
Dan wajah itu kini di hadapannya. Wajah ayu itu tak pernah berubah. Jantung Syafiq seketika berdetak cepat seakan menemukan tempatnya pulang. Ia bahagia sekaligus sedih bersamaan sebab telah mengabaikan Fura selama ini. Ya, walau ia abai nyatanya karena keinginan Fura sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Juriyy ...." Setelah berusaha keras menetralkan sesak, panggilan itu lolos dari bibir Syafiq. Membuat wanita di hadapannya tampak berkali menarik napas panjang terhanyut dalam rasa yang selama ini tetap tersimpan apik.
Senyum tertahan itu tersungging. Tampak jelas ia bersusah keras menarik bibirnya setelah sekian lama. Pertemuan tak di duga yang memberi kebahagiaan terjadi.
"Ayo kita pergi dari sini, Fura!" ajakan Billy bak angin. Raga itu masih nyaman berpandang. Ia bergeming.
"Kita bicara, Juriyy!" Syafiq tak menggubris keberadaan Billy. Ia tak ingin membuang waktu atas pertemuan mereka. Wajah memohon itu ditampilkan di hadapan wanitanya.
Fura di masa kini tentunya masih Fura itu, Fura dengan cinta besar teruntuk lelaki pencuri hatinya, ia yang tak akan bisa melihat tatapan memelas Syafiq. Ia mengangguk.
Setelah meminta izin Billy, Fura mengikuti Syafiq yang mengarahkan langkah untuk menepi. Kedai terbuka di pingir jalan menjadi pilihan terdekat dua raga saling meluapkan rindu.
Mata itu masih saling menatap, hingga Fura meluapkan kata yang ada di otaknya.
"Bagaimana kabar mbak Shofi?"
"Baik, sudah lebih ikhlas."
"Ia menjaga Hana dengan baik, kan?" Syafiq mengangguk. Ya, sebulan lalu memang Fura meminta mang Anto mengantar Hana pada Syafiq. Berharap Hana mampu menjadi pelipur kesedihan Shofi. Dan semua terjadi sesuai ingin Fura. Ia mengenyampingkan sepinya berjauhan dari putri kecilnya agar luka Shofi bisa terobati.
"Ia sering menanyakanmu! Ia rindu Uminya. Sama seperti aku yang rindu mawar jinggaku!" Fura tersenyum kecil.
"Surat gugatan perceraianku kenapa belum dikembalikan!"
"Aku tidak akan melepasmu!'
"Semua untuk kebaikan kita. Kamu dan mbak Shofi harus bahagia. Seperti aku yang akan menata kembali hidupku!"
"Bersama Kakak doktermu itu?" Fura mengangguk.
__ADS_1
"Tatap aku! Jujur, apa kamu bahagia dengan pilihanmu sekarang?" Syafiq menatap lekat netra itu.
"Kak Billy akan menjagaku!"
"Itu bukan jawaban! Ikut aku! Kita perlu membicarakan ini bertiga!"
"Tidak! Sudahi ini, Bi! Hanya akan ada 1 ratu yang bertahan, dan itu Shofi!" Fura mengangkat tubuh dan meraih tongkatnya, ia berdiri menuju Billy.
"Juriyy ...."
______________
2 Bulan berlalu. Sejak pertemuan di makam, Syafiq menjadi sosok berbeda. Mendapati kenyataan wanita yang dicintainya memilih mundur. Hatinya sakit. Fura yang dipikir akan selalu mendampingi nyatanya menyerah. Syafiq jadi sosok pendiam, ia lebih senang menghabiskan waktu sepulang kerja menyendiri.
Shofi menyadari perubahan itu. Beruntutan kejadian belakangan yang terjadi melemahkannya. Ia benci dirinya yang kini lemah. Bahkan kondisi Fura telah membaik, tapi ia masih di sisi Syafiq. Dalam kepiluan Shofi menggelar sajadah bersujud dan merintih pada Rabb-Nya mengenai setiap hal yang terjadi pada hidupnya.
Mengenai kehilangan yang menimpa dirinya belum lama ini. Hal yang tak ingin dirasakan ibu mana pun. Ia yang menjadi orang ketiga dan nyatanya begitu egois, sering membiarkan ketidakadilan menimpa Fura, sang istri pertama kala itu. Ia yang 7 bulan ini menjadi satu-satunya namun nyatanya ia melihat rona pilu di mata Syafiq. Rona kerinduan pada wanita pertamanya.
Shofi mengangkat tubuhnya, mencari bayang lelaki yang masih mendiami hatinya. Dan seperti dugaannya, lelakinya sedang duduk menepi di ruang tamu dalam keremangan malam.
Sebuah tangan dilingkarkannya ke leher sang pujaan. "Mass ...."
"Sho-f ...."
Shofi duduk setelahnya di sisi lelakinya. Dinyalakannya lampu meja hingga rahut berkaca itu tampak. Lagi-lagi ia mendapati kesenduan di mata itu.
"Kenapa belum tidur?" lirih Syafiq meraih jemari lentik Shofi. Shofi menggeleng masih menatap mata itu.
"Apa begitu sakit, Mas?" lirih Shofi kemudian.
"Hem?" Syafiq tak benar-benar mendengar ucapan Shofi. Ia tampak memastikan yang di dengarnya.
"Fura. Apa ketiadaannya sangat menyakitkan untukmu?" Syafiq tersenyum getir.
__ADS_1
"Senyumanmu menjawab segalanya." Syafiq memejamkan mata tampak menahan sesuatu yang menyesakkannya.
Seketika lengan Shofi meraih raga itu. Raga kekar yang tampak rapuh. Ia mendekapnya erat. "Menangislah Mas, jangan tahan itu sendiri!"
Kepala itu jatuh ke bahu Shofi, Syafiq terisak. "Ma-aff ....!" lirih Syafiq. Shofi tanpa kata terus menyapu kepala itu. Satu-persatu bulir mulai keluar pula dari pelupuknya pula. Selama ini ia hanya mengira-ira dalam otaknya, namun kini ia melihat secara langsung bagaimana lelaki ini begitu rapuh. Hatinya begitu sakit, tak tahan melihat lelakinya seperti ini.
Setelah beberapa saat, Shofi merenggangakan tubuhnya dan merangkum wajah itu. "Kejar Juriyy-mu, Mas. Tahan ia dan jangan biarkan ia pergi!" Syafiq menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa adil! Satu bahtera dengan 2 ratu nyatanya tak mudah, biar ... cukup ada kamu di sisiku!"
"Tapi hatimu sakit!"
"Dulu aku sering melihat ketegaran Fura. Tapi aku lupa seikhlas-ikhlasnya wanita, ia pasti sakit. Saat itu ia merelakan Jawza-nya berbagi. Dan kini aku tau rasanya sakit ditinggalkan. Juriyy-ku telah hilang! Ia terlepas dari gemggamanku! Ia memilih bersama Billy!" Syafiq terus terisak mengeluarkan segala yang belakangan ini dipendamnya sendiri.
"Juriyy-mu belum terlepas. Palu itu masih sepekan lagi diketuk, bukan?"
"Tapi ia berkeras pergi. Aku memang tak sebaik dan sesetia Billy. Billy menyukai Fura sejak kecil dan menyimpan rasa itu hingga kini. Bahkan mengetahui kondisi Fura telah berkeluarga ia tetap tulus membantunya. Ia mendapatkan balasan kebaikannya. Sedang aku sedang mendapat balasan ketidakadilanku." Pandangan Syafiq nanar dan kosong. Ia seakan raga tanpa jiwa.
"Ma-af Mas, ketidakadilan itu disebabkan oleh perilakuku! Aku begitu kekanakan sering memintamu bersamaku. Aku lupa bahwa ada hak Fura atasmu pu-la." Syafiq meraih kembali raga Shofi.
"Sudah ... waktu akan menyembuhkan semua luka! Aku akan baik-baik saja!"
"Ta-pi, Mass?"
"Sudah terlalu larut. Kamu butuh istirahat. Terlebih besok harus mengantar Hana pula ke sekolah, bukan?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
💔Menjelang End ya😑😑
__ADS_1