat lalu membukakan pintu depan kini beralih ke dapur, mengambil sebuah kunci dan memutarnya pada sebuah ruangan dengan pintu kokoh berwarna putih.
Keduanya masih berdiri mematung, sedang Mbok Arum tampak cekatan memasangkan seprei bermotif sakura nan lembut ke atas ranjang. Ia meminta izin ke dapur setelahnya.
"Ini kamarmu mulai hari ini! Ingat, berhenti berfikir sesuatu yang memperburuk dirimu sendiri! Setelah kondisimu stabil, baru pikirkan langkah yang akan kamu tempuh. Tapi sementara ini, nikmatilah harimu!" Jemari Raihan baru saja hendak menyapu pipi Shofi, tapi Shofi dengan cepat berbalik.
Shofi berdiri di tepi jendela dan membuka sedikit tirainya. Tampak lampu bulat berwarna oranye dan sebuah bangku di sana.
"Tepat di balik jendela kamarmu adalah taman. Malam hari semua tampak samar, tapi bunga akan bermekaran sangat indah di sana pagi hari esok. Seperti juga hidupmu, esok pilu itu harus kamu rubah menjadi asa. Hidupmu masing panjang Shof." Shofi menutup jendela dan berbalik lalu mengangguk membenarkan ucapan Raihan.
"Boleh aku beristirahat sekarang, Mas!"
"Oh iya, tentu. Kamarku dan Shofi kecil di atas, kamu bisa meminta Mbok Arum memanggilku jika membutuhkan sesuatu." Shofi lagi-lagi mengangguk.
"Oh iya, di lemari ada beberapa pakaian mendiang istriku. Aku cari yang sesuai gayamu. Sementara pakailah sebelum aku membelikan pakaian ganti untukmu."
__ADS_1
"Maaf aku banyak merepotkanmu!"
Raihan tersenyum. "Aku senang melakukannya, jadi santailah!"
"Baik aku pergi, Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam."
_________________
Di tempat berbeda Syafiq kaget, geram dam murka tak mendapati raga Shofi di kamarnya. Ia berusaha mencari informasi dari para perawat tapi nihil, Raihan benar-benar menghapus segala jejaknya.
Dengan frustasi Syafiq mengendarai APVnya menelusuri setiap jalan di kota Bandung berharap menemukan bayang Shofi. Hal yang bodoh dan ambingu. Ya ... tentunya Raihan tidak bodoh membawa Shofi ke pusat keramaian seperti ini.
"Di mana kamu, Shof .... Aku memang sangat bersalah! Tapi jangan seperti ini! Dan kamu Raihan ... Kemana kamu sebetulnya membawa istriku ...! Kurang ajar!"
Syafiq terus mengutuk dan mengumpat! Emosi sudah menguasai nilai kebaikan yang dimiliki. Rasa takut kehilangan mendominasi hatinya.
"Besok ... ya, besok aku akan ke Rumah Sakit menemui Raihan!" gumam Syafiq setelahnya.
_______________
Pagi menjelang, sebuah ketukan mendarat di pintu kokoh kamar Shofi. Shofi yang masih melantunkan beberapa ayat dalam kitab suci Tuhannya berdiri dan membuka pintu tersebut.
Wanita paruh baya yang ia ketahui bernama Mbok Arum muncul. "Maaf mengganggu Bu, Bapak memanggil ibu untuk ikut sarapan bersama," ucapnya.
"Baiklah saya akan sampaikan pada Bapak." Ia ke arah belakang setelahnya.
30 Menit berlalu, terdengar suara mobil ke luar pelataran. Sebuah ketukan kembali terdengar. Shofi kaget melihat raga Raihan berdiri di hadapannya. Tanpa permisi ia seketika masuk.
"Kufikir kamu sudah berangkat?" Raihan tersenyum.
"Seminggu ini aku ke Amerika, begitu yang kulontarkan pada stafku. Suamimu pasti mencariku. Sekarang, kita buat ia frustasi kehilangan jejakmu." Shofi bergeming.
"Aku membawakanmu sarapan, ayo makanlah!"
"Aku tidak lapar, Mas!"
"Lawan Shof! Anakmu butuh nutrisi, ingat ucapanku semalam? Jangan sakiti ia yang tak berdosa!" Shofi mengangguk. Raihan menyendokkan nasi serta lauk dan mengarahkannya pada mulut Shofi.
"Aku bisa melakukannya sendiri!"
"Oke, maaf ...! Ada yang harus aku kerjakan. Kamu tidak masalah bukan berada di rumah ini?"
Shofi tertegun menatap Raihan.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu, hatiku tak kuat melihatnya!" Shofi seketika menunduk. Raihan tersenyum dengan prilaku Shofi.
"Aku hanya bercanda, pukul 9:30 putriku akan pulang dari lesnya, kamu bisa bermain dengannya atau lakukanlah apapun di rumah ini. Jangan sungkan! Setelah zuhur aku akan kembali!" Shofi mengangguk.
_________________
Seorang pria dengan setelan jas melekat di tubuhnya berjalan dengan langkah lebar dan cepat menyusuri koridor Rumah Sakit. Ya, tak lain itu adalah Syafiq. Sebelum ke kantor, ia melonggarkan waktu untuk mencari keberadaan Shofi. Semalaman ia tak sabar menunggu pagi, dan kini ia harus bertemu Raihan dan menanyakan segalanya.
"Saya ingin bertemu dengan Bapak Raihan, benar itu ruangannya, kah? Tadi saya bertanya pada resepsionis ruangan Direktur katanya di lantai 3."
"Be-nar, Pak. Tapi pak Raihan belum datang," lirih sang perawat yang sedang melintasi area lantai 3.
"Ada apa ini?" Seorang pria tegap tiba-tiba mendekat.
"Pak Yoga! Ini Pak, bapak ini menanyakan Pak Direktur," jawab perawat.
"Lanjutkan pekerjaanmu, jangan mengobrol seperti tadi!" lugas Yoga. Perawat segera berlalu.
"Saya asisten Pak Raihan. Mari duduk sejenak!" Yoga mengarahkan langkahnya pada 1 set sofa tak jauh dari posisi mereka berdiri. Syafiq mengikuti.
"Maaf, ada urusan apa Bapak pagi-pagi mencari atasan saya?" ujar Yoga tegas tanpa basa basi.
"Atasan anda membawa kabur istri saya! Dan saya kemari untuk menanyakan keberadaan istri saya!"
"Sungguhkah begitu? Saya fikir pak Raihan bukan pria seperti itu, mungkin anda salah mencari orang!"
"Saya bukan orang bodoh yang mengambil langkah tanpa alasan! Sekarang cukup jawab, jam berapa pak Raihan biasa tiba di Rumah Sakit?" gusar Syafiq.
"Sayang sekali anda kurang beruntung. Pagi ini pak Raihan menuju Amerika atas keperluan bisnis, jadi percuma anda mencarinya ke sini!
"Laki-laki itu sungguh licik! Apa ia membawa Shofiku bersamanya pula?" batin Suafiq. Ia menyugar rambutnya ke belakang dan berdecak, frustasi!"
"Oke, sekarang berikan alamat atasanmu itu!"
"Ma-af! Itu privasi dan saya tak bisa memberikan alamat atasan saya pada sembarang orang tanpa meminta persetujuannya!"
"Ahhh ..." Syafiq berdecak kembali.
"Nomer ponsel, berikan padaku nomer ponselnya yang baru! Nomernya yang lama sudah kuhubungi selalu tak aktif ...!"
"Wah, saya baru tau pak Raihan mengganti nomernya. Ia memang sering menon-aktifkan ponselnya, dan biasanya itu terjadi saat ia sedang tak ingin diganggu. Seperti sedang menghabiskan waktu dengan wanita mungkin ...." Yoga dengan sangat pintar mengulang setiap kata yang diajarkan Raihan padanya, kata-kata untuk membuat hati Syafiq semakin hancur.
Semua terjadi sesuai rencana. Syafiq meninggalkannya dengan kacau, ia berkali-kali mengepalkan tangannya seraya mengumpat. Syafiq cemburu!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
💔Happy reading😘