
Fura sangat berharap Shofi akan datang ke rumahnya. Saat itu terjadi, Fura akan membantu Syafiq menjelaskan segalanya dan meyakinkan Shofi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Syafiq tampak berjalan di posisi depan menarik koper Shofi. Shofi tak ada pilihan mengikuti langkah Syafiq. Hingga Syafiq membuka pintu APVnya, namun Shofi malah membuka mazdanya.
"Shof ...?"
"Jalanlah di depan! Aku akan mengikuti dengan mazdaku!"
Syafiq takut! Ya ... ia takut ini hanya akalan Shofi untuk menjauh lagi. "Masuk ke mobilku! Atau tidak ada dompet beserta isinya!" tegas Syafiq.
"Kamu tidak percaya padaku, Mas?" Kedua alis Shofi berkerut, kepalanya menggeleng.
"Masuklah!" lirih Shofi melebarkan pintu APVnya.
Shofi mendekat. Ia bisa saja bertahan dengan keterbatasan sembari melamar pekerjaan, tapi bayi dalam kandungannya tidak. Ia membutuhkan nutrisi untuk perkembangan organnya. Dan kartu-kartu itu sangat ia butuhkan.
Tubuh Syafiq spontan mendekat hendak memasangkan seatbelt ke tubuh Shofi namun jemari Shofi lebih cepat menahan tubuh Syafiq. "Aku bisa melakukannya sendiri!" ketus Shofi.
Sepasang mata dalam mobil yang terparkir di sudut gerbang kecewa melihat 2 insan berada dalam 1 mobil melewati gerbang dan semakin menjauh. Ia terdiam cukup lama hingga akhirnya berfikir tidak ada guna tetap berada di sana, ia pun pulang.
Keheningan terjadi di dalam mobil, berkali-kali Syafiq mencuri pandang Shofi yang terus mengalihkan wajah ke luar jendela. Syafiq yang tak menyukai situasi ini memulai pembicaraan. "Kemarin kamu tidur di mana? Apa bersama Raihan?"
Mendengar ucapan tak mengenakkan, Shofi berbalik, netranya menatap tajam. "Iya aku bersama Raihan! Kami menghabiskan waktu bersama! Puas!"
"Apa bawaan hamil, kamu jadi penuh emosi? Aku bertanya baik-baik, Sayang. Kamu hanya perlu menjawab, iya aku di rumah Raihan, Mas! Mudahkan?"
"Tapi kata-katamu tidak baik-baik saja tadi. Kamu bertanya apa aku bersama Raihan! Ber-sa-ma! Kamu tidak percaya padaku rupanya, Mas!"
__ADS_1
Syafiq menggaruk kepalanya yang tak gatal, berusaha menghilangkan keheningan malah timbul kesalahpahaman baru.
"Iya aku salah. Maaf! Sepertinya keheningan memang lebih baik," gumam Syafiq memilih fokus dengan kemudinya.
"Kamu mau membawaku kemana sebetulnya, Mas?" Baru sejenak hening, Shofi melontar tanya.
"Ikut saja, nanti kamu akan tau!" jawab Syafiq. Shofi memajukan bibir dan kembali menatap jendela, ia bergeming kembali.
Tiba-tiba mulut Shofi membulat, tangannya terus penyapu perut buncitnya. Syafiq yang menyadari dan menghawatirkan kondisi bayinya segera menepi.
"Ada apa, Shof?" Syafiq memajukan wajahnya dengan netra intens menatap wajah ayu istri keduanya tersebut.
"Bukan apa-apa! Anakku baru saja menunjukkan kehadirannya, ia bergerak." Shofi terus menyapu perut buncitnya dengan wajah semringah. Syafiq seketika mendekatkan wajahnya ke perut Shofi.
"Kamu mau a-pa, Mas?"
Syafiq mendangak. "Tolong Shof, aku juga ingin merasakan kehadiran buah hatiku!"
"Hai Sayang, ini Abi, Nak ...! Tadi kamu mengganggu Bundamu, kan? Sekarang ayo coba ganggu abi!" ucap Syafiq sambil menciumi perut Shofi, Shofi merasakan desiran di sekujur tubuhnya saat indra Syafiq bersentuh dengan perutnya. Bagaimana pun pria di hadapannya adalah pemilik hatinya dan jauh di lubuk hatinya merindukan sentuhan pria ini. Shofi bergeming menahan desiran itu.
"Sayang ... kenapa diam saja? Ayo tendang Abi, Nak! Abi juga ingin merasakan kehadiranmu. Ayolah, please ...!" Pipi Syafiq telah menempel sempurna di perut Shofi, sesaat Shofi iba, kasihan pada Syafiq ... berharap anaknya menunjukkan kehadiran dirinya. Shofi terus menahan sepasang jemari yang ingin menyapu kepala di atas perutnya.
"Tidak ... Jangan Shofi! Lelaki ini sudah menyakitimu! Jangan terbawa perasaanmu!" batin Shofi.
"Sayang ... apa kamu juga marah pada Abi, Nak? Tolong maafkan Abi menyakiti Bundamu. Abi memang bersalah, Abi pembohong ...tapi Abi tak ada pilihan! Abi sangat takut Bundamu akan meninggalkan Abi jika tau yang sebenarnya. Kamu tidak mau Abi dan Bunda berpisah, kan? Abi sangat mencintai Bundamu, bunda Shofi. Kamu harus tau itu, Sayang!"
Syafiq benar-benar mencari dukungan anaknya, ia menumpahkan segala rasanya. Berharap sang Bunda yang mendengar luluh. Dada Shofi sesak, hati Shofi yang condong pada kelembutan luluh. Sepasang jemarinya kini terus meremas rambut itu, antara meremas marah atau bentuk kasih sayang segalanya samar. Kemarahan dan Cinta berada dalam satu waktu, hingga sebuah bulir mulai keluar dari sudut netranya.
Pun Syafiq demikian, ia menangis pula! Sadar Shofi sedang dipenuhi kebimbangan saat ini. Tapi ia bahagia, sebab ia yakin masih menggenggam hati itu.
__ADS_1
Remasan tangan itu perlahan berubah menjadi sapuan lembut, saat Shofi merasakan perutnya basah. Ia mengetahui perasaan Syafiq tak bohong. Syafiq mencintainya, namun yang ia sesalkan, mengapa kenyataan bahwa ia orang ketiga tidak dibuka sejak awal. Kenapa harus saat ini, ketika keduanya sudah sangat mencintai dan saling membutuhkan.
Syafiq tak peduli reaksi Shofi. Kecupan di perut itu perlahan naik menuju sepasang aset Shofi, mengecup lembut sesaat di sana, naik ke leher, hingga kini tubuh itu melekat sempurna dalam dekapan Syafiq. Pelukan kerinduan tak ditahan lagi oleh keduanya. Bulir air mata menjadi saksi rasa sakit atas cinta yang dimiliki, juga penyesalan yang menyesakkan dada Syafiq.
"Aku mencintaimu, Shof! Jika kamu ingat, di awal pernikahan dulu aku kerap menghindarimu, aku tak bisa dan tak ingin membagi hati yang seutuhnya milik Fura saat itu. Tapi aku mendengar kamu mengadu malam itu, kesedihanmu meluluhkanku. Kamu wanita baik, harusnya malam itu aku membuka kebenaran itu. Namun justru sebaliknya, setelah malam itu aku membuka lebar hatiku. Setelah malam itu, aku tak lagi melihat kesedihan di matamu ... aku bahagia, walau aku sadar hatiku telah terbagi sejak saat itu!" Syafiq menenggelamkan wajahnya ke bahu Shofi, menangis pilu seperti anak kecil yang menemukan sandarannya.
"Aku bersalah. Entah bagaimana perasaan mbak Fura selama ini. Membayangkan malam-malam suaminya berada dalam dekapan wanita lain. Otakku tak bisa mencerna itu. Ia pasti tersiksa," lirih Shofi mengangkat kepalanya dan merangkum wajah Syafiq.
"Ceraikan aku, Mas! Aku tidak bisa seperti ini. Wajah mbak Fura terus mengikutiku, sayu matanya yang seolah ikhlas tapi aku sangat tau setiap wanita tak ada yang suka berbagi. Ia berbohong! Ia pasti sakit! Dan aku semakin membuat kondisinya bertambah buruk!"
"Fura tidak seperti itu! Ia sangat tulus. Ia baik, Sayang. Jangan pergi! Aku akan adil membagi waktuku ke depannya bersama kalian, oke!" Jemari syafiq terus menyapu tengkorak belakang Shofi.
"Demi anak kita Shof, apa kamu tega ia tak mengenal Ayahnya! Aku akan segera menikahimu setelah kamu melahirkan. Ia akan tercatat menjadi anakku. Ia memiliki Ayah! Dan kamu memiliki suami!" Syafiq masih terus meyakinkan Shofi. Shofi bergeming.
"Entahlah ...! Sudah! Bawa aku mengambil dompetku, Mas!" Syafiq mengangguk. Perlahan Syafiq memundurkan tubuhnya dan menuju kemudi.
Sepuluh Menit kemudian, bangunan bertingkat dengan model minimalis yang cantik tertangkap netra Shofi. Shofi menatap Syafiq yang menginjak pedal remnya. Mobil mereka berhenti di sisi sebuah Avanza yang Shofi tau betul itu milik siapa.
"Kenapa ke sini? Apa kamu berbohong lagi?"
"Kamu tau i-ni di mana?" heran Syafiq.
"Aku tidak siap bertemu wanita yang telah kusakiti!"
"Tapi dompetmu ada padanya! Ayo kita turun, ia menunggu kita!"
"Me-nung-gu?"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘