TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Lima Puluh Delapan


__ADS_3

Billy terus menggeleng menyesalkan semua jika apa yang di otaknya memang benar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ada apa, Kak? Kamu termenung!"


"Bukan apa-apa!"


Melihat kondisi Fura saat ini, Billy merasa bukan waktu yang tepat mempertanyakan semua. Ia tersenyum kecil berusaha baik-baik saja.


"Oh ya, kamu sudah mulai belajar mengangkat tubuhmu sendiri, bukan?"


"I-ya, tapi masih su-lit!"


"Perlahan-lahan! Memang pasti sulit. Sekarang katakan apa ada getaran atau hal yang kamu rasa berbeda setelah terapi kemarin?"


Fura menggeleng.


"Maaf, memang pertanyaanku terlalu dini. Sayang sekali padahal hari ini jadwalmu terapi, tapi ternyata tidak bisa dilakukan."


"I-ya, ma-af, Kak!"


Tiba-tiba Billy membungkukkan tubuh dan menekan beberapa bagian persendian kaki Fura. "Kak ...!"


"Aku profesional, Fura. Aku ke sini dalam kapasitasku sebagai doktermu!" Fura bergeming sesaat dan mengangguk setelahnya.


"Aku ingin kamu cepat pulih seperti sedia kala! Bisa mengerakkan kaki, berjalan, berlari, dan beraktivitas normal. Kamu ingin bukan?" Fura mengangguk kembali.


"Kamu ingat, dulu setiap pulang sekolah aku selalu menunggumu di gerbang sekolah. Kemudian kita saling beradu lari cepat dan merehatkan diri di taman dengan banyak permainan itu. Di sana kamu selalu memintaku memijat kakimu yang pegal setelah berlari sebelumnya. Lalu saat kita-----



Billy terus bicara sembari jemarinya terus memijat bagian kaki Fura. Fura tak merasa apa pun. Tapi ia cukup terhibur dengan setiap kata yang Billy ucapkan yang seolah mem-flashback kejadian masa kecil mereka yang tanpa beban dan penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Di bagian luar rumah, tanpa dua insan sadari, seorang pria tegap sedang memarkirkan APVnya di pelataran. Lantaran ia khawatir dengan kondisi istrinya, ia meminta izin untuk pulang lebih awal. Sesaat ia bingung melihat Livina hitam terparkir di muka rumahnya, namun ia abaikan. Ia ingin segera memastikan kondisi wanita yang telah menemaninya dengan setia selama 6 tahun belakangan ini, ia pun masuk.


Alih-alih bukan melihat sang istri sedang kesakitan, ia kaget melihat istrinya terus menatap seorang pria yang dengan santai tengah memijat kakinya. Dan pria itu, ia yang terlihat bagian punggungnya membungkuk di hadapan kaki sang istri, tampak tak menghiraukan sekitar. Ia dengan enjoy memijat bagian tubih istrinya sambil terus membual entah apa namun sepertinya keduanya terlihat bahagia.


Otak Syafiq mendidih, tanpa memastikan yang dilihatnya. Ia segera menarik tubuh lelaki yang membungkuk itu hingga tertarik ke muka pintu menjauh dari raga istrinya. Lelaki itu tanpa ancang-ancang, ia tak siap dan kaget menerima gerakan Syafiq yang mengeksploitasi tubuhnya dengan sempurna.


"Kurang ajar! Apa yang kamu lakukan terhadap istriku! Tidak bermoral! Sembarangan menyentuh istri orang yang tidak berdaya!"


Syafiq menarik kemeja di bahu sang lelaki dari belakang dengan emosi memuncak, tubuh itu terangkat dan terhempas membentur dinding. Rentan beberapa detik pemilik tubuh sadar, tindakan itu merendahkannya, ia berbalik! Tak terima! Hingga terpampanglah wajah itu. Mereka saling bertatap!


"Pak Sya-fiq!"


"Dr. Bi-lly?"


Keduanya terhenyak. Fura menarik kursi rodanya ke arah sang suami. "Bii ... apa yang kamu lakukan?"


"Apa ini Pak Syafiq, beginikah perilakumu pada tamu yang berkunjung ke rumahmu? Dan tunggu! Jadi, Ibu Fura istri Ba-pak?"


Dengan netra menatap Syafiq dan Fura bergantian, Billy mendekat Shofa dan duduk. Sesungguhnya hatinya tak terima atas perbuatan Syafiq, namun ia menetralkan emosi, kata-kata yang diucapkan Syafiq bahwa Fura istrinya memenuhi otak Billy. Ia perlu memastikannya.


"Tunggu, Pak! Ada yang masih memutari otak saya! Jadi benar ibu Fura istri Bapak?"


"Benar, ia istri pertama saya!"


Otak Billy kini yang panas, ia tak terima! Gadis kecil yang selalu ingin ia jaga mendapat perlakuan selama ini. "Ada apa ini? Mengapa Fura terima diperlakukan begini?" Nertanya terus menatap Fura mencari jawab. Fura bergeming. Ia mengangguk dan menunduk setelahnya.


Shofi dengan tubuh semampainya menggunakan longdress rumahan model babydoll menapaki anak tangga turun ke lantai bawah menggenggam jemari bocah kecil berusia 5 tahun. Dari atas ia kaget melihat 3 orang dengan rahut serius di ruang tamu.


Setelah pijakan anak tangga terakhir dilewati, Shofi segera mendekati 3 raga itu. Ia menatap netra Syafiq terus berkedip seakan cemas, terlihat pula ia menggenggam kuat jemari Fura.


"Dr. Billy?" lontar Shofi.


Billy bergeming menatap Shofi, rasa simpatinya mendadak hilang setelah mengetahui kenyataan Shofi adalah madu Fura. Benak Billy tak terima dengan kenyataan hidup Fura. Di matanya Syafiq dan Shofi sangat tega, ia yang tak mengetahui cerita sebenarnya salah paham.

__ADS_1


Satu sudut bibir Billy terangkat menatap Shofi dengan perut buncitnya, pandangan meremehkan di toreh Billy pada sosok wanita yang nyatanya juga korban dari sebuah kebohogan itu.


"Dokter ...?" Tak mendengar respon Billy, Shofi menyapa kembali.


"Hai," singkat Billy. Shofi tersenyum sebelum akhirnya menatap wajah Syafiq yang pulang lebih cepat dari biasanya, Saliva tampak ditelan dengan kasar menyaksikan genggaman erat Syafiq pada jemari Fura tak juga dilepas.


"Mas, kamu sudah kembali? Apa kamu lapar? Bagaimana jika kita makan bersama! mbak Fura dan dr. Billy juga belum makan, kan?"


Dan gadis kecil mengeluarkan suaranya sebelum Syafiq menjawab tanya Shofi. "Umi ...." panggil Hana segera merangkul lutut Fura.


"Sayang ...!" lirih Fura.


"Abi kenapa sudah pulang? Apa bos Abi tidak marah?" Syafiq menggeleng.


"Om dokter juga ada di rumah Hana! Apa Om Dokter mau bertemu Hana?" Hana tampak genit menatap Billy. Billy tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hai Cantik, pasti baru bangun tidur! Om dengar kamu suka surabi sama seperti Umi, lihat Umi menyisakan satu surabi untuk Hana!" Mata Hana berbinar.


"Hahh ... surabi? Yeaa ... Om dokter yang bawa ini? Dari mana Om dokter tau Hana suka surabi?" Hana terus berceloteh dengan mulut penuh surabi.


"Sayang ... habiskan dulu makanan di mulut Hana baru bicara, Nak!" ujar Fura. Shofi tampak mengambil tisu dan menyapu bibir Hana yang tercecer cream gula merah.


Billy dengan netra yang melirik Syafiq lantas menjawab tanya Hana. "Om sebetulnya membelikan surabi ini untuk Umi, karena Om tau betul Umi suka surabi. Tapi Om surprize ternyata Hana dan adik Omar juga suka surabi. Berarti kalian memiliki kesukaan yang sama."


"Iya Hana suka sekali surabi, juga martabak unyil. Besok kalau Om ke sini lagi bawa surabi lagi, yaa!"


"Oh ... tentu saja!" Billy tersenyum dengan enjoynya, berbeda dengan reaksi Syafiq yang kembali gelisah mendengar kata dari mulut Billy. Nertanya menatap Billy dan Fura bergantian.


"Kenapa dokter Billy seolah sudah mengenal Fura lama. Apa mereka saling kenal! Aku harus mencari jawaban dari Fura!" batin Syafiq yang terbakar cemburu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2