
💔FLASHBACK
"Tidak ... tolong ...! Tolong!" teriak Shofi. Raga Shofi terjerembab jatuh ke jurang. Longsor! Reruntuhan kerikil menghujani wajahnya. Matanya tak mampu melihat jelas, tubuhnya seakan melayang. Seorang bocah berada dalam dekapannya, terus menangis membuat hatinya tersayat. "Apakah ajalku akan tiba!" gumam Shofi. Ia tak sendiri ... raga lain sedang kepayahan pula dan terlihat telah pasrah dengan kematiannya. Hingga sebuah tangan menggapai tubuh Shofi dan raga lain itu. Seorang pria entah darimana menarik kedua jemari mereka dengan kuat. Ia meraih raga kecil dalam dekapan Shofi setelahnya. Bocah itu menangis. Namun Raga kekar berjalan menjauh ... sangat jauh membawa bocah kecil tersebut. Raga kekar tak sendiri, sosok rupawan dengan mata memerah bersamanya membawa buah hatinya dan 2 bocah lain bersama mereka.
"Tidak! Jangan ...! Jangan pergi, Mass! Jangan tinggalkan aku ...!" Shofii menangis, ia menoleh menatap raga lain di sisinya, "Apakah ia Fura?" Ia tergeletak tak berdaya dan menangis pula. Hingga raga Shofi tiba-tiba seakan terjatuh ...
BUG ....
"Astagfirulloh ... syukurlah hanya mimpi ...!" Shofi menetralkan napas yang masih terengah dan membasuh pipinya yang basah, terasa sesak yang tak kunjung mereda di dalam sana.
"Mimpi apa aku barusan? Mengapa begitu nyata! Aku bersama seseorang yang seolah Fura, ia tertatih, sedang mas Syafiq meninggalkan kami. Mas Syafiq tak sendiri, ia bersama seseorang membawa anak-anak kami," gumam Shofi berusaha mengingat mimpi yang seakan nyata sesaat lalu.
Shofi yang merasa haus beranjak keluar kamar, ia turun ke lantai bawah ....
_________________
💔DI KAMAR LAIN
"Shofii ... jangan pergi, Shof ...! Aku membutuhkanmu! Tolong jangan pergi! Jangan tinggalkan aku, Sayang!"
Netra Fura tak bisa terpejam setelah mendengar pria tercintanya terus mengigau memanggil nama wanita lain tepat di sampingnya. Kata-kata yang sangat jelas dan menusuk hingga ke relung hatinya.
Fura yang bahkan menggeser tubuh membutuhkan tangan orang lain merasa semakin tertatih menahan pilu. Belum lama ia bahagia lantaran Jawza-nya siap melepas wanita keduanya dan berucap akan bersyukur memilikinya dan anak-anak. Namun dalam ketidaksadaran fakta lain muncul, Jawza-nya tak benar-benar siap melepaskan Shofi. Fura bimbang, Ia mengangkat sedikit tubuhnya menatap wajah lelakinya, gumamannya telah berhenti namun tetesan bulir masih keluar dari pelupuknya. Lelakinya bersedih, ia tercekam pilu. Syafiq lelakinya tak ingin memaksa Shofi namun tak siap pula kehilangannya.
Dilihatnya jam di meja menunjukkan pukul 1 lebih 10 menit. Setelah beberapa saat berfikir, Fura memutuskan satu hal. Ia menekan tombol yang terhubung ke kamar Rani, pengurusnya. Tak berselang lama Rani yang telah terbiasa masuk ke kamar Fura datang. Dengan berbisik, Fura meminta Rani membantunya duduk di kursi roda dan membawanya ke ruang tamu yang berada dekat pintu masuk. Ia menyuruh Rani merebahkan tubuhnya ke sofa ruang tamu setelahnya .Rani yang bingung melontar tanya.
"Kenapa Ibu ingin tidur di sini? Nanti Bapak bangun marah! Di sini dingin, Bu!" lirihnya.
"Tenang saja, aku tidak akan apa-apa! Teteh kembali saja ke kamar!"
"Tapi saya tidak bisa meninggalkan Ibu sendiri!"
"Ini perintah! Tidak ada pertanyaan dan sanggahan atau aku akan memecatmu!"
"Buu ... Ah, baiklah. Tolong jangan pecat saya, Bu!" mohon Rani.
"Pergilah!" Rani pun dengan ragu meninggalkan Fura di ruang tamu.
_________________
Raga semampai berbalut piyama atas bawah dan hijab yang sekedar menutup kepalanya menuruni satu-persatu anak tangga. Ia menuju dapur, mengambil segelas air dan meneguknya. Saat hendak kembali ke atas ia berpapasan dengan Rani yang hendak menuju kamarnya. Keduanya sama-sama terhenyak.
"Te-teh? Belum ti-dur?" sapa Shofi.
"Ibu Shofi di-sini?"
"Iya aku haus! Teteh sendiri kenapa masih berkeliaran?"
Rani berbisik, "Ibu Fura, Buu ...."
__ADS_1
"Ada apa dengan ibu Fura?"
"Ibu memaksa saya merebahkannya di ruang tamu!"
"Apa ibu dan bapak sedang bertengkar?" lontar shofi.
"Sepertinya tidak Bu. Ibu dan bapak hampir tidak pernah bertengkar, bahkan bapak sedang tidur pulas di kamar!"
Shofi bergeming, dalam otaknya dipenuhi tanya. "Baik Teh Rani silahkan istirahat, saya akan menemui bu Fura!"
"Terima kasih, tolong bujuk bu Fura, ya, Bu. Kalau besok Bapak bangun lebih dulu dan tau ibu tidur di luar saya bisa dimarahi!" Shofi mengangguk.
•
•
Perlahan Shofi menuju ruang tamu dan duduk di sisi sofa tempat Fura merebahkan diri.
"Mbak ... mbak Fura," panggil Shofi seraya menyapu lembut bahu Fura. Fura terbangun.
"Mbak Shofi ...?" kaget Fura.
"Kenapa mbak tidur di sini? Apa mas Syafiq berlaku kasar?" Shofi memastikan lagi alasan yang mungkin terjadi.
"Hussh, jangan bicara sembarangan! Suamiku bukan pria seperti itu!" decak Fura.
"La-lu?"
"Tentu!" Shofi membantu Fura hingga ia duduk kini.
"Perlu aku menyalakan lampu ruang tamu?" lontar Shofi.
"Jangan! Biarkan seperti ini!" Shofi mengangguk.
"Katakan apa yang mbak Fura lakukan di sini?"
"Aku menunggumu!"
"A-ku?"
"Jika Mbak Shofi memutuskan pergi dari rumah ini, tentunya Mbak Shofi melewati ruang tamu dan akan melihatku yang tertidur, Mbak pasti akan membangunkanku!"
Shofi mengangguk-angguk. "Perencanaan yang matang, lalu?"
"Lalu aku akan meminta Mbak jangan pergi!"
"Bukankah mbak Fura sudah siap aku pergi saat menyerahkan dompetku kembali?"
"Awalnya, tapi aku berubah fikiran!"
__ADS_1
"Alasannya?"
Fura menarik napasnya panjang, baru menjawab. "Nyatanya suamiku tidak benar-benar ikhlas melepas mbak Shofi! Mbak Shofi sudah mengisi hati suamiku dan Mbak harus bertanggung jawab! Tolong jangan pergi!"
"Mbak Fura memohon padaku!"
"Terserah Mbak Shofi mengartikan apa! Tapi suamiku membutuhkan kehadiran mbak Shofi!"
"Untuk memuaskannya?"
"Alasan itu yang kuharap. Aku berharap mbak shofi hanya alat pemuas kebutuhan suamiku, tapi alasan mas Syafiq membutuhkanmu tentunya hanya Mbak Shofi yang tau. Apakah selama ini hanya sebatas hubungan ranjang atau hati turut berperan di dalamnya!" Shofi bergeming, ia sangat tau perasaan Syafiq namun egonya tak menginginkan hubungan semacam ini.
"Kenapa mbak Fura sampai memohon seperti ini!" ucap Shofi.
"Karena aku bukan mbak Shofi!"
"Maksudnya?"
"Aku tidak sempurna dan tidak memiliki kemandirian seperti mbak Shofi untuk menghidupi anak-anakku sendiri!"
"Kenapa berfikir seperti itu? Aku yakin mas Syafiq akan selalu mempertahankan mbak Fura!"
"Jangan lupa suami kita pria muda yang masih sangat bergairah! Ini bukan perkara setahun atau dua tahun tapi aku wanita lumpuh dengan harapan kesembuhan 5%. Minim! Nyaris tak ada dan hanya bertumpu pada mukjizat! Sekarang katakan, apa suami kita bisa menahan hasrat seumur hidupnya? Atau jika pun bisa, apa aku tega! Itu kemungkinan pertama!" Shofi bergeming.
"Kemungkinan kedua, bukan tidak mungkin hal lebih buruk terjadi! Wanita lain menarik hati mas Syafiq dan ia luluh. Shofi lain datang. Shofi yang belum tentu baik sepertimu! Dia menguasai mas Syafiq dan menyingkirkanku! Saat itu, apa keputusanmu hari ini boleh kusalahkan menjadi salah satu penyebabnya? Tolong jangan hancurkan kami! Menghancurkanku tepatnya! Tolong!" Shofi masih bergeming mencerna perkataan Fura hingga ia teringat mimpinya beberapa saat lalu.
"Sosok bermata merah bersama mas Syafiq, mungkinkah itu ketakutan Fura, wanita lain yang akan mengambil mas Syafiq dari kami. Kami? Pantaskah aku menyebutkan kata kami, sedang aku sendiri berfikir meninggalkannya," monolog Shofi. Ia tercekam sesak teringat mimpi itu. Ia menggelengkan kepala setelahnya. Tak berselang lama batinnya berbisik kembali.
"Fura dan rasa ketakutannya, lalu kenapa masuk dalam mimpiku? Apa ini terkait dengan istikharahku?"
"Maaf Mbak, aku sepertinya ingin ke kamar! Aku akan memanggil teh Rani untuk membantumu kembali ke kamar! Tak baik tidur di sini!" lirih Shofi merasa otaknya penat.
Tenaga Shofi memang tak sekuat teh Rani yang tubuhnya kekar. Ia cukup tau diri, tak ingin memaksa membantu Fura tapi tak kuat hingga terjadi sesuatu pada istri pertama suaminya tersebut.
"Tapi berjanjilah mbak Shofi tidak akan pergi dari rumah ini!"
"Aku tak bisa berjanji, tapi aku akan memikirkannya!"
"Terima Kasih!"
•
•
Sesampainya di kamar Shofi membasuh anggota wudhu dan menjalankan sholat malamnya. Ia menumpahkan kebimbangannya kembali pada Pencipta-Nya. Ia merebahkan diri di ranjang setelahnya.
Pukul 04:45 Shofi terbangun saat adzan subuh berkumandang. Ia terbangun dengan otak yang lebih fresh dan mantap akan suatu hal yang akan dilakukannya.
"Aku akan pergi setelah aku membuat Fura pulih!"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘